Showing posts with label etika. Show all posts
Showing posts with label etika. Show all posts

Monday, March 30, 2015

Yang Dibolehkan dalam Shalat

Ceramah Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Tolkhah Nuhin, Lc.

Yang dibolehkan dalam shalat :

Pertama, dibolehkan menangis.
Menurut Imam Hanafi, menangis bukan karena khusyu membatalkan shalat, misalnya karena kesakitan.
Rasulullah pernah shalat seakan-akan bergemuruh karena tangisan. Umar bin Khattab pernah menangis ketika membaca surat Yusuf.
Rasulullah pernah shalat sambil menangis pada saat perang badar, ketika semua orang tidur.

Di masa lalu bacaan Al Qur’an bisa membuat pengaruh yang besar. Ketika hijrah pertama ke Habasyah, Ja’far bin Abi Thalib yang memiliki perawakan dan suara seperti Rasulullah membacakan surat Maryam, yang sampai membuat seorang pendeta tersungkur.

Kedua, dibolehkan menoleh, asalkan tidak sampai memutar, dan benar-benar ada keperluan. Bila menoleh padahal tidak ada keperluan, itu adalah godaan syaitan.

Ketiga, dibolehkan membunuh ular, kalajengking, dan binatang membahayakan lain walaupun membutuhkan banyak gerakan.
Ada mazhab yang menganggap makruh.

Berkaitan dengan binatang, imam Syafi’i mengharamkan serangga. Imam Malik membolehkan ulat, tetapi harus disembelih.
Untuk anjing, hadits-nya menyatakan bila sesuatu terkena jilatan anjing, maka dicuci 7 kali. Maka pembahasannya, apakah yang diharamkan liurnya atau seluruhnya? Imam Syafi’i mengharamkan seluruhnya.

Keempat, dibolehkan bergerak ringan karena hajat,misalnya membuka pintu yang berada di depan kita, berjalan untuk menutup shaf. Rasulullah menggendong Hasan dan Husain ketika shalat. Untuk implementasi di masa sekarang, karena sudah ada pampers, perlu dipastikan bahwa pampers masih suci jika anak akan dibawa dalam shalat, agar tidak sampai membawa najis dalam shalat.

Kelima, dibolehkan berisyarat dalam shalat untuk memberi tahu bahwa sedang shalat.

Keenam, dibolehkan bertasbih dan bertepuk tangan untuk mengingatkan imam yang melakukan kesalahan. Perempuan tidak boleh bersuara, sehingga bertepuk tangan.

Ketujuh, dibolehkan membaca “Alhamdulillah” setelah bersin.

Suatu ketika ada sahabat yang bersin dalam shalat dan kemudian membaca Alhamdulillah diikuti dengan doa yang cukup panjang.
Setelah selesai shalat, Rasulullah bertanya, siapa yang tadi melakukan hal tersebut? Tidak ada sahabat yang menjawab.
Kemudian Rasulullah bertanya untuk kedua kalinya, dan akhirnya ada sahabat yang menyatakan bahwa ia melakukannya.
Lalu Rasulullah menjawab bahwa, ada 70 malaikat yang berebutan membawa kalimat itu ke langit.

Namun, tidak dibolehkan bagi yang mendengar “Alhamdulillah” setelah bersin dalam shalat untuk menjawab “Yarhamukallah”.
Hal ini pernah terjadi juga di masa Rasulullah.
Setelah selesai shalat, Rasulullah bertanya, siapa yang tadi melakukan hal tersebut? Salah satu sahabat yang menyatakan bahwa ia melakukannya. Kemudian Rasulullah menjelaskan dengan lemah lembut.

Seperti ketika ada seorang sahabat kencing di masjid, sahabat sudah ada yang akan marah, Rasulullah mencegah dan meminta untuk membiarkan saja, karena jika dimarahi, nanti sahabat itu akan lari, dan justru akan memperluas area yang terkena najis. Setelah selesai, Rasulullah perintahkan untuk membersihkan dengan air.


Kedelapan, dibolehkan menggunakan kain untuk sujud.

Friday, November 2, 2012

Pesan Direksi



Pagi tadi ada pertemuan dengan direksi baru di kantor saya. Ada beberapa point yang sangat baik dan bisa diterapkan secara umum di perusahaan manapun, juga bagi pribadi. 

Ada tiga nilai  yang penting untuk keberhasilan dalam bekerja : 

Pertama, jangan menunda pekerjaan. Lakukan hari ini jika dapat dilakukan hari ini. Hari esok kita situasinya bisa jadi jauh berubah. 

Kedua, bangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar, berkontribusilah. Jangan melepas tangan dan beranggapan “itu bukan tugas saya”. Pedulilah dengan hal-hal yang walaupun sepele, tetapi kita bisa membantu, pedulilah dengan kualitas yang buruk, pedulilah dengan atasan ataupun bawahan yang kurang baik. Semua masalah bersama, jadilah bagian dari solusi.

Ketiga, biasakan dan merasa nyamanlah bekerja dengan orang yang lebih pintar. Dengan menghargai orang yang lebih pintar, kita seperti “menaiki gelombang”, kita akan terdorong ke atas. Jika kita tidak mau “menggandeng” orang pintar, semua akan terkotak-kotak, dan kita pun tak bisa menyelesaikan segala sesuatunya sendirian. Hargai orang yang lebih pintar, merasa nyamanlah, dan carilah kontribusi yang kita bisa lakukan sesuai kemampuan kita.

Dalam lingkungan industri yang berubah cepat, yang terpenting bukan benar atau tidaknya strategi, namun kecepatan dalam mengambil keputusan. Maka perbedaan antara pemimpin yang kuat dan lemah adalah pada keberanian mengambil posisi.

Sering kali orang tidak berani mengambil posisi, karena takut dengan resikonya. Padahal “biaya” yang timbul karena tidak mengambil posisi, sebenarnya bisa jauh lebih besar. Kecepatan eksekusi diawali dengan keberanian mengambil posisi, dan ini harus dimulai dari pimpinan tertinggi, dan terus berjenjang sampai tingkat karyawan terbawah.

Kebanyakan karyawan Indonesia, terutama di fungsi-fungsi teknis, menganggap tidak penting untuk “menjual diri”, ada keengganan untuk bertemu dengan orang lain. Kita sering beranggapan bahwa tidak perlu “menjual diri”, nanti lama kelamaan orang akan tahu juga kemampuan kita. Sayangnya, dengan perkembangan bisnis dan industri yang cepat, orang tidak punya cukup waktu untuk berinteraksi, sehingga tidak sampai pada kesempatan untuk mengetahui kemampuan kita. Maka di era seperti itu, kita perlu untuk memiliki kemampuan “menjual diri sendiri”. Kemampuan untuk berargumentasi, mempertahankan pendapat dalam pertemuan menjadi sangat penting.

Hard skill perlu dilengkapi dengan soft skill, antara lain dalam hal menyampaikan pendapat dan menyampaikan sesuatu secara terstruktur. Kompetensi ini dapat ditularkan dari atas sampai bawah. Kita harus mampu menunjukkan jati diri kita.

Direksi tentunya tidak memahami masalah detil di lapangan. Di sisi lain, karyawan di lapangan cenderung segera "gulung lengan" dan bekerja. Perlu ada pihak yang dapat menyampaikan informasi kondisi lapangan dan usulan posisi yang perlu diambil agar dapat dibuat keputusan yang tepat.

Bila tidak ada usulan posisi dari bawah, keputusan akan diambil secara "top down" dari atas, yang seringkali mengakibatkan ketidakpuasan bagi karyawan.

Untuk itu, ketika karyawan dimintai masukan, berikanlah masukan. Karena permintaan masukan bukan sekedar basa-basi. Manajemen sangat memerlukan masukan.

Dalam situasi bisnis yang berubah cepat dan dinamis, diperlukan cara kerja yang sesuai. Kerja harus dilakukan dengan "fun", senangilah pekerjaan kita, bersemangatlah menghadapi perubahan dan dinamika.

Berkaitan dengan budaya perusahaan, yang terpenting bukan sekedar nama dan jargon. Budaya itu harus memiliki makna, dan harus bisa dirasakan oleh seluruh karyawan. Harus mewarnai pola interaksi dan mewarnai proses pengambilan keputusan.

Percayalah, jika perusahaan memperoleh keuntungan, karyawan juga akan mendapatkan bagiannya.
Yang menjadi masalah adalah, jika perusahaan merugi, maka bagaimana perusahaan dapat membagi kepada karyawan?

Maka lakukanlah kinerja yang sebaik mungkin, karena karyawan juga yang akan menikmati hasilnya.

Interaksi antara manajemen dan karyawan harus dibangun secara dua arah. Karyawan harus merasa aman dalam menyampaikan kritik. Manajemen dan karyawan harus membangun interaksi perkawanan yang timbal balik.

Pemimpin memiliki spesialisasi masing-masing. Jika dianalogikan dengan supir, ada supir yang ahli di jalan yang sulit, berliku, penuh lubang-lubang. Dan ada juga supir yang ahli untuk berkendara dalam kecepatan tinggi. Situasi perusahaan yang berubah membutuhkan pemimpin yang berbeda.

Dalam setiap perubahan dibutuhkan proses, segala sesuatu tidak dapat terjadi secara instan. Berikan waktu dan kesempatan yang wajar.

Monday, October 29, 2012

Larangan Membunuh dan Indahnya Hukum Islam



Ceramah kali ini disampaikan oleh Ustadz Muhsinin Fauzi.

Menurut Ibnu Taimiyah, ciri dosa besar adalah salah satu dari tiga ciri berikut :
- Allah berikan balasan neraka di akhirat
- Perbuatan tersebut dilaknat oleh Allah
- Ada hukuman di dunia

Menyakiti hati orang tua termasuk dosa besar karena dilaknat Allah (memenuhi satu ciri dosa besar).

Membunuh memiliki ketiga ciri tersebut, maka termasuk dosa yang besar, dapat dikatakan dosa terbesar kedua setelah syirik.

Dalam Islam, penjagaan atas seseorang terdiri atas 5 tingkatan, yaitu :

Pertama, menjaga keberagamaan seseorang (hifzhuddin).

Kedua, menjaga diri (hifzhunnas) dengan makan makanan yang baik dan memberikan rasa aman.
Maka dilarang untuk mengacungkan pedang walaupun tanpa niat melukai, karena akan menghilangkan rasa aman. Dilarang pula untuk melakukan teror dan tekanan dengan kalimat yang buruk. Serta yang terakhir dilarang untuk membunuh.

Ketiga, menjaga keturunan.
Maka dalam Islam dilarang untuk berzina, ada masa iddah, dilarang menikah dengan saudara dekat, dilarang menikahi pezina.

Keempat, menjaga harta.
Satu rupiah pun harta orang lain, tetap milik orang lain, tidak boleh kita ambil. Bahkan benda yang terasa remeh ataupun sepele, misalnya sandal ataupun buah mangga yang masih kecil.

Kelima, menjaga akal, dengan belajar, mengaji.
Maka tidak boleh menyembunyikan ilmu dan tidak boleh makan minum yang merusak akal.
Menurut penelitian, 1 tetes khamr akan merusak 500 sel otak, bayangkan jika beberapa gelas yang diminum. Ustadz Muhsinin berkelakar, maka orang yang sering mabuk biasanya tidak akan terkena stroke, karena otaknya sudah habis J

Rasa amanlah yang merupakan hal yang penting. Untuk mencapai rasa aman tersebut orang membangun pagar tinggi, menyewa satpam, menggunakan fore rider. Tetapi bukan pagar, satpam, dan fore rider-nya yang penting, yang penting adalah rasa amannya.

Islam melindungi rasa aman dengan 5 lapis benteng rasa aman :

Benteng pertama, Islam mencabut segala hal yang membuat orang saling mengancam, yaitu hubbuddunya, rasa cinta pada dunia, dengan mengutamakan sifat zuhud.

Ada kisah zuhud seorang ustadz. Sejak kecil ustadz ini memiliki sifat yang “aneh”. Jika ada penjual menawarkan dagangannya seharga 5.000, maka ia akan menawar menjadi 10.000 atau 15.000.

Seorang pedagang ikan tongkol bertanya padanya mengapa, maka ia katakan, “Bapak tidak kenal saya kan? Tetapi Bapak bawakan ikan tongkol ini kepada saya. Jika saya diminta untuk mencari ikan tongkol ke laut dan dijanjikan uang 1 juta rupiah, saya tidak akan mau. Maka harga yang Bapak berikan saya tawar lebih tinggi.

Ketika ada teman yang suka dengan mobil Lancer-nya, dia katakan, “Sampeyan suka? Ambillah.”

Ustadz ini memiliki istri, dan ia sendiri jarang di rumah. Maka ia memiliki supir yang bertugas mengantar istrinya. Hubungan istri dan supir tersebut tetap terjaga karena mereka sama-sama salih dan salihah. Namun sang Ustadz melihat bahwa mereka terlihat nyaman jika bercakap-cakap. Maka dia katakan pada supir dan istrinya apakah mereka saling menyukai? Diawali dengan mengelak, namun akhirnya mereka mengakui bahwa ada rasa suka. Maka Ustadz pun menceraikan istrinya dan memintanya menikah dengan supir tersebut, dan memberikan seluruh rumah dan harta bendanya.

Jika pada setiap orang ada sifat zuhud, tidak pernah akan terjadi perselisihan. Tidak mungkin ada perebutan sesuatu, karena jika ada orang terlihat suka pun, akan diberikan. Tidak akan ada rasa sakit hati, karena sakit hati biasanya terjadi karena kehilangan sesuatu atau sesuatu direbut orang lain.

Benteng kedua, semua orang harus menghargai orang lain, tidak boleh menghinakan orang lain.

Benteng ketiga, semua bentuk hubungan dengan orang lain ada hukum muamalat yang jelas, sehingga tidak akan ada yang dicurangi.

Dalam perjalanan, harus ada pemimpin. Dalam bertetangga, jual beli, suami istri, ada hukumnya. Karena dalam setiap interaksi akan ada benturan kepentingan. Termasuk juga hukum waris. Walaupun pihak-pihak yang terkait sudah merelakan, namun jika hukum tidak ditegakkan, maka hal itu tidak dibenarkan, karena tetap ada peluang orang merasa dirugikan.

Di Indonesia dalam masyarakat banyak permasalahan karena tingginya sifat cinta dunia, hubbuddunya, tidak adanya akhlak, serta tidak ditegakkannya hukum muamalat.

Ustadz Muhsinin mempunyai teman yang tinggal di Jepang selama 30 tahun, merasakan bahwa berlalu lintas di Jakarta lebih berbahaya daripada permainan roller coaster. Pertama dari cara mengendarai dan ditambah dengan mata melotot ketika diperingatkan, padahal melakukan kesalahan.

Benteng keempat, jika terjadi benturan dalam urusan dunia, maka Islam menganjurkan untuk mengalah. Misalnya anjuran untuk meninggalkan debat walaupun benar.

Benteng kelima, ketika ada kekerasan menyentuh badan, maka bagi pelakunya adalah neraka jahannam selama-lamanya. Dan di dunia diberikan balasan qishash yang setimpal. Luka goresan dibalas dengan goresan, luka potongan dibalas dengan potongan, pembunuhan dibalas dengan pembunuhan.

Untuk tindakan yang tidak terukur, misalnya terkena tempeleng, maka dilakukan ta’dzir oleh hakim, dan diberikan hukuman penjara atau denda dengan hitungan tertentu.

Islam memberikan 5 lapis benteng bagi rasa aman, karena ketika rasa aman terkoyak, hidup menjadi terasa tidak berarti.

Dalam qishash itu justru terdapat kehidupan. Pihak di luar Islam sering mempertanyakan, “Mengapa hukum Islam sedemikian rupa, mengapa begitu kejam?”

Karena kaidah sanksi dalam Islam adalah memastikan efek jera. Jika tidak, maka itu bukan sanksi, melainkan anjuran. Dan Islam bukan kejam. Ketika seseorang salah lalu kita tidak menjatuhkan sanksi atau memberikan sanksi yang tidak membuat jera, maka kita menyayangi satu orang, tetapi sebenarnya jutaan orang lain terancam.

Alternatif hukuman dengan penjara seumur hidup akan memberikan beban. Bagaimana pun penjara ada batas kapasitasnya. Seperti yang terjadi di Belanda, karena penjara penuh, seluruh penghuni penjara dikeluarkan dan di badannya dipasangi chip agar dapat dipantau.

Penjara menggunakan anggaran yang besar, menjadi beban di kedua pihak. Keluarga yang ditinggalkan kehilangan orang yang menanggung hidup, dan Negara harus menanggung beban hidup orang tersebut seumur hidupnya.

Jika diterapkan qishash, hukuman dapat dilakukan, dan orang tersebut dapat segera kembali ke masyarakat. Jika hukumannya adalah dibunuh, istrinya dapat menikah lagi dan negara tidak perlu terbeban.

Hukum Islam bukan mencari-cari orang yang akan terkena hukuman. Hukum Islam justru berusaha mencegah supaya orang tidak terkena hukum. Diupayakan penyelesaian dahulu sebelum sampai ke hakim. Diberikan nasihat dan dakwah terlebih dahulu semaksimal mungkin. Hukum tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan secara integral dengan etika dan dakwah. Hukum harus memberikan
rasa keadilan, maslahat pribadi harus dikorbankan untuk maslahat umum.

Dalam Al Qur’an surat An Nisa 29, terdapat larangan untuk bunuh diri. Prinsip dalam Islam, segala sesuatu di dunia haram sampai Allah bolehkan, termasuk diri kita sendiri.

Terdapat tiga tingkatan pidana :
Pertama, pembunuhan sengaja, menggunakan alat yang mematikan, dan korban mati.
Kedua, pembunuhan sengaja salah, dilakukan sengaja, tetapi menggunakan alat yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk membuat mati, tetapi korban mati. Misalnya memukul dengan tangan, yang sebenarnya tidak mematikan, tetapi korban mati.
Ketiga, pembunuhan salah murni, tidak diniatkan kepada seseorang, juga tidak menggunakan alat yang mematikan, tetapi korban mati. Misalnya melempar batu kecil ke burung, tetapi terkena seseorang dan mengakibatkan kematian.

Dan prinsipnya, melukai adalah haram. Jika terukur, berikan balasan yang sama. Jika tidak terukur, hakim akan memberikan hukuman penjara atau denda yang sepadan.

Hukuman hanya berlaku jika yang dilukai adalah badan. Melukai hati tidak termasuk dalam hukum. Melukai hati termasuk ke dalam dosa, tetapi tidak ada hukuman di dunia. Hukuman diserahkan nanti di akhirat. Jika dibandingkan dengan hukum di Indonesia, maka “perbuatan tidak menyenangkan” tidak termasuk wilayah hukum Islam, karena bersifat sangat relatif, dan penyelesaiannya diserahkan ke akhirat.

Seorang pakar hukum menyatakan bahwa Hukum Islam pada dasarnya secara konseptual bisa diterapkan di Indonesia. Namun seringkali justru umat Islam sendiri yang menolak. Prosedurnya cukup “mudah” yaitu pengajuan ke parlemen.

Dari masa ke masa, perang terhadap Islam terus terjadi, dengan berbagai “tema”. Sampai tahun 2010, temanya adalah terorisme. Setelah 2010, temanya bergeser menjadi intoleransi. Bahwa muslim tidak toleran, lalu akan diarahkan menuju anti demokrasi, lalu akan diatasi dengan rancangan keamanan nasional.

Di tingkat dunia, Islam silih berganti menunjukkan kekuatan. Kali ini Turki dan Mesir terlihat bangkit. Mesir dikatakan Amerika sebagai “bukan sahabat tetapi juga bukan teman”. Berbeda dengan Iran yang jelas-jelas merupakan musuh, dan Saudi Arabia yang jelas-jelas merupakan sahabat. Dulu ketika Timur kelihatan menurun, Malaysia terlihat kuat, dan pernah juga harapan diberikan pada Indonesia.

Turki sudah menyatakan diri sebagai milik dunia Islam. Yaman memiliki tata dakwah yang sangat baik, di seluruh lapisan masyarakat. Berbeda dengan di Indonesia, dengan dakwah yang baik di kalangan menengah ke atas, namun keropos di bawah, juga tidak ada kekuatan di puncak pimpinan.

Kita perlu evaluasi kembali setiap hal yang menyatakan keburukan Islam, jangan serta merta mudah digiring memburukkan Islam. Teruslah belajar, semoga Allah menegakkan Islam di negeri kita ini.


Kitab Hadits Sunan Abu Daud - Akhlak



Copy paste dari kuliah di Blackberry Messenger dari Ust. Syarif Matnadjih.
 
Pengajian Ke-28 Kitab Sunan Abu Daud :

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِىُّ وَحَفْصُ بْنُ عُمَرَ قَالاَ حَدَّثَنَا ح وَحَدَّثَنَا ابْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ أَبِى بَزَّةَ عَنْ عَطَاءٍ الْكَيْخَارَانِىِّ عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ  مَا مِنْ شَىْءٍ أَثْقَلُ فِى الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

Dari Abu Darda, dari Nabi saw, beliau bersabda : "Tidak dari sesuatu yang lebih berat pada timbangan (hari kiamat) dari akhlak yang baik" (HR. Abu Daud : 4801)

Nabi saw adalah sebaik-baik manusia yang telah mencontohkan berprilaku dengan baik, bahkan beliau 'sengaja' diutus olehNya untuk menyempurnakan akhlak, karena kehidupan akan menjadi baik dan penuh dengan kebaikan bila 'benar' dan santun dalam berbuat.

Nabi saw dan para sahabat hidup dalam persaudaraan yang 'dibalut' dengan akhlak mulia, mereka telah mencontohkan perbuatan yang agung dalam mengisi kehidupan sementara di dunia ini, mereka memiliki kasih sayang terhadap sesama dan saling mengajak kepada kebaikan serta mencegah terhadap kemungkaran.

" WAL WAZNU YAUMAIDZIN al-HAQ, FAMAN TSAQULAT MAWAAZIINUHU FAULAAIKA HUMU al-MUFLIHUUN" (dan hari itu pertimbangan (amal baik dan buruk) adalah benar, maka barang siapa yang berat timbangannya (dengan kebaikan) maka merekalah orang2 yang beruntung), surat al-A'raf ayat ke-8 ini jelas2 menerangkan perihal hari 'ditimbangnya' amal setiap manusia, hari itu disebut sebagai 'penentu' keputusan dariNya, siapa yang berat timbangan kebaikannya disebut pada ayat ini sebagai orang yang beruntung.

Hidup itu hanya ada dua pilihan, menjadi orang yang beruntung atau orang yang merugi, maka hadits hari ini memberikan 'cara mudah' buat meraih keberuntungan yang kekal, yaitu dengan tampil sebagai manusia penuh pesona lantaran baik pekerti dan santun dalam bertutur.

Pekerti yang baik pada hadits diatas mempunyai 'bobot' yang berat saat tiba waktu ditimbangnya amal, maka rasanya pilihan ini harus kita ambil demi 'keselamatan' saat hari yang paling 'menegangkan' datang.

Ciri mereka yang mempunyai akhlak yang baik bisa dilihat nyata dengan 'respon' orang2 yang berada disekitarnya, bila keberadaannya menghadirkan 'kenyamanan' dan kebahagiaan bagi orang lain, maka hampir bisa dipastikan orang tersebut mempunya 'pesona' akhlak, tetapi bila berlaku sebaliknya maka juga hampir dipastikan orang tersebut tidak memiliki pekerti yang baik.

Sesuatu yang harus menjadi 'harapan' dan cita2 kita adalah ketika pada waktunya seluruh 'penghuni langit' akan selalu mendo'akan kita dan bahkan bila waktunya tubuh kita bersemayam didalam tanah, nama kita akan terus menjadi 'perbincangan' mereka yang hidup karena kebaikan yang telah 'ditorehkan' selama kita hidup di dunia.

'Al- Adabu Aktsaru Min al-'Ilmi', demikian pernyataan manusia mulia yang bernama Umar Ibnul Khottob, menurut beliau, akhlak itu mempunyai manfaat yang lebih banyak ketimbang ilmu, karena bila berakhlak maka pastinya dia berilmu, tetapi belum bisa dipastikan mempunyai akhlak kendatipun memiliki banyak ilmu.

Berakhlaklah yang mulia, karena anak dan keturunanmu membuntuhkan contoh dan teladan dari kedua orang tuanya, dan 'nasib'mu nanti di yaumil qiyaamah sangat ditentukan dengan 'prilaku'mu saat ini, nanti dan hingga waktu jelang kematianmu datang.

Wallahu A'lam Bisshowaab.
-----------
*dari beranda 'tenda' Mina, menantikan waktu menuju 'Arofah