Perubahan, dari sesuatu yang kita rasa sudah terbaik, biasanya memang terasa berat
Harus diyakinkan dalam hati, bahwa perubahan itu adalah yang terbaik untuk kita
Bahwa pasti sudah Allah skenariokan, dengan rencana hasil akhir yang terindah
Tugas kita saat itu adalah berdoa, memohon kekuatan, agar dapat menerima perubahan
Dan berdoa, semoga Allah jadikan perubahan itu menuju kebaikan
Kata Jose Mari Chan : Life is a constant change
Kata Bon Jovi : Only God would know the reason, but I bet He must’ve had a plan
Tetap semangat, hidup terlalu singkat untuk dijalani dengan keluh
Tetap semangat, begitu banyak hal yang bisa disyukuri
Wednesday, December 21, 2011
Monday, December 19, 2011
Keserakahan dan Keeksklusifan
Pagi ini, dua hal ini terpikir oleh saya, dan rasanya dua hal ini menjadi akar segala permasalahan di dunia ini. Hehehe maaf kalau over lebay. Sudah over, lebay pula :-)
Keserakahan, membuat manusia mencari materi sebanyak-banyaknya. Hehe basic itu mah yah :-) Lanjutannya, perusahaan-perusahaan mencari untung sebesar-besarnya, agar dari tahun ke tahun terus meningkat.
Keputusan dijalankannya suatu industri bukan lagi pentingnya suatu benda bagi seseorang, bukan lagi manfaatnya benda bagi seseorang, apa lagi pemikiran ke arah akhirat. Benda diproduksi, dan harus dicari pembelinya, bagaimana pun caranya. Produksi dilakukan seagresif mungkin dengan biaya serendah mungkin, bagaimana pun caranya.
Akibatnya, diabaikanlah halal haram, dilupakanlah dampak pada lingkungan, dianggap tiadalah dampak pada kesehatan. Bagi konsumen, semakin buram batas antara benda yang benar-benar dibutuhkan dengan benda yang diinginkan, dengan benda yang sekedar “menunjang penampilan”.
Keeksklusifan, membuat orang memandang orang lain dengan cara mencari perbedaan. Pihak yang berbeda sedikit saja, tidak boleh bergabung dengan pihak “kita”. Selalu ada “kita” dan “mereka”. Selalu ada rasa bahwa “kita” lebih baik dari “mereka”.
Dari sini muncullah berbagai perpecahan, baik yang sekedar berbeda paham sehingga tidak mau diskusi bersama, bahkan sampai yang memicu pertentangan fisik.
Ketika keserakahan dan keeksklusifan bergabung, semakin tak tentu arahlah percaturan kehidupan. Pergerakan industri yang didasari keserakahan diwarnai pula oleh persaingan antar perusahaan, yang saling menjatuhkan. Di sisi konsumen, keserakahan dan keekskusifan membuat orang terus berbelanja untuk “menentukan kelasnya” bagi mereka yang ada di kelas menengah ke ataaaas. Atau mencari cara yang “semurah-murahnya tapi tetap bergengsi ” dengan barang bajakan bagi mereka yang di kelas menengah.
Saya kurang suka dengan model pembahasan yang mengkritik tanpa memberikan solusi.
Jadi apa solusinya?
Solusinya ada di al-Qashash ayat 77..
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni'matan) duniawi..."
Sebagaimana pernah saya copy paste di tulisan tentang nasihat terbalik dan dunia vs akhirat berikut.
Kapan-kapan saya coba elaborasi lagi yaa.. Sementara silakan direnungkan dulu.. :-)
Keserakahan, membuat manusia mencari materi sebanyak-banyaknya. Hehe basic itu mah yah :-) Lanjutannya, perusahaan-perusahaan mencari untung sebesar-besarnya, agar dari tahun ke tahun terus meningkat.
Keputusan dijalankannya suatu industri bukan lagi pentingnya suatu benda bagi seseorang, bukan lagi manfaatnya benda bagi seseorang, apa lagi pemikiran ke arah akhirat. Benda diproduksi, dan harus dicari pembelinya, bagaimana pun caranya. Produksi dilakukan seagresif mungkin dengan biaya serendah mungkin, bagaimana pun caranya.
Akibatnya, diabaikanlah halal haram, dilupakanlah dampak pada lingkungan, dianggap tiadalah dampak pada kesehatan. Bagi konsumen, semakin buram batas antara benda yang benar-benar dibutuhkan dengan benda yang diinginkan, dengan benda yang sekedar “menunjang penampilan”.
Keeksklusifan, membuat orang memandang orang lain dengan cara mencari perbedaan. Pihak yang berbeda sedikit saja, tidak boleh bergabung dengan pihak “kita”. Selalu ada “kita” dan “mereka”. Selalu ada rasa bahwa “kita” lebih baik dari “mereka”.
Dari sini muncullah berbagai perpecahan, baik yang sekedar berbeda paham sehingga tidak mau diskusi bersama, bahkan sampai yang memicu pertentangan fisik.
Ketika keserakahan dan keeksklusifan bergabung, semakin tak tentu arahlah percaturan kehidupan. Pergerakan industri yang didasari keserakahan diwarnai pula oleh persaingan antar perusahaan, yang saling menjatuhkan. Di sisi konsumen, keserakahan dan keekskusifan membuat orang terus berbelanja untuk “menentukan kelasnya” bagi mereka yang ada di kelas menengah ke ataaaas. Atau mencari cara yang “semurah-murahnya tapi tetap bergengsi ” dengan barang bajakan bagi mereka yang di kelas menengah.
Saya kurang suka dengan model pembahasan yang mengkritik tanpa memberikan solusi.
Jadi apa solusinya?
Solusinya ada di al-Qashash ayat 77..
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni'matan) duniawi..."
Sebagaimana pernah saya copy paste di tulisan tentang nasihat terbalik dan dunia vs akhirat berikut.
Kapan-kapan saya coba elaborasi lagi yaa.. Sementara silakan direnungkan dulu.. :-)
Thursday, December 15, 2011
Mulai Menghafal Al Qur'an, Dari Mana?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul ketika akan memulai menghafal Al Qur'an adalah, dari mana sebaiknya mulai menghafal Al Qur'an?
Apakah dari Juz 1 (Al Fatihah - Al Baqarah), atau dari Juz 30 (An Naas dst sampai An Naba), atau dari Juz 30 (An Naba dst sampai An Naas), atau dari surat-surat pilihan (Yaasiin, Ar Rahman, Al Waqiah, dsb)?
Dari berbagai diskusi, pada dasarnya pilihan mana pun bisa dilakukan, hanya memang ada beberapa plus minus dari masing-masing pilihan tersebut.
Pertama, jika dimulai dari Juz 1 yaitu surat Al Baqarah.
Ada yang menyatakan proses menghafal lebih mudah, karena kata-kata di surat Al Baqarah relatif lebih mudah, dan lebih "familiar", dan lebih banyak pengulangan.
Ayat-ayat Al Baqarah yang panjang memudahkan dalam merangkai hafalan. Namun karena bacaan surat ini relatif jarang kita dengar sebelumnya, proses menghafal benar-benar dari awal.
Kedua, jika dimulai dari Juz 30, dari An Naas dst sampai An Naba.
Dengan metode ini, biasanya hafalan terus dilakukan secara mundur, sampai juz 27 atau 25, bahkan ada yang terus mundur sampai Juz 1.
Biasanya sering diterapkan untuk menghafal di sekolah-sekolah. Metode ini lebih membuat kita termotivasi, karena diawali dengan surat-surat yang pendek, sehingga dalam waktu relatif singkat kita sudah "berprestasi" menghafal "beberapa surat".
Dan surat-surat ini pun biasanya sudah sering kita dengar, sehingga proses menghafalkan pada dasarnya tinggal menyempurnakan apa yang sudah sering kita dengar itu.
Kekurangannya, karena sudah sering terdengar, kita sering "menganggap mudah" sehingga menjadi kurang teliti dalam membacanya (panjang pendek bacaan, bacaan huruf-huruf yang mirip).
Di samping itu, karena biasanya surat-surat ini sudah pernah kita hafal di saat bacaan kita masih belum sempurna, sering kali ada bacaan yang salah kita hafal, yang memerlukan upaya tambahan untuk memperbaiknya.
Ketiga, jika dimulai dari Juz 30, dari An Naba dst sampai An Naas.
Metode ini di satu sisi memulai dari surat-surat pendek, tetapi di sisi lain, dimulainya dari yang terpanjang :-)
Dengan metode ini, biasanya hafalan dilakukan maju mundur, yaitu juz 30 dari An Naba - An Naas, juz 29 dari Al Mulk - Al Mursalat, sampai juz 27 atau juz 25, lalu dilanjutkan dengan Juz 1 sampai Juz 24 atau juz 26.
Ada yang mengatakan metode ini cukup sulit, karena kata-kata di juz 30 itu kurang familiar, plus kita memulai dari surat yang paling panjang, yang paling jarang didengar.
Namun positifnya, kita memulai dari yang "relatif lebih sulit" untuk dilanjutkan dengan yang berangsur-angsur semakin mudah, sampai An Naas.
Dan ada yang menyatakan juga, walaupun juz amma awal itu sulit dihafalkan, tetapi jika sudah hafal, lebih "langgeng" terhafalnya.
Keempat, jika dimulai dari surat-surat pilihan.
Di satu sisi akan lebih memotivasi, karena biasanya surat itu dipilih karena ada keutamaannya. Surat-surat ini pun relatif sudah sering didengar, sehingga mirip dengan pilihan kedua. Yaitu proses menghafalkan pada dasarnya tinggal menyempurnakan apa yang sudah sering kita dengar itu. Dengan kekurangan pada ketidaktelitian membacanya (panjang pendek bacaan, bacaan huruf-huruf yang mirip) karena merasa "sudah sering dengar" serta kemungkinan adanya bacaan yang terlanjur salah kita hafal, yang memerlukan upaya tambahan untuk memperbaiknya.
Kekurangan lain adalah, jika "surat pilihan" sudah habis, motivasi bisa jadi menurun. Selain itu, karena menghafal tidak berurutan, akan diperlukan upaya tambahan ketika akan menghafalkan keseluruhan secara berurutan.
Demikian plus minus dari masing-masing metode, berdasarkan informasi yang pernah saya peroleh :-)
Akan pilih yang mana? Pilih mana pun boleh, yang penting segera dimulai, selagi masih ada kesempatan..
Tetap semangaaaaat :-D
Apakah dari Juz 1 (Al Fatihah - Al Baqarah), atau dari Juz 30 (An Naas dst sampai An Naba), atau dari Juz 30 (An Naba dst sampai An Naas), atau dari surat-surat pilihan (Yaasiin, Ar Rahman, Al Waqiah, dsb)?
Dari berbagai diskusi, pada dasarnya pilihan mana pun bisa dilakukan, hanya memang ada beberapa plus minus dari masing-masing pilihan tersebut.
Pertama, jika dimulai dari Juz 1 yaitu surat Al Baqarah.
Ada yang menyatakan proses menghafal lebih mudah, karena kata-kata di surat Al Baqarah relatif lebih mudah, dan lebih "familiar", dan lebih banyak pengulangan.
Ayat-ayat Al Baqarah yang panjang memudahkan dalam merangkai hafalan. Namun karena bacaan surat ini relatif jarang kita dengar sebelumnya, proses menghafal benar-benar dari awal.
Kedua, jika dimulai dari Juz 30, dari An Naas dst sampai An Naba.
Dengan metode ini, biasanya hafalan terus dilakukan secara mundur, sampai juz 27 atau 25, bahkan ada yang terus mundur sampai Juz 1.
Biasanya sering diterapkan untuk menghafal di sekolah-sekolah. Metode ini lebih membuat kita termotivasi, karena diawali dengan surat-surat yang pendek, sehingga dalam waktu relatif singkat kita sudah "berprestasi" menghafal "beberapa surat".
Dan surat-surat ini pun biasanya sudah sering kita dengar, sehingga proses menghafalkan pada dasarnya tinggal menyempurnakan apa yang sudah sering kita dengar itu.
Kekurangannya, karena sudah sering terdengar, kita sering "menganggap mudah" sehingga menjadi kurang teliti dalam membacanya (panjang pendek bacaan, bacaan huruf-huruf yang mirip).
Di samping itu, karena biasanya surat-surat ini sudah pernah kita hafal di saat bacaan kita masih belum sempurna, sering kali ada bacaan yang salah kita hafal, yang memerlukan upaya tambahan untuk memperbaiknya.
Ketiga, jika dimulai dari Juz 30, dari An Naba dst sampai An Naas.
Metode ini di satu sisi memulai dari surat-surat pendek, tetapi di sisi lain, dimulainya dari yang terpanjang :-)
Dengan metode ini, biasanya hafalan dilakukan maju mundur, yaitu juz 30 dari An Naba - An Naas, juz 29 dari Al Mulk - Al Mursalat, sampai juz 27 atau juz 25, lalu dilanjutkan dengan Juz 1 sampai Juz 24 atau juz 26.
Ada yang mengatakan metode ini cukup sulit, karena kata-kata di juz 30 itu kurang familiar, plus kita memulai dari surat yang paling panjang, yang paling jarang didengar.
Namun positifnya, kita memulai dari yang "relatif lebih sulit" untuk dilanjutkan dengan yang berangsur-angsur semakin mudah, sampai An Naas.
Dan ada yang menyatakan juga, walaupun juz amma awal itu sulit dihafalkan, tetapi jika sudah hafal, lebih "langgeng" terhafalnya.
Keempat, jika dimulai dari surat-surat pilihan.
Di satu sisi akan lebih memotivasi, karena biasanya surat itu dipilih karena ada keutamaannya. Surat-surat ini pun relatif sudah sering didengar, sehingga mirip dengan pilihan kedua. Yaitu proses menghafalkan pada dasarnya tinggal menyempurnakan apa yang sudah sering kita dengar itu. Dengan kekurangan pada ketidaktelitian membacanya (panjang pendek bacaan, bacaan huruf-huruf yang mirip) karena merasa "sudah sering dengar" serta kemungkinan adanya bacaan yang terlanjur salah kita hafal, yang memerlukan upaya tambahan untuk memperbaiknya.
Kekurangan lain adalah, jika "surat pilihan" sudah habis, motivasi bisa jadi menurun. Selain itu, karena menghafal tidak berurutan, akan diperlukan upaya tambahan ketika akan menghafalkan keseluruhan secara berurutan.
Demikian plus minus dari masing-masing metode, berdasarkan informasi yang pernah saya peroleh :-)
Akan pilih yang mana? Pilih mana pun boleh, yang penting segera dimulai, selagi masih ada kesempatan..
Tetap semangaaaaat :-D
Subscribe to:
Posts (Atom)