Showing posts with label dinar emas. Show all posts
Showing posts with label dinar emas. Show all posts

Friday, September 23, 2011

Ihtikar (Menimbun Barang)

Ceramah dzuhur kali ini disampaikan oleh Ust. Ade Purnama, dengan topik Ihtikar.

Sebelum masuk ke topik, ustadz menjelaskan tentang puasa syawal, yang berdasarkan pada satu hadits (hadits ahad) yang berasal dari Abu Ayyub Al Anshory.

Abu Ayyub Al Anshory adalah yang rumahnya digunakan oleh Nabi Muhammad setelah dipilih berdasarkan berhentinya unta Rasulullah. Ketika Rasulullah berkata bahwa Konstantinopel akan ditaklukkan Islam, dan bahwa sebaik-baik panglima adalah panglima pada penaklukan Konstantinopel, sebaik-baik pasukan adalah pasukan pada penaklukan Konstantinopel, maka Abu Ayyub Al Anshory langsung berangkat ke Konstantinopel dan akhirnya syahid di benteng Konstantinopel.

Konstantinopel baru ditaklukkan 400 tahun kemudian oleh Muhamman Al Fatih yang saat itu berusia 24 tahun.
Maka, perlu diyakini bahwa umur perjuangan sangat panjang, lebih panjang dari umur para pejuangnya.

Di antara buah puasa, sebagai ciri ketakwaan, adalah tidak mencari harta dengan cara yang bathil.

Ihtikar adalah menimbun dengan maksud menghilangkan barang di pasaran, sehingga otomatis harga naik, dan ia bisa mempermainkan harga. Ihtikar termasuk mencari harta dengan cara bathil.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan melakukan ihtikar kecuali para pendosa.”

Untuk dinar emas, kita membeli dengan tujuan melindungi nilai tukar, bukan untuk mempermainkan harga, maka tidak termasuk dalam ihtikar. Ada perbedaan mendasar antara dinar emas dan uang kertas. Pada dinar emas, nilai tukar dan nilai barang (bahan emas pembuat dinarnya) sama. Sedangkan pada uang kertas, nilai yang tertulis tidak sama dengan nilai bahannya.

Contoh lain, jika kita sebagai karyawan, yang juga memiliki sawah di kampung. Karena kita belum membutuhkan hasil panennya, maka hasil panen tersebut disimpan di lumbung. Suatu ketika, di saat paceklik dan harga sedang tinggi, kita membutuhkan dana, dan menjual hasil panen tersebut dengan harga saat itu yang tinggi. Karena hal ini terjadi bukan kita niatkan, tidak ada kesengajaan, maka tidak termasuk ihtikar.

Namun, jika kita membeli ketika harga murah, lalu berniat untuk menjual ketika paceklik waktu harga mahal, maka ini adalah memanfaatkan kenaikan harga akibat kurangnya barang ketika harganya tinggi, sehingga termasuk ke dalam “berbau ihtikar”.

Pembelian cash penjualan kredit dibolehkan. Begitu pula sebaliknya, pembelian kredit penjualan cash. Penjualan atas barang yang belum lunas pun dibolehkan.

Yang tidak dibolehkan adalah pindah transaksi di tengah-tengah, yaitu menjual dengan 2 harga. Misalnya harga cash 1jt, harga kredit 100rb per bulan selama setahun. Ini dibolehkan, kita bisa memilih salah satu dari skema tersebut. Selanjutnya, misalnya kita memilih skema kredit, namun setelah 6 bulan, kita akan melunasi, dan meminta untuk digunakan skema cash. Hal ini tidak dibolehkan.

Bedanya pegadaian syariah dan non syariah, pada pegadaian syariah, biaya adalah untuk sewa tempat, bukan skema tebus – lelang. Pegadaian adalah untuk jaminan ketika membantu orang yang sedang kesusahan, bukan dalam rangka mencari keuntungan, juga bukan memanfaatkan kesusahan orang untuk mencari kesenangan.

Ada skema gadai yang beredar di masyarakat, yang sangat dzalim. Yaitu penggadaian sawah, yang selama peminjam dana belum melunasi, sawah digarap oleh pemberi pinjaman. Yang lebih dzalim lagi, sawah tetap digarap oleh peminjam, namun separuh hasilnya diberikan kepada pemberi pinjaman.

Tuesday, July 19, 2011

Miramagia, Seru dan Bagus, Sayangnya..

Ada yang pernah coba main game online Miramagia? Saya coba search di Google, review Miramagia dari orang Indonesia, belum ada.. :-)

Saya diajak anak saya, dan ternyata memang seru :-)

Kita diberi lahan untuk ditanami, punya binatang untuk dipelihara, punya rumah dengan taman, ada laboratorium pribadi, ada tempat ibadah, ada tempat penyimpanan hasil pertanian. Nanti kita belajar berjualan ke pasar, dengan menentukan sendiri harga barang yang mau kita jual, belanja. Level kita ditentukan antara lain dari jumlah emas yang kita miliki.

Kita punya teman dalam satu kelompok, yang random dipilihkan ketika kita mendaftar. Dengan teman-teman itu kita bisa bertegur sapa, dan saling memberi hadiah. Ada macam-macam kompetisi baik pribadi maupun kelompok, yang berhadiah emas.
Seiring dengan waktu, pilihan tanaman bertambah, dengan waktu Binatang makin besar, perlu kandang makin besar. Laboratorium, tempat ibadah, rumah, juga perlu diperbesar.

Bagus kan?

Anak-anak jadi belajar proses bertani, belajar berstrategi, memilih tanaman yang akan ditanam, baik dilihat dari sisi waktu penanamannya (ada yang 3 menit ada yang 24 jam), maupun harga jualnya. Belajar berjualan, menentukan harga yang tepat, agar laku terjual. Belajar bermasyarakat, beramah tamah dengan teman-teman satu kelompok. Belajar bekerja sama, untuk memenangkan kompetisi kelompok. Plus belajar bahwa mata uang yang sesungguhnya adalah emas :-)

Namun, ada yang sangat saya sayangkan..

Konteks seluruh cerita adalah magic atau sihir. Jadi yang saya sebut tempat ibadah adalah magic circle berupa batu-batuan melingkar. Ketika menanam dan memanen, yang dilakukan adalah memberi mantra yang pada ilustrasinya diberikan gambar bintang-bintang kecil berkerlap-kerlip. Di laboratorium, yang dilakukan adalah mempelajari mantra-mantra baru, yang bisa membantu dalam membersihkan lahan dan mempercepat panen. Dan kita bisa juga iseng menyihir teman dan pengunjung lain. Plus, setiap hari bisa dilakukan pemutaran roda keberuntungan dengan beraneka hadiah.

Duh, sungguh jauh dari nilai-nilai Islam, akidah, dan syariah.

Betapa ingin ada game seperti ini, yang seru, menarik, mendidik, tetapi di dalamnya terkandung nilai-nilai Islam.

Misalnya, di waktu-waktu shalat, maka diharuskan ke tempat ibadah, ada masjid di desa, semua yang sedang online shalat bersama. Bertani, berdagang masih oke untuk dilanjutkan. Kegiatan belajar bukan dalam konteks mantra, tetapi benar-benar belajar. Kemudian bisa diperkenalkan juga dengan konsep zakat dan infaq, dengan datangnya pengunjung yang berkebutuhan. Ada juga target ibadah harian, misalnya membaca Al Qur'an, shalat dhuha, shalat tahajjud, yang menambah bonus akhirat, misalnya.

Tapi, yang pertama yang harus ditampilkan adalah game yang seru dan menarik. Nilai-nilai Islamnya itu dimasukkan secara sangat samar, tapi tertanam.

Gimana, mudah-mudahan ada yang tertarik membuat? Saya ikutan buat konsepnya nanti.. Ditunggu kabarnya yaa.. :-)

Saturday, April 23, 2011

Kiat Memilih Kata : Mengganti ‘Bangga’ Dengan ‘Syukur’

Copy paste sebuah artikel yang bagus yang ditulis oleh Pak Muhaimin Iqbal di www.geraidinar.com. Semoga bermanfaat.
http://www.geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=615:kiat-memilih-kata--mengganti-bangga-dengan-syukur&catid=37:umum&Itemid=90

Kiat Memilih Kata : Mengganti ‘Bangga’ Dengan ‘Syukur’...
Oleh Muhaimin Iqbal

Kamis, 21 April 2011 08:22

Dalam suatu perjalanan ke negeri Jiran belum lama ini, tidak sengaja saya mendengarkan ceramah yang indah dari seorang ustadzah yang menganjurkan jama’ahnya untuk meninggalkan semua kata ‘bangga’ dan menggantinya dengan kata ‘syukur’. Sepintas kedengarannya agak lucu dan saat itu saya berpikir apalah artinya kata. Namun alhamdulillah setelah saya renungkan cukup lama, saya menjadi faham betapa besar pengaruh dari pemilihan kata ini dalam membentuk sikap kita terhadap segala sesuatu. Nasihat ustadzah – yang bahkan saya tidak sempat mengenal namanya ini – rupanya bermakna sangat dalam, semoga Allah merakhmatinya.

Di dalam Al-Qur’an kata bangga hampir selalu berarti atau berdampak buruk. Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri ( antara lain 4 :36 ; 28 :76 ; 57 : 23), kebanggaan menimbulkan perpecahan ( antara lain 23:53 ; 30: 32 : 31 :40) dan kebanggaan juga menyebabkan datangnya azab dan hancurnya harta ( QS 57 : 20).

Sebaliknya kata syukur selalu berkonotasi positif, mendatangkan rakhmat (54 : 34-35), mendatangkan ridhaNya (39 : 7), dijauhkan dari bencana ( 54 : 34-35), terbebas dari siksa (4 :147), bertambahnya nikmat ( 14 : 7) dan diperintahkan langsung maupun tidak langsung dalam sejumlah ayat!

Mari sekarang kita lihat aplikasi dan pengaruhnya dalam kehidupan sehari hari. Ketika negeri ini lagi bangga-bangganya dengan team sepak bola nasional kita yang berhasil menembus partai final piala AFF penghujung tahun lalu – kita ‘diingat’kan Allah dengan kekalahan telak yang meluluh lantakkan perasaan para penggemar bola di tanah air. Kegagalan di final ini nampaknya belum juga cukup, perpecahan demi perpecahan di dunia persepak bolaan tanah air-pun terjadi hingga kini. Perhatikan ini dengan kesesuaian ayat-ayat tersebut diatas.

Lantas bagaimana seharusnya kita mengungkapkan perasaan kegembiraan bangsa ini ketika para pemain olah raganya mencapai prestasi yang gemilang? Mengungkapkannya dengan rasa syukur dan juga dengan kata syukur. Kata-kata ‘team kebanggaan nasional’ misalnya – agar tidak berimplikasi pada kesombongan yang dihancurkan Allah – kita ganti dengan ‘team kesyukuran nasional’.

Dalam kehidupan berkeluarga juga demikian, selama ini kita anggap lumrah bila seorang ibu atau bapak membangga-kan prestasi anaknya. Maka muncullah istilah ‘anak kebanggaan orang tua’, padahal tidak ada prestasi apapun bila Allah tidak menghendakinya – maka kata-kata inipun kita ganti dengan ‘anak kesyukuran orang tua’.

Dalam kehidupan berusaha-pun perubahan terhadap penggunaan kata ini bisa kita lakukan. Sebelum saya mendengar ceramah ustadzah tersebut diatas, ketika menyebut lima proyek yang sedang di realisir oleh para santri wirausaha di Pesantren Wira Usaha Daarul Muttaqqiin (PWDM) – saya sering menyebutnya sebagai ‘proyek-proyek kebanggaan’ kita. Kini saya takut menggunakan kata ‘proyek-proyek kebanggaan’ karena bisa berimplikasi pada kesombongan sikap – yang bisa mendatangkan azab dan kehancuran ( 57 :20) – na’udhubillahi min dzalika.

Lantas apa kata gantinya ?, kini kita gunakan penyebutan ‘proyek-proyek kesyukuran kita’. Maka ketika ada kritik konstruktif dari salah satu peserta PWDM – kok banyak proyek kita yang gagal atau tidak berhasil di realisir, sayapun tetap bisa menggunakan kata syukur tersebut – bahwa kita sangat bersyukur ada sejumlah proyek yang bisa diimplementasikan sampai sejauh ini. Perhatikan disini kata syukur bisa selalu pas dalam kondisi apapun, sedangkan kata bangga memang tidak pas untuk menggambarkan pencapaian PWDM tersebut.

Diawal-awal Anda menggantikan kata ‘bangga’ dengan ‘syukur’, Andapun mungkin akan terasa lucu karena ini terasa seperti bahasanya Upin dan Ipin. Namun tidak mengapalah lucu, kalau kita bisa menolak azab dan kehancuran dengan ridha dan bertambahnya nikmat dariNya. Amin.