Showing posts with label ibu bekerja. Show all posts
Showing posts with label ibu bekerja. Show all posts

Thursday, April 27, 2017

Emansipasi dalam Islam

Ceramah disampaikan oleh Ustadzah Ambun Suri, di Mushalla Tarbiyah, hari Jum’at, 24 Rajab 1438 / 21 April 2017.

Dalam hadits disebutkan bahwa laki-laki yang baik adalah laki-laki yang baik pada keluarganya, lembut kepada istrinya. Tidak disebutkan dalam hadits tersebut mengenai keberhasilan karir.

Perempuan seperti tulang yang bengkok, sehingga menasihati perempuan berbeda dengan laki-laki.

Dalam surat An Nisa 34, disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, karena mereka memiliki kelebihan, yaitu memberi nafkah sebagai kewajiban bagi laki-laki kepada keluarganya.

Hal ini juga yang menyebabkan hak waris bagi laki-laki 2 kali lipat dari saudaranya yang perempuan, yaitu karena laki-laki memiliki kewajiban untuk menghidupi keluarga.

Emansipasi tidak sama dengan kesetaraan gender. Emansipasi adalah kesederajatan hak dan kewajiban, tetapi tidak sama persis. Pihak feminis seringkali mengarahkan definisi emansipasi menuju ke kesetaraan gender, yang pada akhirnya malah menghancurkan tatanan keluarga.

Saat ini terlihat upaya menghilangkan nilai agama dari kehidupan

Di akhirat nanti, seorang ibu akan dimintakan pertanggungjawaban atas pendidikan anak-anaknya. Pekerjaan juga akan ditanya, terutama dalam konteks apakah menjalankan amanah atau tidak. Tetapi prioritas utama adalah anak. Bekerja sebaiknya diniatkan sebagai pemanfaatan ilmu, dengan tetap menjaga adab-adab sesuai syariat, tidak melakukan ikhtilat (berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan muhrim) dan menjaga aurat.

Ketika terjadi dilema antara keluarga dan pekerjaan, maka sebaiknya kembali ke rumah, kembali ke kewajiban utama mendidik anak. Yakinlah bahwa ketika anak sudah besar nanti, Allah akan berikan kesempatan untuk berkiprah lagi.

Ibu boleh bekerja bila daya dukung baik, dari keluarga inti, dari suami, dari keluarga besar, dari orang tua.

Tujuan emansipasi dalam Islam adalah meninggikan kalimat Allah. Seorang perempuan keluar rumah sebagai muslimah, adalah kebebasan dalam bingkai ketakwaan.

Contoh perempuan di masa Rasulullah, ada berbagai peran. Khadijah adalah pengusaha yang kaya raya dan memberikan seluruh hartanya untuk dakwah. Aisyah tidak memiliki anak tapi memiliki banyak ilmu. Fatimah saat qanaah dalam keterbatasan dari suaminya, Ali bin Abi Thalib. Zainab binti Jahsy memiliki keterampilan tangan.

Harus kita yakini bahwa semua yang Allah berikan pasti baik, dan setiap orang memiliki kecenderungan berbeda-beda.

Jangan sampai kita kepada Al Qur’an beriman sebagian dan menentang sebagian. Tabarruj (berhias) yang dilarang dalam Islam adalah segala hal yang menyebabkan orang menjadi tertarik untuk melihat kepada kita sebagai perempuan.

Peran ibu bukan memasak dan mencuci. Hakikat emansipasi bukan sama sehingga menyalahi bingkai ketakwaan. Tetapi juga tidak memasung hak perempuan. Ada kecenderungan pihak-pihak menebarkan kebencian pada agama, dan semakin jauh dari agama. Pekerjaan SPG dilarang dalam Islam karena merupakan bentuk eksploitasi wanita. Sebenarnya Islam membolehkan banyak hal, namun memang ada persyaratan yang harus dipenuhi.

Tujuan Kartini membuat sekolah perempuan adalah agar perempuan bisa mengelola rumah tangganya dengan baik, bukan untuk lebih tinggi dari laki-laki.

Perempuan sebaiknya tidak mengejar karir, apa lagi bila karir menjadi menyita waktu. Niatkan bekerja untuk mengamalkan ilmu. Karena yang terpenting adalah membina generasi yang lebih baik.

Ketika ibu bekerja sudah kembali di rumah, tidak boleh mengatakan, “Mama sedang sibuk”, sehingga tidak bisa menemani anak. Seharusnya kesibukan seorang ibu adalah mengurus anak.

Menjadi ibu di usia 40 tahun ke atas adalah masa rawan, karena anak-anak sudah mulai besar, pengasuhan juga makin sulit.

Beberapa tokoh perempuan Indonesia selain Kartini :

1 H. Rangkayo Rasuna Said adalah wartawati perempuan pertama.
2 Malahayati pejuang jihad fisabillah, menjadi panglima pada perang Aceh.
3 Nyai Ahmad Dahlan.

4 Rahma El Yunusiyah, adalah pendiri Diniyah Putri, yang dibuat dengan pertimbangan bahwa muatan pendidikan untuk anak perempuan berbeda dengan laki-laki. 

Beliau diundang ke Al Azhar Mesir, salah satu sekolah tertua di dunia, dan Al Azhar melihat sistem baru tersebut mengimplementasikan hal yang sama. Beliau adalah salah satu pelopor berdirinya Tentara Nasional Indonesia. Dan pernah diundang ke Persia dan Suriah.

Beliau tidak memiliki anak. Tetapi walaupun anak biologis tidak ada, beliau memiliki banyak anak biologis. Seperti Aisyah dengan ilmunya.

5 Cut Nyak Dien, pahlawan Aceh, yang sebenarnya senantiasa berkerudung.

Selain itu, Sisingamangaraja dan Pattimura sebenarnya beragama Islam.

Dapat dikatakan bahwa pejuang di masa penjajahan adalah muslim, dengan niat untuk melawan kekafiran.

Tugas utama perempuan dalam rumah tangga adalah mendidik anak. Sedangkan tugas-tugas rumah tangga lainnya adalah tugas bersama, seperti memasak, mencuci, menyeterika, dan membersihkan rumah. Di Saudi Arabia dan di Malaysia, tugas berbelanja ke pasar dilakukan oleh laki-laki.

Ketika anak-anak sudah besar, maka perempuan beralih menuju ke peran sosial, karena kesibukan dengan anak sudah jauh berkurang. Berperan di lingkungan dengan ilmu dan terus belajar.

Dalam berbagi tugas dengan suami, hendaklah menggunakan pendekatan dan komunikasi yang baik. Jangan memberikan perintah, tetapi tawarkan peran sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tidak ada gunanya kesal dan sedih tanpa menyampaikan masalah yang dihadapi, karena suami tidak akan memahami. Sampaikan kondisi yang dihadapi, dan tawarkan peran apa yang akan diambil suami.

Kemenangan Islam

Ceramah disampaikan oleh Ustadz Ahmad Syaikhu pada Kamis, 23 Rajab 1438 / 20 April 2017, di Mushalla Tarbiyah.

Bila kita mendapatkan kebahagiaan kita harus bersyukur dan salah satu bentuknya adalah dengan berbagi.

Hidup sebaiknya dalam 2 dimensi, yaitu dunia dan akhirat.

Ada seorang pengusaha dan kolonel yang saat ini menjadi penjaga masjid dan bahagia dengan pekerjaannya itu. Menjadi penjaga masjid adalah yang dilakukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Dari beberapa perkembangan terakhir, terlihat kecenderungan gerakan Islam untuk Allah berikan kemenangan dan keberhasilan. Maka bila kita memiliki niat untuk melakukan sesuatu untuk Islam, sebaiknya segera dijalankan.

Ada pengusaha yang menghubungi Ustadz untuk ikut umrah, dan Ustadz menanyakan apa misinya, karena umrah sebaiknya ada misi. Ternyata pengusaha tersebut sedang merintis sebuah usaha untuk menyelamatkan kekayaan alam Indonesia yang membutuhkan modal cukup besar. Umroh dilakukan sebagai upaya memohon pertolongan Allah.

Bila upaya-upaya yang kita dilakukan di dunia, bisnis dan  pekerjaan kita, tidak menstimulasi air mata karena mengingat keagungan Allah, tidak membuat kita bertakbir, maka perlu dipertimbangkan kembali apakah upaya, bisnis, dan pekerjaan kita tersebut layak untuk dilanjutkan, dalam konteks akhirat.

Segala upaya, bisnis, dan pekerjaan kita seharusnya menjadi investasi akhirat dan mengingatkan kepada Allah.

Apa yang terjadi di dunia Islam di Indonesia saat ini mirip dengan yang digambarkan pada surat An Nashr, kemenangan.

Para sahabat di masa Rasulullah bila telah lalai atas suatu kewajiban, maka bersegera memperbaiki diri. Ka’ab bin Malik yang terlambat pada perang Tabuk langsung bersedekah dengan kebun yang dimilikinya.

Dalam berbagai proses dalam kehidupan, bila menghadapi kesulitan, kita harus senantiasa menahan sabar dan memaafkan, karena Allah telah memiliki rencana yang terbaik yang belum kita ketahui.

Abu Jahal yang memusuhi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, anaknya, Ikrimah bin Abu Jahal menjadi muslim dan ikut dalam berbagai perang dengan Rasulullah. Begitu pula dengan Abu Sufyan dan Hindun, berbalik dari memusuhi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjadi muslim. 

Dengan dibukanya pemahaman muslim pada surat Al Maidah 51, Allah berikan kemenangan bagi muslim Indonesia. Insya Allah akan lebih besar lagi kemenangan akan diperoleh bila muslim Indonesia makin dekat dengan Al Qur’an. Semoga Indonesia menjadi pelopor kemenangan muslim di dunia. 

Monday, August 8, 2016

Ibu atau Karyawan?

Semua orang bisa berpendapat berbeda, dan melihat pendapat yang berbeda selalu ada yang memberikan komentar.. Seperti kisah seorang ayah dan anaknya serta keledai, yang akhirnya berganti-ganti formasi karena mendengarkan komentar orang lain..

Perlu dilihat juga siapa yang berkomentar. Kalau kapasitasnya kira-kira sebenarnya tidak layak, barangkali sebetulnya tidak perlu ditanggapi..

Tapi kalau yang komentar Ustadz atau Ustadzah, barangkali perlu tarik nafas dulu, dan menanggapi dengan kepala dingin, sambil introspeksi..

Secara rasional bener juga sih, lebih lama di kantor, 3 jam di rumah ketemu anak, 8 jam di kantor, artinya 2 kali lipat lebih di kantor, barangkali memang kita lebih layak disebut sebagai karyawan daripada ibu..

Tapi lebih jauh lagi, di kantor juga ngga full memikirkan kantor yah? Sebentar inget anak, apa lagi kalau sedang sakit, ada ujian.. Harus memastikan mbak-mbak dan supir melakukan a-z sesuai jadwal dan kualitas tertentu.. Harus sekali-sekali datang ke sekolah kalau ada parent teacher meeting.. Belum lagi kalau udah waktunya pengambilan raport dan wisuda, dan anaknya lebih dari 2, dengan jadwal yang berbeda-beda, ada yang di luar kota pula, dalam 2 minggu bisa berapa kali izin dan cuti..
Apakah juga layak disebut sebagai karyawan?

Akhirnya, bukan layak disebut ibu, istri, karyawan, dll dsb yang kita cari, apa lagi  sebutan itu hanya datang dari sesama manusia.. Tapi yang penting apakah Allah ridha dengan semua lelah juggling jungkir balik kita ini? Layakkah kita buat Dia? Akhirnya, itu aja yang penting..

Selanjutnya menanggapi soal kerja sebagai dokter.. Katanya sih memang yang paling baik itu perempuan bekerja sebagai sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat.. Kalau ngga salah ada 2 yang “sangat bisa diterima” dalam Islam, yaitu jadi guru dan dokter.. 

Ini juga yang dulu almarhum Kyai nya almarhum Bapak saya sampaikan waktu saya lulus kuliah, “perempuan itu jadi guru atau dokter, jangan di kantor-kantor yang pake benges segala itu”. Dulu saya pikir, tradisional banget ya, pekerjaan kok pilihannya cuma guru sama dokter. Tapi ternyata latar belakangnya itu tadi.. 

Jadi referensi bahwa Kyai Ahmad Dahlan membolehkan perempuan bekerja sebagai dokter, sebetulnya kemungkinan ngga bisa jadi justifikasi bahwa beliau membolehkan perempuan bekerja apa saja..

Terus kenapa saya masih kerja jadi karyawan? Jawabannya ada di bab yang lain.. 

Tuesday, August 25, 2015

Memohon Kekuatan untuk Sabar

Kesabaran adalah salah satu bentuk kekuatan. Dan pada dasarnya tidak ada kekuatan kecuali dari yang Mahakuat. Maka ketika kita merasa kurang sabar, cobalah mengucapkan La hawla wala quwwata illa billah.

Memang yang sering disarankan ketika ingin marah adalah untuk mengucapkan Istighfar.

Namun ada kalanya kita marah disebabkan karena kita merasa kurang sabar dengan situasi tertentu. Misalnya ketika anak pagi hari akan berangkat sekolah sulit dibangunkan, mandinya rewel, makannya lama, tiba-tiba ada PR yang belum dikerjakan, ada barang yang tidak ditemukan padahal harus dibawa, dan berbagai insiden mengejutkan lainnya.

Untuk jenis marah seperti ini yang perlu dilakukan adalah menambah kesabaran, dan menambah kesabaran artinya membutuhkan kekuatan, maka salah satu ucapan yang bisa digunakan adalah Laa hawla wala quwwata illa billah.

Insya Allah, Allah yang Mahakuat akan memberikan kekuatan berupa kesabaran, dan tidak sampai menjadi marah.


Bismillah mudah-mudahan membantu. 

Wednesday, June 3, 2015

Membina Keluarga (1)

Ceramah Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Muhsinin Fauzi, Lc.

Tugas pokok suami adalah mengantar keluarga ke surga.

Mengenai nafkah justru tidak dibahas, karena tanpa agama pun, kewajiban suami untuk mencari nafkah sudah jelas.
Aspek yang diutamakan dalam agama adalah pendidikan, sehingga tugas pokok suami adalah membawa keluarga menjadi salih dan salihah, dengan salah satu support system-nya adalah nafkah.

Umar bin Khattab pernah menyampaikan bahwa kewajiban ayah kepada anak adalah memberi nama yang baik, memilihkan ibu yang baik, dan mengajarkan Al Qur’an.

Dalam beberapa hadits dijelaskan tentang sunnah suami untuk mencari nafkah, tetapi tidak dibahas pada Cabang Keimanan.

Membahas keluarga, maka dibagi menjadi tiga tahap yaitu  pra nikah, pada saat pernikahan, serta pasca nikah.
Pasca nikah dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu kewajiban suami istri serta kewajiban orang tua anak.

Permasalahan rumah tangga dapat merembet dan dapat berkembang sampai menjadi fatal.

Untuk pembahasan pranikah, maka aspek pertama adalah masalah kualifikasi pasangan.
Dalam Islam, kualifikasi pasangan ada 4 yaitu nasab (keturunan), wajah, harta, dan agama. Harta yang dimaksud bukan harta orang tua, tetapi harta dari calon suami / istri itu sendiri.
Yang diutamakan dalam pemilihan pasangan adalah agama.

Agama akan membantu dalam mengatasi berbagai dinamika dalam berkeluarga.
Keberagamaan bukan hanya dalam hal symbol, tetapi yang terpenting adalah ketaatan menjalankan hukum serta etika dan karakter.

Bila dicoba dikombinasikan antara kesalihan (kualifikasi agama) dengan kualifikasi yang lain, maka akan memberikan hasil yang baik, dalam keadaan positif maupun negatif. Istri salihah, dikombinasikan dengan kualifikasi apa pun akan baik, istri tidak salihah, dikombinasikan dengan kualifikasi apa pun akan buruk.

Kesalihan adalah kesanggupan untuk bertindak benar dalam berbagai situasi. Bertindak benar ketika dalam kekurangan, bertindak benar ketika marah, bertindak benar ketika dalam kecukupan, dan lain-lain.

Contoh kombinasi istri salihah dengan kualifikasi lain yang positif :
Salihah cantik, menyenangkan suami dan tetap dapat menempatkan diri dengan baik.
Salihah kaya, dapat membantu suami dan tetap menghormati kedudukan suami.
Salihah nasab baik, membanggakan suami dan tetap menghormati suami.
Salihah pintar, dapat bertukar pikiran dengan suami dan tetap menghormati pendapat suami.

Contoh kombinasi istri salihah dengan kualifikasi lain yang negatif:
Salihah wajah biasa, suami tenang, dan istri tidak banyak menuntut.
Salihah kurang mampu, sabar, tidak banyak keinginan, sudah terbiasa dalam kekurangan.
Salihah kurang pintar, tunduk dengan apa yang diarahkan suami.

Sebaliknya, contoh kombinasi istri tidak salihah dengan kualifikasi lain yang positif :
Tidak salihah cantik, akan memperlakukan suami dengan semena-mena. Suami pun tidak dapat berbuat apa-apa karena takut kehilangan.
Maka khusus untuk kualifikasi cantik, bila ada seorang laki-laki yang merasa harus memiliki istri yang cantik, maka pastikan ia juga salihah.
Tidak salihah kaya, akan memperbudak suami karena merasa kekayaan adalah miliknya.
Tidak salihah pintar, akan “ngelunjak” karena merasa lebih pintar dari suami.

Contoh kombinasi istri tidak salihah dengan kualifikasi lain yang negatif :
Tidak salihah miskin atau tidak salihah bodoh, menyulitkan suami dari berbagai aspek.

Maka istri tidak salihah akan menyulitkan suami dikombinasikan dengan kualifikasi apa pun.

Ada contoh kasus seseorang yang memiliki karir yang baik, namun ternyata setelah dicek kesehatannya, tingkat kolesterolnya cukup tinggi. Orang tersebut berhari-hari tidak bisa tidur karena khawatir dengan kondisi kesehatannya itu. Ketika diajak bicara, ternyata sebabnya adalah karena ia kurang dekat dengan Allah. Hidup memang menjadi serba rumit dan ruwet bila seseorang tidak salih.

Perbandingan ta’aruf dengan pacaran.
Apa bila dianalogikan dengan memilih produk, cara pemilihan yang terbaik adalah ketika emosi tidak terlibat. Sehingga bila kita akan membeli sesuatu, jangan membawa anak kecil, karena anak kecil akan sangat emosional.

Pada pacaran emosi terlibat, padahal kualifikasi belum terlihat secara jelas.
Pada ta’aruf kualifikasi dipilih dulu, baru kemudian emosi terlibat, yaitu ketika cinta jatuh ketika menentukan suka atau tidak suka pada saat khitbah.

Kembali dianalogikan dengan memilih produk, kita perlu melihat brosur terlebih dahulu. Begitu pula dengan proses ta’aruf, yang dilakukan dengan identifikasi kualifikasi terlebih dahulu. Penentuan suka atau tidak suka dilakukan ketika khitbah.
Bila kualifikasi sudah cocok, tetapi ternyata ketika khitbah tidak suka, maka dapat lebih mudah untuk dibatalkan.
Namun jika sudah terlanjur suka yang dilalui dengan metode pacaran, ketika ada kualifikasi yang tidak cocok, biasanya akan sulit untuk menentukan sikap karena sangat mudah untuk memberikan pembenaran.

Kembali dianalogikan dengan pemilihan barang. Barang dengan kualifikasi baik biasanya disimpan dengan baik dan tidak boleh disentuh. Sedangkan barang dengan kualifikasi kurang baik biasanya diletakkan di tempat terbuka, dapat dicoba berkali-kali sehingga akhirnya rusak walaupun tidak dibeli.

Maka pacaran sebetulnya menurunkan grade, karena bila dianalogikan dengan barang, statusnya seperti barang yang bisa dicoba dahulu sebelum dibeli. Padahal barang yang mahal biasanya hanya bisa dilihat dari brosur saja, jangankan menyentuh barang aslinya, melihat barang aslinya saja tidak bisa.

Ada contoh kasus ketika ada seorang Ayah yang tidak membolehkan anak perempuannya untuk pacaran, dan menyatakan bila ada laki-laki yang mendekati anak perempuannya, akan segera dinikahkan. Demikianlah yang selalu disampaikan oleh anak perempuannya itu kepada setiap laki-laki yang  mendekatinya, dan biasanya tidak ada yang berani mendekati. Sampai akhirnya ada yang datang, dan ternyata berani mendatangi ayahnya dan setuju untuk menikahi, dan ternyata memang memiliki kualifikasi yang baik.

Hikmah dari contoh kasus ini, dari sisi anak perempuan, harus dijaga sungguh-sungguh, bila ada yang mendekati harus menikah. Dari sisi laki-laki biasanya memang hanya yang benar-benar mampu yang berani untuk segera menikahi.

Maka sebetulnya proses pra nikah dengan ta’aruf dan khitbah ini sangat mirip dengan proses jual beli barang. Tahap pertama adalah pengecekan kualifikasi dengan proses ta’aruf. Bila merasa cocok, dilanjutkan dengan proses khitbah yaitu melihat barang, bila cocok bisa dilanjutkan dengan akad nikah.

Proses pengecekan kualifikasi atau ta’aruf secara teknis saat ini dilakukan dengan tukar menukar data dan informasi dari orang-orang sekitar calon tersebut. Dahulu biasanya dilakukan dengan ayah yang benar-benar mengikuti seluruh kegiatan calon menantunya dan memberikan penilaian langsung dari pengamatan itu. 

Proses ini akan dipermudah bila dapat dibangun lingkungan yang baik. Seperti bila ada pasar atau mal dengan barang yang sudah bisa dipastikan baik dan bermerek, maka proses pemilihan dapat dilakukan dengan lebih mudah, karena kualitasnya sudah dapat dipastikan baik. Di masa sahabat dan salafus salih, proses mencari pasangan sangat mudah. Karena lingkungan saat itu terjaga dengan sangat baik dan dapat dikatakan bahwa semua muslim memiliki  kualitas keislaman yang baik.

Saat ini lingkungan belum terbangun dengan baik, maka proses pencarian menjadi lama. Kita harus bekerja ekstra keras untuk memastikan kualifikasi. Karena ada kalanya yang terlihat salih dan salihah, bisa jadi memang benar-benar salih dan salihah, bisa juga setengah bahkan seperempat salih dan salihah.

Ada yang terlihat salih dengan sangat menjaga shalat, tetapi tidak menghargai pasangan. Ada yang berjuang sungguh-sungguh untuk dakwah, tetapi menelantarkan anak. Ada yang sangat menjaga pelaksanaan sunnah, tetapi tidak menghormati mertua.

Maka saat ini ta’aruf menjadi satu-satunya jalan untuk proses pra nikah. Dan tugas kita memastikan bahwa kita semua dan keluarga menjalankan proses ta’aruf ini.

Karena kegagalan menjalankan proses pra nikah ini, akan menghasilkan kualifikasi pasangan yang kurang baik, dan secara umum mereka yang tidak bertindak benar kepada Tuhannya, akan bertindak tidak benar juga pada pasangannya.

Saat ini terdapat fenomena ada pasangan di mana suami terlihat biasa, namun istrinya terlihat salihah. Hal ini dapat terjadi karena dua hal, yaitu memang dari awal istrinya salihah, atau tadinya sama-sama biasa, namun istri taubat terlebih dahulu. Dan hal kedua ini akhir-akhir ini sangat dimungkinkan karena banyak istri yang dilarang untuk kerja oleh suaminya karena suaminya takut istrinya diganggu orang lain di kantor, kemudian istri mengisi waktu dengan mengantar anak ke sekolah, yang ternyata diisi dengan pengajian.

Di sisi lain, suami juga senang dengan istri salihah, karena biasanya semahal-mahal biaya istri salihah tidak semahal biaya istri tidak salihah. Misalnya istri salihah lebih senang ke pengajian daripada ke mal, dan sebagainya.

Proses setelah ta’aruf adalah khitbah, yang bila dianalogikan dengan jual beli barang, adalah proses melihat barang yang akan dibeli. Kedua calon pasangan sama-sama melihat.

Mereka yang pro pacaran biasanya akan berkata : Bagaimana bisa kenal bila tanpa pacaran? Bukankah kalau sekedar tukar data saja bisa bohong? Lalu bagaimana kalau tidak cinta?

Jawabannya adalah : Islam tidak mungkin tidak manusiawi.
Memang ada mereka yang ekstrim, bahkan sampai mengharamkan cinta. Padahal ini mengabaikan sisi kemanusiaan. Mereka memandang bahwa pernikahan adalah bagian dari perjuangan dakwah, sehingga tidak diperlukan cinta. Padahal kasih sayang, manja, cinta adalah cinta basyari yang diperlukan oleh manusia. Ada hadits yang mengatakan bahwa : Nikahilah wanita yang banyak anaknya dan besar kasih sayang / cintanya. Rasulullah pun menyampaikan citanya kepada Khadijah.

Justru sebaiknya adalah setelah proses khitbah, saat itulah cinta dijatuhkan.
Kesalahan dari mereka yang  mengharamkan cinta pada pasangan, adalah karena ayat idelogi digunakan untuk muamalah. Sehingga beragama menjadi terlalu keras. Padahal agama seharusnya lembut dan nyaman dalam kebenaran.

Setelah khitbah dan kedua pasangan menyukai pasangan masing-masing, segeralah menikah setelah ada uangnya. Sebagaimana pada jual beli barang, jika telah cocok, maka bayarkan uangnya.
Mahar dapat dipandang sebagai DP, sedangkan sisa pembayarannya adalah seluruh hidup yang ditanggung nantinya oleh suami. Dan akan ada uang mut’ah bila nanti terjadi perpisahan.

Dalam penyampaian data tidak boleh ada kebohongan, harus dicari parameter atau kriteria yang mewakili seluruh data. Misalnya untuk  mobil, bila mesinnya baik, maka dapat disimpulkan bahwa mobilnya baik. Tidak perlu membongkar keseluruhan mobil, yang artinya sama saja merusak mobilnya.

Bila ada hal yang di luar normal, harus disampaikan.

Sebetulnya sifat seseorang dapat dipelajari dari wajah dan telapak tangannya, sehingga proses khitbah sebetulnya sudah cukup untuk mengenali sifat dan karakter calon pasangan. Karena wajah dan telapak tangan adalah representasi dari seseorang. Dari wajah dapat terlihat kecantikan, sifat, karakter, kemauan, bohong atau tidaknya, mata yang jujur atau tidak, sifat lembut dan tunduk atau tidak. Dari bahasa tubuh juga dapat diketahui karakter seseorang, misalnya dari cara memasuki ruangan dan cara duduk. Buku tentang ilmu mempelajari sifat manusia dari wajah dan telapak tangan ini ditulis oleh Fakhrur Rozi dalam bahasa Arab dan belum diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.


Maka ta’aruf dan khitbah adalah cara yang sangat efektif dan tidak merugikan salah satu pihak. Dari proses ini akan didapatkan pasangan yang sesuai kualifikasinya, karena bila kualifikasi kurang tepat, di masa pernikahan akan terjadi proses penataan yang terus menerus, tidak kunjung selesai. 

Thursday, April 30, 2015

Menghadapi Perubahan

Di kantor saya ada sharing tentang Change Management berikut.

Terdapat perbedaan antara Change dan Transition. Change lebih berfokus pada kondisi awal dan kondisi akhir dari perubahan yang terjadi, sedangkan Transition berfokus pada proses perubahan yang terjadi dari kondisi awal menuju kondisi akhir.

Dalam menghadapi perubahan, maka seseorang dapat dibagi menjadi 3 tipe, yaitu Conserver, Pragmatis, dan Originator.

Di ekstrim yang sebelah kiri, Conserver lebih lama menghadapi perubahan, cendurung pada kondisi yang sebelumnya.
Sedangkan di ekstrim sebelah kanan, Originator sangat menyukai perubahan dan hal-hal baru.
Pragmatis berada di tengah-tengah.

Dalam perusahaan, pimpinan perlu mengenali tipe dirinya dalam perubahan, dan  juga tipe bawahannya.

Dalam menghadapi perubahan, secara umum seseorang akan mengalami 4 fase, yaitu Acknowledging, Reacting, Investigating,  Implementing.

Bagi mereka yang masih pada tahap Reacting, peran pimpinan adalah membiarkan dulu mereka melepaskan semua kekhawatiran. Biarkan mereka marah, sedih, dan melakukan apa pun untuk melampiaskannya. Bila sudah mereda, baru kita ajak bicara untuk bisa menerima kenyataan dan menatap masa depan.

Pada tahap investigating, Karyawan mulai melihat dampak dari perubahan yang terjadi. Maka sebagai pimpinan atau pelaksana perubahan, perlu merancang quick wins dengan simbol-simbol yang menunjukkan bahwa perubahan terjadi secara konsisten dan sudah menunjukkan hasil yang positif.

Biarkan Karyawan untuk mengkontribusikan ide mereka, dan jangan menyalahkan bila terjadi kegagalan. Karena walaupun sesuatu gagal, kita tetap memperoleh pengalaman, dan kita memperoleh pelajaran.

Bila pimpinan bersifat originator, sangat menyukai perubahan, maka cenderung melompati tahap komunikasi dan support.

Conserver biasanya cukup lama berada pada tahap reacting. Mereka akan mengeluh, bertanya mengapa begini, mengapa begitu. Sampai tahap yang wajar pimpinan harus memberikan support. Namun ada batas waktu, ketika pimpinan harus mengatakan cukup, dan bahwa perubahan tetap harus terjadi, bahwa semua harus move on.


Lama dari setiap fase bergantung pada kepribadian masing-masing orang dan besar perubahan yang terjadi.

Kelemahan dari pragmatis adalah sering berubah-ubah dari fase reactive ke fase investigative, lalu kembali lagi ke reactive.

Pimpinan perlu memiliki keberanian untuk tetap pada pendirian namun tetap menjaga perilaku simpatik.

Bagi unit-unit kerja tertentu yang kebanyakan Karyawan di dalamnya bertipe Conserver, dapat diberikan informasi terlebih dahulu atas suatu perubahan, agar mereka memiliki waktu yang lebih panjang untuk fase reacting, dan dapat bersamaan dengan unit-unit lain melalui fase-fase berikutnya. 

Monday, March 30, 2015

Orang Tua, Terapis Terbaik Anak

Kajian Muslimah di kantor kali ini diisi oleh Ustadzah Kodariyah. 

Ada beberapa kasus di sekolah yang cukup fatal bagi anak-anak karena orang tua kurang memahami karakter dan apa yang mereka inginkan.

Contoh kasus pertama adalah anak yang tidak ingin hidup lagi, yang ketika digali lebih lanjut, apa yang ingin ia dengar dari ibunya hanyalah “Mama bangga dengan kamu”. Sebuah kalimat yang sederhana tetapi ternyata berdampak signifikan.

Contoh kasus kedua adalah anak yang begitu tidak suka dengan ayahnya bahkan sempat tercetus bahwa ia ingin ayahnya mati saja. Setelah digali lebih lanjut ternyata ayahnya sering mengatakan “Ayah kecewa denganmu”, sehingga anak merasa tidak berarti. Dari sisi lain, ayahnya hanya merasa pernah mengatakan itu satu kali saja. Barangkali memang benar hanya satu kali, atau benar bahwa sering, tetapi yang terpenting, ternyata dampaknya fatal.

Setiap tahap perkembangan ada tugas yang harus dilakukan, yang bila tidak dilakukan maka akan seterusnya.

Untuk anak 3 tahun, sudah waktunya diperkenalkan dengan konsep benar salah untuk pembekalan hati nurani. Juga perbedaan jenis kelamin.

Anak jalanan, bagaimana pun pembinaan dilakukan kepadanya, tetap sulit untuk ditanamkan tentang moral dan nurani. Hal ini akibat God Spot tidak pernah disentuh sejak kecil. Sehingga mereka tidak merasa bersalah melakukan berbagai pelanggaran.

Berkaitan dengan keberagamaan, target untuk anak-anak bukan sekedar bisa melaksanakan, tapi suka melaksanakan. Jadi bukan sekedar bisa shalat, bisa puasa, bisa membaca Al Qur’an, tetapi suka shalat, suka puasa, dan suka membaca Al Qur’an. Bila sudah demikian, dalam pembinaannya nanti, anak akan mudah untuk diluruskan.

Target Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebetulnya bukan calistung (membaca, menulis, berhitung), tetapi kemandirian anak untuk hal yang berkaitan dengan dirinya, seperti makan dan mandi. Bila ibu membuat anak serba terlayani, anak akan menjadi tidak mandiri. Tentunya dalam proses, akan ada situasi yang belum sempurna, biarkan saja dulu dia melakukannya, lalu orangtua membantu setelah selesai jika masih ada yang belum sempurna.

Hal yang penting juga bagi anak di PAUD adalah sosialisasi, agar anak tidak takut bertemu dengan orang baru. Ajak anak pergi ke pertemuan keluarga dan keramaian, agar terbiasa bertemu dengan orang baru. Seringkali, pada hari-hari pertama sekolah, ada anak yang terus ingin ditemani ibunya. Di satu sisi anak tidak terbiasa bertemu dengan orang baru, di sisi lain ibu juga sering khawatir dengan anaknya, dan hal ini bisa dirasakan oleh anak.

Ibu boleh khawatir, tapi jangan sampai ketahuan anak. Ibu boleh kepo, tapi jangan sampai ketahuan anak :-)

Di usia balita juga anak sering banyak bertanya. Orang tua harus menyediakan waktu untuk menjawab seluruh pertanyaan itu. Hal ini adalah tahap perkembangan kreativitas. Jangan distop, jangan ditolak.

Usia bermain harus tuntas. Bahkan untuk anak usia bermain, harus dipastikan bahwa hari itu dia sudah bermain. Karena dalam bermain, anak juga bisa belajar.
Kepandaian bergaul adalah bekal untuk kecerdasan emosi. Agar anak tahan banting dalam hidup. Mampu menghadapi berbagai jenis karakter orang.

Memasuki masa remaja, ada beberapa anak yang di masa SD cukup mudah dalam pengasuhannya, mulai banyak masalah ketika memasuki usia SMA. Di saat ini anak perlu pendampingan.

Orang tua perlu mengenali karakter tiap anak, dan kita perlu bersikap berbeda kepada anak yang berbeda.

Mengenali karakter anak dapat diawali dari mengamati apa yang anak suka dan tidak suka, setelah itu bangun komunikasi.

Ketika anak sedang sedih, kita jangan banyak menasihati. Tunggu sampai anak ceria, baru kita bisa banyak bicara.
Jika anak kita banyak bercerita, sungguh itu adalah karunia, artinya kita sebagai orang tua dapat dikatakan sukses membangun komunikasi.

Anak yang sulit bercerita, salah satu sebabnya adalah karena anak sering dimarahi ketika jujur.
Bedakan saat untuk mendengar dan saat untuk bicara. Buat anak nyaman, jadikan anak sahabat kita. Ketika dia bercerita, terima dan berikan respon. Jangan berikan nasihat saat itu juga. Pada otak tengah ada system limbic. Ketika emosi senang, system limbic terbuka, nasihat bisa masuk dan akan melekat kuat. Ketika emosi negative, system limbic akan tertutup.

Ketika anak bermasalah, dengarkan saja dulu, baca bahasa tubuhnya, biarkan dia mengeluarkan pikirannya, peluk, berikan senyuman, berikan pujian.

Hypnotherapi dapat digunakan kepada anak ketika menjelang tidur. Berikan kata-kata positif seperti, “Selamat tidur Nak, besok kamu akan bangun dengan segar untuk solat subuh, dan siap untuk berangkat ke sekolah.”

Metode hypnotherapi yang sebetulnya sangat efektif yang sering digunakan orang tua dahulu tetapi mulai dilupakan oleh orang tua sekarang adalah mendongeng. Mendongeng sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai ketika anak-anak menjelang tidur. 

Memberikan nasihat juga berikan dalam kata-kata positif, misalnya “Nak, nanti di sekolah main sama anak-anak yang baik ya” dan bukan “jangan main sama anak yang nakal.”

Sesi Tanya Jawab :

1.     Berkaitan dengan anak yang perlu pendampingan orang tua untuk menghadapi masalah, bagaimana jika anak sekolah berasrama atau pesantren?

Untuk anak yang akan dimasukkan ke pesantren atau sekolah berasrama, pada umumnya usia yang tepat adalah usia SMA, ketika anak memang sudah sampai usianya menjauh dari orang tua.
Yang perlu dipastikan adalah sekolah pesantren atas keinginannya sendiri. Bila sebenarnya adalah keinginan orang tua, orang tua perlu mengajak bicara agar keinginan orang tua itu menjadi keinginan anak.

Jelaskan manfaatnya, observasi ke beberapa lokasi, biarkan anak memilih sendiri, tanyakan kesiapannya, dan jika sudah sekolah berasrama, seringlah ditengok.
Yang penting bagi anak adalah anak bahagia dengan hidupnya.

2.       Untuk anak laki-laki yang sudah cukup besar, biasanya sudah merasa canggung jika dipeluk ibunya, bagaimana menyikapinya?

Kasih sayang dapat disampaikan melalui ekspresi wajah, dengan belaian standar, tatapan hangat, dan ucapan, “Mama bangga denganmu Nak”. Anak akan menjadi kuat, merasa dirinya eksis, dan berani menghadapi bullying.

3.       Ada anak yang ke pesantren dengan keinginannya sendiri karena temannya banyak yang ke pesantren, bagaiman jika Ibunya justru yang tidak siap?

Mengikuti teman sebetulnya bukan alasan yang cukup kokoh. Untuk itu perlu diyakinkan kembali kepada anak, bagaimana jika nanti teman tidak lagi sekolah pesantren, apakah anak tetap pada pendiriannya.
Memang ibu perlu menguatkan diri, dan tega dalam pengasuhan, untuk tujuan akhir yang lebih besar.

4.       Apakah bisa hypnotherapy diterapkan pada diri sendiri?

Sangat bisa, karena sebaik-baik terapis adalah diri sendiri. Saat yang paling tepat adalah relaksasi 
pada saat tahajud dengan memasukkan pikiran positif.
Misalnya jika kita ingin rajin berolahraga, buat list dampak negative dari tidak berolahraga dan list dampak positif berolahraga.

5.       Bila anak ingin berpacaran, bagaimana orang tua bersikap?

Orang tua perlu memastikan posisi, apakah akan mengizinkan anak berpacaran atau tidak. Dalam Islam, pada dasarnya tidak dibolehkan untuk berpacaran.
Jika orang tua sudah berketetapan tidak membolehkan berpacaran namun anak ingin berpacaran, bersama dengan anak buat list manfaat dan mudharat berpacaran. Usahakan agar list mudharat jauh lebih banyak, sehingga anak sepakat bahwa tidak ada manfaatnya berpacaran.
Bangun orientasi hidup anak, tentukan cita-cita hidup di dunia dan akhirat. Kembalikan setiap persoalan kepada orientasi hidupnya, apakah bermanfaat menuju ke sana ataukah tidak.

  

Thursday, August 21, 2014

Dijauhkan dari Laknat Allah

Dari ceramah dzuhur, tetapi mohon maaf lupa dicatat siapa Ustadz/Ustadzah-nya, dan juga tidak sampai selesai. Semoga tetap bermanfaat.

Ad dunya mal'unah wa ma fiha illa bitsalatsin, semua di dunia akan dilaknat dan semua yg ada di dalamnya, kecuali 3.


Dilaknat artinya tidak diberkahi, tidak diselamatkan, tidak diberikan keberkahan.

1. Dzakarallah : yang selalu dzikir, ibadah, ingat pada Allah

Sebagai hamba Allah, istri, ibu, pekerja, anggota masyarakat, daiyah, anak.
Setiap menyisir rambut anak kita, setiap lembar rambut bernilai ibadah untuk kita.

Ketika kita bekerja, niatkan bahwa kita keluar ini karenamu ya Allah, untuk meningkatkan kualitas pendidikan, membantu suami, bukan meninggalkan kewajiban kita.

2. Orang berilmu

Syarat ibadah diterima adalah adanya ilmu, ikhlas, dan ada contoh dari Rasulullah. 

Friday, August 15, 2014

Mempersiapkan Anak Menghadapi Akil Balig

Kajian Jum’at disampaikah oleh Ustadzah Fitri dari Sanggar Senyum yang juga seorang Kepala Sekolah SDIT.

Ustadzah Fitri sering menemui kasus bahwa anak remaja tidak siap untuk menjadi akil balig. Misalnya, belum memahami apa dan bagaimana itu haid, bagaimana membersihkan pembalut, takut dan malu diejek teman dan dimarahi orang tua ketika sudah akil balig.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua untuk mempersiapkan anak menghadapi akil balig :

1. Jaga komunikasi intensif

Komunikasi intensif harus dimulai sejak dini, dan semakin intensif ketika anak berusia 9 tahun. Lakukan komunikasi tentang hal apa saja, siapkan waktu khusus untuk masing-masing anak, agar dialog dapat berlangsung dengan lebih terbuka.

Dengan demikian akan terbangun trust, bahwa ayah dan ibu adalah orang yang tepat, yang akan menjadi sahabat jika ada masalah, yang dapat menjadi teman komunikasi yang “asik” menurut anak.

Jangan menunggu masalah baru memulai komunikasi, karena akan tertanam image bagi anak, bahwa ketika orang tua berkomunikasi artinya ada masalah, artinya akan dimarahi, diomeli, dan diberi nasihat.

Buat suasana yang menyenangkan untuk anak, agar anak merasa senang dan rileks, tidak ada rasa khawatir “mau diapain nih aku”.

2. Ketika ada masalah, sampaikan bahwa kita sebagai orang tua mereka adalah sahabat yang baik.

Sampaikan, bahwa referensi kita dapat menjadi referensi untuk anak. Sejak usia 9 tahun sudah bisa dimulai dialog tentang akil balig. Tanyakan apa yang sudah mereka ketahui tentang akil balig, jelaskan dan jawab pertanyaan yang diajukan anak. Jika ada pertanyaan yang belum bisa terjawab, mintalah waktu dan carilah informasi, kemudian berikan jawabannya.

Sampaikan bahwa orang tua perlu mengetahui masa penting anak, dan akil balig adalah salah satu masa penting anak. Minta anak untuk bertanya dan menyampaikan tentang akil balig pertama kali kepada orang tua, bukan kepada teman.

3. Ubah cara pandang

Sering kali kita membuat pernyataan kepada anak kita yang berusia 9-11 tahun “Nak, kok begitu sih, kamu kan sudah besar”. Padahal mereka bagaimana pun masih anak-anak, dan masih memerlukan referensi dari kita.

Dan justru semakin besar anak kita, maka sebenarnya mereka memerlukan perhatian yang lebih besar.

Friday, November 8, 2013

Kajian Muslimah : Perbedaan Watak dan Perbedaan Otak pada Laki-laki dan Perempuan

Takdir watak antara laki-laki dan perempuan berbeda, karena perbedaan otaknya.

Otak terdiri atas dua bagian, kanan dan kiri. Otak kanan berwarna, dinamis, santai, nyeni, dan kreatif. Otak kiri tekun, monoton, penuh analisa, detil, matematis.

Perempuan antara kanan dan kiri sama.

Anak laki-laki otak kanan lebih dominan, sampai usia 5 tahun. Otak anak laki-laki dibuat agar siap untuk bekerja dan mencari nafkah, yang dalam pelaksanaannya penuh dengan permainan. Otak kirinya belum berkembang, sehingga jika menyanyi musiknya benar, tetapi syairnya kacau. Umur 6 tahun mulai siap untuk matematika dan membaca, namun otak kanannya tetap lebih baik.

Belajar membaca untuk anak laki-laki sebaiknya tidak di kertas. Tetapi tempelkan nama benda di benda tersebut.

Ketika sudah SMP SMA, anak laki-laki akan sangat menguasai teknologi. Baru di usia 18, akan tercapai keseimbangan, ketika usia mahasiswa.

Anak laki-laki sekarang sering banyak mengalami masalah. Karena di rumah lebih sering berinteraksi dengan ibu. Guru di sekolah kebanyakan perempuan. Ketika bicara, kalah dengan perempuan yang sebaya.

Dalam fungsi otaknya, lokasi bicara antara laki-laki dan perempuan berbeda. Laki-laki memiliki 2 lokasi di otak kiri, sedangkan perempuan memiliki 10 lokasi di otak kiri, kanan, dan depan.

Maka perempuan dapat terus bicara sambil bekerja.

Dalam sehari, pria berkomunikasi 7000 kata. Pria pendiam 5000 kata, pria yang suka bicara 9000 kata.
Wanita 20.000 kata, wanita pendiam 16.000 kata. Jika dalam sehari kurang dari kebutuhan tersebut, maka biasanya tidur menjadi tidak nyenyak.

Perbedaan kebiasaan berkomunikasi ini sering menjadi sumber keretakan dalam rumah tangga. Ketika suami pulang dari kantor, lalu istri bercerita panjang lebar, suami menjawab dengan sangat pendek, sering terjadi kekecewaan yang berujung pada pertengkaran. Padahal perlu diyakini bahwa suami pulang dari pekerjaan pasti dalam keadaan bahagia dan mencintai keluarganya. Ketika ia tidak banyak bicara, itu karena 7000 “jatah” katanya sudah “dihabiskan” di kantor. Apa lagi untuk suami yang sering rapat dalam sehari.

Begitu juga dengan SMS. Seringkali istri menulis panjang lebar, dan hanya dibalas satu kata“OK” oleh suami. Tidak perlu menjadi sumber keretakan. Dan ketika anak laki-laki kita hanya sedikit berbicara ketika pulang sekolah di sore hari, itu juga karena "jatah" 7000 katanya sudah "habis" selama di sekolah. Berbeda dengan anak perempuan yang langsung bercerita aneka kisah ketika pulang sekolah. Jatah bicara perempuan banyak dalam sehari, dan harus dikeluarkan. Jatah bicara laki-laki sedikit, dan ketika itu terjadi, berbanggalah, karena artinya ia berlaku sesuai kodratnya. Janganlah menjadi sumber keributan, karena itulah fitrahnya.

Tips-nya jika ingin berbicara panjang dengan suami atau anak laki-laki, minimal sebulan sekali pergilah bersama sama suami atau anak laki-laki di siang hari, agar mendengar 7 ribu katanya.

Otak manusia terdiri atas banyak neuron yang semula tidak saling tersambung. Ketika kita mempelajari sesuatu, maka terjadilah 1 sambungan, dan seterusnya. Namun, berdasarkan penelitian, bahkan jika kita hidup hingga 100 tahun pun, bisa jadi tidak semua bagian tersambung. Maksimum hanya 70 persen yang tersambung, itu pun jika kita termasuk orang yang rajin.

Semakin tua semakin banyak neuron tersambung. Maka wawasan menjadi  lebih luas. Namun di sisi lain, "loading"-nya menjadi lebih lama.

Setiap belahan otak dibagi menjadi 4 bagian. 3 bagian sudah ada isinya sejak lahir, yaitu takdir qadar.

Bagian yang depan kosong, takdir qadha. Bagian inilah yang dirujuk oleh hadits yang mengatakan "seorang anak lahir seperti kertas yang kosong, orang tuanyalah yang menjadikan ia majusi.", atau disebut dengan otak intelektual.

Segala hal yang kita pelajari lalu kita kuasai, akan tersimpan dalam bagian otak depan ini.

Program watak disimpan pada bagian otak yang disebut dengan lobus parietalis. Di sinilah terdapat hasrat dan di dalamnya ada kekuatan dan kelemahan. Kekuatan atau kelemahan itu akan berjalan ke seluruh tubuh dan menjadi perilaku, bergantung kepada pilihan mana yang kita akses.

Sistem syaraf mirip kabel telepon. Ketika kita berpikir "saya sehat", maka kita akan benar-benar sehat. Begitu pula sebaliknya. Jangan terlalu lama mengeluh, maksimum  2.5 jam. Kalimat terhadap diri kita, jika 3 kali dikatakan, akan benar-benar terjadi. Maka ketika bercermin, katakan "saya sehat dengan berat badan ideal". Di sanalah terjadi proses niat dan doa. Watak manusia berada di otak, menyala sendiri, berjalan lewat sistem syaraf, dan terlihat.

Ada sebuah tes untuk mengetahui watak seseorang, yang sangat mudah, dengan akurasi sekitar 80%.

Pilihlah 1 dari 4 peran ini. Jika akan dibuat sebuah drama, peran apa yang akan Anda pilih di antara 4 peran berikut :
1.       Penonton
2.       Penulis skenario
3.       Sutradara
4.       Artis

Pilih dua pilihan, pilihan pertama, dan pilihan kedua.

Jika pilihan adalah Penonton, maka wataknya adalah damai, selalu mau damai, tidak menginginkan konflik, jarang marah, mudah setuju, banyak teman, senang membantu teman. Namun di sisi lain, ketika membutuhkan bantuan, malah tidak ada yang membantu J

Kalau diajak ke kantin, ikut dengan rombongan, mau makan apa saja tidak jadi masalah. Cepat bersyukur. Biasanya energinya habis karena mengendalikan marah. Sehingga menjadi cepat lelah dan mudah tertidur. Pandai mendamaikan orang yang bertengkar.


Biasanya sering menunda pekerjaan, ketika kepepet baru muncul kekuatannya. Anak yang damai tidak suka membantah. Bila diminta melakukan sesuatu yang tidak disukai dia akan tetap diam, tapi tidak dilakukan. Senang  mengamati.

Jika pilihan adalah Penulis skenario, maka wataknya adalah sempurna. Segala hal harus dilakukan dengan benar. Seorang pemikir, yang otaknya terus bekerja. Sangat rapi, semua serba teratur. Namun di sisi lain lambat dalam  pengambilan keputusan. Senang melakukan analisis detil keuangan. Anak Penulis skenario membuat karya, dan karyanya ditampilkan.

Jika pilihan adalah Sutradara, maka wataknya adalah mengatur, mengorganize, memimpin, dan mengkoordinir. Memiliki prinsip yang kuat, juga dalam memerintah dan marah. Segala sesuatu ingin diselesaikan dengan cepat. Tegas terhadap sesuatu, baik benar ataupun salah.

Jika pilihan adalah Artis, maka wataknya adalah gembira, kreatif, spontan, tidak menyukai detil. Senang mengobrol, membawa berita secara menyenangkan. Jika kita punya anak Artis, ketika dia bercerita, tertawalah agar dia gembira.

Anak Sutradara dan Artis maju dan tampil ke depan. 

Thursday, February 21, 2013

Kantorku Surgaku



Siang ini di kantor saya ada kajian bulanan, yang disampaikan oleh Ustadz Nanang Mubarok, dengan tema Kantorku Surgaku.

Sebelum kajian dimulai, ada sambutan dari Pak Dirut dengan beberapa point yang juga bermanfaat. Yaitu bahwa setiap karyawan dalam pekerjaan memiliki posisi yang merupakan amanah. Bila apa yang kita rencanakan berhasil, pada dasarnya itu karena rencana kita bersesuaian dengan rencana Allah. Awali seluruh kegiatan kita dengan "bismillah", agar semoga semua menjadi bernilai ibadah.

Tema Kantorku Surgaku sangat penting, karena sebagian besar waktu kita dihabiskan di kantor. Jika kita tidak merasa kantor sebagai tempat bernaung, maka sangatlah disayangkan.

Kajian Ustadz Nanang dimulai dengan pertanyaan.

Siapa yang mau masuk surga?
Semua jamaah pun mengacungkan tangan.

Pertanyaan kedua, siapa yang mau masuk surga duluan?
Jamaah mulai ragu untuk mengacungkan tangan :-)
Karena masuk surga duluan, artinya meninggal duluan :-)

Kemudian dikisahkan tentang dialog Nabi Ibrahim dengan malaikat Izrail ketika malaikat Izrail akan mencabut nyawa beliau.

Nabi Ibrahim menitipkan pesan kepada malaikat Izrail untuk diteruskan kepada Allah : Adakah kekasih tega mencabut nyawa kekasihnya?

Malaikat Izrail menyampaikan pesan tersebut kepada Allah, dan Allah menyampaikan pesan untuk Nabi Ibrahim : Adakah kekasih yang tidak rindu untuk segera berjumpa dengan kekasihnya?

Mendengar pesan tersebut, Nabi Ibrahim pun berkata kepada malaikat Izrail : Segera cabut nyawaku.

Ustadz pun mengulang pertanyaan kedua tadi, dan kali ini jamaah lebih yakin untuk mengacungkan tangan :-)

Dalam bekerja ada amanah terhadap orang lain, bekerja bukan hanya untuk diri sendiri. Berbeda dengan shalat, yang hanya untuk diri kita sendiri. Sehingga, kemungkinan kita melakukan dosa ketika kita bekerja, sangatlah besar.

Orang yang beriman seharusnya sangat produktif. Maka seharusnya bangsa kita yang mayoritas muslim adalah bangsa yang sangat produktif. Yang merasa bangga bukan karena ekspor tetapi karena produksinya bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Ada 5 alasan mengapa kantor menjadi surga kita :

1. Adanya waktu yang terabaikan

Sebagaimana dalam hadits dikatakan bahwa ada 2 nikmat yang membuat manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.

Dalam hidup kita sebagai pekerja, hampir 60% waktu digunakan untuk bekerja.

Dalam hadits dikatakan umur muslim rata-rata antara 60-70 tahun, dan sedikit yang mencapai 80 tahun. Dan umur muslim pada ummnya tak jauh dari usia Rasulullah.

Dalam perkiraan hitungan usia tersebut, jika dalam sehari kita 1 jam beribadah pada Allah dan 12 jam beraktivitas penunjang pekerjaan, maka diperoleh hitungan bahwa total dalam seluruh hidup hanya 2 tahun yang digunakan untuk shalat. Apa bisa diandalkan untuk ke surga? Sepertinya sulit.

Sedangkan total waktu kerja dapait mencapai 25 tahun. Sungguh akan sangat bernilai jika kita dapat mengoptimalkan waktu kerja sebagai jalan ke surga.

2. Surga adalah obsesi

Sebagaimana dalam surat Asy Syuara QS 42: 20.

Serta dalam hadits dikatakan bahwa kesuksesan sejati adalah ketika seseorang masuk ke surga dan dijauhkan dari neraka.

Ustadz memberikan pilihan, mana yang kita pilih, seimbang dunia akhirat atau fokus pada akhirat?

Sebagian menjawab seimbang dunia akhirat, sebagian menjawab fokus pada akhirat.

Pertanyaan dilanjutkan. Apakah sama antara akhirat dan dunia?
Karena jika seimbang, maka harus sama agar tidak berat sebelah.
Padahal, akhirat dan dunia tidaklah sama. Akhirat abadi, dunia hanya sebentar. Maka sebenarnya tidak bisa seimbang. Ketika seimbang, maka sesungguhnya kita sedang melalaikan akhirat.

Dan ketika kita melalaikan akhirat untuk suatu alasan dunia, Allah berikan musibah, yaitu alasan berikutnya.

Sebagai contoh, ketika tiba waktunya makan siang di jam istirahat kerja, maka ada yang memilih makan siang dahulu baru shalat dzuhur, dengan alasan lebih baik makan memikirkan shalat daripada shalat memikirkan makan. Dan ketika selesai makan, maka ia tidak langsung shalat, dengan alasan perut masih terasa penuh. Maka ia mencari lokasi yang tenang dan adem dan bisa jadi tertidur. Kemudian Dirut mencarinya, ia pun segera menghadap Dirut dan kembali menunda shalatnya. Ketika Dirut memberikan tugas yang urgen, ia pun kembali menunda shalatnya untuk mengerjakan tugas tersebut. Sampai tiba waktu asar.

3. Banyak ayat dan hadits yang menyatakan bahwa Allah memuliakan pekerja.

Kerja dapat menjadi sarana kita bertemu Allah sebagaimana dalam surat Al Kahfi ayat 110.

4. Surga dekat dengan pekerja.
Dengan kerja kita dapat berjumpa dengan surga. Dengan bekerja, kita sejajar dengan nabi, karena semua nabi bekerja. Kita melakukan lanjutan risalah nabawiyah.

Kerja dapat kita pandang sebagai rahmah, amanah, ibadah, dakwah, jihad, dan investasi.

5. Kantor adalah sajadah panjang.
Rezeki ada di muka bumi. Kita harus bekerja agar mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam kerja ada hamparan pahala, ampunan, berkah

Pernah ada seorang sahabat Rasulullah, Saad bin Muad Al Anshory yang meminta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut perang, karena keluarganya sedang kelaparan. Beberapa lama kemudian rombongan Rasulullah berjumpa dengan Saad di tengah gurun sedang mencari kayu bakar sampai tangannya melepuh dan berdarah. Ketika Rasulullah bertanya, mengapa tangannya sampai demikian, Saad menjelaskan bahwa ia mencari kayu bakar untuk menafkahi keluarganya. Rasulullah pun memeluk Saad dan mencium tangannya dan mengatakan bahwa tangan tersebut haram untuk masuk neraka.

Ketika kita bekerja karena Allah, lelah seluruh badan dan pikiran kita karena pekerjaan, maka surga balasannya dan kelelahan dapat menjadi penghapus dosa. Dan di dalam surga ada ada derajat yg tidak dapat disentuh kecuali oleh mereka yang lelah karena bekerja.