Pengajian Dzuhur kali ini tentang Cabang Iman ke-18 yaitu Menyebarkan Ilmu. Namun karena saya datang tidak dari awal, akhirnya saya hanya memperoleh sebagian informasinya, jadi judulnya sedikit saya ubah, menjadi Ilmu dalam Islam, semoga bermanfaat.
Ada 3 aspek ilmu dalam Islam yaitu qalam, zuhud, dan fiqih. (Maaf definisinya saya tidak sempat mencatat).
Orang yang zuhud, dalam kondisi berkecukupan ataupun keterbatasan akan tetap tenang.
Inaba adalah satu tingkat di atas taubat, yaitu pembuktian, bahwa akan total kembali pada Allah.
Jika seseorang Allah kehendaki menjadi baik, maka Allah bukakan pintu berbuat, dan Allah tutupkan pintu berdebat. Orang akan berfokus untuk terus berbuat. Jika ada kekurangan atau kesalahan, diperbaiki.
Dalam ber-Islam, ilmu dan amal adalah satu paket, dan di dalamnya tidak terkandung perdebatan. Jika seseorang belajar Islam, maka dia akan bersikap Islami. Jika energi habis untuk berdebat, maka akan berkurang energi untuk berbuat.
Berbeda dengan ilmu lain. Seseorang yang menguasai ilmu bisnis, bisa jadi belum pernah menjalankan bisnis sekalipun. Seseorang yang menjadi pengamat, biasanya tidak pernah menjadi pelaku.
Manusia yang merasa cukup dengan qalam, tanpa fiqih dan tanpa zuhud, akan menjadi orang zindik, yaitu yang suka berbuat dosa, tidak beriman.
Manusia yang hanya zuhud, tapi tanpa fiqih dan qalam, akan terjebak pada bid’ah.
Manusia yang berfokus pada fiqih, tanpa zuhud dan waro, akan menghalalkan segala cara. Zuhud dan waro mengarahkan untuk berfokus ke hal yang baik.
Yang terbaik adalah variasi dari tauhid, qalam, fiqih, dan tauhid, yang akan membawa keselamatan.
Thursday, November 10, 2011
Cabang Iman - Memuliakan Al Qur'an
Pengajian Dzuhur kali ini dari Ust. Muhsinin Fauzi, tentang Cabang Iman ke-19, yaitu Memuliakan Al Qur'an.
Dalam memuliakan Al Qur’an, terdiri atas 6 hal :
Pertama, belajar Al Qur'an.
Dalam belajar Al Qur’an, yang pertama adalah belajar membaca Al Qur’an dengan benar. Dari keseluruhan bacaan, yang wajib untuk dibaca dengan benar ada 3 hal, yang bila perlu, dicek kebenarannya kepada ahli tajwid, yaitu takbiratul ihram, Al Fatihah, dan tasyahud (termasuk dalam rukun shalat).
Namun, untuk kesempurnaan iman, seluruh bacaan harus benar, baik dari hukum tajwid maupun makhraj huruf.
Bagian kedua dari belajar Al Qur’an adalah mempelajari makna Al Qur’an, karena itulah satu-satunya cara untuk memahami hukum Islam, memahami halal dan haram.
Kedua, mengajarkan Al Quran
Setiap orang harus mengambil peran mengajar, karena ini adalah cabang keimanan.
Hal ini terlihat sederhana, namun merupakan hal pokok yang oleh orang kota seperti kita pada umumnya, sering ditinggalkan. Orang-orang yang tinggal di desa justru lebih berfokus untuk berbuat baik, mengajar anak-anak mereka di waktu maghrib, dan seluruh cabang iman dikerjakan, walaupun hidup dalam kesederhanaan.
Semakin tinggi kehidupan dan pemikiran kita, seharusnya cabang keimanan dapat dikerjakan dengan lebih berdaya. Jangan sampai justru ditinggalkan dan dinomorduakan.
Kita punya tanggung jawab untuk mengajar, dimulai dengan anak-anak kita sebagai obyeknya. Walaupun justru saat ini anak kita yang lebih baik dari kita.
Saat ini justru kita sering berkata kepada anak kita, “Nak, jangan seperti ayah/ibu, kamu harus lebih baik.” Nanti seterusnya anak kita berbicara demikian pada anaknya, dan seterusnya.
Kita harus memulai untuk mulai memperbaiki diri, dan menjadi contoh untuk anak kita. Ketika anak kita sudah mulai menghafal 1 – 2 juz, maka seharusnya kita juga dampingi mereka, barengi mereka, atau justru lebih baik dari mereka.
Ketiga, belajar tafsir Al Qur’an, agar dapat memahami hukum Islam, memahami halal dan haram.
Sampai aspek ketiga ini, kelihatannya akan sangat menyita waktu. Mungkin kita akan bertanya, lalu kapan kerjanya? Justru jangan dibenturkan.
Namun di sisi lain, jika ditelaah lebih jauh, aktivitas untuk menjalani seluruh cabang keimanan memang akan sangat membutuhkan waktu. Maka, kalaulah ada konsep passive income, maka yang membutuhkan konsep tersebut adalah umat Islam. Namun, tujuannya bukan untuk memiliki waktu luang untuk bersenang-senang, tetapi memiliki waktu untuk menjalani seluruh cabang keimanan.
Rasulullah sendiri di usia 25 tahun sudah memiliki bisnisnya sendiri, lalu berkongsi dengan Khadijah, dan di usia 40 tahun sudah dijalankan oleh orang lain, sehingga beliau dapat berfokus untuk ibadah.
Namun, tidak perlu berkecil hati. Yang penting kita sudah memiliki niat yang kuat. Allah akan bantu, agar kita dapat menjalankan tugas-tugas kita dalam waktu-waktu yang tersisa.
Keempat, memuliakan ahli Al Qur’an dan penghafal Al Qur’an.
Kelima, tadabbur Al Qur'an, yang merupakan maksud pertama diturunkannya Al Qur’an, yang hanya dapat dilakukan jika kita memiliki kebersihan hati dan memahami makna Al Qur’an.
Keenam, seluruh sikap-sikap yang masuk ke dalam kategori memuliakan, dan bukan menghinakan. Misalnya membawa dengan baik, tidak menginjak, tidak meletakkan sembarangan.
Dalam memuliakan Al Qur’an, terdiri atas 6 hal :
Pertama, belajar Al Qur'an.
Dalam belajar Al Qur’an, yang pertama adalah belajar membaca Al Qur’an dengan benar. Dari keseluruhan bacaan, yang wajib untuk dibaca dengan benar ada 3 hal, yang bila perlu, dicek kebenarannya kepada ahli tajwid, yaitu takbiratul ihram, Al Fatihah, dan tasyahud (termasuk dalam rukun shalat).
Namun, untuk kesempurnaan iman, seluruh bacaan harus benar, baik dari hukum tajwid maupun makhraj huruf.
Bagian kedua dari belajar Al Qur’an adalah mempelajari makna Al Qur’an, karena itulah satu-satunya cara untuk memahami hukum Islam, memahami halal dan haram.
Kedua, mengajarkan Al Quran
Setiap orang harus mengambil peran mengajar, karena ini adalah cabang keimanan.
Hal ini terlihat sederhana, namun merupakan hal pokok yang oleh orang kota seperti kita pada umumnya, sering ditinggalkan. Orang-orang yang tinggal di desa justru lebih berfokus untuk berbuat baik, mengajar anak-anak mereka di waktu maghrib, dan seluruh cabang iman dikerjakan, walaupun hidup dalam kesederhanaan.
Semakin tinggi kehidupan dan pemikiran kita, seharusnya cabang keimanan dapat dikerjakan dengan lebih berdaya. Jangan sampai justru ditinggalkan dan dinomorduakan.
Kita punya tanggung jawab untuk mengajar, dimulai dengan anak-anak kita sebagai obyeknya. Walaupun justru saat ini anak kita yang lebih baik dari kita.
Saat ini justru kita sering berkata kepada anak kita, “Nak, jangan seperti ayah/ibu, kamu harus lebih baik.” Nanti seterusnya anak kita berbicara demikian pada anaknya, dan seterusnya.
Kita harus memulai untuk mulai memperbaiki diri, dan menjadi contoh untuk anak kita. Ketika anak kita sudah mulai menghafal 1 – 2 juz, maka seharusnya kita juga dampingi mereka, barengi mereka, atau justru lebih baik dari mereka.
Ketiga, belajar tafsir Al Qur’an, agar dapat memahami hukum Islam, memahami halal dan haram.
Sampai aspek ketiga ini, kelihatannya akan sangat menyita waktu. Mungkin kita akan bertanya, lalu kapan kerjanya? Justru jangan dibenturkan.
Namun di sisi lain, jika ditelaah lebih jauh, aktivitas untuk menjalani seluruh cabang keimanan memang akan sangat membutuhkan waktu. Maka, kalaulah ada konsep passive income, maka yang membutuhkan konsep tersebut adalah umat Islam. Namun, tujuannya bukan untuk memiliki waktu luang untuk bersenang-senang, tetapi memiliki waktu untuk menjalani seluruh cabang keimanan.
Rasulullah sendiri di usia 25 tahun sudah memiliki bisnisnya sendiri, lalu berkongsi dengan Khadijah, dan di usia 40 tahun sudah dijalankan oleh orang lain, sehingga beliau dapat berfokus untuk ibadah.
Namun, tidak perlu berkecil hati. Yang penting kita sudah memiliki niat yang kuat. Allah akan bantu, agar kita dapat menjalankan tugas-tugas kita dalam waktu-waktu yang tersisa.
Keempat, memuliakan ahli Al Qur’an dan penghafal Al Qur’an.
Kelima, tadabbur Al Qur'an, yang merupakan maksud pertama diturunkannya Al Qur’an, yang hanya dapat dilakukan jika kita memiliki kebersihan hati dan memahami makna Al Qur’an.
Keenam, seluruh sikap-sikap yang masuk ke dalam kategori memuliakan, dan bukan menghinakan. Misalnya membawa dengan baik, tidak menginjak, tidak meletakkan sembarangan.
77 Cabang Keimanan
Berikut cuplikan pengajian Ust. Muhsinin Fauzi hari ini, tentang 77 Cabang Keimanan.
77 cabang keimanan terdiri atas 77 hal yang dapat kita lakukan sebagai bukti keimanan kita.
77 cabang keimanan ini dapat diandaikan seperti paket soal yang diberikan kepada kita, untuk dikerjakan selama hidup kita, yang dapat diandaikan seperti sebuah ruang ujian, dengan batas waktu sepanjang usia kita, yang dapat diandaikan selama 60 menit.
Ketika seseorang masuk ke ruang ujian, ada yang terpukau dengan makanan yang ada di ruangan tersebut, sehingga sampai menjelang habis waktu ujian, belum satu soal pun dikerjakan. Ini adalah pengandaian orang yang sibuk dengan mencari makan, menikmati makan, wisata kuliner dari hari ke hari dan melupakan ibadah.
Ada yang terpukau dengan kondisi ruangan dengan berbagai asesoris di setiap sudutnya, sehingga sampai menjelang habis waktu ujian, belum satu soal pun dikerjakan. Ini adalah pengandaian orang yang sibuk dengan mengagumi berbagai lokasi di dunia, menikmati pemandangan, wisata ke berbagai lokasi dari hari ke hari dan melupakan ibadah.
Ada yang terpukau dengan teman-teman lawan jenis di ruang ujian, sehingga sampai menjelang habis waktu ujian, belum satu soal pun dikerjakan. Ini adalah pengandaian orang yang sibuk berbagai hubungan dengan lawan jenis, dari hari ke hari dan melupakan ibadah.
Ada yang terpukau dengan berbagai kursi dalam ruang ujian, berpindah dari satu kursi ke kursi lain, sehingga sampai menjelang habis waktu ujian, belum satu soal pun dikerjakan. Ini adalah pengandaian orang yang sibuk mengejar jabatan dan kedudukan, dari hari ke hari dan melupakan ibadah.
Namun, ada yang duduk kursi, mengerjakan soal, ketika lapar makan, kadang-kadang berbincang dengan teman, kemudian kembali mengerjakan soal. Ini adalah pengandaian orang yang berfokus pada ibadah, yang ditugaskan Allah, yang tetap memiliki kesempatan untuk melakukan berbagai aktivitas lain di dunia.
Ada yang selesai mengerjakan seluruh soal dalam 30 menit, 40 menit, yaitu mereka yang sudah menjadi orang yang sangat saleh dan matang dalam beragama di usia 30 atau 40 tahun. Ada juga yang sampai menit ke 50 belum juga selesai. Yaitu mereka yang masih terus berproses sampai usia 50-an.
Mungkin juga kita termasuk orang yang sudah mengerjakan semua tugas. Tetapi bisa jadi tugas tersebut belum sempurna kita kerjakan. Perlu terus kita periksa kembali, perbaiki kembali, dan terus diperbaiki. Sehingga ketika waktu habis, ketika kita dipanggil, soal-soal itu sudah kita kerjakan dengan sempurna.
Misalnya dalam hal mencari harta. Kita memang ditugaskan Allah untuk mencari harta, untuk diberikan kepada yang berhak. Maka yang terpenting bukan hartanya banyak, tetapi zakatnya yang banyak.
Jangan sampai kita sempat untuk mencari harta, namun terus menunda-nunda memberikan zakat, sampai akhirnya belum sempat memberikan zakat ketika akhir hidup kita tiba.
Dan dalam berzakat, yang terpenting adalah juga besarannya. Infaq sebaiknya diberikan dalam jumlah yang sebaik-baiknya. Jika diandaikan, misalnya kita berinfaq 2000 rupiah, padahal untuk perjalanan Jakarta – Depok saja, untuk naik ojek ke stasiun, kita perlu 6000 rupiah. Dengan 2000 rupiah kita akan diturunkan di tengah perjalanan. Bagaimana dengan 2000 rupiah kita ingin mencapai surga-Nya?
Kita sebaiknya terus berdoa agar semakin lama, zakat dan qurban kita semakin bertambah. Allah akan berikan, bisa dalam bentuk tambahan rezeki, sehingga kita semakin lapang untuk menambah zakat dan qurban. Atau juga dengan rezeki yang tetap, kita rela untuk menambah zakat dan qurban, dan mengorbankan kepentingan kita yang lain.
77 cabang keimanan terdiri atas 77 hal yang dapat kita lakukan sebagai bukti keimanan kita.
77 cabang keimanan ini dapat diandaikan seperti paket soal yang diberikan kepada kita, untuk dikerjakan selama hidup kita, yang dapat diandaikan seperti sebuah ruang ujian, dengan batas waktu sepanjang usia kita, yang dapat diandaikan selama 60 menit.
Ketika seseorang masuk ke ruang ujian, ada yang terpukau dengan makanan yang ada di ruangan tersebut, sehingga sampai menjelang habis waktu ujian, belum satu soal pun dikerjakan. Ini adalah pengandaian orang yang sibuk dengan mencari makan, menikmati makan, wisata kuliner dari hari ke hari dan melupakan ibadah.
Ada yang terpukau dengan kondisi ruangan dengan berbagai asesoris di setiap sudutnya, sehingga sampai menjelang habis waktu ujian, belum satu soal pun dikerjakan. Ini adalah pengandaian orang yang sibuk dengan mengagumi berbagai lokasi di dunia, menikmati pemandangan, wisata ke berbagai lokasi dari hari ke hari dan melupakan ibadah.
Ada yang terpukau dengan teman-teman lawan jenis di ruang ujian, sehingga sampai menjelang habis waktu ujian, belum satu soal pun dikerjakan. Ini adalah pengandaian orang yang sibuk berbagai hubungan dengan lawan jenis, dari hari ke hari dan melupakan ibadah.
Ada yang terpukau dengan berbagai kursi dalam ruang ujian, berpindah dari satu kursi ke kursi lain, sehingga sampai menjelang habis waktu ujian, belum satu soal pun dikerjakan. Ini adalah pengandaian orang yang sibuk mengejar jabatan dan kedudukan, dari hari ke hari dan melupakan ibadah.
Namun, ada yang duduk kursi, mengerjakan soal, ketika lapar makan, kadang-kadang berbincang dengan teman, kemudian kembali mengerjakan soal. Ini adalah pengandaian orang yang berfokus pada ibadah, yang ditugaskan Allah, yang tetap memiliki kesempatan untuk melakukan berbagai aktivitas lain di dunia.
Ada yang selesai mengerjakan seluruh soal dalam 30 menit, 40 menit, yaitu mereka yang sudah menjadi orang yang sangat saleh dan matang dalam beragama di usia 30 atau 40 tahun. Ada juga yang sampai menit ke 50 belum juga selesai. Yaitu mereka yang masih terus berproses sampai usia 50-an.
Mungkin juga kita termasuk orang yang sudah mengerjakan semua tugas. Tetapi bisa jadi tugas tersebut belum sempurna kita kerjakan. Perlu terus kita periksa kembali, perbaiki kembali, dan terus diperbaiki. Sehingga ketika waktu habis, ketika kita dipanggil, soal-soal itu sudah kita kerjakan dengan sempurna.
Misalnya dalam hal mencari harta. Kita memang ditugaskan Allah untuk mencari harta, untuk diberikan kepada yang berhak. Maka yang terpenting bukan hartanya banyak, tetapi zakatnya yang banyak.
Jangan sampai kita sempat untuk mencari harta, namun terus menunda-nunda memberikan zakat, sampai akhirnya belum sempat memberikan zakat ketika akhir hidup kita tiba.
Dan dalam berzakat, yang terpenting adalah juga besarannya. Infaq sebaiknya diberikan dalam jumlah yang sebaik-baiknya. Jika diandaikan, misalnya kita berinfaq 2000 rupiah, padahal untuk perjalanan Jakarta – Depok saja, untuk naik ojek ke stasiun, kita perlu 6000 rupiah. Dengan 2000 rupiah kita akan diturunkan di tengah perjalanan. Bagaimana dengan 2000 rupiah kita ingin mencapai surga-Nya?
Kita sebaiknya terus berdoa agar semakin lama, zakat dan qurban kita semakin bertambah. Allah akan berikan, bisa dalam bentuk tambahan rezeki, sehingga kita semakin lapang untuk menambah zakat dan qurban. Atau juga dengan rezeki yang tetap, kita rela untuk menambah zakat dan qurban, dan mengorbankan kepentingan kita yang lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)