Showing posts with label ramadhan. Show all posts
Showing posts with label ramadhan. Show all posts

Tuesday, May 24, 2016

Persiapan Amaliyah Ramadhan

Ceramah Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Hilman Rosyad, dalam rangka persiapan Ramadhan 2 Senin mendatang.

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, namun karena ada kebiasaan  dan mindset yang keliru, kita menjadi sulit meraih keberkahan.Salah satunya adalah anggapan bahwa di bulan Ramadhan, yang penting adalah puasa, sehingga puasa dianggap sebagai hal yang paling utama.


Padahal puasa dapat dikatakan “tidak penting”, karena pada ayat puasa dijelaskan tentang kemudahan puasa. Dibandingkan dengan jihad, yang dijelaskan bahwa sulit, dengan ayat yang menyatakan bahwa boleh jadi ada hal yang kamu benci tetapi baik untukmu. Sedangkan pada ayat puasa dijelaskan bahwa Allah menginginkan hal yang mudah dan bukan yang sulit, dan setelah itu dipermudah lagi dengan boleh berbuka bila sakit dan safar.

Padahal pahala suatu ibadah bergantung kepada tingkat kesulitan dari ibadah tersebut. Misalnya yang sering disebutkan bahwa amal terbaik adalah walaupun tidak besar tetapi konsisten. Amalan ini diberikan pahala besar karena sulit.

Untuk puasa, hampir tidak ada hadits yang menyatakan tentang pahala puasa. Ada yang menyebutkan puasa sebagai perisai. Balasan yang dijelaskan adalah lapar dan dahaga. Hadits lain menyatakan bahwa semua amalan, pahalanya bagi manusia, khusus untuk puasa, Allah yang memberikan pahala, namun tidak dijelaskan bentuk pahalanya. Maka puasa untuk Allah.

Namun fokus pada puasa tamat 30 hari justru tidak menjamin diperolehnya rahmat, maghfirah, pembebasan dari api neraka, terbelenggunya syaitan, dan terbukanya pintu surga.

Yang penting dalam bulan Ramadhan justru 10 hal berikut :
1. Mengakhirkan sahur
2. Menyegerakan berbuka
3. Shalat malam
4. Tilawah quran
5. Memperbanyak dzikir doa
6. Melaksanakan zakat, infaq, shadaqah
7. Memperbanyak amal soleh ibadah lain (selain no. 1-6)
8. Meninggalkan hal yang mubah yang tidak bermanfaat
9. Hadir di masjid untuk I’tikaf
10. Mencari lailatul qadr


Berkaitan dengan meninggalkan hal yang mubah namun tidak bermanfaat, maka terlebih lagi hal yang makruh dan yang haram. Maka bila di malam Ramadhan seseorang merokok, puasa ramadahan siang harinya menjadi batal. Dan 1 Syawal pun, bila merokok, maka seluruh puasa yang lalu menjadi batal. Maka puasa nanti saja di akhirat, cari tempat yang banyak api, karena dalam kisah tentang surga tidak pernah dijelaskan tentang api.

10 hal inilah yang akan mendatangkan keberkahan, rahmat, maghfirah, pembebasan dari api neraka, terbelenggunya syaitan, dan terbukanya pintu surga.Dapat dikatakan, lupakan puasa karena tidak penting. Puasa memang wajib dan 10 hal tersebut sunnah, namun lebih penting.


Yang pertama adalah mengakhirkan sahur.

Sahur artinya adalah bangun di 1/3 akhir malam. Sahur bukan berarti makan. Dan dalam sahur ada keberkahan, yaitu kebaikan berkelanjutan. Makan sebetulnya tidak perlu. Untuk anak kos yang tidak ada makanan pun, bangunlah untuk keberkahan itu. Bila tidak ada makanan, minumlah sekedar seteguk. Seteguk minuman sebenarnya sangat tidak sebanding bila dibandingkan dengan sepiring nasi lengkap. Namun sama-sama memperoleh keberkahan.


Bila bangun sahur, walaupun hanya dengan seteguk air, siangnya terasa tidak begitu lapar, baru asar terasa lapar. Berbeda dengan mereka yang tidak sahur karena malamnya makan terlalu kenyang, biasanya jam 10 sudah merasa lapar, apa lagi bila makanannya kurang tepat, malah bisa sakit perut dan akhirnya tidak sampai maghrib.

Jangan pernah ragu dengan kekuasaan Allah, bangunlah dulu di waktu sahur sesuai perintah Allah, insya Allah nanti akan datang solusi dari Allah. Bisa saja untuk anak kos yang tidak punya makanan di rumahnya, lalu berjalan ke masjid menjelang subuh, ternyata diajak sahur oleh tetangga yang sedang sahur. Atau bisa minum air putih saja, bila perlu minum air dari kamar mandi, insya Allah aman dan berkah.

Kedua, ta’jilul ifthar, yaitu mempercepat berbuka.

Di Indonesia ada kebiasaan bahwa ketika adzan maghrib dilakukan ta’jil dulu, kemudian berbuka setelah maghrib. Mempercepat berbuka bukan berarti berbuka sebelum maghrib, atau untuk orang di Jakarta berbuka di waktu maghrib Jayapura. Dan tidak dibolehkan berbuka diakhirkan hingga menjelang isya. Syiah berbuka di waktu Isya.


Bagaimana yang dicontohkan Rasulullah?
Rasulullah berbuka dengan 3 butir kurma dilanjutkan dengan air bening. Lalu Rasulullah shalat Maghrib, kemudian menunggu waktu Isya, lalu shalat Isya. Setelah itu qiyamullail, dan baru makan lagi di waktu sahur.

Berbeda sekali dengan kebiasaan kita, yang setelah maghrib makan kenyang, sehingga tarawih menjadi kurang fokus. Setelah tarawih pun masih makan lagi. Jadi puasa pada akhirnya hanya memindahkan waktu makan dari siang ke malam. Dan secara ekonomi di bulan Ramadhan , demand akan makanan justru meningkat, dan pasar menjadi sangat ramai.

Padahal yang disunnahkan adalah di malam hari seharusnya tetap lapar seperti siang, walaupun dihalalkan untuk makan dan minum. Cukup seperlunya saja.

Ketiga, Qiyamullail, atau shalat malam.
Secara definisi, qiyamullail adalah rangkaian shalat sunnah 2 rakaat 2 rakaat antara bada isya dan sebelum subuh yang disempurnakan dengan 1 kali witir.

Tarawih adalah salah 1 cara qiyamullail, dan secara definisi, tidak ada batas rakaat dari qiyamullail.


Namun bagaimana dengan hadits yang mengatakan bahwa Rasulullah di bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan shalat tidak lebih dari 11 rakaat, dengan 4, 4, 3. Hadits ini tidak berhenti di situ, namun masih ada lanjutannya, yaitu, jangan ditanyakan panjang dan indah bacaannya.

Sehingga Aisyah bertanya (kurang lebih), “Wahai Rasulullah, bukankah Allah sudah mengampuni dosamu yang lampau dan yang akan datang? Mengapa engkau harus begitu lelah melakukan qiyamullail?” Rasulullah menjawab (kurang lebih), “Tidakkah boleh menjadi hamba yang bersyukur?”

Maka nilai qiyamullail bergantung pada kelelahan mengerjakannya, karena panjangnya bacaan.

Ibnu Abbas pernah menggambarkan qiyamullail Rasulullah, yaitu ruku sepanjang berdiri, sujud pertama sepanjang ruku, sujud kedua sepanjang sujud pertama. Bila masing-masing 5 menit, maka 1 rakaat 20 menit, untuk 11 rakaat menjadi 220 menit, atau lebih dari 2 jam. Mau

Maka di masa Umar bin Khattab, tarawih dipimpin oleh Ubay bin Kaab, untuk mengupayakan panjangnya shalat seperti Rasulullah, 8 rakaat dibagi menjadi 20 rakaat dengan 10 kali istirahat, ditambah dengan witir. 10 kali istirahat dalam bahasa Arab disebut “rahatan ba’da raha” yang disingkat menjadi tarawih. Di masa selanjutnya, dipecah lagi menjadi 40 rakaat dengan 3 witir.

Untuk ruku yang panjang, dapat membaca tasbih dan doa. Untuk berdiri membaca Al Qur’an, bisa dengan membawa mushaf. Bila mushaf dirasa terlalu jauh, dapat didekatkan dengan maju mendekati mushaf ketika berdiri, kemudian mundur ketika ruku dan sujud. Lebih baik lagi bila menambah hafalan Al Qur’an.


Shalat maju mundur diperbolehkan karena Rasulullah pernah shalat di atas batang pohon ketika berdiri agar terlihat oleh jamaah, dan kemudian mundur untuk turun ke lantai ketika ruku dan sujud, dan kembali naik ke batang pohon ketika berdiri. 

Tuesday, May 5, 2015

Memahami Hukum Wajib

Ceramah Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Syaiful Bahri, Lc.

Wajib adalah hal yang dituntut secara tegas oleh Allah untuk dilakukan oleh manusia. Maka hal yang bersifat Wajib harus dilakukan, pelakunya mendapat pahala, dan yang tidak melakukan menjadi berdosa.

Pembagian Wajib berdasarkan Waktu :

Pertama, Muwassa’ yang berasal dari kata Waasi’ yang artinya luas.
Muwassa’ artinya waktunya terbentang luas. Rentang waktu yang Allah berikan lebih luas daripada waktu untuk melaksanakan ibadah tersebut. Sehingga yang dalam waktu yang Allah berikan, seseorang dapat mengerjakan ibadah lain yang sejenis.

Misalnya shalat, bersifat muwassa’.
Shalat dzuhur dapat dikerjakan sejak adzan dzuhur sampai dengan sekitar jam 3.
Di dalam waktu shalat dzuhur, seseorang dapat melakukan shalat lain misalnya shalat gerhana, shalat syukrul wudhu, shalat istisqa, dll.

Contoh lain adalah Qadha Puasa Ramadhan bersifat muwassa’, dapat dilakukan sejak syawal sampai sya’ban tahun berikutnya.

Kedua, Mudhayyaf, yang berasal dari kata Dhayyifun, yang artinya sempit.
Mudhayyaf artinya rentang waktunya sempit. Rentang waktu yang diberikan dan waktu untuk menjalankan ibadahnya sama panjangnya. Sehingga dalam waktu tersebut tidak bisa dilakukan ibadah lain, hanya bisa melakukan ibadah itu saja.

Misalnya Puasa Ramadhan. Di bulan Ramadhan seseorang hanya bisa melaksanakan puasa Ramadhan, tidak bisa melaksanakan puasa lainnya.

Dampak dari pembagian hukum wajib berdasarkan waktu adalah pada pentingnya niat secara spesifik.

Contoh kasus :
Bila seseorang pada bulan Ramadhan berpuasa tanpa menyebutkan niat secara spesifik, sahkah puasanya?
Puasanya sah, karena Puasa Ramadhan bersifat Mudhayyaf, di bulan Ramadhan hanya bisa dilakukan Puasa Ramadhan, maka dengan niat yang tidak spesifik, akan dianggap sebagai Puasa Ramadhan.

Ketiga, Dzusyibhain, yaitu bersifat Muwassa’ tetapi juga Mudhayyaf.

Contohnya Ibadah Haji.

Muwassa’ karena Wajib dari Allah untuk waktu yang panjang sejak Syawal sampai Dzulhijjah, sekitar  3 bulanan.
Namun inti Ibadah Haji ada di tanggal 8-13 Dzulhijjah.

Efek Hukum Fiqih dari adanya Perbedaan Wajib dari Sisi Waktu

Pertama, Wajibkah seseorang untuk menentukan niat tertentu untuk suatu ibadah, atau cukup berniat secara umum?

Untuk Shalat, karena Shalat bersifat Muwassa’, maka melaksanakan wajib berniat dan menentukan niatnya, karena dalam waktu tersebut dapat dilakukan ibadah shalat lainnya.
Dan jika sudah terlanjur shalat padahal belum menetapkan niat secara spesifik, maka shalat harus diulang.

Bila bersifat Mudhayyaf, maka niat dapat dilakukan secara umum.

Untuk Puasa Senin Kamis, Daud, Ayyamul Bidh, walaupun sunnah tetapi bersifat Muwassa’, maka niat harus spesifik.

Dengan pembedaan ibadah menjadi bersifat Muwassa’ maupun Mudhayyaf, menyebabkan suatu ibadah dapat diberikan 2 pahala.

Misalnya untuk Shalat yang bersifat Muwassa’, bila seseorang melakukan shalat di awal waktu, maka ia mendapatkan pahala shalat dzuhur dan pahala shalat di awal waktu.
Bila ia tidak memiliki udzur syar’i namun menunda shalat dzuhur hingga jam 3 sore, maka dipertanyakan kelalaiannya, baginya dosa atas kelalaian tersebut.

Puasa Ramadhan bersifat Mudhayyaf, bagi yang melaksanakan mendapatkan 2 pahala yaitu pahala puasa Ramadhan dan fadhilah kemuliaan bulan Ramadhan.

Bila pada bulan Ramadhan seseorang berniat untuk puasa nadzar, apakah puasanya sah?
Puasanya tidak sah, karena puasa yang dibolehkan dalam bulan Ramadhan hanya puasa Ramadhan. Dan niat puasa nadzar-nya tidak bisa diubah menjadi puasa Ramadhan.

Kedua, bila seseorang meninggalkan kewajiban tanpa udzur kemudian wafat sebelum melaksanakan kewajiban tersebut, apakah ia berdosa?

Misalnya seseorang berniat shalat asar di rumah, namun di perjalanan ke rumah ia mengalami kecelakaan lalu wafat.
Dari segi waktu, karena shalat bersifat Muwassa’, maka ia memang diperkenankan untuk menunda shalat karena waktunya memang masih ada, dan ia memang sudah berniat untuk shalat. Sehingga ia tidak berdosa karena tidak shalat.
Namun dosa baginya karena kelalaian menunda shalat yang sebenarnya bisa dilakukan di awal waktu.

Misalnya seseorang belum meng-qadha puasa Ramadhan, lalu sebelum meng-qadha ia wafat. Apakah berdosa? Apakah wajib dibadalkan?

Meng-qadha puasa bersifat Muwassa’, sehingga ia tidak berdosa bila menundanya, selama ia memang berniat untuk melakukannya. Bila ia wafat, maka ia berhutang kepada Allah. Dosanya bukan karena tidak meng-qadha, melainkan karena kelalaiannya menunda ibadah yang bisa ia lakukan segera. 

Apakah perlu dibadalkan?
Sebagian ulama berpendapat bahwa karena waktunya panjang, dan ia sebenarnya sudah berniat, maka ia tidak berdosa karena tidak melaksanakan, sehingga tidak  perlu dibayarkan.
Ada hadits yang menyatakan bahwa bila seseorang mati dan punya hutang puasa hendaklah walinya membayarkan.
Yang dimaksud dalam hadits ini adalah hutang nadzar.
Sebab puasa Ramadhan diwajibkan oleh Allah, bila tidak dilaksanakan hutangnya kepada  Allah.
Sedangkan puasa nadzar diwajibkan oleh orang itu sendiri, hutang inilah yang harus dibadalkan walinya.

Shalat tidak dibadalkan karena bersifat Muwassa’, luas waktunya.

Bagaimana dengan membadalkan haji?
Ibadah haji bersifat kedua-duanya yaitu Muwassa juga Mudhayyaf.

Bila pada suatu waktu seseorang sudah memiliki kecukupan harta dan ilmu, maka pada waktu tersebut sudah jatuh baginya kewajiban haji. Bila hingga wafat ia belum sempat menunaikan ibadah haji, maka dibadalkan oleh keluarganya dengan mengambil dari harta yang ditinggalkannya.


Bila seseorang seumur hidupnya tidak mampu, maka tidak jatuh baginya kewajiban untuk berhaji, maka tidak perlu dibadalkan. 

Monday, July 21, 2014

Ceramah 23 Ramadhan 1435 : Sehari Bersama Orang Tua

Ceramah disampaikan oleh Ustadz Yasir A. Liputo 

Ustadz sering berdialog dengan para orang tua yang sudah berusia lanjut, bahwa anak-anak mereka sekalipun pulang kampung dan datang ke rumah, mereka tidak merasa dirindukan, karena anak-anak hanya bertemu 1 jam, lalu pergi karena bertemu teman-teman sekolah yang juga pulang kampung atau menghadiri acara-acara lainnya.

Cobalah untuk sehari penuh bersama orang tua, mirip seperti i'tikaf berdiam di masjid.

Menyayangi orang tua (birrul walidain) termasuk juga mertua.

Dalam memperlakukan orang tua, kita diminta untuk berbuat ihsan.

Ada dua pengertian ihsan.

Yang pertama ihsan dalam konteks akidah.
Yaitu beribadah seolah-olah kita melihat Allah, dan jika kita tidak dapat melihat Allah, sesungguhnya Allah melihat kita.

Yang kedua adalah ihsan dalam konteks berbuat baik.
Merujuk kepada hadits, bahwa Allah mewajibkan berbuat ihsan antara lain ketika menyembelih hewan.

Dalam Al Qur'an, kata ihsan disebutkan sebanyak 6 kali, 5 di antaranya pada ayat yang berkaitan dengan orang tua yaitu Al Baqarah 83, An Nisa 36, Al Isra 23-24, Luqman 14, Al Ahqaf.

1 yang lain adalah An Nahl 19, yang sering dibacakan khatib dalam shalat Jum’at.
Kepada orang kita tidak diminta untuk berbuat adil, karena adil tidak cukup untuk orang tua.

Dalam surat Al Baqarah 83, hanya dua hal pokok yang dibahas yaitu Allah dan orang tua. Ini adalah ayat yang sangat serius. Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Allah “telah menetapkan”, bukan sekedar ajakan atau anjuran.

Ada perbedaan antara adil dan ihsan. Adil adalah mengambil hak sebagaimana porsinya, serta memberikan hak sebagaimana porsinya. Sedangkan ihsan adalah mengambil hak kurang dari porsi, serta memberikan hak lebih dari porsi.

Dalam Islam, istilah yang dikenal adalah yatim, yaitu anak yang ayahnya meninggal ketika anak tersebut masih kecil. Tidak dikenal istilah piatu dalam Islam.

Jika hidup bermasalah, kita perlu evaluasi, apakah kita bermasalah dengan orang tua?

Dalam bulan Ramadhan ada dua doa yang dianjurkan untuk diucapkan sesuai dengan hadits dari Aisyah, yang salah satunya adalah “Allahumma inna nas’aluka ridhaka wal jannah, wa na’udzubika min sakhatika wan naar”.
Urutan yang diminta adalah ridha Allah, surga, dijauhkan dari neraka. Ridha Allah ditempatkan pada urutan pertama. Dan dalam hadits lain disebutkan bahwa ridha Allah berada pada ridha orang tua.

Dari yang kita alami selama ini, justru orang tua yang lebih ihsan kepada kita. Kita sering lebih sibuk dengan urusan keluarga kita sendiri, dan berkata, “kan ada anak yang lain, mengapa harus saya?” Sungguh sangat disayangkan.

Tanda-tanda jika orang tua ridha kepada anaknya :
1.       Jika orang tua selalu memaafkan anaknya
2.       Jika orang tua selalu berlapang dada kepada anaknya
3.       Jika orang tua selalu mendoakan atas kesalahan anaknya.
Ketiga hal ini sangat sulit kita dapatkan dari orang lain selain orang tua.

Bagi seorang anak, yang terpenting ketika berurusan dengan orang tua adalah “quick respond”. Segera memberikan respon dalam situasi apa pun. Jangan menunda.

Di antara ibu dan ayah, pada masa kecil, ibu yang lebih ridha, ibu yang mengandung, melahirkan, mengurus ketika sakit, mengurus berbagai keperluan anak. Ayah ridha pada anak ketika menikahkan putrinya.

Salah satu faktor penentu kebahagiaan di masa tua adalah perilaku menantu. Ayah harus melakukan seleksi dahulu kepada calon menantu.

Untuk seorang ayah yang telah berusia lanjut, yang penting baginya bukan berapa uang yang anaknya kirimkan. Beliau akan menjawab, sudah cukup dengan uang pension, sudah cukup dengan pendapatan dari kontrakan. Yang diperlukan ayah adalah dibanggakan dan dihormati.

Maka anak-anak harus kita latih sejak kecil, jika mereka datang dan mencari ibu, ingkatkan agar mereka menemui dahulu ayahnya.

Janganlah kita berbantahan dengan orang tua.

Ada kisah tentang pentingnya ridha orang tua. Di masa nabi Musa, ada seorang soleh yang bernama Juraij. Ketika Juraiz sedang beribadah, ibunya memanggil. Namun Juraij tidak menjawab panggilannya karena ingin menyelesaikan ibadahnya. Hal ini terjadi sampai dua kali. Kemudian tersiar berita bahwa ada seorang bayi yang lahir dari perzinaan Juraij dengan seorang perempuan. Penduduk marah dan mengancam akan membakar Juraij hidup-hidup di rumah ibadahnya sebagai hukuman. Ibu Juraij berkata bahwa dia sudah memaafkan Juraij atas kesalahan yang dilakukannya, namun penduduk tetap pada pendiriannya. Kemudian Juraij memerintahkan bayi itu untuk mengatakan siapa ayahnya, dan bayi itu berkata bahwa ayahnya bukan Juraij, melainkan seorang penggembala. Terbebaslah Juraij dari hukuman penduduk.

Apa bila kita berkata-kata kepada orang tua, gunakanlah kata-kata yang mulia. Cobalah untuk mengerti orang tua kita, karena sudah sangat banyak pengertian yang orang tua berikan pada kita.
Dalam sehari bersama orang tua di hari lebaran nanti ajaklah mereka kita akan berjalan-jalan ke luar rumah, ajaklah juga ketika akan makan di luar rumah.

Semoga ridha Allah dapat kita peroleh dari ridha orang tua.

Untuk anak, ridha Allah pada ridha orang tua. Namun perlu diingat juga bahwa untuk istri, ridha Allah ada pada ridha suami.
Maka ingatkan kepada ibu kita, bahwa beliau boleh berkata bagaimanapun pada kita, namun kepada ayah hendaklah beliau berkata baik.
Karena salah satu sebab banyaknya perempuan masuk neraka adalah karena mereka sedikit sekali bersyukur dengan kebaikan yang diberikan suaminya.

Ada kalanya dalam perjalanan hidup, kita menjadi lebih memahami Islam dengan benar sementara orang tua masih dalam pemahaman yang kurang tepat. Kita tetap berkewajiban menyampaikan hukum yang benar, namun tetap harus memperhatikan akhlak kepada orang tua. Hukum dan akhlak dalam Islam tidak pernah bertentangan.

Bahkan dalam kisah nabi Musa, ketika Allah memerintahkan nabi Musa untuk mendatangi Fir’aun yang telah melampaui batas, nabi Musa diminta untuk menggunakan kata-kata yang lembut kepada ayah angkatnya itu.

Kita harus merendahkan diri ke hadapan orang tua, bersikap arif, jangan sampai orang tua tersinggung. Sungguh, tanpa beliau, kita bukan siapa-siapa. Tanpa perjuangan dan pengorbanan mereka, kita bukan siapa-siapa. Apa yang mereka lakukan lebih ikhlas dari pemberian kita.

Ada suatu kisah seseorang yang datang kepada Umar bin Khattab, usianya 54 tahun, dia berkata bahwa dia sudah berbuat baik kepada ibunya sejak usianya 13 tahun. Jika tiba waktu haji dan umroh, ia menggendong ibunya untuk haji dan umroh. Walaupun ia sudah menikah, ia tetap mengutamakan ibunya. Ia bertanya, sudahkah ia berbuat baik? Umar berkata belum.

Perbedaan kasih sayang anak kepada orang tua dengan orang tua kepada anak, adalah anak seringkali menghitung-hitung apa yang sudah diberikannya kepada orang tua.

Untuk orang tua yang sudah meninggal, kewajiban anak adalah :

1. Shalatkan dan doakan.
Jika orang tua meninggal dan ada anak yang minta ditunggu, tunda untuk dimandikan. Karena jika sudah dimandikan, harus segera dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan. Jika ditunda dimandikan, bisa menunggu.
Jika kita selesai memandikan jenazah, kita harus mandi karena terkena najis. Setelah mandi baru bisa menshalatkan.

2. Penuhi janjinya.
Memenuhi janji adalah kewajiban anak, sehingga sebenarnya kurang tepat jika ketika ada orang tua meninggal kemudian keluarga menyampaikan bahwa “kepada yang masih memiliki urusan agar menghubungi keluarga”, karena justru itu adalah kewajiban anak untuk mencari janji yang perlu diselesaikan.

3. Sambung silaturahim
Yaitu dengan orang-orang yang kita kenal melalui orang tua kita.


4. Meneruskan kebaikan-kebaikan yang biasa dilakukan selama hidup.

Monday, July 29, 2013

Ceramah Ramadhan 1434 Hari Ke-6 - Persaudaraan Islam

Ceramah hari ini disampaikan oleh Ustadz Bachtiar Nasir, tentang persaudaraan Islam. Kajian kali ini cukup sulit dicatat, mudah-mudahan catatan saya cukup jelas dan cukup tepat.

Dalam setiap konflik, setiap orang pasti ikut serta, tinggal memilih akan masuk ke kubu yang mana.
Kondisi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kebijakan luar negeri karena posisi negara maju akan mendominasi.
Pendapat seseorang sangat dipengaruhi kondisi internal dia, bangsa mana, dan masuk kelompok mana.

Perang di Suriah adalah peperangan global.

Ketika Uni Soviet runtuh, maka yang akan menjadi sasaran berikutnya adalah Islam, siap atau tidak siap.
Kita akan diperangi hanya karena kita muslim. Seperti yang terjadi dengan Mursi di Mesir. Ini adalah perang melawan Islam. Karena itu kita harus menyatukan barisan.

Syam, orang menegakkan Islam dengan power. Syam adalah kedermawanan. Syam terdiri atas Jordania, Libanon, Suriah, dan Palestina.

Ini adalah persoalan akhir zaman, ada kepentingan luar biasa. Akan ada peperangan, kembali dengan pedang dan kuda.

Mursi dan Ikhwanul Muslimin, telah 80 tahun terbangun dengan system yang kuat. Ketika kudeta akan terjadi, 1 jam sebelumnya, TV padam.

Syiah di Indonesia berbeda dengan Syiah di Suriah. Banyak orang Indonesia terindikasi syiah, karena kekaguman pada Khomeini.

Ketika hancur Iraq, yang diuntungkan adalah Iran. Amerika yang sibuk berperang, tetapi Cina yang memenangkan banyak blok minyak, karena link-nya dengan Iran.

Dr. Yusuf Qardhawi memfatwakan jihad di Suriah, karena diserang oleh 8 ribu kaum syiah dari Iran, Iraq, Libanon. Tentara Basyar habis, tetapi ada Hizbullah dari Iran, Syiah dengan 3 bendera. Walaupun Barat dalam kondisi lumpuh dalam hal ekonomi, tetap ada pengaruh.

Setelah habis Yahudi, maka Islam vs. Nasrani.
Ketika pohon berkata, “Hai Abdullah, ini di belakangku ada orang Yahudi”, hanya ditujukan kepada mereka yang benar-benar berpegang teguh pada Allah. Apa yang harus kita lakukan? Ke mana kita harus berpihak? Berpihaklah pada Syam, ‘alaikum bisyam.

Nabi Adam diciptakan sangat tampan, separo ketampanan Nabi Adam diberikan kepada Nabi Yusuf. Maka teori Darwin sangat tidak berdasar.

5 fase dalam Islam :
Pertama fase kenabian.
Kedua, khulafaur rasyidin
Ketiga, kerajaan yg “menggigit”, abasyiah, utsmaniyah, sampai sekarang
Keempat, mulkan jabbariyan, lalu turun dajjal
Terjadi fitnah.
Orang-orang terbaik ada di Syam, orang-orang terburuk ada di Irak.
Akan terjadi penguasaan kedua di Konstantinopel, setelah 1453, bukan dengan senjata dan tentara, namun dengan tasbih dan tahlil.

Apa yang kita harus lakukan? Jika kita tidak peduli persoalan, kita Cuma simpatisan, kita tidak berdakwah, Islam tidak bisa maju. Untuk apa kekuatan, tetapi bukan untuk menegakkan Islam.

Palestina akan menjadi puncak pertarungan dunia. Bentuknya seperti bulan sabit, diawali dengan Iran, Iraq, dan Libanon. Suriah di puncak lengkungan, lalu berakhir di Palestina.

Umat Islam tidak dibatasi territorial. Ada forum Indonesia untuk Syam.
Musuh adalah zionis, misionaris, syiah. Segitiga ats taluts.

Umat Islam harus cepat masuk barisan. Berikan infak terbesar untuk Islam. Jangan berikan hanya yang tersisa untuk Islam, baik waktu, tenaga, ilmu, network, maupun asset.


Forum Indonesia untuk Syam, bisa dilihat di www.Bumisyam.com.

Friday, July 26, 2013

Ceramah Ramadhan 1434 Hari Ke-2 – Hikmah Sabar

Ceramah hari ini disampaikan oleh Mas Pepeng “Jari-Jari” dan istrinya,  Mbak Tami, tentang hikmah sabar.

Mas Pepeng menjelaskan, bahwa orang sukses bukan mereka yang mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi justru orang sukses adalah mereka yang tidak terpengaruh lingkungan.

Setiap pagi kita perlu bertanya, apa peran kita pagi ini?

Bagaimana pun sabarnya seseorang, pasti ada keterbatasan. Pasti ada saat ingin marah.

Dalam keluarga, suami adalah imam. Imam harus memberikan contoh yang baik dan benar.

Dalam menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, yang pertama adalah “Accept”, menerima. Terima dulu apa yang terjadi, apa yang Allah berikan. Kita bisa kuat, bisa juga tidak. Mintalah pertolongan kepada Allah. Insya Allah akan ada jalan.

Maka sabar adalah proses. Terima dulu, apa pun hadiah dari Allah, jadilah orang yang sabar.

Mas Pepeng dan Mbak Tami dikaruniai 4 anak laki-laki yang saat ini berusia 20-27 dengan badan yang besar. Hikmahnya terasa ketika Mas Pepeng sakit, mereka berperan membantu ayahnya bergerak.

Hal yang bisa dicontoh dari Mas Pepeng adalah selalu mau belajar, tetap bersemangat, tidak pernah keliatan loyo, galau, ataupun marah. Kalaupun marah, itu adalah marah untuk prinsip.

Menghadapi sakit yang tidak bisa sembuh, seringkali kita menganggap masa depan adalah beberapa tahun di depan kita. Padahal masa depan yang sebenarnya adalah akhirat. Dan kita harus yakin bahwa kesembuhan adalah janji dari Allah. Pasti akan terjadi happy ending. Dua pilihannya, sembuh dan bisa kembali berjalan, atau menghadap kepada Allah dalam keadaan penuh barokah.

Musibah itu adalah ketika kita tidak dekat dengan Allah. Sakit sesungguhnya bukan musibah. Karena justru ketika sakit, kita akan mendekat kepada Allah. Tidak perlu kita bertanya “Why me?” Karena Allah bisa dengan mudah menjawab “Why not?”

Dalam kesakitan, jika kita ingat kepada Allah, kita akan tenang. Rasa sakit menjadi tidak terasa. Karena Allah ada, lebih dekat dari urat leher kita. Selalu dekatlah kepada Allah.

Tentang banyaknya perceraian, Mas Pepeng menyampaikan bahwa banyak orang menjadi quitter, menyelesaikan masalah dengan lari dari masalah. Perselisihan tentu ada, harus dihadapi, biarkan Allah yang menyelesaikan. Sakinah mawaddah wa rahmah seperti 3 lingkaran yang beririsan di tengah, yaitu cinta.

Menikahi orang yang kita cintai, sangat mudah, di awal mudah “kesetrum”. Dengan berjalannya waktu, jika kita tidak pandai mengelola, “setrum” akan hilang. Kita perlu memperkecil perbedaan. Mawaddah adalah mencintai orang yang kita nikahi. Rahmah datang dari Allah.

Kita perlu mendukung dengan jelas atas perilaku apa pun dari pasangan. Begitu banyak mukjizat. Setiap detik. Kita harus menyepakati sikap pasangan, berikan value. Tetap tampil cerah seperti tidak ada masalah. Benturan selalu ada, serahkan kepada Allah.

Setiap orang pasti punya ilmu yang subhanallah.

Kita harus memberi nilai pada apapun yang kita hadapi. Setiap ada celah, buatlah menjadi spesial. Mbak Tami mempunyai prinsip, selalu ada celah, lihat sudut pandang lain, supaya tetap eksis dan tetap bersyukur.

Jangan pernah berpikir untuk berpisah. Pandang sebagai tugas baru dari Allah. Manusia sering menilai dengan tanggung. Jangan menggantungkan nilai pada manusia, bahkan kepada suami dan anak sekalipun. Biarlah Allah yang menilai. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Hanya Allah yang selalu memperhatikan hamba-Nya.

Jadilah pendengar yang baik.

Pria wanita harus saling belajar. Menjadi sahabat di masa tua, bisa bicara segala hal.

Kecerdasan linguistik sebenarnya diajarkan Islam. Ditandai dengan indahnya kisah Al Quran. Rasulullah adalah seorang yang ahli komunikasi.

Tingkatan komunikasi dari berbagai ilmu, tahap pertama adalah komunikasi sampai dari pihak pertama ke pihak kedua, tanpa noise. Dari ilmu antropologi, ditambahkan bahwa kedua pihak harus saling mengerti. Dari ilmu komunikasi, ditambahkan bahwa harus ada interaksi transaksi. Dari ilmu psikologi, harus menggetarkan hati .

Saat ini banyak pasangan yang genting. Lihatlah kelebihan, kekurangan pasti banyak.


Prinsip Mas Pepeng, pantang mati sebelum ajal. Betapa banyak saat ini manusia yang sepertinya hidup, padahal mereka adalah zombie, yang selalu berkeluh kesah. You get what you think. Tidak mungkin galah kalau dekat dengan Allah. Kalau tidak senang, apa harus marah? Mereka yang marah, itulah mereka yang mati sebelum ajal. 

Wednesday, July 24, 2013

Ceramah Ramadhan 1434 Hari ke-14 - Merawat Pernikahan, Bahagia di Dunia sebelum di Surga


Ceramah hari ini disampaikan oleh Ust. M. Fauzil Adhim, tentang Merawat Pernikahan, Bahagia di Dunia sebelum di Surga.  

Dalam surat Ar Ruum 21 disebutkan :
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

Dari ayat tersebut beberapa point yang dapat disimpulkan :

Sakinah bukan hal yang muluk, “azwaja litaskunu”, (pasangan agar kalian). Maka sakinah adalah konsekuensi logis dari pernikahan. Sakinah tidak perlu menjadi cita-cita. Sakinah adalah konsekuensi, bukan tujuan. Seperti jika kita minum, maka haus akan hilang. Maka jika kita menikah, kita akan menjadi sakinah. Muslim atau bukan muslim bisa bahagia, perbedaannya pada keberkahannya.

Mawaddah adalah ketertarikan yang berawal pada kekaguman atau takjub kepada kelebihan yang dimiliki. Bisa berupa kecantikan, kekayaan, ataupun aspek non fisik.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa urutannya adalah sakinah, mawaddah, baru rahmah. Hal ini sebenarnya tidak ada dasarnya.

Rahmah bisa dirasakan sejah awal menikah, tidak perlu menunggu hingga usia 40 tahun.

Ketika ada seseorang yang berhati baik di usia senja, belum juga menikah, dan jika tidak menikah dikhawatirkan ada fitnah, lalu dinikahi dengan niat untuk menyelamatkan, maka itu didasari dengan sifat rahmah.

Menikah dengan kedua alasan tersebut dapat mencapai bahagia, baik sesaat maupun selamanya.

Kebahagiaan suami istri ketika meninggal, hari kiamat, hari hisab, yaitu ketika disambut malaikat, “Masuklah ke surga, kamu dan istri suami kamu untuk diberikan kegembiraaan.”

Saat ini ada anggapan bahwa sakinah merupakan suatu hal yang muluk, dan banyak hal-hal syubhat yang sebenarnya tidak diatur dalam agama, yang dibuat-buat, dan semakin mempersulit.

Dengan kondisi populasi wanita lebih banyak, lalu kedua-duanya rewel. Semakin banyak kategori dan persyaratan, maka semakin banyak yang tidak memenuhi.

Pertama adalah anggapan bahwa harus ada cinta. Kata siapa?
Banyak pernikahan yang diawali dengan tidak saling kenal, bahkan belum pernah melihat wajah. Seperti Idris ayah Imam Syafi’i, yang menikah dengan pemilik kebun yang belum pernah dikenalnya. Atau seperti Ibu Yoyoh Yusroh dengan Ustadz Budi. Ketika pernikahan diawali dengan niat baik, tujuan mulia, dan itikad yang lurus, maka Allah akan berikan barokah, mudah-mudahan hingga hari kiamat.

Ustadz Fauzil pernah memiliki tetangga, yang sangat kurang pergaulan, namun sangat berbakti pada ibunya, merawat ibunya. Sampai suatu ketika ibunya ingin menimang cucu dari anaknya tersebut. Sang anak yang tidak pernah punya teman perempuan, hanya bisa memohon pertolongan pada Allah agar memberikan istri baginya. Maka ia pun memanjatkan doa di setiap shalatnya. Hingga ia bermimpi yang benar, yang menunjukkan rute jalan ke rumah seorang perempuan. Beberapa kali mimpi yang sama itu dialaminya. Akhirnya berangkatlah ia sesuai petunjuk, dan ternyata di sana sang akhwat pun telah menunggu.

Kedua, masalah kesetaraan pendidikan, suku, urutan anak.

Ketiga, masalah kesiapan finansial.

Padahal yang terpenting bukan banyaknya uang di tangan, tetapi bagaimana yakin dengan rezeki dari Allah dan siap dengan qadha dan qadar.
Ada cerita yang menyatakan bahwa Rasulullah menikahi Khadijah dengan mahar yang besar. Padahal tidak ada hadits yang menyatakan hal tersebut. Hadits yang ada malah menyatakan bahwa sebaik-baik pernikahan adalah yang mudah, baik proses maupun mahar. Wanita yang besar berkahnya adalah wanita yang murah maharnya. Sebaik-baik mahar adalah yang mudah, mudah mencarinya dan murah nilainya.

Keempat kesesuaian penampilan, yang tampan dengan yang cantik. Padahal cantik pun  akan hilang jika sedang marah atau judes. Dan betapa banyak pernikahan antara yang tampan dan cantik, tapi berakhir dalam waktu singkat.

Maka, apa yang seharusnya diharapkan dalam pernikahan? Keberkahan.
Keberkahan adalah kebaikan yang banyak, kebaikan yang bertambah.
Rezeki yang tidak berkah adalah rezeki yang ketika sedikit meresahkan, ketika banyak menambah masalah.
Rezeki yang berkah adalah rezeki yang ketika sedikit menentramkan, ketika banyak menambah kesolehan dan kebaikan.
Rezeki berupa materi, anak, istri, dan suami.

Maka dalam menjalani pernikahan, yang perlu dipersiapkan adalah :

Ilmu, karena ilmu harus  mendahului perkataan dan perbuatan
Niat
Proses
Yang dijalani dalam pernikahan
Qoulan ma'rufan antara suami istri, yaitu yang membuat pasangan merasa diperhatikan dan didengar.
Qoulan syadida antara orang tua dan anak
Qoulan maisura antara penceramah dan pendengar, yaitu mudah dicerna.
Kepada orang yang keras kepala dengan perkataan yang menyentuh

Muasaro bil ma'ruf, yaitu kewajiban bagi suami untuk istri. Jika dilakukan agar istri senang, maka hanya itulah yang akan didapatkan. Jika dilakukan karena mengikuti sunnah, maka bersama sunnah ada barokah.

2 hal yg penting : Menjaga kondisi ruhiyah dan berhati-hati dengan harta.

Rezeki  yang haram pasti tidak barokah, rezeki yang halal belum tentu barokah.
Rezeki yang berkah akan menambah kebaikan rumah tangga, rezeki yang tidak barokah akan menambah kehausan pada dunia.
Tanya jawab :

Pertanyaan pertama, bagaimana agar anak menjadi berkah?

Menikah adalah untuk memenuhi sunnah. Tidak semua pernikahan Allah karuniakan anak. Maka jangan jadikan anak sebagai tujuan dan niat dalam menikah. Namun kita perlu tetap berusaha bersungguh-sungguh, mencari sebab agar dikaruniakan anak.

Selanjutnya, kita mengharapkan, mengupayakan, dan memohon agar anak-anak soleh dan barokah.
Perhatikan al quran dan hadits, menata niat, dan siapkan diri untuk menerima anak sebanyak2nya.


Pertanyaan kedua, saat ini banyak terjadi banyak poligami, sebetulnya apa niatnya?

Hanya Allah yang mengetahui niatnya. Yang pasti, keberkahan sangat bergantung pada niat.
Jika menikah lagi karena kecantikannya, kecantikan tidak abadi, dia cantik karena belum mencapai usia 60 tahun.
Untuk melakukan poligami, pelajari ilmunya, siapkan keluarga, siapkan suami, siapkan istri, siapkan pendukung.

Yang terpenting dalam berkeluarga adalah bagaimana kita senantiasa memikirkan kewajiban.

Masalah sering terjadi ketika kita terlalu peka terhadap hak, sehingga ketika tidak dipenuhi, kita merasa dilecehkan. Betapa banyak pernikahan berlangsung langgeng karena masing-masing pasangan dapat saling ridha, saling melapangkan dada. 

Tuesday, July 23, 2013

Ceramah Ramadan 1434 Hari 1 - Ramadhan bersama Rasulullah

Ceramah Ramadhan hari pertama disampaikan oleh Ustadz Salim A. Fillah, dengan topik Ramadhan bersama Rasulullah.

Ceramah diawali dengan penjelasan tentang kesehatan badan, ruh, dan jiwa. Kesehatan badan ada pada sedikitnya makan, kesehatan ruh ada pada sedikitnya maksiat dan dosa, serta kesehatan jiwa ada pada sedikitnya bicara.

Puasa dan ramadhan, adalah amal untuk mensedikitkan, baik makan, bicara, maupun maksiat dan dosa, yang berdampak positif pada kesehatan badan, jiwa, dan ruh, sehingga akan menjadikan produktivitas yang tinggi.

Sedikit makan bermanfaat bagi kondisi ruhiyah. Pada saat puasa kemesraan dengan Allah akan lebih maksimal.

Dalam sejarah pensyariatan puasa, awalnya yang diwajibkan adalah puasa ayyamul bidh, sama dengan puasa yang dikerjakan umat terdahulu. Ayyamul bidh ini lah yang dimaksud dengan ayyamum ma’dudat di Al Baqarah ayat 184. Karena di awal, syiar adalah menyerupai umat terdahulu, dengan harapan mereka akan mau masuk Islam. Selain puasa, kiblat pun menghadap ke Masjidil Aqsha, baju disamakan modelnya, bahkan sisiran rambut.

Berkaitan dengan kiblat, sedemikian cintanya Rasulullah pada ka’bah di Mekkah, ketika kiblat masih mengarah ke Masjidil Aqsha dan Rasulullah berada di Mekkah, Rasulullah sering shalat dari sebelah selatan ka’bah, agar ketika menghadap ke Masjidil Aqsha, juga menghadap ke ka’bah. Namun hal ini tidak dapat lagi dilakukan ketika Rasulullah ketika sudah di Madinah, karena ka’bah ada di selatan, sedangkan Masjidil Aqsha di utara (mohon maaf kalau utara-selatannya kebalik2 J)

Namun kemudian Allah perintahkan untuk menegakkan syiar yang berbeda, Allah perintahkan untuk menyelisihi umat terdahulu. Kiblat pun dipindahkan ke Mekkah dan diwajibkan untuk berpuasa Ramadhan.

Syariat puasa sebelumnya, puasa dimulai sejak bangun dan diakhiri ketika waktu isya. Maka ada kalanya terjadi puasa yang tersambung sampai tiga hari. Yaitu ketika seseorang puasa di hari pertama, dan tertidur setelah maghrib, lalu terbangun setelah isya. Terbangunnya itu dianggap sebagai awal puasa hari kedua. Jika hal ini terjadi lagi di hari kedua, maka puasa tersambung lagi sampai hari ketiga.

Maka ketika di ayat 185 puasa diwajibkan pada bulan Ramadhan selama 30 hari, para sahabat “galau” membayangkan kemungkinan tersambung sampai 30 hari.

Mereka pun bertanya, “Di mana Allah? Apakah Allah jauh atau dekat? Ketika aku bicara dengan Allah, apakah aku harus berbisik atau berteriak? Mengapa membuat syariat yang sedemikian berat?”

Maka di ayat 186 dijelaskan bahwa Allah dekat. Bahkan secara bahasa, ayat diawali dengan “Dan apabila hamba-Ku bertanya..” maka seharusnya lanjutannya adalah “faqul, katakanlah (wahai Muhammad)..” namun dalam ayat ini langsung dikatakan “fa inni qarib, maka katakan bahwa aku dekat”, menandakan Allah benar-benar dekat, bahkan Rasulullah sebagai perantara pun ditiadakan dalam ayat ini.

Kemesraan dengan Allah ditentukan oleh makanan. Begitu pentingnya makanan dan dampaknya terhadap dikabulkannya doa kita, dapat dilihat pada dua kisah berikut.

Ada kisah tentang Saad bin Abi Waqash, ketika Rasulullah berkata, “Semoga ada yang menjaga.” Saad pun mengajukan diri sebagai penjaga. Dan selain menjaga malam, beliau memberikan tambahan untuk Rasulullah, yaitu menyediakan bejana untuk Rasulullah berwudhu untuk qiyamul lail.

Ketika malam tiba dan Rasulullah akan melakukan qiyamul lail, Saad pun memberikan bejana yang sudah disiapkannya. Rasulullah sangat gembira dan menepuk pundak Saad, dan berkata, “Mintalah sesuatu, akan aku doakan kepada Allah.”

Kita paling mentok akan minta surga. Saad punya permintaan yang luar biasa. Beliau menjawab, “Doakanlah agar semua doaku mustajab.” Rasulullah pun tersenyum dan menjawab, “Bantulah dengan memperbaiki makananmu.”

Ada seorang lelaki musafir yang sedang berpuasa, dan dalam kondisi terdzalimi, dan ia menengadahkan tangan dan berkata “ya rabb, ya rabb.” Keempat kondisi tersebut adalah kondisi mustajabah, yang membuat doa menjadi mustajab. Khusus untuk kondisi keempat, Allah malu jika tidak memberikan apa yang diminta seorang hamba yang menengadahkan tangan dan berkata “ya rabb, ya rabb.”

Namun doa orang tersebut tidak diterima. Bagaimana doanya bisa diterima, sedangkan makanan dan pakaiannya haram.

Makanan haram mencegah kita dari kemesraan dgn Allah. Makanan tersebut tumbuh dalam tubuh, mudah bergetar dengan frekuensi maksiat.

Maka selama bulan Ramadhan tugas kita adalah menyedikitkan makan. Karena ketika yang halal pun kita tidak suka, maka seharusnya, apa lagi yang haram dan yang syubhat.
Ketika puasa kita sedemikian takuuuut untuk batal. Apakah setakut itu kita dengan barang yang haram dan syubhat?

Kita pun harus berhati-hati soal rezeki. Rezeki sudah tertulis, sudah dijamin, bahkan tertulis 2 kali. Tidak akan tertukar, tidak akan salah. Rezeki bukan soal kita memiliki apa, tetapi soal bagaimana cara kita menerimanya, dan bagaimana cara kita menggunakannya.

Walaupun kita adalah pegawai kantor yang menerima gaji dengan jumlah yang tertentu, sering kali kita menjadi tidak lagi bertawakkal kepada Allah. Kita sering keliru dan mentawakkalkan rezeki kepada angka-angka gaji itu. Padahal rezeki akan datang dari arah yang tidak terduga-duga. Dan kita tidak perlu mengorbankan ibadah untuk mengejar rezeki.

Para sahabat sangat bersemangat menjalankan ibadah.

Seorang sahabat pernah berkata, “Yang aku khawatirkan adalah siang yang panas tanpa kesejukan puasa dan malam dingin tanpa kehangatan tahajjud.”

Sahabat tidak mengejar lailatul qadar karena iming-iming berlipatgandanya pahala. Namun lebih karena memang bersemangat menjalankan ibadah.

Imam Ghazali pernah menjelaskan tentang shalat khusyu. Menurut Imam Ghazali, tanda shalat khusyu adalah jika tercegah keji munkar sampai shalat berikutnya.

Seseorang akan mati dengan yang biasa dilakukan selama hidupnya. Amal yang dicintai Allah walaupun sedikit adalah yang sering dan terbiasa dilakukan. Dengan terbiasa, mudah untuk melatih ikhlas, dan kita akan immun terhadap komentar dan pujian. Dan di akhir hidup kita, kita akan mati ketika mengamalkan kebiasaan tersebut.

Berkaitan dengan profesi menulis, Ustadz menjelaskan motivasi menulis, yaitu kita harus bisa menjawab dahulu 3 pertanyaan berikut, yaitu
Mengapa menulis?
Mengapa harus ditulis?
Mengapa saya yang harus menulis?


Jika kita pernah makan yang haram maka ada 3 hal yang dapat dilakukan yaitu taubat nasuha, melakukan amal baik untuk menjadi kompensasi, dan melakukan puasa. Puasa dapat membakar hal yang haram, sehingga tubuh kita bersih dari yang haram.

Friday, September 14, 2012

Melestarikan Semangat Ramadhan, Ramadhan Sepanjang Tahun



Sesungguhnya Syawal bukanlah tujuan akhir. Syawal yang secara bahasa berarti peningkatan, merupakan waktu untuk memulai semangat awal, setelah ditempa selama bulan Ramadhan.

Berbagai aktivitas berkaitan dengan Idul Fitri seringkali membuat kita lelah, dan ibadah pun menurun segera setelah Syawal dimulai. Rutinitas pada dasarnya adalah sunatullah. Namun jika kita berlama-lama dalam kondisi penurunan ibadah, maka kita perlu waspada. Apa lagi jika penurunan tersebut dalam konteks jamaah.

Jika kita melihat contoh para shahabat Rasulullah, maka mereka justru berharap bagaimana menjadikan semua bulan adalah Ramadhan, Ramadhan sepanjang tahun

Untuk menjaga semangat Ramadhan, maka kita perlu untuk istiqamah. Sebagaimana dalam surat Fushshilat ayat 30 dikatakan “aamantu billahi tsummas taqim”, beriman kepada Allah dan meneguhkan pendirian. Dalam HR Muslim seorang sahabat meminta kepada Rasulullah, berikan aku pelajaran yang hanya bisa kudapatkan dari engkau. Rasulullah menjawab, katakan “aamantu billahi tsummas taqim”.

Abu Bakar mendefinisikan istiqamah sebagai tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, dan teguh harapan hanya pada Allah. Maka istiqamah adalah penajaman dari ikhlas.
Umar Bin Khattab mendefinisikan istiqamah sebagai jangan berbolak-balik dan tidak fokus. Maka istiqamah adalah etika yang menjadikan kesempurnaan pada kebaikan.
Istiqamah terdiri atas dua dimensi, yaitu kelurusan lisan dan kelurusan hati.

Dalam setiap rakaat shalat kita sebenarnya kita senantiasa meminta untuk istiqamah : “ihdinash shirathal mustaqim”, tunjukilah kami jalan yang lurus.

Cara menjaga semangat Ramadhan :

Pertama, jadikan Ramadhan sebagai titik tolak.
Jadikan contoh dari sirah Rasulullah sebagai pelajaran yang menjadi momen yang memiliki dampak dan hikmah. Ada sebagian kita yang mengambil momen perbaikan diri di hari kelahiran, hari pernikahan, hari wisuda, hari pertama berhijab. Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum kebaikan kita.

Kedua, jadikan syaitan sebagai musuh.
Kita tidak dapat melihat wujud syaitan, tetapi realita korbannya sungguh luar biasa. Syaitan dapat berbentuk jin dan manusia. Perlakukanlah syaitan sebagai musuh. Walaupun dalam situasi hati yang futur atau sedang melemah, kadang kala kita justru menikmati kebersamaan dengan syaitan. Padahal segala bentuk kemaksiatan adalah awal kehancuran.

Dalam HR At Tirmidzi dijelaskan bahwa jika muslim berbuat maksiat, akan muncul satu noda titik hitam di hati. Jika kemaksiatan itu diikuti dengan istighfar, maka titik noda hitam tersebut akan  terhapus.

Namun Ibnul Qayyim mengatakan, sebenarnya tidak bisa semudah itu. Karena maksiat pada dasarnya akan memberikan 5 dampak pada manusia yang melakukannya :

Pertama, menghalangi dari memperoleh ilmu pengetahuan. Kalau pun kita memperoleh ilmu pengetahuan, hanya akan memenuhi ruang pikiran, dan tidak menjadi amaliyah atau perbuatan nyata.

Kedua, menghalangi rezeki. Walaupun bukan berarti mereka yang banyak rezeki adalah mereka yang tidak bermaksiat. Karena Allah punya cara untuk menguji setiap orang. Rezeki ada dua bentuk yaitu zahirah dan bathinah. Contoh rezeki bathinah adalah hidayah Islam, hidayah iman, hidayah syukur, hidayah sabar, yang tidak semua orang bisa memilikinya.

Ketiga, membuat diri berhijab atau berjarak dari Allah. Kehilangan semangat dan motivasi, riya-unnas atau sum'ah. Ibadah terlihat bagus, tetapi ada osteoporosis ruhiyah, seperti bangunan dengan rayap. Tidak ada kedalaman keikhlasan, dan tidak bisa menikmati ibadah. Bermuka dua, antara kelurusan dan kebelokan.

Keempat, kesulitan dalam urusannya. Andaikata pun menemukan jalan keluar, hatinya tidak pernah lapang. Sering terlibat dalam konflik yang tajam, sulit memaafkan, sering merasakan dendam, terkungkung dalam kesulitan yang itu-itu saja. Allah berfirman barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan jalan keluar, keluarkan dari kesulitan, serta datangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Tidak ada orang yang tidak punya masalah, tidak punya aib, tidak punya dosa, dan tidak memerlukan pertolongan Allah.

Kelima, akan diikuti kemaksiatan yang lain. Misalnya seorang pedagang mencampur dagangannya dengan barang terlarang. Setelah satu maksiat tersebut, dia akan melakukan maksiat berikutnya, yaitu berbohong ketika orang bertanya, dan seterusnya.

Kembali ke mempertahankan semangat Ramadhan.

Cara ketiga adalah mempertahankan tekad dan takwa.
Jika kita bertakwa, Allah akan berikan jalan keluar, keluar dari kesulitan, serta Allah berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Untuk mempertahankan tekad dan takwa, dilakukan melalui 5 hal berikut :

Pertama, menjaga shalat wajib berjamaah.

Kaitan shalat dan takwa, dalam surat Al Ankabut dikatakan “inna shalata tanha anil fahsya-i wal munkar”, sesungguhnya shalat itu  mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Shalat harus disertai dengan kehadiran hati dan pemahaman. Shalat adalah cahaya, sumber hidayah Allah dan ketajaman hubungan kita dengan Allah. 

Ketika seorang hamba menjaga shalatnya, menyempurnakan wudhu, ruku’ dan sujudnya, maka shalat akan mendoakan “Semoga Allah menjagamu sebagaimana engkau menjagaku”, lalu shalat akan naik sampai ke surga dan memberikan syafaat bagi hamba tersebut.
Dalam HR Tabrani dikatakan bahwa mereka yang melakukan shalat jamaah akan melewati shirath dengan secepat kilat, dan wajahnya berseri-seri bagaikan bulan Purnama.

Terdapat perbedaan setelah shalat, antara mereka yang shalat dengan benar dan tidak. Mereka yang shalat dengan benar, jika sebelum shalat merasa gelisah, setelah shalat akan merasa tenang. Jika sebelum shalat merasa gamang, setelah shalat akan mendapatkan petunjuk dan hidayah.

Kedua, membaca Al Qur'an secara rutin.

Jika kita membaca Al Qur’an dengan target kuantitatif, maka biasanya target itu sulit tercapai. Dan kalaupun tercapai, tidak ada capaian spiritual. Karena sebenarnya yang terpenting adalah memahami maknanya, dan setiap orang memiliki pengalaman masing-masing yang relevan dengan tiap-tiap ayat. Al Qur’an sarat dengan energi, Al Qur’an adalah hujjah, yang akan menjadi petunjuk bagi kita menuju ketakwaan, melandasi dan mewarnai hidup kita.

Dalam surat Al Anfal ayat 2 dikatakan jika iman sedang baik, ketika disebut nama Allah akan bergetar, dan ketika dibacakan ayat Allah akan bertambah keimanannya. Aisyah mengatakan bahwa siapa yang membaca dan menghafalkan Al Qur’an, akan bersama dengan malaikat yang Mulia.

Ketiga, bersemangat merutinkan dzikir.

Karena dengan dzikir hati akan menjadi tenang. Dzikir meliputi wilayah hati dan lisan. Dalam surat Ali Imran 190 disebutkan orang yang cerdas adalah mereka yang ingat kepada Allah ketika berdiri,  duduk, maupun berbaring, dan memohon dijauhkan dari azab neraka. Sebaik-baik dzikir adalah membaca Al Qur’an. Dalam surat Al Ahzab 40-41 disebutkan bahwa orang yang beriman melakukan dzikir yang banyak pada pagi dan petang. Orang munafiq juga berdzikir, tetapi hanya sedikit, illa qoliila.

Keempat, bergabung dengan orang yang shaleh.

Peliharalah jamaah, di rumah, keluarga, di masyarakat. Buat kesepakatan dan sosialisasi di rumah, agar semangat beribadah dapat dipelihara bersama. Allah senantiasa menyebut kaum dalam bentuk jamak, misalnya muttaqiin, muhsiniin, dsb.

Kelima, doa.

Terutama doa “Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan (dari gelisah dan sedih, karena membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa) wa a’udzubika minal ajzi wal kasal (kelemahan dan kemalasan), wa a’udzubika minal jubni wal bukhl (pengecut dan bakhil), wa a’udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal (hutang dan dominasi orang lain).

Ada tiga kondisi doa yang dikabulkan :
Pertama doa orang yang didzalimi, orang musafir, serta orang tua kepada anaknya.
Kedua, doa orang yang pakaiannya kusut dan lelah karena kemiskinan dan ibadah.
Ketiga, doa disertai dengan menengadahkan kedua tangan. Allah pemurah dan pemalu, Allah malu jika hamba-Nya berdoa dan Allah tidak mengabulkan. Dalam berdoa kita harus berharap dengan sungguh-sungguh, serta rutinkan satu waktu setiap hari untuk memohon secara detil. Bisa setiap setelah isya, setiap setelah subuh, setiap setelah qiyamul lail. Sampaikan semua yang kita inginkan secara detil, untuk kita sendiri maupun orang lain secara spesifik.