Tuesday, September 21, 2010

Menghadapi Protes Anak ketika Makanan Favoritnya Habis :-)

Anak saya yang berusia sekitar dua tahun, termasuk anak yang suka makan. Banyak pilihan makanan yang dia suka.

Dan ketika dia suka suatu makanan, setiap habis di piringnya, dia akan minta lagi. Kita berikan lagi di piringnya, nanti habis lagi, dia minta lagi. Ketika dari panci sumbernya sudah benar-benar habis, dia akan menangis karena tidak bisa minta lagi.

Apakah Moms sering juga menghadapi masalah yang sama? :-)

Beberapa tahun lalu dari Pak Taufan Surana (sudah lama sekali saya tidak berinteraksi dengan beliau, semoga Allah senantiasa melindungi beliau), ada saran menghadapi marah anak. Yaitu, sampaikan segala sesuatu, segala konsekuensi, beberapa waktu sebelum akan terjadi. Jangan sampaikan segala sesuatu secara tiba-tiba.

Jadi dalam kasus makanan habis ini, ketika masih tersisa sekitar 3-4 potong, kita sampaikan, ”Nak, sekarang tinggal 4 potong ya, nanti kalau habis, kita makannya selesai ya.” Demikian seterusnya sampai ketika makanan tersebut benar-benar habis, anak kita sudah siap.

Itu cara pertama.

Namun cara ini kadang-kadang juga tidak efektif. Begitu kita sampaikan bahwa nanti akan habis, anak sudah terlanjur marah :-)

Ada cara kedua :-)

Di sini kita gunakan sisi psikologis anak yang senang dengan keberhasilan dan pencapaian.

Maka kita buat situasi, seolah-olah menghabiskan makanan itu adalah prestasi buat dia. Jadi kita sampaikan ”Wah, Adik sudah banyak nih makan wortelnya! Sekarang tinggal 3 lagi, sebentar lagi habis! Horeeee!” Dan kita bersorak seheboh-hebohnya, ketika wortel itu benar-benar habis :-) Biasanya anak lalu menjadi sangat gembira, dan lupa bahwa dia mau minta lagi :-)

Tapi cara ini bisa juga tidak efektif. Mirip dengan yang tadi, ketika kita bilang bahwa akan habis, dia juga sudah terlanjur marah :-)

Solusi terakhir?
Ketika dia tetap marah dengan dengan kedua metode tadi, kita gunakan metode klasik, mengalihkan perhatian ke hal lain :-)

Demikian Moms, semoga bermanfaat ya :-)

Ketika Ibu Tidak Lagi Bisa Multitasking

Kebanyakan ibu biasanya memiliki kemampuan untuk multitasking, yaitu mengerjakan berbagai hal dalam satu waktu.

Menelepon sambil mengecek masakan sambil mencuci piring.
Menggendong anak, sambil menyapu halaman, sambil ngobrol dengan tetangga.
Mengganti popok, sambil membereskan mainan, sambil menjelaskan hitungan matematika untuk anak yang paling besar.

Hanya, jika salah satu aspek sedang membutuhkan konsentrasi cukup tinggi, biasanya kemampuan multitasking ini lalu jatuh menurun. Drop.

Misalnya ketika anak yang kecil sedang rewel dan menangis saat dipakaikan popok. Maka saat ini pikiran kita sebagai ibu akan terfokus untuk membujuk anak rewel tersebut. Berbagai cara dilakukan, berbagai cerita disampaikan, berbagai barang ditunjukkan, agar anak lupa, teralihkan perhatiannya, dan akhirnya mau dipakaikan popok.

Jika pada saat ini tiba-tiba anak yang besar memanggil kita, karena kesulitan dengan PR-nya. Jika kita coba paksakan untuk multitasking, maka kedua pekerjaan tersebut tidak selesai dengan baik. Si adik tetap rewel, kita pun tidak bisa berpikir untuk menjawab PR si kakak.

Kadang lalu kita menjadi kesal, dan sedikit "menyalak", meminta si kakak untuk diam dulu, karena kita sedang fokus dengan si adik.

Pernahkah kita bayangkan perasaan anak kita saat itu? Sedih karena kita "menyalak" tadi. Merasa tersingkirkan, karena kita tidak memperhatikan masalah mereka. Jika ini terjadi sekali saja, mungkin tidak masalah. Tapi jika berkali-kali, hal ini akan membuat mereka merasa menjadi anak yang terabaikan. Apa lagi jika anak kita termasuk anak yang sensitif.

Lalu bagaimana sebaiknya?

Ada baiknya kita upayakan untuk menahan diri, agar tidak ”menyalak”. Di antara kerewelan dan tangis si adik, ketika kakak memanggil, tarik nafas panjang. Bicara dengan tenang, tersenyum pada kakak, dan sampaikan, bahwa kita sedang bereskan dulu pemakaian popok adik. Nanti jika telah selesai, kita akan bicara dengan mereka. Sulit? Ya, memang sangat sulit :-) Tapi mudah-mudahan bukan mustahil :-)

Dan, jika suasana sedang tenang, ada baiknya dibahas dan disepakati dengan anak-anak yang besar, bagaimana sebaiknya jika mereka ada masalah, padahal ibunya sedang fokus dengan masalah lain. Mungkin metodenya antara lain bisa dengan cara mereka menulis pesan yang lalu ditempelkan di message board, atau tulis pesan via yahoo messenger/email/SMS, atau tunggu sampai masalah yang dihadapi ibu selesai. Dengan kesepakatan, biasanya anak akan lebih mudah untuk bekerja sama.

Sementara demikian, solusi yang mudah-mudahan efektif, dan tidak terlalu sulit untuk diimplementasikan :-)

Apa Moms punya saran lain? Silakan ditambahkan ya.. :-)

Saturday, August 7, 2010

Kala Meletup Menghadapi Serbuan Anak

Tadi malam saya menghadapi kondisi yang lumayan kompleks. Kalau kata anak saya yang paling kecil, kom-pe-lek-s :-)

Coba sedikit dibayangkan dulu ilustrasinya ya :-)

Saya pulang dari kantor, untungnya dengan supir, jadi nggak secapek kalau nyetir sendiri sih, tapi tetep aja capek.

Jadi saya pulang kantor, dari kantor sekitar jam 17.45. Dari kantor saya ke rumah, biasanya ditempuh dalam waktu 45 menit, maksimal 1 jam deh. Hari itu, 2 jam! Itu pun sudah dengan mencari jalan-jalan tikus dan melambung menghindari simpul-simpul macet.

Sampai di rumah, langsung mandi, solat, makan, lalu bergabung dengan anak-anak di kamarnya.

Dan ketiga anak saya langsung semuanya menyerbu.
Yang paling kecil minta menyusu, dua yang besar minta dibantu membuat PR. Plus ada teman sesama ibu, tanya juga tentang PR anaknya lewat BBM.

Saya yang prosesornya baru saja kepanasan, overload karena kelamaan kena macet plus cari rute jalan tikus, lalu diminta multitasking menyusui sambil menjelaskan 2 PR, mulai meletup-letup.

Anak-anak saya, yang perasaannya memang sensitif seperti mamanya, hehe, langsung mengkeret. Dan karena mereka anak baik, mereka nggak ngambek. Hanya lalu menjauh.

Sedikit penyesalan muncul. Tapi berhubung prosesor masih panas, kalah tuh penyesalan. Ya udahlah, mau gimana lagi. Memang capek, boleh dong marah dikit. Nobody's perfect.

Sampai tadi pagi. Ketika dalam perjalanan ke kantor, suasana tenang, saya memikirkan kembali yang terjadi kemarin.

Seharusnya saya amat sangat patut bersyukur. Dan dalam syukur itu seharusnya tidak ada ruang untuk kesal, apa lagi marah.

Anak-anak datang menyerbu bukankah artinya anak-anak senang dekat dengan kita? Ini modal yang sangat penting untuk tumbuh kembangnya terutama di masa-masa kritis nanti.

Anak-anak datang bertanya tentang PR-nya bukankah berarti mereka anak-anak yang rajin, yang sedang berusaha yang terbaik menyelesaikan tugasnya? Daripada mereka yang harus dipaksa-paksa untuk membuat PR? Bukankah itu artinya mereka anak-anak yang bertanggung jawab? Itu juga adalah modal untuk mereka di masa depan.

Dan bahwa mereka bisa membuat PR, bisa bertanya, bisa menyerbu kita, itu artinya mereka sehat wal afiat, tak kurang suatu apa.

Memikirkan itu semua, penyesalan yang tadi malam hanya sedikit, langsung berubah menjadi setinggi bukit. Dan saya bertekad untuk memperbaikinya malam nanti. Secapek apa pun, saya harus tersenyum, dan meladeni anak-anak saya, semuanya :-)