Showing posts with label marah. Show all posts
Showing posts with label marah. Show all posts

Thursday, February 25, 2016

Memaafkan 70x Sehari (3)

Ada kalanya ketika seseorang tidak bisa memaafkan sehingga tidak sabar atau bahkan sampai marah atas suatu situasi, pembenaran yang disampaikan adalah : “Tidakkah saya memang berhak untuk marah?”

Yang perlu diubah dari paradigma ini adalah bahwa barangkali memang benar, bahwa kita berhak untuk marah, dan bahwa kejadian itu tidak bisa dimaafkan. 

Dengan alasan bahwa pihak lain memang melakukan kesalahan, dan bahwa pihak lain itu memang perlu diingatkan secara keras agar tidak mengulangi kesalahan tersebut. Atau bahwa memang kesalahan yang dilakukan adalah sesuatu yang fatal.

Tapi justru di sinilah letak ujiannya. Apakah kita akan menjalankan hak itu, atau menahannya dan mendapatkan surga sesuai janji  Allah? Mana yang lebih berharga untuk kita, memperoleh hak tersebut di dunia, yang dari seluruh kehidupan kita di dunia pun tidak sampai 10% nilainya, dan bahkan bila dibandingkan dengan nilai di akhirat nanti, seluruh kehidupan kita di dunia pun hanya bernilai seperti sebuah pagi yang berlalu?


Semoga Allah berikan kesempatan untuk berpikir sejenak, untuk segera sabar dan memaafkan, dan tidak jadi untuk marah. 

Wednesday, February 24, 2016

Memaafkan 70 Kali Sehari (2)

Tulisan ini berdasarkan Ceramah Dzuhur yang disampaikan oleh Ust. Ahmad Syaikhu yaitu "Telaah Kitab Hadis Sunan At Tirmidzi".

Pembahasan mengenai hadits tentang ciri-ciri Rasulullah, yang diriwayatkan salah satunya oleh Anas bin Malik, yang merupakan pelayan beliau. Dari Anas bin Malik ada hikmah tentang akhlak Rasulullah terhadap pelayan.  

Anas bin Malik adalah anak dari Ummu Sulaim. Ummu Sulaim hidup sendirian, dan beliau menyatakan kepada Rasulullah bahwa tidak punya apa-apa lagi, maka beliau menyerahkan Anas agar berkhidmat kepada Rasulullah.

Usia Anas bin Malik saat itu 10 tahun, dan beliau menjadi pelayan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam selama 10 tahun.

Dan Anas menyatakan bahwa selama menjadi pelayan, tidak pernah Rasulullah sekali pun berkata “kenapa kau tidak melakukan ini” untuk hal yang tidak ia lakukan, dan tidak pernah berkata “kenapa kau lakukan ini” untuk hal yang ia lakukan.

Padahal bila dibayangkan, Rasulullah dilayani oleh seorang anak berusia 10 tahun, tetapi Rasulullah menerima bagaimanapun bentuk pelayanan yang diberikan.

Dalam riwayat yang lain, Aisyah radhiyallahu anha pernah bertanya kepada Rasulullah, “Berapa kali aku harus memaafkan pelayan?” Rasulullah menjawab, “70 kali dalam sehari”.

Artinya, untuk pelayan kita, kita harus mempunyai stok maaf 70 kali dalam sehari, apa lagi untuk anak kita dan pasangan kita.


Ustadz menjelaskan lebih lanjut, pelayan tentunya mempunyai tingkat pendidikan yang jauh di bawah kita, dengan banyak sekali keterbatasan, maka memang diperlukan kesabaran kita menghadapi mereka. 

Tuesday, August 25, 2015

Memohon Kekuatan untuk Sabar

Kesabaran adalah salah satu bentuk kekuatan. Dan pada dasarnya tidak ada kekuatan kecuali dari yang Mahakuat. Maka ketika kita merasa kurang sabar, cobalah mengucapkan La hawla wala quwwata illa billah.

Memang yang sering disarankan ketika ingin marah adalah untuk mengucapkan Istighfar.

Namun ada kalanya kita marah disebabkan karena kita merasa kurang sabar dengan situasi tertentu. Misalnya ketika anak pagi hari akan berangkat sekolah sulit dibangunkan, mandinya rewel, makannya lama, tiba-tiba ada PR yang belum dikerjakan, ada barang yang tidak ditemukan padahal harus dibawa, dan berbagai insiden mengejutkan lainnya.

Untuk jenis marah seperti ini yang perlu dilakukan adalah menambah kesabaran, dan menambah kesabaran artinya membutuhkan kekuatan, maka salah satu ucapan yang bisa digunakan adalah Laa hawla wala quwwata illa billah.

Insya Allah, Allah yang Mahakuat akan memberikan kekuatan berupa kesabaran, dan tidak sampai menjadi marah.


Bismillah mudah-mudahan membantu. 

Thursday, July 30, 2015

Kalaupun Harus Marah, Sebaiknya..

Yang paling betul sebenarnya adalah tidak boleh marah. Titik.

La taghdhab wa lakal jannah. Janganlah kamu marah dan bagimu surga.

Dan cara yang cukup efektif adalah sungguh-sungguh meniatkan di pagi hari, bahwa hari itu tidak akan marah. Tenangkan hati, bismillah. Biasanya Alhamdulillah semua “rintangan dan tantangan” dapat dilalui dengan tenang.

Tapi, ada hari-hari yang “meledak-ledak”, sekali lagi yang paling betul adalah tetap tidak marah. Titik.

Tetapi, bila pun akhirnya marah, seharusnya perlu dilakukan analisis ini :

Pertama, apakah kita marah pada sasaran yang tepat? Ada kalanya kita sebetulnya kesal dengan anak yang besar, tapi marah ke anak yang kecil. Atau kita stress dengan waktu yang mepet, tetapi marahnya ke pembantu. Atau kita kesal dengan pembantu, tapi marahnya ke anak.

Jadi sebelum marah, pikirkan dulu, apa yang sebetulnya membuat marah, dan selesaikan dengan penyebabnya itu. Sebaiknya sih tetap dengan tidak marah, tetapi kalau pun marah, at least tepat sasaran. Dan kemungkinan setelah berpikir, marahnya juga menjadi reda.

Kedua, apakah kita marah mengenai hal yang tepat? Ada kalanya kita kesal karena anak makannya lama di pagi hari, tapi akhirnya marah juga ke hal-hal lain. Marah juga ke tasnya yang belum dibereskan, marah juga ke PR-nya 2 hari yang lalu yang lupa dikerjakan, marah juga ke kebiasaannya tidur terlalu malam, dll dsb.
Jadi setelah sasarannya tepat, sebelum marah, pikirkan dulu, hal apa yang sebetulnya membuat marah, dan selesaikan cukup hal itu saja. Sebaiknya sih tetap dengan tidak marah, tetapi kalau pun marah, at least untuk hal yang tepat. Dan kemungkinan setelah berpikir, marahnya juga menjadi reda.

Ketiga, apakah kita marah pada waktu yang tepat? Kalau situasinya sedang terburu-buru, memang kita cenderung untuk marah. Padahal, para bala tentara juga belum tentu menjadi lebih cepat bergerak dengan dimarahi.

Maka pikirkan dulu, apakah dengan marah saat ini, hasilnya akan efektif? Atau sekedar melampiaskan saja kekesalan? Dan mengorbankan surga yang dijanjikan?

Maka pikirkan dulu, ketepatan sasasaran kemarahan, ketepatan hal yang dibahas dalam kemarahan, ketepatan waktu untuk marah. Mudah-mudahan marah mereda.

Pada dasarnya tidak ada hal yang lebih penting daripada surga.

Kalau pun ada orang yang melakukan kesalahan atau ketidaksempurnaan, then again, to err is human, nobody is perfect. Kesalahan itu pada dasarnya kecil saja dibandingkan dengan surga.

Kalaupun ada hal yang salah, akan sangat lebih efektif bila diperbaiki dengan cara yang baik.

Kalaupun ada waktu yang tepat untuk marah, pada dasarnya lebih baik disampaikan tanpa marah.

Maka tetap yang terbaik adalah tidak marah. Titik.


Kalaupun rasanya harus marah, Pikirkan dulu tiga hal tadi. Marahlah dengan tepat, atau tetap yang terbaik adalah tidak marah. Titik. 

Monday, March 30, 2015

Yang Dibolehkan dalam Shalat

Ceramah Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Tolkhah Nuhin, Lc.

Yang dibolehkan dalam shalat :

Pertama, dibolehkan menangis.
Menurut Imam Hanafi, menangis bukan karena khusyu membatalkan shalat, misalnya karena kesakitan.
Rasulullah pernah shalat seakan-akan bergemuruh karena tangisan. Umar bin Khattab pernah menangis ketika membaca surat Yusuf.
Rasulullah pernah shalat sambil menangis pada saat perang badar, ketika semua orang tidur.

Di masa lalu bacaan Al Qur’an bisa membuat pengaruh yang besar. Ketika hijrah pertama ke Habasyah, Ja’far bin Abi Thalib yang memiliki perawakan dan suara seperti Rasulullah membacakan surat Maryam, yang sampai membuat seorang pendeta tersungkur.

Kedua, dibolehkan menoleh, asalkan tidak sampai memutar, dan benar-benar ada keperluan. Bila menoleh padahal tidak ada keperluan, itu adalah godaan syaitan.

Ketiga, dibolehkan membunuh ular, kalajengking, dan binatang membahayakan lain walaupun membutuhkan banyak gerakan.
Ada mazhab yang menganggap makruh.

Berkaitan dengan binatang, imam Syafi’i mengharamkan serangga. Imam Malik membolehkan ulat, tetapi harus disembelih.
Untuk anjing, hadits-nya menyatakan bila sesuatu terkena jilatan anjing, maka dicuci 7 kali. Maka pembahasannya, apakah yang diharamkan liurnya atau seluruhnya? Imam Syafi’i mengharamkan seluruhnya.

Keempat, dibolehkan bergerak ringan karena hajat,misalnya membuka pintu yang berada di depan kita, berjalan untuk menutup shaf. Rasulullah menggendong Hasan dan Husain ketika shalat. Untuk implementasi di masa sekarang, karena sudah ada pampers, perlu dipastikan bahwa pampers masih suci jika anak akan dibawa dalam shalat, agar tidak sampai membawa najis dalam shalat.

Kelima, dibolehkan berisyarat dalam shalat untuk memberi tahu bahwa sedang shalat.

Keenam, dibolehkan bertasbih dan bertepuk tangan untuk mengingatkan imam yang melakukan kesalahan. Perempuan tidak boleh bersuara, sehingga bertepuk tangan.

Ketujuh, dibolehkan membaca “Alhamdulillah” setelah bersin.

Suatu ketika ada sahabat yang bersin dalam shalat dan kemudian membaca Alhamdulillah diikuti dengan doa yang cukup panjang.
Setelah selesai shalat, Rasulullah bertanya, siapa yang tadi melakukan hal tersebut? Tidak ada sahabat yang menjawab.
Kemudian Rasulullah bertanya untuk kedua kalinya, dan akhirnya ada sahabat yang menyatakan bahwa ia melakukannya.
Lalu Rasulullah menjawab bahwa, ada 70 malaikat yang berebutan membawa kalimat itu ke langit.

Namun, tidak dibolehkan bagi yang mendengar “Alhamdulillah” setelah bersin dalam shalat untuk menjawab “Yarhamukallah”.
Hal ini pernah terjadi juga di masa Rasulullah.
Setelah selesai shalat, Rasulullah bertanya, siapa yang tadi melakukan hal tersebut? Salah satu sahabat yang menyatakan bahwa ia melakukannya. Kemudian Rasulullah menjelaskan dengan lemah lembut.

Seperti ketika ada seorang sahabat kencing di masjid, sahabat sudah ada yang akan marah, Rasulullah mencegah dan meminta untuk membiarkan saja, karena jika dimarahi, nanti sahabat itu akan lari, dan justru akan memperluas area yang terkena najis. Setelah selesai, Rasulullah perintahkan untuk membersihkan dengan air.


Kedelapan, dibolehkan menggunakan kain untuk sujud.

Monday, December 29, 2014

Selamat Tinggal Bank Konvensional


Kajian dzuhur di mushalla kantor, disampaikan oleh Ust. Dwiono Koesen Al Jambi, merupakan bedah buku tulisan beliau. 

Walapun judul kajian ini berkaitan dengan bank, isi kajian sangat luas dan mendasar ke berbagai aspek keislaman.

Masyarakat umum banyak yang berpandangan bahwa sama saja antara bank syariah dan bank konvensional. Bahwa yang berbeda hanya sebutannya saja, tapi transaksinya sama saja. Bahwa bunga sama saja dengan margin.

Padahal bunga dari bank konvensional adalah riba, dan riba itu haram sebagaimana pada Al Baqarah 275,  “Keadaan mereka yang demikian itu, adalah  disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.”

Kebanyakan muslim masih beranggapan bahwa yang haram hanya makanan, yaitu babi. Banyak muslim sedemikian serius mencari makanan halal. Tetapi banyak yang belum menyadari bahwa membuka aurat juga haram. Bahwa bunga bank juga haram. Bahwa makanan dari yang berasal dari uang haram juga haram. Bahwa gaji yang berasal dari pekerjaan halal yang disimpan di bank konvensional juga haram.

Bank konvensional dapat dianalogikan seperti babi. Daging babi halal ketika tidak ada makanan, ketika dalam kondisi darurat. Maka ketika belum ada bank syariah, muslim boleh menabung di bank konvensional untuk keamanan dana yang dimilikinya.

Sedangkan bank syariah analoginya adalah daging kambing. Daging kambing adalah daging yang penuh dengan keberkahan karena menjadi pengganti ketika Nabi Ibrahim akan menyembelih Nabi Ismail, digunakan pada qurban Idul Adha, juga digunakan pada akikah. Namun banyak muslim yang takut makan daging kambing, karena informasi dari barat yang mengatakan bahwa daging kambing menyebabkan kolesterol tinggi, darah tinggi, dan asam urat.

Ketika membayangkan bank syariah, kebanyakan orang membayangkan repot, jaringan sedikit, dan keluhan lainnnya. Padahal apa pun yang ada di bank konvensional, di bank syariah juga ada. Maka seharusnya, tidak ada lagi kartu bank konvensional di dompet kita.

Banyak muslim yang menjadi muslim sejak lahir, menjadi muslim karena ikut-ikutan, tetapi tidak belajar Islam. Kita perlu banyak bertanya agar menjadi tahu dan dapat mengamalkan. Seringkali orang tidak segan untuk berkata bahwa dirinya awam dalam hal Islam, tetapi rela untuk belajar sampai jenjang yang demikian tinggi untuk ilmu dunia.

Bila ditanyakan kepada muslim, mengapa mereka shalat, maka akan ada beragam jawaban. Jawaban yang tepat adalah sebagaimana pada Al Baqarah ayat 3, yaitu orang beriman yang percaya kepada yang gaib. Tidak semua orang Islam bergerak untuk shalat ketika adzan. Tugas kita mengajak dan memberi tahu, jangan menghakimi. Banyak masjid besar yang kosong di waktu isya dan subuh. Inilah yang menyebabkan orang kafir menghinakan kita.

Uang masyarakat muslim saat ini masih banyak di bank konvensional. Ustadz membuat kepanjangan untuk RIBA yaitu Rayuan Iblis Berujung Azab. Rayuan bank konvensional berupa hadiah, kemudahan transaksi, layanan prima, serta wanita-wanita penggoda.

Sebentar lagi kita menjelang tahun baru Masehi. Banyak orang yang senang menyambut tahun baru Masehi dengan berbagai kegembiraan termasuk meniup terompet dengan anak-anak kita. Ini karena kita masih memiliki uang yang tidak diridhai Allah. Bila rezeki kita halal, maka kita akan senang menutup aurat, kita akan mencintai Al Qur’an, kita tidak suka mendengar musik. Ketika berjumpa dengan keluarga, yang kita cek adalah sudah shalat atau belum. Kita tidak menonton TV kecuali untuk hal-hal yang baik, seperti ceramah dan Al Qur’an.

Berkatalah jujur, maka Allah akan memperbaiki amal, dengan mempertemukan kita dengan orang alim.

Ketika sakit biasaya kita langsung membawa ke rumah sakit. Padahal penyakit zhahir hanya 10%.
Padahal ada 50% penyakit yang sering tidak dianggap sakit, yaitu sulit beribadah kepada Allah.
20% lagi adalah emosi marah jika disampaikan kebenaran karena berteman dengan syaitan. Padahal dalam hadits sudah dikatakan “la taghdhab wa lakal jannah, janganlah kamu marah dan bagimu surga.”
20% lagi adalah buruk sangka.

Untuk semua penyakit ada 6 obat yang mujarab :
1.   Al Qur’an, obat terbaik, sakit apa pun bisa sembuh. Kita perlu mendekatkan diri dengan Al Qur’an, bawalah Al Qur’an ke manapun kita pergi.  Banyak muslim malu membawa Al Qur’an dan membawa Al Qur’an di smartphone. Al Qur’an di smartphone padahal di smartphone bisa juga ada hal buruk, maka kita mencampurkan antara yang haq dengan yang bathil. Padahal orang kafir bangga membawa kitab mereka. Kita harus berani membawa Al Qur’an, agar orang kafir takut dan tidak menghinakan muslim.
2.   Habbatussauda, mengobati semua penyakit kecuali mati.
3.   Madu murni.
4.   Minyak zaitun, bisa digunakan untuk menetralkan suhu badan anak yang demam, dan digunakan di wajah untuk membuat awet muda untuk orang dewasa.
5.   Kurma, menguatkan untuk muslim yang jarang makan dan sering berpuasa, juga bisa mencegah santet.
6.   Air zamzam, menyembuhkan semua penyakit dan semua yang diinginkan akan diberikan Allah.

Ustadz Dwiono saat ini bekerja di BNI Syariah, yang beliau singkat menjadi BNIS, dengan kepanjangan Benci Neraka Ingin Surga.

Tanya Jawab :
Apakah perbedaan antara bank syariah yang satu dengan bank syariah yang lainnya.

Perlu pemahaman tentang akad-akad syariah, agar kita bisa memastikan setiap transaksi yang terjadi di bank syariah. Sering  orang menghakimi, padahal tidak memiliki ilmu, hanya ikut-ikutan dengan apa yang diajarkan ustadz.
Pada dasarnya semua bank syariah baik. Kita bisa memilih bank syariah manapun, dengan keyakinan tersebut.

Namun, memang bila kita menemui karyawan bank syariah, ada 4 kelompok karyawan bank syariah :
1.   Yang takut dengan azab Allah, jumlahnya sangat sedikit.
2.   Yang ditempatkan di bank syariah, dan belum sepenuhnya memahami konsep syariah.
3.   Yang mencari jabatan di bank syariah, karena saat ini bank syariah sedang berkembang, juga belum memahami konsep syariah.
4.   Pekerja yang baru lulus kuliah, yang tidak memiliki latar belakang syariah.

Bila kita menemui 3 dari 4 kelompok terakhir, mungkin masih ada informasi tentang syariah yang kurang tepat, kita jangan langsung menghakimi, sampaikan apa yang kita ketahui dengan baik.
Pada dasarnya sesuai dengan UU No. 21 tahun 2008 pasal 56, BI bisa memberhentikan karyawan bank syariah bila tidak menjalankan prinsip syariah dengan benar.



Friday, July 26, 2013

Ceramah Ramadhan 1434 Hari Ke-2 – Hikmah Sabar

Ceramah hari ini disampaikan oleh Mas Pepeng “Jari-Jari” dan istrinya,  Mbak Tami, tentang hikmah sabar.

Mas Pepeng menjelaskan, bahwa orang sukses bukan mereka yang mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi justru orang sukses adalah mereka yang tidak terpengaruh lingkungan.

Setiap pagi kita perlu bertanya, apa peran kita pagi ini?

Bagaimana pun sabarnya seseorang, pasti ada keterbatasan. Pasti ada saat ingin marah.

Dalam keluarga, suami adalah imam. Imam harus memberikan contoh yang baik dan benar.

Dalam menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, yang pertama adalah “Accept”, menerima. Terima dulu apa yang terjadi, apa yang Allah berikan. Kita bisa kuat, bisa juga tidak. Mintalah pertolongan kepada Allah. Insya Allah akan ada jalan.

Maka sabar adalah proses. Terima dulu, apa pun hadiah dari Allah, jadilah orang yang sabar.

Mas Pepeng dan Mbak Tami dikaruniai 4 anak laki-laki yang saat ini berusia 20-27 dengan badan yang besar. Hikmahnya terasa ketika Mas Pepeng sakit, mereka berperan membantu ayahnya bergerak.

Hal yang bisa dicontoh dari Mas Pepeng adalah selalu mau belajar, tetap bersemangat, tidak pernah keliatan loyo, galau, ataupun marah. Kalaupun marah, itu adalah marah untuk prinsip.

Menghadapi sakit yang tidak bisa sembuh, seringkali kita menganggap masa depan adalah beberapa tahun di depan kita. Padahal masa depan yang sebenarnya adalah akhirat. Dan kita harus yakin bahwa kesembuhan adalah janji dari Allah. Pasti akan terjadi happy ending. Dua pilihannya, sembuh dan bisa kembali berjalan, atau menghadap kepada Allah dalam keadaan penuh barokah.

Musibah itu adalah ketika kita tidak dekat dengan Allah. Sakit sesungguhnya bukan musibah. Karena justru ketika sakit, kita akan mendekat kepada Allah. Tidak perlu kita bertanya “Why me?” Karena Allah bisa dengan mudah menjawab “Why not?”

Dalam kesakitan, jika kita ingat kepada Allah, kita akan tenang. Rasa sakit menjadi tidak terasa. Karena Allah ada, lebih dekat dari urat leher kita. Selalu dekatlah kepada Allah.

Tentang banyaknya perceraian, Mas Pepeng menyampaikan bahwa banyak orang menjadi quitter, menyelesaikan masalah dengan lari dari masalah. Perselisihan tentu ada, harus dihadapi, biarkan Allah yang menyelesaikan. Sakinah mawaddah wa rahmah seperti 3 lingkaran yang beririsan di tengah, yaitu cinta.

Menikahi orang yang kita cintai, sangat mudah, di awal mudah “kesetrum”. Dengan berjalannya waktu, jika kita tidak pandai mengelola, “setrum” akan hilang. Kita perlu memperkecil perbedaan. Mawaddah adalah mencintai orang yang kita nikahi. Rahmah datang dari Allah.

Kita perlu mendukung dengan jelas atas perilaku apa pun dari pasangan. Begitu banyak mukjizat. Setiap detik. Kita harus menyepakati sikap pasangan, berikan value. Tetap tampil cerah seperti tidak ada masalah. Benturan selalu ada, serahkan kepada Allah.

Setiap orang pasti punya ilmu yang subhanallah.

Kita harus memberi nilai pada apapun yang kita hadapi. Setiap ada celah, buatlah menjadi spesial. Mbak Tami mempunyai prinsip, selalu ada celah, lihat sudut pandang lain, supaya tetap eksis dan tetap bersyukur.

Jangan pernah berpikir untuk berpisah. Pandang sebagai tugas baru dari Allah. Manusia sering menilai dengan tanggung. Jangan menggantungkan nilai pada manusia, bahkan kepada suami dan anak sekalipun. Biarlah Allah yang menilai. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Hanya Allah yang selalu memperhatikan hamba-Nya.

Jadilah pendengar yang baik.

Pria wanita harus saling belajar. Menjadi sahabat di masa tua, bisa bicara segala hal.

Kecerdasan linguistik sebenarnya diajarkan Islam. Ditandai dengan indahnya kisah Al Quran. Rasulullah adalah seorang yang ahli komunikasi.

Tingkatan komunikasi dari berbagai ilmu, tahap pertama adalah komunikasi sampai dari pihak pertama ke pihak kedua, tanpa noise. Dari ilmu antropologi, ditambahkan bahwa kedua pihak harus saling mengerti. Dari ilmu komunikasi, ditambahkan bahwa harus ada interaksi transaksi. Dari ilmu psikologi, harus menggetarkan hati .

Saat ini banyak pasangan yang genting. Lihatlah kelebihan, kekurangan pasti banyak.


Prinsip Mas Pepeng, pantang mati sebelum ajal. Betapa banyak saat ini manusia yang sepertinya hidup, padahal mereka adalah zombie, yang selalu berkeluh kesah. You get what you think. Tidak mungkin galah kalau dekat dengan Allah. Kalau tidak senang, apa harus marah? Mereka yang marah, itulah mereka yang mati sebelum ajal. 

Monday, November 26, 2012

Two Wrongs Don't Make A Right

Maaf kalau judulnya Bahasa Inggris, tapi tulisannya Bahasa Indonesia :-)

Barangkali ada yang sudah pernah mendengar pepatah di atas. Bisa di-google, kurang lebih artinya adalah, kalau satu pihak sudah melakukan kesalahan, kemudian pihak lain melakukan kesalahan lagi, bukan berarti situasi keseluruhan menjadi baik.

Seringkali justru itulah yang kita lakukan. Karena pasangan berbuat salah, kita "balas" dengan kesalahan yang kita "anggap setimpal", supaya "adil", "kedudukan sama".

Kemarin baru saja ada kejadian yang mirip. Salah satu saudara jauh kami menikahkan anaknya, sebutlah keluarga A. Salah satu saudara kami yang lain, sebutlah keluarga B, menyatakan bahwa dia tidak akan hadir di pernikahan itu, karena ketika ada anggota keluarga B  yang meninggal, tidak ada satupun anggota keluarga A yang hadir.

Lalu sampai kapan "berbalasan" ini akan berlangsung?

Nanti setelah ini, jika keluarga B ada acara, keluarga A memutuskan untuk tidak hadir, karena keluarga B tidak hadir di pernikahan lalu. Dan seterusnya, sampai akhirnya silaturahim terputus. Mudah-mudahan tidak.

Yang kedua, diskusi dengan teman di kantor.

Teman kantor saya ini, yang notabene adalah pejabat 2 tingkat di bawah Direksi, dengan rumah yang luas, suami istri bekerja, jelas-jelas berpenghasilan amat sangat lebih dari cukup. Dia memutuskan untuk menggunakan BBM subsidi untuk mobilnya. Saya tidak tahu apakah saya yang terlalu naif, atau memang semua orang melakukan hal itu. Tetapi saya sangat kaget mendengarnya. Alasannya, toh pemerintah juga masih kurang tepat dalam mengalokasikan dana rakyat. Selama hal itu masih terjadi, maka BBM subsidi adalah hak rakyat.

Lalu sampai kapan "berbalasan" ini akan berlangsung?

Tentunya akan masih banyak hal pada pemerintah yang perlu perbaikan. Bagaimana pun pemerintah melakukan perbaikan, pasti masih ada hal yang kurang sempurna. Apakah selama itu kita akan terus melakukan "pelanggaran"?

Lalu bagaimana sebaiknya?

Sebaiknya, salahnya perlakuan orang terhadap kita, adalah tanggung jawab orang tersebut. Bahwa kita merasa "dirugikan", itu adalah waktunya kita untuk bersabar, sambil berusaha meluruskan orang tersebut, jika kita bisa. Sementara itu, perilaku kita, tetap menjadi tanggung jawab kita. Melakukan yang benar, tetap menjadi keharusan. Sehingga terlepas dari sebesar apapun salahnya perilaku orang terhadap kita, kita seharusnya tetap melakukan yang terbaik yang kita bisa terhadap orang itu.

Kemungkinan besar, akan terasa berat :-) Karena biasanya kita kesal, marah, atau sedih atas perilaku orang tersebut kepada kita. Tapi, jika kita berpikir lebih jauh, untuk kebaikan bersama, apa lagi untuk catatan di akhirat, maka kesal, marah, dan sedih itu akan terasa kecil dan dapat kita kalahkan. Mudah-mudahan :-)

Thursday, November 22, 2012

Menghilangkan Kebiasaan Buruk

Seringkali kita menyadari bahwa kita memiliki kebiasaan buruk dan ingin menghentikan kebiasaan buruk tersebut, namun kita merasa "tidak berdaya" untuk menghilangkannya.

Jenis kebiasaan buruk bisa beraneka ragam, dari hal-hal yang buruk untuk kita sendiri (merokok, malas, senang mengemil), hal-hal yang sekedar membuat orang lain tidak nyaman (sering datang terlambat, pelupa, teledor), sampai hal-hal yang membuat orang lain terganggu dan dalan taraf tertentu merupakan keburukan dari sisi agama (pemarah, suka membicarakan orang lain, sering ingkar janji), sampai hal-hal yang benar-benar merupakan pelanggaran dalam agama (selingkuh, mencuri, pornografi).

Yang perlu diyakini adalah bahwa manusia sebenarnya memiliki fitrah untuk menjadi orang baik. Kebiasaan buruk terjadi karena pernah dimulai, terasa menyenangkan, lalu terus dilakukan sampai kita tidak dapat lagi melepaskan kesenangan itu sehingga kebiasan buruk tersebut menjadi sulit untuk ditinggalkan.

Maka, sebenarnya kebiasaan buruk pasti bisa dihilangkan. Pasti. Sekali lagi pasti :-)

Pada dasarnya segala sesuatu yang pernah dimulai, akan bergulir, akan menjadi semakin sering, dengan kadar yang semakin tinggi.

Maka untuk memulai kebiasaan baik, bisa dilakukan dengan bertahap. Karena walaupun dimulai dari hal yang kecil, pelan-pelan akan menjadi makin sering, makin besar, dan kebiasaan baik pun terbentuk.

Tetapi untuk menghilangkan kebiasaan buruk, kita tidak bisa melakukan pendekatan bertahap.

Mengurangi kadar kebiasaan buruk, dampaknya bukan semakin lama semakin berkurang. Arah guliran adalah semakin sering, semakin besar.

Maka kebiasaan buruk harus ditinggalkan seketika. Tinggalkan. Tinggalkan begitu saja. Jangan pernah memulainya kembali, jangan pernah mendekatinya lagi, jangan pernah memikirkannya lagi. Tinggalkan. :-)

Hasil browsing dari Mbah Google, ada beberapa cara yang bisa dicoba, semoga efektif. Selamat meninggalkan kebiasaan buruk :-)

http://www.annida-online.com/artikel-5321-13-jurus-menghilangkan-kebiasaan-buruk---.html
http://erabaru.net/kehidupan/72-tips/29311-bagaimana-menghilangkan-kebiasaan-buruk
http://dimasrlp.wordpress.com/2009/02/01/mengatasi-perang-batin-untuk-menghilangkan-kebiasaan-buruk/

Wednesday, November 7, 2012

Ikhlas sebagai Ibu, Istri, dan Karyawan



Dalam melakukan sesuatu yang berkaitan dengan hubungan dengan orang lain, sering kali kita, tanpa disadari, mengharapkan “sesuatu” dari orang tersebut. 

Misalnya, kita membawakan oleh-oleh untuk anak kita, kita berharap agar anak kita menurut, tidak membantah, tidak rewel. Atau kita mengikuti perintah suami, dengan harapan suami kita baik pada kita, tidak sering marah-marah, tidak selingkuh. Atau kita mengerjakan tugas di tempat kerja, dengan harapan atasan kita memberikan nilai yang baik, menaikkan jabatan dan gaji kita.

Memang tentunya segala sesuatu ada sebab akibatnya. 

Akan lebih aneh jika kita tidak melakukan sesuatu yang baik kepada seseorang, tetapi kita mengharapkan orang itu berbuat baik pada kita. Misalnya, kita berharap anak kita baik, menurut, dan tidak membantah, tetapi kita malah sering memukul, marah, dan pelit pada mereka. Atau kita berharap suami kita baik dan tidak selingkuh, tetapi kita sendiri sering melawan dan sering bergaul melewati batas dengan teman pria. Atau kita berharap promosi dan kenaikan gaji, tapi sering tidak masuk dan sering tidak menyelesaikan tugas yang diberikan. 

Sehingga, berbuat baik untuk kemudian berharap diperlakukan baik, sepertinya sesuai dengan hukum sebab akibat. Sehingga terasa wajar ketika kita berkata, “Saya sudah melakukan ini, kamu harusnya begitu dong.” Atau, “Saya sudah lakukan ini, masak kamu begitu sih?” Atau, “Saya sudah lakukan itu, tetapi mengapa hanya ini yang saya dapat?”

Padahal, ketika kita berkata demikian, mungkin justru kita perlu evaluasi kembali keikhlasan kita. 

Ikhlas itu murni, tidak mengharap apa pun, kecuali hanya untuk Allah semata. Ikhlas itu sedemikian penting, menjadi ukuran diterima atau tidaknya amal kita. Berikut ada tulisan yang sangat bagus tentang pentingnya ikhlas. 

Ketika kita ikhlas, apa yang kita lakukan, tidak perlu dibesar-besarkan, bahkan tidak perlu diingat, apa lagi diungkit-ungkit. Secara ekstrim seorang ustadz pernah berkata, ikhlas itu seperti kita BAB. Tak pernah kita berbangga dan mengingat-ingat “prestasi” BAB kita dan berharap sesuatu dengan BAB itu. 

Berbuat ya berbuat saja. Titik. Lupakan. Bila perlu, anggap remeh.

Ketika kita berkata dan bertanya seperti tadi, maka kita telah menganggap penting yang kita lakukan, kita telah menganggap bahwa kita telah melakukan sesuatu yang membuat kita “berhak” atas sesuatu. Ada pamrih dari yang kita lakukan. 

Hati-hati. 

Menyayangi anak, hormat pada suami, amanah dalam tugas adalah kewajiban kita, dan jika dilakukan dengan ikhlas dan baik, insya Allah akan Allah catat sebagai amal soleh untuk tabungan akhirat kita, menjemput rahmat-Nya.

Namun ketika kita tidak ikhlas, ada pamrih, ada rasa “berhak”, bisa jadi semua “jerih payah” tersebut “menguap” begitu saja, tidak berbekas sama sekali di akhirat nanti. Alangkah sedihnya. 

Ketika ada rasa kecewa, sedih, marah, karena perlakukan anak, suami, atasan tidak “setimpal” dengan apa yang kita lakukan, sungguh kita sangat perlu untuk melakukan evaluasi keikhlasan kita. 

Semoga kita bisa mencermati kembali apa yang kita perbuat, dan menata kembali hati kita, agar senantiasa ikhlas melakukan apa pun, hanya untuk Allah semata. 

Wednesday, October 31, 2012

Sekali Lagi, Jangan Marah



Marah biasanya terjadi secara cepat. Rasanya saat itu tidak ada pilihan lain, kecuali marah. Ketika semua telah berlalu, barulah muncul penyesalan. Barulah kita bisa berpikir jernih, dan ternyata setelah dipikirkan dengan tenang, ada solusi untuk kondisi tersebut, dan marah sebenarnya tidak diperlukan.

Pada dasarnya tidak ada situasi yang “mengharuskan” seseorang marah. Yang sudah terjadi akan tetap terjadi. Marah tidak akan memperbaiki keadaan. Malah marah dapat memperkeruh situasi. Situasi kacau membutuhkan solusi. Solusi tidak bisa muncul dengan baik dalam kemarahan.

Ayo, kita semua pasti bisa mengendalikan marah.

Ada satu metode yang kabarnya cukup efektif, yaitu segera pergi meninggalkan ruangan, ketika kita ingin marah. Namun, ketika ini saya coba, malah kelihatannya seperti orang yang marah besar, walk out dari ruangan.

Saya coba rumuskan tahapan berikut untuk mengendalikan marah, mudah-mudahan berhasil, terutama untuk saya sendiri :-) :

  1. Stop. Jangan bergerak, jangan bersuara. Karena gerakan orang marah menjadi kasar, dan suara orang marah menjadi keras dan tinggi.
  2. Istighfar. Teruslah istighfar, sampai marah reda. Ingatlah agar jangan sampai ada penyesalan.
  3. Minumlah jika di dekat kita ada air minum. Wudhulah jika waktu dan tempat memungkinkan.
  4. Hanya jika sudah reda, mulailah berpikir. Apakah ada yang perlu dikatakan, apakah ada yang perlu dilakukan. Lakukan perlahan.

 Bila perlu, tetapkan hukuman bagi kita sendiri, jika kita marah, misalnya, tidak boleh belanja baju, tidak boleh online shopping satu bulan :-)

Dan sebenarnya ada satu motivasi kuat yang seharusnya bisa mencegah kita marah, yaitu hadits Rasulullah, la taghdhab wa lakal jannah, janganlah kamu marah dan bagimu surga. Ayo, hanya dengan mengendalikan marah, kita bisa beroleh surga!

Selamat berlatih, selamat menjadi mantan pemarah :-)

Tuesday, October 2, 2012

Si Boy Kedua, My Bundle of Joy



Anak saya si boy kedua, lahir selisih 13 bulan dari kakaknya. Sejak bayi dia lembut hati, kalau menangis tidak heboh, begitu saya susui langsung tenang kembali. Dia juga mudah mengalah kalau rebutan mainan dengan kakaknya. 

Wajahnya imut, mudah tersenyum, ramah. Perawakannya sedikit gemuk sejak kecil. Maka dia saya sebut my bundle of joy :-)
Dia senang bercerita. Kalau bermain boneka karakter, biasanya dia akan sambil bercerita dengan berbagai suara, baik suara yang bisa saya dengar, atau dalam hatinya sendiri.

Dia juga senang menggambar. Di waktu luangnya, dia akan segera mengambil pensil dan kertas, dan menggambar apa saja. Dia sudah buat banyak komik mini, dalam Bahasa Inggris pula :-) 

Dia pintar berbahasa Inggris, dengan aksen yang sangat baik. Selain karena dia berbahasa Inggris sejak TK, dia juga cepat menangkap percakapan bahasa Inggris dari film yang dia tonton.

Dia suka origami, sama seperti saya :-) Pertama dia belajar dari buku origami yang saya belikan. Lama-lama buku origami sudah terlalu gampang buat dia. Dia pun mulai cari ke internet, dan ketemu dengan berbagai cara pembuatan origami yang super duper rumit. Dia akan tekun berada di depan computer mengikuti instruksi pembuatan origami itu :-)

Dia juga sangat cepat menghafal dari mendengar. Jika mendengar ayat Al Qur’an beberapa kali saja, dia akan hafal dengan nadanya. 

Karena lembut hati, dia mudah menolong orang lain. Dia peka ketika melihat situasi yang perlu dibantu. Saya jadi lebih sering meminta tolong pada si boy kedua ini dibandingkan dengan pada boy saya yang lain.
Karena lembut hati, dia juga mudah menangis. Di kelas lima ini dia masih sering menangis, terutama kalau kena marah oleh saya :-) Dan entah kenapa, semakin dia menangis, semakin saya kesal. Maaf ya boy :-)

Tapi kadang-kadang dia juga bisa marah besar kalau kesal. Kalau sedang marah, dia bisa melemparkan barang-barang dan menghentak-hentakkan kaki.

Saya sedang mencari cara bagaimana supaya dia tetap lembut hati sehingga suka menolong dan punya rasa seni, tetapi menjadi lebih tegar supaya tidak mudah menangis, dan mengurangi mudah marahnya. 

Semoga Allah membimbing mama untuk membesarkanmu menjadi pemimpin ummat yang terbaik ya boy :-)

Insiden tadi pagi semoga tidak terulang. Saya yang mudah panik dan heboh kalau waktu sudah mepet, jadi "bernada tinggi" ketika sudah waktunya berangkat, dan si boy kedua ini belum makan. Memang dia katanya sedang agak pusing. Lalu meledaklah dia dalam sunyi, menangis tanpa bersuara :-)

Seharusnya, kalau sesuatu sudah terlanjur terjadi, tak perlu lah lagi "bernada tinggi". Apa manfaatnya? Kasihan semua boys jadi stress, walaupun sasaran "nada" hanya si boy kedua (dan si Mbak, hehehe..) 

Sepertinya saya harus lebih banyak berlatih, sabar, sabar, sabar. Mungkin resep pertama : jangan bersuara, tarik napas, jangan terlalu cepat bereaksi. Hitung sampai 10, sampai 20, sampai 30. Sekali-sekali terlambat tidak apa-apa. Dan toh, belum tentu terlambat. 

Semoga bisa :-)