Showing posts with label manajemen pribadi. Show all posts
Showing posts with label manajemen pribadi. Show all posts

Monday, September 26, 2016

Hijrah Secara Spiritual

Ceramah disampaikan oleh Ust. Hilman Rosyad Shihab, Lc

Ada 5 tahapan Hijrah Spiritual :

Pertama, berubah jadi tidak tahu menjadi tahu.
Hal ini dilakukan dengan terus mencari ilmu.

Kedua, berubah dari sekedar mengetahui menjadi memiliki niat untuk menjalankan.

Ketiga, berubah dari sekedar berniat menjadi benar-benar mengamalkan.

Keempat, berubah dari mengamalkan sekali-sekali menjadi merutinkan.

Ketika kita sudah memulai suatu amal, hendaklah kita rutinkan amal tersebut hingga akhir hayat kita.

Memang ada kisah tentang husnul khatimah dan su’ul khatimah yang cukup ekstrim. Yaitu seseorang yang seumur hidupnya selalu berbuat dosa, lalu suatu hari ia bertaubat, dan meninggal husnul khatimah. Atau ada juga seseorang yang selalu berbuat baik dalam hidupnya, meninggalkan semua maksiat, namun menjelang akhir hayatnya melakukan perbuatan dosa, dan ia meninggal su’ul khatimah.

Akan tetapi secara umum, perbuatan baik biasanya menghasilkan hal yang baik. Dan sebaliknya perbuatan buruk menghasilkan hal yang buruk.

Maka bila pernah melakukan perbuatan baik, lakukan terus. Bila dahulu menjadi aktivis masjid ketika pekerjaan masih belum terlalu sibuk, jangan tinggalkan walaupun sekarang sudah sibuk. Jika pernah tahajjud, pernah membaca Al Qur’an, pernah puasa sunnah, rutinkan, dawamkan.

Ada hadits yang mengatakan bahwa sebaik-baik amal adalah yang dilakukan secara kontinu walaupun sedikit. Dan hadits lain mengatakan bahwa seorang muslim bila hari ini sama dengan kemarin, maka ia rugi. Bila ia lebih baik dari  kemarin, maka ia beruntung. Bila ia lebih buruk dari hari kemarin, maka ia binasa.

Kelima, untuk menjaga rutinitas, maka dakwahkanlah.

Ustadz menceritakan bahwa di awal menjadi da’i, beliau masih merokok. Kemudian, dalam suatu pengajian, ada jamaah yang bertanya tentang rokok, sehingga Ustadz harus  menjelaskan dengan benar hukum rokok dalam Islam. Bagian dari takdir Allah, pertanyaan tentang rokok ini sering sekali diajukan di berbagai pengajian, sehingga menjadi cukup populer di Bandung kala itu. Dan akibatnya Ustadz bercanda bahwa beliau semakin kesulitan untuk mencari tempat untuk merokok. Sehingga suatu hari beliau memutuskan untuk berhenti merokok.

Maka dakwah akan menjaga kita agar bisa tetap konsisten.

Kelima tahapan hijrah ini harus kita lakukan secara terus menerus, mulai dari mencari ilmu, mengubahnya menjadi niat beramal, mengubah dari niat menjadi amal, merutinkan amal, dan mendakwahkannya.

Dakwah sebetulnya secara prinsipnya bersifat fardhu ain. Pada pundak setiap muslim terdapat kewajiban dakwah.


Model dan caranya, bersifat fardhu kifayah. Seorang da’i dengan berbicara kepada jamaah, seorang ayah dengan mencontohkan kepada anak-anaknya, dan lain-lain. 

Tuesday, May 24, 2016

Persiapan Amaliyah Ramadhan

Ceramah Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Hilman Rosyad, dalam rangka persiapan Ramadhan 2 Senin mendatang.

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, namun karena ada kebiasaan  dan mindset yang keliru, kita menjadi sulit meraih keberkahan.Salah satunya adalah anggapan bahwa di bulan Ramadhan, yang penting adalah puasa, sehingga puasa dianggap sebagai hal yang paling utama.


Padahal puasa dapat dikatakan “tidak penting”, karena pada ayat puasa dijelaskan tentang kemudahan puasa. Dibandingkan dengan jihad, yang dijelaskan bahwa sulit, dengan ayat yang menyatakan bahwa boleh jadi ada hal yang kamu benci tetapi baik untukmu. Sedangkan pada ayat puasa dijelaskan bahwa Allah menginginkan hal yang mudah dan bukan yang sulit, dan setelah itu dipermudah lagi dengan boleh berbuka bila sakit dan safar.

Padahal pahala suatu ibadah bergantung kepada tingkat kesulitan dari ibadah tersebut. Misalnya yang sering disebutkan bahwa amal terbaik adalah walaupun tidak besar tetapi konsisten. Amalan ini diberikan pahala besar karena sulit.

Untuk puasa, hampir tidak ada hadits yang menyatakan tentang pahala puasa. Ada yang menyebutkan puasa sebagai perisai. Balasan yang dijelaskan adalah lapar dan dahaga. Hadits lain menyatakan bahwa semua amalan, pahalanya bagi manusia, khusus untuk puasa, Allah yang memberikan pahala, namun tidak dijelaskan bentuk pahalanya. Maka puasa untuk Allah.

Namun fokus pada puasa tamat 30 hari justru tidak menjamin diperolehnya rahmat, maghfirah, pembebasan dari api neraka, terbelenggunya syaitan, dan terbukanya pintu surga.

Yang penting dalam bulan Ramadhan justru 10 hal berikut :
1. Mengakhirkan sahur
2. Menyegerakan berbuka
3. Shalat malam
4. Tilawah quran
5. Memperbanyak dzikir doa
6. Melaksanakan zakat, infaq, shadaqah
7. Memperbanyak amal soleh ibadah lain (selain no. 1-6)
8. Meninggalkan hal yang mubah yang tidak bermanfaat
9. Hadir di masjid untuk I’tikaf
10. Mencari lailatul qadr


Berkaitan dengan meninggalkan hal yang mubah namun tidak bermanfaat, maka terlebih lagi hal yang makruh dan yang haram. Maka bila di malam Ramadhan seseorang merokok, puasa ramadahan siang harinya menjadi batal. Dan 1 Syawal pun, bila merokok, maka seluruh puasa yang lalu menjadi batal. Maka puasa nanti saja di akhirat, cari tempat yang banyak api, karena dalam kisah tentang surga tidak pernah dijelaskan tentang api.

10 hal inilah yang akan mendatangkan keberkahan, rahmat, maghfirah, pembebasan dari api neraka, terbelenggunya syaitan, dan terbukanya pintu surga.Dapat dikatakan, lupakan puasa karena tidak penting. Puasa memang wajib dan 10 hal tersebut sunnah, namun lebih penting.


Yang pertama adalah mengakhirkan sahur.

Sahur artinya adalah bangun di 1/3 akhir malam. Sahur bukan berarti makan. Dan dalam sahur ada keberkahan, yaitu kebaikan berkelanjutan. Makan sebetulnya tidak perlu. Untuk anak kos yang tidak ada makanan pun, bangunlah untuk keberkahan itu. Bila tidak ada makanan, minumlah sekedar seteguk. Seteguk minuman sebenarnya sangat tidak sebanding bila dibandingkan dengan sepiring nasi lengkap. Namun sama-sama memperoleh keberkahan.


Bila bangun sahur, walaupun hanya dengan seteguk air, siangnya terasa tidak begitu lapar, baru asar terasa lapar. Berbeda dengan mereka yang tidak sahur karena malamnya makan terlalu kenyang, biasanya jam 10 sudah merasa lapar, apa lagi bila makanannya kurang tepat, malah bisa sakit perut dan akhirnya tidak sampai maghrib.

Jangan pernah ragu dengan kekuasaan Allah, bangunlah dulu di waktu sahur sesuai perintah Allah, insya Allah nanti akan datang solusi dari Allah. Bisa saja untuk anak kos yang tidak punya makanan di rumahnya, lalu berjalan ke masjid menjelang subuh, ternyata diajak sahur oleh tetangga yang sedang sahur. Atau bisa minum air putih saja, bila perlu minum air dari kamar mandi, insya Allah aman dan berkah.

Kedua, ta’jilul ifthar, yaitu mempercepat berbuka.

Di Indonesia ada kebiasaan bahwa ketika adzan maghrib dilakukan ta’jil dulu, kemudian berbuka setelah maghrib. Mempercepat berbuka bukan berarti berbuka sebelum maghrib, atau untuk orang di Jakarta berbuka di waktu maghrib Jayapura. Dan tidak dibolehkan berbuka diakhirkan hingga menjelang isya. Syiah berbuka di waktu Isya.


Bagaimana yang dicontohkan Rasulullah?
Rasulullah berbuka dengan 3 butir kurma dilanjutkan dengan air bening. Lalu Rasulullah shalat Maghrib, kemudian menunggu waktu Isya, lalu shalat Isya. Setelah itu qiyamullail, dan baru makan lagi di waktu sahur.

Berbeda sekali dengan kebiasaan kita, yang setelah maghrib makan kenyang, sehingga tarawih menjadi kurang fokus. Setelah tarawih pun masih makan lagi. Jadi puasa pada akhirnya hanya memindahkan waktu makan dari siang ke malam. Dan secara ekonomi di bulan Ramadhan , demand akan makanan justru meningkat, dan pasar menjadi sangat ramai.

Padahal yang disunnahkan adalah di malam hari seharusnya tetap lapar seperti siang, walaupun dihalalkan untuk makan dan minum. Cukup seperlunya saja.

Ketiga, Qiyamullail, atau shalat malam.
Secara definisi, qiyamullail adalah rangkaian shalat sunnah 2 rakaat 2 rakaat antara bada isya dan sebelum subuh yang disempurnakan dengan 1 kali witir.

Tarawih adalah salah 1 cara qiyamullail, dan secara definisi, tidak ada batas rakaat dari qiyamullail.


Namun bagaimana dengan hadits yang mengatakan bahwa Rasulullah di bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan shalat tidak lebih dari 11 rakaat, dengan 4, 4, 3. Hadits ini tidak berhenti di situ, namun masih ada lanjutannya, yaitu, jangan ditanyakan panjang dan indah bacaannya.

Sehingga Aisyah bertanya (kurang lebih), “Wahai Rasulullah, bukankah Allah sudah mengampuni dosamu yang lampau dan yang akan datang? Mengapa engkau harus begitu lelah melakukan qiyamullail?” Rasulullah menjawab (kurang lebih), “Tidakkah boleh menjadi hamba yang bersyukur?”

Maka nilai qiyamullail bergantung pada kelelahan mengerjakannya, karena panjangnya bacaan.

Ibnu Abbas pernah menggambarkan qiyamullail Rasulullah, yaitu ruku sepanjang berdiri, sujud pertama sepanjang ruku, sujud kedua sepanjang sujud pertama. Bila masing-masing 5 menit, maka 1 rakaat 20 menit, untuk 11 rakaat menjadi 220 menit, atau lebih dari 2 jam. Mau

Maka di masa Umar bin Khattab, tarawih dipimpin oleh Ubay bin Kaab, untuk mengupayakan panjangnya shalat seperti Rasulullah, 8 rakaat dibagi menjadi 20 rakaat dengan 10 kali istirahat, ditambah dengan witir. 10 kali istirahat dalam bahasa Arab disebut “rahatan ba’da raha” yang disingkat menjadi tarawih. Di masa selanjutnya, dipecah lagi menjadi 40 rakaat dengan 3 witir.

Untuk ruku yang panjang, dapat membaca tasbih dan doa. Untuk berdiri membaca Al Qur’an, bisa dengan membawa mushaf. Bila mushaf dirasa terlalu jauh, dapat didekatkan dengan maju mendekati mushaf ketika berdiri, kemudian mundur ketika ruku dan sujud. Lebih baik lagi bila menambah hafalan Al Qur’an.


Shalat maju mundur diperbolehkan karena Rasulullah pernah shalat di atas batang pohon ketika berdiri agar terlihat oleh jamaah, dan kemudian mundur untuk turun ke lantai ketika ruku dan sujud, dan kembali naik ke batang pohon ketika berdiri. 

Wednesday, May 18, 2016

Amaliyah di bulan Syaban

Ceramah dzuhur disampaikan oleh Ustadz Ade Purnama, Lc.


Rasulullah berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Di bulan lain, Rasulullah paling banyak berpuasa adalah di bulan Sya’ban. Disebut sebagai berpuasa di bulan Sya’ban, tetapi tidak disebut sebagai Puasa Sya’ban.


Amaliyah di bulan Sya’ban ada 4 yaitu :

Pertama, menyebarkan salam.

Pengertian harfiah adalah membudayakan untuk mengucapkan salam. Yaitu dari yang muda kepada yang lebih tua, yang naik kendaraan kepada yang berjalan, yang berjalan kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak. Bagi yang berpapasan, yang mengucapkan salam lebih dahulu lebih baik.
Salam tidak diperbolehkan diucapkan kepada orang kafir.

Dalam pengertian yang lebih luas, yaitu menyebarkan Islam yang damai, ramah bukan marah. Agar masyarakat tertarik dengan tampilan keislaman kita. Jangan sampai kita dikenal sebagai orang yang rajin ke masjid, taat beribadah, aktivis Islam, tetapi orang takut pada kita. Jenggot adalah sunnah, tetapi keramahan wajib. Celana cingkrang sunnah, tetapi berbuat baik kepada tetangga wajib.


Salah satu sahabat yang sebelumnya beragama Yahudi, Abdullah bin Salam, masuk Islam karena melihat tampilan Rasulullah. Diawali dengan rasa penasaran, mengapa seluruh masyarakat Yatsrib suatu hari berbaris menyambut Rasulullah. Ia pun mengintip dari balik sebuah pohon kurma. Tibalah  Rasulullah di batas kota, disambut dengan thala’al badru alayna.


Ustadz berpindah sebentar ke topik di Indonesia. Islam adalah sebuah sistem lengkap yang mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk politik. Maka seharusnya ustadz diperbolehkan bicara tentang politik di masjid.

Kembali ke kisah tadi. Ia lalu melihat Rasulullah tersenyum, ia pun jatuh hati. Kemudian setelah itu Rasulullah menyampaikan sebuah kalimat yang paling indah yang pernah ia dengar, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah kedamaian, kepedulian, sambungkanlah tali silaturahim, bangunlah di malam hari, niscaya kalian akan masuk surga dengan sejahtera.” Maka orang Yahudi itu masuk Islam dan menggunakan nama Abdullah bin Salam.


Kedua, kepedulian sosial.

Ada hadits yang menyatakan bahwa tidak beriman seseorang bila ia tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan. Dalam surat Al Ma’un Allah berfirman bahwa mereka yang tidak peduli dengan anak yatim dan orang miskin, termasuk sebagai orang yang mendustakan agama. Bila ditelusuri lebih lanjut, peringatan tersebut adalah untuk uang kita sendiri, yang kita peroleh dengan cara yang halal, itu pun termasuk sebagai mendustakan agama bila tidak digunakan untuk kepedulian kepada anak yatim dan fakir miskin. Bagaimana lagi situasinya bila uang tersebut hasil korupsi, apa lagi bila hasil korupsi dari hak fakir miskin.


Kita harus memiliki kepedulian, karena tangan yang memberi lebih baik daripada tangan yang menerima. Kita sering merasa bahagia bila memperoleh sesuatu. Seharusnya kita merasa bahagia ketika memberi. Bila ada One Day One Juz, seharusnya ada One Day One Shadaqah. Awali hari dengan shadaqah. Karena ada hadits yang mengatakan, tidaklah berlalu suatu pagi kecuali ada 2 malaikat yang berdoa. Yang pertama berdoa untuk orang yang berinfaq hari ini, berikan ganti. Yang lain berdoa untuk orang yang tidak berinfaq hari ini, berikan kehancuran. Besarnya terserah. Besar ikhlas lebih baik daripada kecil ngedumel. Dapat diberikan ke tetangga. Bila tidak ada tetangga yang kurang mampu, dapat diberikan ke kotak infaq pertama di masjid.


Kebaikan kepada binatang pun Allah perhitungkan. Apa lagi kebaikan pada manusia. Apa lagi sebagai pemimpin. Di masa Umar bin Khattab, beliau pernah berkata bahwa bila ada keledai terjatuh di San’a karena jalanan yang rusak, maka Umar akan ditanya mengapa jalan tidak diperbaiki.

Saat ini di Indonesia bukan hanya manusia yang terjatuh, tetapi tanah rakyat digusur. Daerah Luarbatang yang dahulu dibeli oleh para habib digusur, dan rakyat hidup di atas perahu. Hal ini sangat tidak sesuai dengan kemanusiaan.

Jangan pernah menganggap enteng kebajikan, bahkan dengan sebutir kurma. Bila memasak, perbanyak kuahnya agar bisa dibagikan kepada tetangga.

Ketiga, menyambung silaturahmi.

Prioritasnya adalah kepada keluarga dan saudara yang memiliki hubungan darah. Berbuat baik kepada saudara memiliki dua nilai yaitu kebajikan dan silaturahim. Seseorang tidak akan sampai kepada kebaikan sejati, sebelum dapat menginfakkan apa yang dicintai.


Pernah seorang sahabat memiliki sebuah kebun kurma yang luar biasa di dekat Masjid Nabawi. 1 pohon kurma dapat menghasilkan 5 kuintal kurma, yang harganya bisa sampai 80 ribu real per kg. Di kebunnya itu terdapat sekitar 100 pohon. Kemudian sahabat ini mewakafkan kebun kurma itu, dan menyampaikan hal ini  kepada Rasulullah. Rasulullah menjawab, “Aduh, mengapa tak kau berikan kepada si fulan dan si fulan?”, yang keduanya adalah keponakannya yang miskin. Karena bila diberikan kepada saudara, akan memperoleh dua nilai yaitu nilai infaq yang tetap, dan kedua nilai silaturahim.


Ada dua yang diutamakan yaitu orang tua dan kerabat. Bila ada keponakan yang yatim, maka harus diurus, karena infaq sekaligus silaturahim.

Istri bekerja mendapatkan 2 pahala, yaitu shadaqah dan silaturahim, dengan syarat ada izin dari suami, dan hasilnya mutlak milik istri. Suami bekerja hanya mendapatkan 1 pahala, karena suami wajib mencari nafkah.

Baik dengan teman, baik dengan saudara. Ada saudara yang menjadi kurang suka kepada kita karena kita kurang peduli, walaupun kita tidak mengganggu. Tradisi membawa uang kecil ketika Idul Fitri juga bagian dari menjaga silaturahim. Barangkali ada saudara yang tadinya berbeda visi politik, menjadi tertarik dengan kita.

Seringkali ada sesama tetangga, sesama jamaah masjid, yang tidak saling bertegur sapa dan membentuk kelompok-kelompok yang terpisah. Padahal kita membutuhkan persatuan dari seluruh komponen Islam, karena kelompok komunis dan kafir sudah makin berani.

Keempat, bangun di malam hari ketika semua orang sedang tidur.

Yaitu untuk shalat tahajud, karena bila seseorang melaksanakan shalat tahajud, tentunya shalat fardhu-nya sudah baik. Shalat tahajud minimal witir, jumlah rakaat tidak penting, yang penting panjang rakaatnya. Bila belum terlalu banyak hafalan, dapat melakukan shalat sambil membawa mushaf. Ada mushaf khusus untuk qiyam dan tahajud yang bisa digunakan.

Wednesday, September 2, 2015

Ceramah Pengantar Haji : Haji dan Kedisiplinan, Etos Kerja dan Produktivitas

Ceramah disampaikan oleh Ustadz Amir Faishol Fath. 

Dalam Islam segala hal sudah diatur dengan sangat jelas.

Visi adalah Lailaha ilallah muhammadur rasulullah, yaitu siap ikut Allah dan siap mencontoh Rasulullah.

Misi adalah rukun islam, rukun iman, serta ihsan dalam berislam dan beriman.

Penjabarannya dalam fiqih thaharah, ibadah, muamalah, dan daulah.

Tidak cukup bila muslim hanya shalat saja. Aturan masuk kamar mandi ada dalam Islam dengan sangat detil, yaitu masuk dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan. Tidak ada agama lain yang mengatur hingga sedetil itu.

Dan bila ada aturan untuk hal-hal kecil, maka mustahil tidak ada aturan untuk hal-hal yang besar. Islam adalah agama peradaban yang juga mengatur perekonomian dan negara. Rasulullah pemimpin agama sekaligus juga memimpin pasar dan menegur pelaku pasar yang berlaku curang sebagaimana dalam surat Al Muthaffifin,  juga menjadi pemimpin diplomasi yang berunding dengan pemimpin negara lain.

Semua ibadah ada hubungannya dengan kehidupan.

Shalat, inna shalata tanha anil fahsya’i wal munkar, sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan kerji dan munkar.
Zakat, ambillan harta mereka sebagai zakat untuk mensucikan jiwa dari bakhil, kikir, dan sombong terhadap harta, serta ketergantungan terhadap benda.
Puasa, la’allakum tattaquun, menjadi orang yang bertakwa, karena bila seseorang mampu mengendalikan nafsu dari hal yang halal, tidak mungkin tidak dapat mengendalikan nafsu dari hal yang haram.
Haji, menghindar dari rafats, fusuq, dan jidal. Seorang haji tidak akan berkata kotor, atasan tidak akan merendahkan bawahan, suami tidak akan merendahkan istri. Tidak akan berkata jidal yang sia-sia, bermanfaat dari setiap bagiannya seperti pohon kurma.

Dalam Islam sudah diatur program dari program harian berupa shalat wajib, ditambah dengan shalat nawafil (shalat sunnah). Bila shalat nawafil bagus, maka hal ini merupakan indikasi kondisi iman yang baik.
Dalam seminggu, hari-hari ditandai dengan angka yaitu dari Ahad (1) sampai Khamsa (5), dilanjutkan dengan Jum’at dan Sabtu. Hari Senin dan  Kamis adalah hari dilaporkannya amal ke langit. 
Dalam sebulan, ada ayyamul bidh untuk berpuasa 3 hari setiap bulannya.
Dalam setahun ada bulan Ramadhan.
Dalam seumur hidup ada haji.

Sesuai tema, yaitu haji dalam kaitannya dengan kedisiplinan, etos kerja, dan produktivitas.

Haji pada dasarnya adalah ibadah yang disederhanakan.
Bila dalam shalat wajib ada bacaan, misalnya Al Fatihah, dalam haji tidak ada kewajiban atau rukun berupa bacaan.

Pertama, Haji dan Kedisiplinan

Haji mewajibkan jamaah untuk benar-benar mengikuti Allah sesuai waktu yang ditetapkan.
Tanggal 8 Dzulhijjah ke Mina, tanggal 9 wukuf di Arafah, malamnya mabit di Musdalifah, selanjutnya 3 hari melontar jumrah dan mabit di Mina.
Untuk wukuf harus di Arafah. Ada satu masjid di Arafah namanya masjid Namirah, separuh masuk wilayah Arafah, separuh lagi bukan Arafah. Maka di waktu wukuf, jamaah haji harus berada di wilayah Arafah.

Bila dibandingkan dengan shalat, shalat boleh dilakukan di mana saja, asalkan ketika shalat tidak bergerak ke mana-mana (kecuali dalam kondisi khusus perjalanan).
Haji ditentukan tempatnya, sehingga diperlukan biaya. Bila ingin haji, harus berkorban, karena tidak ada cinta tanpa pengorbanan.
Haji adalah pengorbanan harta, pikiran, waktu dan perasaan.

Ada beberapa godaan saat wukuf di Arafah. Setelah makan siang sebenarnya wukuf belum selesai. Sebaiknya kembali ke tenda dan meneruskan berdoa lagi. Jangan sampai kehabisan doa, jangan sampai bosan berdoa, karena Allah juga tidak bosan mendengar doa. Buku doa sebetulnya tidak wajib dibaca. Saat wukuf hindarkan menghabiskan waktu dengan narsis dan selfie.

Saat sa’i jangan berdzikir dengan bernyanyi, berdzikirlah dengan khusyu.

Untuk thawaf sebetulnya tidak ada doa wajib. Salah satu yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
Putaran pertama : bertasbih dilanjutkan dengan doa untuk diri sendiri, karena kita banyak dosa, berdoalah seperti curhat kepada Allah, bermuhasabah atas segala yang sudah kita lakukan.
Putaran kedua : berdoa untuk istri, suami, dan anak.
Putaran ketiga : berdoa untuk ayah ibu.
Putaran keempat : berdoa untuk kakek, nenek, buyut, yang sudah membesarkan ayah, ibu, dan kakek, nenek kita.
Putaran kelima : berdoa untuk umat Islam, agar disatukan, tidak terpecah belah, bersatu dan berdaya.
Di putaran kelima ini bacakan juga doa titipan teman-teman. Doakan juga teman-teman walaupun tidak menitipkan doa. Karena nanti di akhirat yang akan ditanya seseorang pertama kali adalah di mana teman-teman yang dulu di dunia bersama.
Putaran keenam : berdoa untuk Indonesia agar dihadirkan pemimpin yang baik dan berkah, membawa keberkahan dan ketenangan bagi masyarakt.
Seperti peribahasa Madura, “Nak, ambillah bintang, kalaupun tak sampai, sejatuh-jatuhnya sampai di bulan.”


Putaran ketujuh : kembali berdoa untuk diri sendiri.

Thawaf cukup di dalam lingkungan Masjidil Haram, tidak perlu melebar sampai ke mal-mal di luar Masjidil Haram.

Sunnah selama di Makkah adalah memperbanyak thawaf. Kita bisa meniatkan thawaf untuk orang tua. Minimal sehari 6 kali thawaf.

Kedua, Haji dan Membangun Etos Kerja

Dalam bahasa Arab, etos kerja dapat disebut sebagai tahqiqul ijtihad.
Etos kerja dapat dilakukan bila ada target yang jelas, dan target tersebut diturunkan sampai tingkat yang dapat dilaksanakan.

Dalam ibadah haji, dianjurkan untuk memiliki target sampingan, seperti khatam Al Qur’an 1 kali, atau 2 kali, atau bahkan 3 kali.


Selama di Makkah perbanyak thawab, sempatkan i’tikaf dari dzuhur sampai isya.
Banyak jamaah yang sebelum haji melakukan umrah berkali-kali sampai kelelahan dan sakit ketika haji. Padahal hal ini tidak harus dilakukan.

3. Kaitan Haji dengan Produktivitas

Dalam bahasa Arab disebut sebagai tahqiqul ajrul azhim, menggapai ganjaran besar.

Ada dua jenis Karyawan :
1.      Pasif, yang menunggu perintah, yang biasanya tidak bisa dibanggakan.
2.      Produktif, berpikir bagaimana membesarkan perusahaan.

Dalam mentaati Allah, juga ada dua jenis manusia :
1.      Pasif, menunggu diperintah, dan melakukan dengan malas.
2.      Produktif, merasa dikontrol Allah.

Dalam Haji manusia merasa dikontrol oleh Allah. Haji adalah ibadah berpindah dari tempat ke tempat. Dari rumah ke bandara, miqat berganti pakaian, ke Makkah, thawaf 2 rakaat, sai, tahallul. Tanggal 8 berganti pakaian, ke Mina tunggu wukuf, shalat qashar tepat waktu. Tanggal 10 subuh ke Arafah, wukuf, shalat zhuhur, shalat maghrib. Matahari terbenam ke Musdalifah mabit tidur sampai subuh. Kembali ke Mina untuk jumrah aqabah. Sebaiknya tidak ke Makkah, karena bila macet bisa jadi tidak ke Mina. Tanggal 11 di Mina, tanggal 12 melempar jumrah.


Jumrah itu bukan syaitan, batu kecil dilemparkan dengan mengucapkan Bismillahi Allahu Akbar, sambil di dalam hati tanamkan permusuhan abadi dengan syaitan. 

Thursday, July 30, 2015

Sudah Baca Qur'an Belum?


Kalaupun Harus Marah, Sebaiknya..

Yang paling betul sebenarnya adalah tidak boleh marah. Titik.

La taghdhab wa lakal jannah. Janganlah kamu marah dan bagimu surga.

Dan cara yang cukup efektif adalah sungguh-sungguh meniatkan di pagi hari, bahwa hari itu tidak akan marah. Tenangkan hati, bismillah. Biasanya Alhamdulillah semua “rintangan dan tantangan” dapat dilalui dengan tenang.

Tapi, ada hari-hari yang “meledak-ledak”, sekali lagi yang paling betul adalah tetap tidak marah. Titik.

Tetapi, bila pun akhirnya marah, seharusnya perlu dilakukan analisis ini :

Pertama, apakah kita marah pada sasaran yang tepat? Ada kalanya kita sebetulnya kesal dengan anak yang besar, tapi marah ke anak yang kecil. Atau kita stress dengan waktu yang mepet, tetapi marahnya ke pembantu. Atau kita kesal dengan pembantu, tapi marahnya ke anak.

Jadi sebelum marah, pikirkan dulu, apa yang sebetulnya membuat marah, dan selesaikan dengan penyebabnya itu. Sebaiknya sih tetap dengan tidak marah, tetapi kalau pun marah, at least tepat sasaran. Dan kemungkinan setelah berpikir, marahnya juga menjadi reda.

Kedua, apakah kita marah mengenai hal yang tepat? Ada kalanya kita kesal karena anak makannya lama di pagi hari, tapi akhirnya marah juga ke hal-hal lain. Marah juga ke tasnya yang belum dibereskan, marah juga ke PR-nya 2 hari yang lalu yang lupa dikerjakan, marah juga ke kebiasaannya tidur terlalu malam, dll dsb.
Jadi setelah sasarannya tepat, sebelum marah, pikirkan dulu, hal apa yang sebetulnya membuat marah, dan selesaikan cukup hal itu saja. Sebaiknya sih tetap dengan tidak marah, tetapi kalau pun marah, at least untuk hal yang tepat. Dan kemungkinan setelah berpikir, marahnya juga menjadi reda.

Ketiga, apakah kita marah pada waktu yang tepat? Kalau situasinya sedang terburu-buru, memang kita cenderung untuk marah. Padahal, para bala tentara juga belum tentu menjadi lebih cepat bergerak dengan dimarahi.

Maka pikirkan dulu, apakah dengan marah saat ini, hasilnya akan efektif? Atau sekedar melampiaskan saja kekesalan? Dan mengorbankan surga yang dijanjikan?

Maka pikirkan dulu, ketepatan sasasaran kemarahan, ketepatan hal yang dibahas dalam kemarahan, ketepatan waktu untuk marah. Mudah-mudahan marah mereda.

Pada dasarnya tidak ada hal yang lebih penting daripada surga.

Kalau pun ada orang yang melakukan kesalahan atau ketidaksempurnaan, then again, to err is human, nobody is perfect. Kesalahan itu pada dasarnya kecil saja dibandingkan dengan surga.

Kalaupun ada hal yang salah, akan sangat lebih efektif bila diperbaiki dengan cara yang baik.

Kalaupun ada waktu yang tepat untuk marah, pada dasarnya lebih baik disampaikan tanpa marah.

Maka tetap yang terbaik adalah tidak marah. Titik.


Kalaupun rasanya harus marah, Pikirkan dulu tiga hal tadi. Marahlah dengan tepat, atau tetap yang terbaik adalah tidak marah. Titik. 

Thursday, June 4, 2015

Hadits Ridha Allah

Barangsiapa yang mencari ridha Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia.

Barangsiapa yang mencari ridha manusia namun membuat Allah murka, maka Allah akan membiarkan dia bergantung kepada manusia.


(HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Wednesday, June 3, 2015

Membina Keluarga (1)

Ceramah Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Muhsinin Fauzi, Lc.

Tugas pokok suami adalah mengantar keluarga ke surga.

Mengenai nafkah justru tidak dibahas, karena tanpa agama pun, kewajiban suami untuk mencari nafkah sudah jelas.
Aspek yang diutamakan dalam agama adalah pendidikan, sehingga tugas pokok suami adalah membawa keluarga menjadi salih dan salihah, dengan salah satu support system-nya adalah nafkah.

Umar bin Khattab pernah menyampaikan bahwa kewajiban ayah kepada anak adalah memberi nama yang baik, memilihkan ibu yang baik, dan mengajarkan Al Qur’an.

Dalam beberapa hadits dijelaskan tentang sunnah suami untuk mencari nafkah, tetapi tidak dibahas pada Cabang Keimanan.

Membahas keluarga, maka dibagi menjadi tiga tahap yaitu  pra nikah, pada saat pernikahan, serta pasca nikah.
Pasca nikah dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu kewajiban suami istri serta kewajiban orang tua anak.

Permasalahan rumah tangga dapat merembet dan dapat berkembang sampai menjadi fatal.

Untuk pembahasan pranikah, maka aspek pertama adalah masalah kualifikasi pasangan.
Dalam Islam, kualifikasi pasangan ada 4 yaitu nasab (keturunan), wajah, harta, dan agama. Harta yang dimaksud bukan harta orang tua, tetapi harta dari calon suami / istri itu sendiri.
Yang diutamakan dalam pemilihan pasangan adalah agama.

Agama akan membantu dalam mengatasi berbagai dinamika dalam berkeluarga.
Keberagamaan bukan hanya dalam hal symbol, tetapi yang terpenting adalah ketaatan menjalankan hukum serta etika dan karakter.

Bila dicoba dikombinasikan antara kesalihan (kualifikasi agama) dengan kualifikasi yang lain, maka akan memberikan hasil yang baik, dalam keadaan positif maupun negatif. Istri salihah, dikombinasikan dengan kualifikasi apa pun akan baik, istri tidak salihah, dikombinasikan dengan kualifikasi apa pun akan buruk.

Kesalihan adalah kesanggupan untuk bertindak benar dalam berbagai situasi. Bertindak benar ketika dalam kekurangan, bertindak benar ketika marah, bertindak benar ketika dalam kecukupan, dan lain-lain.

Contoh kombinasi istri salihah dengan kualifikasi lain yang positif :
Salihah cantik, menyenangkan suami dan tetap dapat menempatkan diri dengan baik.
Salihah kaya, dapat membantu suami dan tetap menghormati kedudukan suami.
Salihah nasab baik, membanggakan suami dan tetap menghormati suami.
Salihah pintar, dapat bertukar pikiran dengan suami dan tetap menghormati pendapat suami.

Contoh kombinasi istri salihah dengan kualifikasi lain yang negatif:
Salihah wajah biasa, suami tenang, dan istri tidak banyak menuntut.
Salihah kurang mampu, sabar, tidak banyak keinginan, sudah terbiasa dalam kekurangan.
Salihah kurang pintar, tunduk dengan apa yang diarahkan suami.

Sebaliknya, contoh kombinasi istri tidak salihah dengan kualifikasi lain yang positif :
Tidak salihah cantik, akan memperlakukan suami dengan semena-mena. Suami pun tidak dapat berbuat apa-apa karena takut kehilangan.
Maka khusus untuk kualifikasi cantik, bila ada seorang laki-laki yang merasa harus memiliki istri yang cantik, maka pastikan ia juga salihah.
Tidak salihah kaya, akan memperbudak suami karena merasa kekayaan adalah miliknya.
Tidak salihah pintar, akan “ngelunjak” karena merasa lebih pintar dari suami.

Contoh kombinasi istri tidak salihah dengan kualifikasi lain yang negatif :
Tidak salihah miskin atau tidak salihah bodoh, menyulitkan suami dari berbagai aspek.

Maka istri tidak salihah akan menyulitkan suami dikombinasikan dengan kualifikasi apa pun.

Ada contoh kasus seseorang yang memiliki karir yang baik, namun ternyata setelah dicek kesehatannya, tingkat kolesterolnya cukup tinggi. Orang tersebut berhari-hari tidak bisa tidur karena khawatir dengan kondisi kesehatannya itu. Ketika diajak bicara, ternyata sebabnya adalah karena ia kurang dekat dengan Allah. Hidup memang menjadi serba rumit dan ruwet bila seseorang tidak salih.

Perbandingan ta’aruf dengan pacaran.
Apa bila dianalogikan dengan memilih produk, cara pemilihan yang terbaik adalah ketika emosi tidak terlibat. Sehingga bila kita akan membeli sesuatu, jangan membawa anak kecil, karena anak kecil akan sangat emosional.

Pada pacaran emosi terlibat, padahal kualifikasi belum terlihat secara jelas.
Pada ta’aruf kualifikasi dipilih dulu, baru kemudian emosi terlibat, yaitu ketika cinta jatuh ketika menentukan suka atau tidak suka pada saat khitbah.

Kembali dianalogikan dengan memilih produk, kita perlu melihat brosur terlebih dahulu. Begitu pula dengan proses ta’aruf, yang dilakukan dengan identifikasi kualifikasi terlebih dahulu. Penentuan suka atau tidak suka dilakukan ketika khitbah.
Bila kualifikasi sudah cocok, tetapi ternyata ketika khitbah tidak suka, maka dapat lebih mudah untuk dibatalkan.
Namun jika sudah terlanjur suka yang dilalui dengan metode pacaran, ketika ada kualifikasi yang tidak cocok, biasanya akan sulit untuk menentukan sikap karena sangat mudah untuk memberikan pembenaran.

Kembali dianalogikan dengan pemilihan barang. Barang dengan kualifikasi baik biasanya disimpan dengan baik dan tidak boleh disentuh. Sedangkan barang dengan kualifikasi kurang baik biasanya diletakkan di tempat terbuka, dapat dicoba berkali-kali sehingga akhirnya rusak walaupun tidak dibeli.

Maka pacaran sebetulnya menurunkan grade, karena bila dianalogikan dengan barang, statusnya seperti barang yang bisa dicoba dahulu sebelum dibeli. Padahal barang yang mahal biasanya hanya bisa dilihat dari brosur saja, jangankan menyentuh barang aslinya, melihat barang aslinya saja tidak bisa.

Ada contoh kasus ketika ada seorang Ayah yang tidak membolehkan anak perempuannya untuk pacaran, dan menyatakan bila ada laki-laki yang mendekati anak perempuannya, akan segera dinikahkan. Demikianlah yang selalu disampaikan oleh anak perempuannya itu kepada setiap laki-laki yang  mendekatinya, dan biasanya tidak ada yang berani mendekati. Sampai akhirnya ada yang datang, dan ternyata berani mendatangi ayahnya dan setuju untuk menikahi, dan ternyata memang memiliki kualifikasi yang baik.

Hikmah dari contoh kasus ini, dari sisi anak perempuan, harus dijaga sungguh-sungguh, bila ada yang mendekati harus menikah. Dari sisi laki-laki biasanya memang hanya yang benar-benar mampu yang berani untuk segera menikahi.

Maka sebetulnya proses pra nikah dengan ta’aruf dan khitbah ini sangat mirip dengan proses jual beli barang. Tahap pertama adalah pengecekan kualifikasi dengan proses ta’aruf. Bila merasa cocok, dilanjutkan dengan proses khitbah yaitu melihat barang, bila cocok bisa dilanjutkan dengan akad nikah.

Proses pengecekan kualifikasi atau ta’aruf secara teknis saat ini dilakukan dengan tukar menukar data dan informasi dari orang-orang sekitar calon tersebut. Dahulu biasanya dilakukan dengan ayah yang benar-benar mengikuti seluruh kegiatan calon menantunya dan memberikan penilaian langsung dari pengamatan itu. 

Proses ini akan dipermudah bila dapat dibangun lingkungan yang baik. Seperti bila ada pasar atau mal dengan barang yang sudah bisa dipastikan baik dan bermerek, maka proses pemilihan dapat dilakukan dengan lebih mudah, karena kualitasnya sudah dapat dipastikan baik. Di masa sahabat dan salafus salih, proses mencari pasangan sangat mudah. Karena lingkungan saat itu terjaga dengan sangat baik dan dapat dikatakan bahwa semua muslim memiliki  kualitas keislaman yang baik.

Saat ini lingkungan belum terbangun dengan baik, maka proses pencarian menjadi lama. Kita harus bekerja ekstra keras untuk memastikan kualifikasi. Karena ada kalanya yang terlihat salih dan salihah, bisa jadi memang benar-benar salih dan salihah, bisa juga setengah bahkan seperempat salih dan salihah.

Ada yang terlihat salih dengan sangat menjaga shalat, tetapi tidak menghargai pasangan. Ada yang berjuang sungguh-sungguh untuk dakwah, tetapi menelantarkan anak. Ada yang sangat menjaga pelaksanaan sunnah, tetapi tidak menghormati mertua.

Maka saat ini ta’aruf menjadi satu-satunya jalan untuk proses pra nikah. Dan tugas kita memastikan bahwa kita semua dan keluarga menjalankan proses ta’aruf ini.

Karena kegagalan menjalankan proses pra nikah ini, akan menghasilkan kualifikasi pasangan yang kurang baik, dan secara umum mereka yang tidak bertindak benar kepada Tuhannya, akan bertindak tidak benar juga pada pasangannya.

Saat ini terdapat fenomena ada pasangan di mana suami terlihat biasa, namun istrinya terlihat salihah. Hal ini dapat terjadi karena dua hal, yaitu memang dari awal istrinya salihah, atau tadinya sama-sama biasa, namun istri taubat terlebih dahulu. Dan hal kedua ini akhir-akhir ini sangat dimungkinkan karena banyak istri yang dilarang untuk kerja oleh suaminya karena suaminya takut istrinya diganggu orang lain di kantor, kemudian istri mengisi waktu dengan mengantar anak ke sekolah, yang ternyata diisi dengan pengajian.

Di sisi lain, suami juga senang dengan istri salihah, karena biasanya semahal-mahal biaya istri salihah tidak semahal biaya istri tidak salihah. Misalnya istri salihah lebih senang ke pengajian daripada ke mal, dan sebagainya.

Proses setelah ta’aruf adalah khitbah, yang bila dianalogikan dengan jual beli barang, adalah proses melihat barang yang akan dibeli. Kedua calon pasangan sama-sama melihat.

Mereka yang pro pacaran biasanya akan berkata : Bagaimana bisa kenal bila tanpa pacaran? Bukankah kalau sekedar tukar data saja bisa bohong? Lalu bagaimana kalau tidak cinta?

Jawabannya adalah : Islam tidak mungkin tidak manusiawi.
Memang ada mereka yang ekstrim, bahkan sampai mengharamkan cinta. Padahal ini mengabaikan sisi kemanusiaan. Mereka memandang bahwa pernikahan adalah bagian dari perjuangan dakwah, sehingga tidak diperlukan cinta. Padahal kasih sayang, manja, cinta adalah cinta basyari yang diperlukan oleh manusia. Ada hadits yang mengatakan bahwa : Nikahilah wanita yang banyak anaknya dan besar kasih sayang / cintanya. Rasulullah pun menyampaikan citanya kepada Khadijah.

Justru sebaiknya adalah setelah proses khitbah, saat itulah cinta dijatuhkan.
Kesalahan dari mereka yang  mengharamkan cinta pada pasangan, adalah karena ayat idelogi digunakan untuk muamalah. Sehingga beragama menjadi terlalu keras. Padahal agama seharusnya lembut dan nyaman dalam kebenaran.

Setelah khitbah dan kedua pasangan menyukai pasangan masing-masing, segeralah menikah setelah ada uangnya. Sebagaimana pada jual beli barang, jika telah cocok, maka bayarkan uangnya.
Mahar dapat dipandang sebagai DP, sedangkan sisa pembayarannya adalah seluruh hidup yang ditanggung nantinya oleh suami. Dan akan ada uang mut’ah bila nanti terjadi perpisahan.

Dalam penyampaian data tidak boleh ada kebohongan, harus dicari parameter atau kriteria yang mewakili seluruh data. Misalnya untuk  mobil, bila mesinnya baik, maka dapat disimpulkan bahwa mobilnya baik. Tidak perlu membongkar keseluruhan mobil, yang artinya sama saja merusak mobilnya.

Bila ada hal yang di luar normal, harus disampaikan.

Sebetulnya sifat seseorang dapat dipelajari dari wajah dan telapak tangannya, sehingga proses khitbah sebetulnya sudah cukup untuk mengenali sifat dan karakter calon pasangan. Karena wajah dan telapak tangan adalah representasi dari seseorang. Dari wajah dapat terlihat kecantikan, sifat, karakter, kemauan, bohong atau tidaknya, mata yang jujur atau tidak, sifat lembut dan tunduk atau tidak. Dari bahasa tubuh juga dapat diketahui karakter seseorang, misalnya dari cara memasuki ruangan dan cara duduk. Buku tentang ilmu mempelajari sifat manusia dari wajah dan telapak tangan ini ditulis oleh Fakhrur Rozi dalam bahasa Arab dan belum diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.


Maka ta’aruf dan khitbah adalah cara yang sangat efektif dan tidak merugikan salah satu pihak. Dari proses ini akan didapatkan pasangan yang sesuai kualifikasinya, karena bila kualifikasi kurang tepat, di masa pernikahan akan terjadi proses penataan yang terus menerus, tidak kunjung selesai. 

Monday, May 25, 2015

Menggapai Taqwa

Ceramah Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Ahmad Romli Zubair, Lc.

Taqwa artinya melakukan perintah dalam keadaan lapang ataupun sempit, serta berupaya meninggalkan yang dilarang.

Taqwa adalah tanda kemuliaan sebagaimana pada surat Al Hujurat ayat 13 dikatakan bahwa inna akramakum indallahi atqaakum, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.

Umar bin Khattab pernah bertanya kepada sahabat, “Apa arti taqwa?” Sahabat bertanya kembali, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang penuh dengan duri, apa yang kaulakukan?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku berjalan dengan berhati-hati”, Sahabat menjawab, “Seperti itulah taqwa.”

Hendaknya kita terus memperbaiki amal soleh, karena hati yang dalam bahasa Arab disebut qalbun yang bersifat mudah berbolak-balik. Kita perlu terus memperbaiki niat, karena niat ikhlas adalah syarat diterimanya amal. 

Untuk menggapai taqwa, ada 4 hal yang dapat dilakukan.


Pertama, Al Mu’ahadah, yaitu mengingat perjanjian dengan Allah, yang kita ucapkan dalam doa iftitah, dalam Al Fatihah, dan janji pada Allah ketika kita berusia 4 bulan dalam kandungan, “Bala syahidna”.

Salah satu doa yang penting adalah agar segala amal kita diterima :
Allahumma inni as’aluka ilman nafian wa rizqan halalan wa toyyibab wa amalan mutaqabalan

Kedua, Al Muhasabah, yaitu menghitung amal yang sudah kita lakukan tiap malam. Apakah hari itu kita melakukan ghibah, apakah kita shalat berjamaah, apakah sudah bersedekah.

Hendaknya kita menghisab diri kita sendiri sebelum dihisab oleh Allah di hari akhir nanti.

Dalam surat Al Hasyr ayat 18 dikatakan Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat);

Banyak orang yang lahirnya terlihat seperti ahlul jannah, tetapi ternyata seorang ahli neraka. Dan juga sebaliknya. 

Ada kisah seorang Majusi penyembah api yang disebut oleh Rasulullah sebagai ahlul jannah. Sahabat pun mendatangi orang Majusi tersebut dan bertanya apa yang menyebabkan dia menjadi seorang ahlul jannah. Dia pun berkata bahwa ada seorang perempuan tua yang setiap hari meminta api kepadanya untuk memasak, dan selalu ia berikan. Sahabat itu pun berkata, bahwa ia adalah ahlul jannah karena amalnya itu. Maka orang Majusi itu pun mengucapkan syahadat.

Maka kita jangan menghakimi orang lain, karena kita tidak mengetahui apa yang akan menjadi akhir bagi orang tersebut.

Dalam surat Al Hasyr dikatakan bahwa 1 hari di padang Mahsyar panjangnya 50 ribu tahun. 

Ketiga, Al Muraqabah, yaitu merasa diawasi Allah SWT. 
Sebagaimana pada hadits tentang islam, iman, dan ihsan antara lain pada link ini : 

Ihsan adalah beribadah seolah-olah engkau melihat Allah, dan walaupun engkau tak dapat melihat Allah, sesungguhnya Allah melihatmu.

Banyaklah datang ke majelis ta’lim. Karena andaikata ada seorang ahli maksiat yang datang ke sebuah majelis ta’lim dengan tidak sengaja, tidak berniat untuk belajar, hanya kebetulan mampir, ia pun akan diampuni dosanya. Apa lagi orang yang memang berniat untuk mencari ilmu. 

Keempat, Al Mujahadah, yaitu bersungguh-sungguh di jalan Allah.



Bila kita mengetahui besarnya pahala shalat berjamaah, dalam keadaan sakit pun kita akan berangkat untuk shalat berjamaah. Nikmat iman akan menghapuskan rasa sakit, rasa lelah, dan rasa penat.

Ketika Shalahuddin al Ayyubi memilih pasukan untuk menaklukkan Masjidil Aqsha, dipilih mereka yang di malam sebelumnya melakukan tilawah dan qiyamul lail.

Kelima, Al Mu’aqabah, yaitu menghukum diri ketika lalai.

Kisah Umar bin Khattab ketika beliau melihat kebun, sampai jamaah shalat asar selesai. Beliau sangat menyesal dan menjual separuh kebun tersebut.

Misalnya kita jangan sampai meninggalkan shalat sunnah sebelum subuh, dan menetapkan hukuman bagi diri kita bila kita meninggalkannya.  

Thursday, May 21, 2015

Hakikat Dzikir

 Ceramah Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Ahmad Bisry, Lc.

Dalam mengerjakan sesuatu yang diniatkan sebagai ibadah kepada Allah tidak cukup hanya dengan niat, tetapi cara dan prosedur harus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Seringkali kita merasa telah melakukan sesuatu ibadah, dan berharap akan ganjaran dari ibadah tersebut, namun karena Allah dan Rasul-Nya memiliki ketentuan yang tidak kita penuhi, maka ganjaran itu tidak dapat kita peroleh.

Termasuk juga untuk dzikir.

Beberapa fenomena di masyarakat yang sebenarnya kurang tepat tentang dzikir :
1.   Dzikir bersifat terbatas, untuk lafazh-lafazh yang tertentu dan sudah dikenal seperti tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.
2.   Dzikir bersifat seremonial, seperti Jakarta Berdzikir, Indonesia Berdzikir, dan ketika acara selesai, dzikir pun selesai.
3.   Dzikir dilakukan di masjid, mushalla, dan majelis ta’lim, di luar itu tidak ada dzikir.
4.   Dzikir dilakukan setelah shalat, berupa wiridan, tahlilan, arwahan, dan di luar itu tidak ada dzikir.

Bagaimana sebenarnya hakikat dzikir menurut Al Qur’an dan  Hadits?

Secara makna bahasa, dzikir berasal dari kata bahasa Arab dzikrun, dzakara, yadzkuru, yang berarti ingat atau menyebut.
Lawannya adalah lupa atau diam atau tidak menyebut, atau dalam bahasa Arab ghaflah, dan pelakunya ghafilun, ghafilin.
Ingat dan menyebut sangat saling berkait, karena manusia bila ingat akan menyebut, dan bila menyebut akan ingat.

Pemahaman secara syariat, didasarkan pada banyak teks dalam Al Qur’an yang menyebut dzikir.
Dzikir adalah sebuah kondisi pada seseorang yang selalu mengingat akan Allah.
Bukan hanya mengingat Allah, dzat Allah atau nama Allah, tetapi segala hal berkaitan dengan Allah.

Orang yang berdzikir disebut sebagai adz dzakirun, bila perempuan adz dzakirat, bila dalam kalimat tertentu adz dzakirin.

Kondisi dzikir seseorang dapat dikatakan sebagai on atau off.
Bisa saja seseorang tidak menyebut tetapi dalam kondisi on, dan bisa saja seseorang menyebut tetapi dalam kondisi off.  

Aplikasi mengingat Allah :
1.       Melaksanakan perintah Allah
2.       Menjauhi larangan Allah
3.       Menghalalkan yang dihalalkan Allah
4.       Mengharamkan yg diharamkan Allah
5.       Memuji yang dipuji Allah
6.       Mencela yang dicela Allah
Maka dzikir sesungguhnya dilakukan dalam seluruh kondisi yang sedang kita hadapi.

Perintah Dzikir dalam Al Qur'an : 

Al Maidah 11 : Yaa ayuhalladziina aamanudzkuruu ni’matallahi alaikum..
Yaitu perintah untuk mengingat nikmat Allah yang sudah kita terima. Implementasinya adalah dengan mensyukuri nikmat Allah, jangan kita mengatakan sesuatu tercapai karena kehebatan dan usaha diri kita.

Al Ahzab 41 : Yaa ayyuhalladziina aamanudzkurullaha dzikran katsira..
Sering dimaknai dengan dzikir kepada Allah dengan lafazh tertentu, dengan jumlah yang banyak misalnya 1000x, 10.000x.
Padahal maknanya tidak terbatas, dan dalam segala kondisi.

Fathir 3: Yaabayyhannas uzmdzkuru nimatallahi alaikum, apakah ada selain Allah yang mau memberikan rezeki dari atas dan dari bawah?

Ada seseorang pernah bercerita pada Ustadz, tentang ibunya yang dahulu hidup dalam kesulitan, berjualan es dalam plastik, sampai akhirnya beliau sukses, dengan kekayaan 50 milyar, mobil 700 unit, serta 5 gedung yang disewakan.
Beliau berpesan kepada anak-anaknya, agar jika wafat nanti, hartanya dibagi rata untuk semua anak, tidak perlu dibedakan antara anak laki-laki dan perempuan. Anaknya yang perempuan ini, mengatakan bahwa hal itu tidak dibenarkan dalam Islam, seharusnya laki-laki mendapatkan 2 kali dari perempuan. Ibunya lalu berkata, “Memangnya siapa yang sudah capek dan sudah mencari uangnya?” Anak perempuannya tidak berkata apa-apa namun dalam hatinya berkata, “Memangnya siapa yang memberi?”

Al Baqarah 198 : Fadzkurullaha indal masy’aril haram..
Yang dimaksud adalah mabit di muzdalifah pada saat haji.

Al Baqarah 239 : Fadzkurullah..
Ayat awal menerangkan tentang tata cara shalat pada saat perang. Perintah dzikir pada ayat ini maksudnya adalah menyertakan Allah dalam perang yang dilaksanakan.

Al Hajj 38 : Fadzkurusmallah..
Yaitu menyebut nama Allah dalam penyembelihan hewan, yang dicontohkan oleh Rasulullah dengan menyebut Bismillahi Allahu Akbar.

Ayat lain menyebut Fadzkurullah, yang dimaksud adalah mabit di Mina.
Di Mina banyak orang bertemu dari berbagai bangsa, sehingga terlihat sebagai peluang bisnis, dan banyak orang yang berjualan dan berbelanja. Padahal sebuah kerugian bila ke Mina hanya untuk berdagang atau hanya untuk berbelanja.

Pada ayat yang lain : Wadzkuru ni’matallahi ‘alaikum wama anzala alaikum minal kitabi.
Yang dimaksud adalah mengingat nikmat Allah dan mengingat / kembali kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah.

Bila kita melakukan waris tidak sesuai dengan hukum Allah, maka saat itu kita tidak berdzikir kepada Allah. 

Bila suami shalat malam lalu membangunkan istrinya untuk shalat malam, maka kutiba minadz dzakiriina wadz dzakiraat, termasuk orang yang berdzikir (laki-laki dan perempuan). Dan juga sebaliknya, bila istri shalat malam lalu membangunkan suaminya untuk shalat malam.

Ali Imron 103: Wadzkuru ni’matallahubalaikum.. dan menjaga persatuan dan persaudaraan muslim.
 

Monday, May 11, 2015

Hadits Wasiat Rasulullah kepada Abu Hurairah

Ceramah dzuhur disampaikan oleh Ustadz Abdul Muhit

Ceramah ini tentang sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah mewasiatkan 3 hal kepada Abu Hurairah :
“Rasulullah SAW mewasiatkan kepadaku 3 perkara: puasa 3 hari setiap bulan, 2 rakaat shalat dhuha, & shalat witir sebelum tidur” (HR. Bukhari Muslim)

Abu Hurairah memiliki nama asli Abdurrahman bin Sakhr, yang masuk Islam pada perang Khaibar. Setelah masuk Islam, beliau senantiasa menyertai Rasulullah. Beliau juga didoakan oleh Rasulullah. Beliau meriwayatkan hadits paling banyak yaitu 5300 hadits. Beliau wafat pada tahun 57H di Madinah.

Hadits diawali dengan perkataan Abu Hurairah, “berkata kekasihku”, yang dimaksud adalah Rasulullah.
Di hadits lain, Rasulullah pernah berkata bahwa “bila aku memiliki kekasih, kekasihku adalah …(maaf tidak berhasil dicatat, kurang jelas terdengar)”.
Hal ini tidak bertentangan, karena yang dimaksud Rasulullah pada hadits tersebut adalah anggapan Rasulullah tentang siapa yang menjadi kekasihnya, sedangkan pada perkataan Abu Hurairah, adalah anggapan Abu Hurairah bahwa Rasulullah adalah kekasihnya.

Wasiat pertama adalah shaum 3 hari setiap bulan.

Apakah harus ayyamul bidh (shaum pada tanggal 13, 14, 15 setiap bulan hijriyah), atau boleh tanggal lain?
Boleh melaksanakan di awal, di pertengahan, atau di akhir bulan hijriyah. Pelaksanaannya boleh berurutan ataupun tidak. Namun yang utama adalah ayyamul bidh.

Mana yang lebih utama shaum Senin Kamis atau 3 hari tiap bulan? Dari sisi jumlah, maka lebih baik shaum Senin Kamis, karena ada 8 hari dalam sebulan.

Wasiat kedua adalah shalat dhuha.

Minimal 2 rakaat, maksimal 8 atau tidak terbatas.

Satu hadits mengatakah bahwa setelah fathu makkah (penaklukan kota Makkah), seorang sahabat melihat Rasulullah mandi, dan selesai mandi beliau shalat 8 rakaat, yaitu shalat Dhuha (hadits dari Ummu Hani (mudah-mudahan tidak salah dengar)).

Hadits lain mengatakan, Aisyah RA melihat Rasululah shalat dhuha 4 rakaat dan kemudian menambahkan dengan jumlah yang masya Allah (sangat banyak) (HR Muslim).

Shalat dhuha disunnahkan untuk dikerjakan setiap hari.
Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Pada setiap persendian kalian harus dikeluarkan sedekahnya setiap pagi; Setiap tasbih (membaca subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (membaca Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (membaca Lailaha illallah) adalah sedekah, setiap takbir (membaca Allahu Akbar) adalah sedekah, amar bil ma’ruf adalah sedekah, nahi ‘anil munkar adalah sedekah. Semua itu dapat terpenuhi dengan (shalat) dua rakaat yang dilakukan di waktu Dhuha.” (HR. Muslim, no. 1181)

Shalat dhuha sudah dapat dilakukan 15 menit setelah matahari terbit.
Namun, disarankan sebagaimana pada hadits yaitu :
”Shalat para Awwabin adalah ketika anak onta mulai kepanasan.” (HR. Muslim 748).
Maka ini adalah sekitar jam 9 atau 10 pagi.
Sehingga bila sedang tidak ada pekerjaan atau tugas di kantor, maka upayakan untuk mengakhirkan shalat dhuha sampai jam 9 atau 10 pagi.
Namun jika ada tugas di jam tersebut, karena secara fiqih prioritas, tugas yang merupakan kewajiban harus didahulukan dibandingkan dengan dhuha yang bersifat sunnah, maka boleh mengerjakan shalat dhuha di waktu yang lebih awal.

Wasiat ketiga adalah shalat witir sebelum tidur.

Rasulullah senantiasa melakukan shalat witir walaupun sedang safar (dalam perjalanan).
Bila ada kemungkinan tidak bisa bangun di akhir malam, maka lakukan shalat witir sebelum tidur.
Dalam hadits disebutkan bila khawatir tidak dapat bangun di akhir malam, hendaklah shalat witir di awal malam. Bila yakin dapat bangun di akhir malam, maka shalatlah witir di akhir malam. Sesungguhnya shalat di akhir malam masyhudah, atau disaksikan malaikat yang bergantian turun memberikan kebaikan.

Rasulullah menjadikan witir penutup shalat malam.
Bila sebelum tidur sudah melakukan shalat witir, maka sesudah shalat malam tidak perlu mengulang shalat witir.

Aisyah mengatakan bahwa Rasulullah pernah melaksanakan witir di seluruh waktu, di awal malam, di  pertengahan malam, dan di akhir malam.

Hendaklah witir dilaksanakan dalam keluarga.
Dalam sebuah hadits dari Aisyah dikisahkan Rasullah shalat di malam hari, dengan Aisyah tidur membujur di depan Rasulullah. Ketika tinggal shalat witir, Rasulullah membangunkan Aisyah dan berkata, “Bangunlah dan laksanakan witir.” Lalu Aisyah melaksanakan shalat witir.

Bagi mereka yang membiasakan shalat di masjid, hendaklah melakukan shalat sunnah di rumah, misalnya shalat rawatib, dan shalat sunnah lainnya.
Hadits nya menyatakan, “Shollu ayyuhannas fii buyuutikum”, Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah-rumah kalian. Maka ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan.

Janganlah menjadikan rumah sebagai kuburan, yaitu tidak pernah didirikan shalat. Dan agar di rumah dijadikan kebaikan.

Shalat hendaknya berpindah tempat. Amr bin Atho’ pernah shalat sunnah setelah shalat Jum’at di masjid. Muawiyah lalu memanggil dan meminta agar hal tersebut jangan diulangi lagi, dan hendaklah bila selesai shalat Jum’at lalu keluar dan shalat sunnah di rumah.