Showing posts with label bahasa arab. Show all posts
Showing posts with label bahasa arab. Show all posts

Wednesday, May 27, 2015

Tafsir Surat Al A’raf tentang Penyihir Fir’aun

Ceramah disampaikan oleh Ustadz Muhaimin.

Surat Al A’raf ayat 113 sampai dengan 126 menggambarkan perubahan kondisi spiritual para penyihir Fir’aun yang berubah total dalam waktu yang singkat.

Kisah ini merupakan lanjutkan dari kisah Nabi Musa pada surat As-syu’ara ketika Nabi Musa berdialog dengan Fir’aun, ketika Fir’aun meminta Nabi Musa menunjukkan kehebatannya sebagai Nabi. Nabi Musa menunjukkan tangannya yang bersinar seperti matahari, kemudian tongkatnya yang bisa berubah menjadi ular. Fir’aun menganggap Nabi Musa sebagai penyihir dan meminta untuk melawan penyihir kerajaan. Selain itu terdapat dialog tentang ketuhanan antara Fir’aun dan Nabi Musa.

Pada awalnya para penyihir hadir untuk bertanding melawan Nabi Musa dan mereka mengharapkan hadiah serta kedudukan. Namun setelah melihat mujizat Nabi Musa, yaitu tongkatnya berubah menjadi ular dan memakan ular penyihir, para penyihir mengetahui secara pasti bahwa hal itu bukan sihir, dan maka Nabi Musa adalah benar seorang Nabi.

Para penyihir pun secara spontan berubah menjadi beriman kepada Nabi Musa.

Digambarkan bahwa di suatu masa nanti seseorang dapat beriman di pagi hari, dan menjadi kafir di sore harinya. Karena memang hati sangat mudah berbolak-balik, mudah untuk mencintai, mudah juga untuk membenci. Maka ada doa untuk menetapkan hati, yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘aladdiinik.

Melihat kejadian ini, Fir’aun sangat marah. Selain kejadian ini, sebenarnya kemarahan Fir’aun juga disebabkan oleh rentetan kekalahan yang dialaminya dengan Nabi Musa.

Kekalahan pertama adalah sebagaimana pada surat Asy Syu’ara, yaitu ketika Nabi Musa tidak mengakui Fir’aun sebagai tuhan.
Kekalahan kedua, juga dalam surat Asy Syuara, ketika kalah pada dialog tentang ketuhanan dengan Nabi Musa.
Kekalahan ketiga, adalah ketika penyihir kerajaan kalah dengan Nabi Musa, ditambah dengan pengakuan para penyihir itu bahwa mereka beriman kepada Nabi Musa.

Fir’aun sangat marah dan menganggap kejadian tersebut sebagai tipu daya dari para penyihir itu, dan ia mengancam mereka dengan hukuman potong silang yaitu kaki kanan dan tangan kiri atau kaki kiri dan tangan kanan, yang dilanjutkan dengan penyaliban.

Sedikit tentang penjelasan arti kata “tsumma”.
Pada kisah ini digambarkan bahwa Fir’aun mengancam penyihir dengan hukuman potong silang, “tsumma” penyaliban.
“Tsumma” artinya berurutan, yang satu setelah yang lain, dengan terdapat jarak waktu.
Contoh kalimat yang lain, Eko “wa” Aki masuk ke mushalla. Penggunaan kata “wa” artinya bersamaan.
Kalimat kedua, Eko masuk, “fa” Aki masuk ke mushalla. “Fa” artinya berurutan dalam waktu yang sebentar.
Kalimat ketiga, Eko masuk, “tsumma” Aki. “Tsumma” artinya berurutan dengan jangka waktu cukup panjang.

Kembali ke penyiksaan Fir’aun kepada para penyihir, maka maknanya adalah setelah Fir’aun menyiksa mereka dengan potong silang beberapa lama, mereka pun disalib.

Pada ayat ke 125 para penyihir mengatakan bahwa mereka akan kembali ke Allah.

Hikmah dari ayat ini adalah bahwa setiap orang memiliki momen untuk kembali kepada Allah. Bagi para penyihir ini, adalah ketika mereka melihat mujizat Nabi Musa, yang mereka ketahui dengan pasti bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Artinya mujizat itu datang dari Tuhan, dan artinya Nabi Musa adalah benar seorang nabi.

Hikmah yang lain adalah bukti kebenaran dapat datang begitu saja tanpa diminta.

Pada ayat selanjutnya digambarkan para penyihir meminta kepada Allah “berikan kesabaran dan wafatkan kami dalam keadaan Islam atau berserah diri”.

Pada dasarnya, kita tidak boleh meminta untuk mati. Bila kita merasa menderita akan suatu penyakit, maka mintalah kesembuhan, dan bila kematian adalah lebih baik, maka wafatkan.

Dalam Islam, muslim bukan hanya umat Nabi Muhammad. Umat Nabi Musa pun disebut muslim, umat seluruh Nabi disebut muslim.
Pembedaan antara Islam, Kristen, dan  Yahudi adalah pada sistem kemasyarakatan.

Manusia tidak dibiarkan mengatakan dirinya beriman lalu tidak diuji. Dalam hidup, semua adalah ujian. Yang terpenting adalah mana amalan yang terbaik.

Bagi kita umat Nabi Muhammad, amalan terbaik adalah mujizat Nabi Muhammad yaitu Al Qur’an. 

Tuesday, April 28, 2015

Tips Menghafalkan Al Qur'an

Dari penjelasan Ustadz Husain, Pembina Karantina Al Qur'an Masjid UI, 26 April 2015


Tiga tips dalam menghafal Al Qur'an :

Pertama, Ikhlas

Karena Allah yang memberikan Al Qur'an pada kita, bukan kita yang mengambil.
Badan dan pikiran nyaman, tidak tergesa-gesa, rileks dan fresh. 
Berdoa kepada Allah agar Allah mudahkan dalam menghafal.

Kedua, Syukur
Walaupun ada hari-hari hafalan hanya sedikit bertambah, tetap bersyukur.
Karena sebagaimana pada surat Ibrahim Allah berfirman, bersyukurlah nanti akan ditambahkan.

Bila suatu hari hafalan kita hanya sedikit bertambah, maka itu adalah ujian Allah atas kesungguhan kita dalam menghafal.

Ketiga, Istiqamah

Sering kita mengatakan bahwa kita sibuk sehingga tidak punya waktu untuk menghafal Al Qur'an.
Yang benar adalah kita harus menyiapkan waktu untuk menghafal Al Qur'an.

Dari program Karantina Tahfizh akan diperoleh kebiasaan atau habit dalam berinteraksi dengan Al Qur'an, karena selama 2 hari 3 malam akan terus menerus bersama Al Qur'an.


Metode yang digunakan pada Karantina Tahfizh berasal dari Sudan, dimulai di Indonesia di Makassar tahun 2014, yaitu Karantina Menghafal Al Qur'an 30 juz dalam 40 hari.
Karena orang Indonesia ternyata bisa selesai dalam 30 hari, maka dibuat 30 juz dalam 30 hari, atau 1 juz per hari.

Menghafal Al Qur'an adalah masalah pembiasaan.

Ketika Ustadz Husain mengikuti Karantina 30, di hari pertama hanya bisa 5 halaman, jauh dari target 1 juz sehari. Namun dengan pembiasaan, hari berikutnya menjadi 7 halaman, 10 halaman, bahkan hari hari-hari terakhir bisa 2-3 juz dalam sehari.

Seperti belajar, setiap orang memiliki metode masing-masing yang paling cocok dan paling efektif, sehingga ia bisa menghafal dengan mudah dengan cara itu.

Yakinlah bahwa Al Qur'an mudah dihafal, sebagaimana firman Allah pada beberapa ayat di surat Al Qamar.

Thursday, March 14, 2013

Sejarah Hidup Imam Syafi’i

Beliau dilahirkan di Gaza pada tahun 150 H dan wafat di Mesir pada tahun 204 H. Beliau hidup selama 54 tahun namun karyanya tetap bergaung sampai sekarang. Betapa banyak manusia yang memiliki usia yang lebih panjang namun ketika wafat hanya dikenang dalam dua baris di batu nisan.

Tentang Imam Syafi’i, Rasulullah telah menyampaikan bisyarah (berita tentang masa depan) yang menyatakan bahwa akan datang ulama dari kaum Quraisy yang dakwahnya mencapai negeri yang jauh.

Imam Syafi’i bernama Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. Asy Syafi’i adalah nama kabilah.
Beliau dilahirkan pada tahun yang sama dengan wafatnya Imam Abu Hanifah.
Ayahnya, Idris, nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Abdul Manaf, ayah dari Abdul Muthalib. Maka Imam Syafi’i masih merupakan kerabat Rasulullah.

Berbeda dengan Imam Abu Hanifah yang sangat berkecukupan, Imam Syafi’i sangat miskin. Ayahnya wafat ketika beliau berusia 2 tahun, dan untuk tetap menjaga kemurnian sebagai suku Quraisy, Ibu beliau membawanya kembali pulang ke Makkah. Sebagai kerabat Rasulullah (dzawil qurba), keluarga beliau berhak atas 1/5 harta ghanimah, namun ternyata jumlahnya sangat terbatas.

Walaupun dalam keterbatasan, di Mekkah Imam Syafi’i mulai menuntut ilmu. Berbeda dengan kondisi di Kuffah yang ada bea siswa dari Abu Hanifah bagi murid yang tidak mampu, di Mekkah tidak ada bea siswa. Ibu Imam Syafi’i yang seorang hafizhah Al Qur’an mengajarkan langsung hafalan Al Qur’an kepada Imam Syafi’i. Namun untuk ilmu lain, Imam Syafi’i dititipkan ke guru. Karena tidak cukup biaya, maka pada awalnya Imam Syafi’i terkesan tidak diperhatikan oleh gurunya.

Namun Imam Syafi’i dapat membuat kesulitan tersebut menjadi peluang. Ketika guru belum datang, atau sesudah guru pulang, atau bahkan di waktu belajar, Imam Syafi’i membantu mengajar teman-temannya. Gurunya yang merasa puas dengan bantuan Imam Syafi’i yang semula tidak memperhatikan Imam Syafi’i, berubah menjadi mengistimewakan beliau.

Ketika usia Imam Syafi’i belum mencapai 10 tahun, beliau sudah hafal Al Qur’an. Suara beliau sangat merdu ketika melantunkan Al Qur’an, sehingga saat itu tersebar pendapat bahwa jika ingin menangis mendengarkan bacaan Al Qur’an, dengarkanlah Muhammad bin Idris.

Setelah beliau mempelajari Al Qur’an secara mendalam, beliau mempelajari hadits. Berbeda dengan Al Qur’an yang mudah dihafal, hadits jumlahnya sangat banyak, maka diperlukan catatan untuk mempelajarinya. Di masa itu, harga kertas sangat mahal, sehingga Imam Syafi’i mencatat menggunakan tulang hewan, atau kertas-kertas sisa dari kantor-kantor, atau kertas  apa pun yang masih memiliki ruang untuk ditulis. Dan karena keterbatasan itu, beliau memperkuat dengan hafalan.

Beliau memang memiliki kelebihan mudah menghafal. Suatu waktu, beliau yang tidak memahami bahasa Persia, melihat dua orang Persia berselisih. Ketika perselisihan tersebut dibawa ke pengadilan, beliau dipanggil menjadi saksi, dan dapat mengulang seluruh dialog kedua orang Persia tersebut walaupun beliau tidak memahami dan hanya mendengarnya sekali.

Suatu ketika datanglah seorang ulama dari Mesir, Imam Al Lais. Di masa itu jika seorang ulama datang ke Mekkah atau Madinah, maka kedatangannya akan dimanfaatkan untuk belajar oleh masyarakat. Begitu  pula sebaliknya, masyarakat muslim yang berhaji juga menyempatkan untuk belajar kepada ulama di Mekkah dan Madinah.

Dalam pelajarannya, Imam Al Lais menekankan pentingnya mempelajari bahasa Arab dari sumbernya yang masih murni, yaitu suku Hudzair. Hal ini karena Al Qur’an dan Hadits disampaikan oleh Rasulullah dalam bahasa Arab yang murni, maka untuk dapat memahaminya dengan benar, dibutuhkan pemahaman atas bahasa Arab murni.

Maka beliau pun berangkat ke suku Hudzair dan tinggal bersama mereka selama 10 tahun. Beberapa orang sempat mempertanyakan, mengapa beliau memilih untuk pergi tinggal bersama suku Hudzair padahal sudah memiliki banyak ilmu dan sudah bisa mengajar. Beliau menjawab bahwa beliau belajar bahasa Arab untuk berkhidmah kepada Al Qur’an dan Hadits.

Ketika kembali dari suku Hudzair, beliau menjadi referensi dalam hal bahasa Arab. Beliau pun melanjutkan belajar lagi, walaupun sudah diperintahkan oleh Imam Muslim untuk mengajar. Beliau berkeinginan untuk belajar kepada Imam Malik.

Thursday, August 30, 2012

Tips Shalat Khusyu’ : Penuhi Pikiranmu!



Kita sering membaca berbagai tips untuk shalat khusyu', berikut ada pembahasan yang cukup menarik, tentang shalat khusyu' dan kaitannya dengan bisikan setan dalam shalat serta cara otak kita bekerja.
 
Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari email yang saya terima dari http://understandquran.com, dari Dr Abdulazeez Abdulraheem, dengan judul asli “Don’t complain of Shaitan whispering, if you..”

Semoga bermanfaat.

==

Semua manusia mengalami gangguan dalam kekhusyu’an shalat, yang ditimbulkan oleh bisikan setan. Namun kita sedemikian terbiasa dengan kondisi tersebut, sampai akhirnya kita berhenti berusaha mencari solusinya.

Agar shalat dapat dilakukan dengan khusyu’, kita harus menutup seluruh pintu dan jendela pikiran kita dari kemungkinan masuknya setan.

Otak kita dapat mengerjakan paling tidak 5 hal secara bersamaan dalam satu waktu. Misalnya ketika kita sedang mengendarai mobil, maka secara bersamaan kita melakukan hal-hal berikut :
1.       Mengendalikan kemudi mobil
2.      Menekan dan melepaskan rem
3.      Berbicara dengan teman
4.      Memperhatikan situasi jalan
5.      Berpindah jalur
6.      Menghindar dari pejalan kaki dan kendaraan lainnya
Dan seterusnya.

Jika dalam shalat kita hanya membaca Al Qur’an / bacaan shalat saja, maka saat itu kita hanya menggunakan 1 kanal saja dari 5 kanal otak kita yang sebenarnya bisa bekerja bersamaan.

Mungkin ada yang pernah mendengar ungkapan : Pikiran kosong manusia adalah ruang kerja bagi setan. Maka yang sebenarnya lebih tepat adalah : Kanal pikiran kosong manusia adalah ruang kerja bagi setan.

Ketika kita biarkan 4 kanal tersebut terbuka untuk setan, apakah setan akan membiarkan kita shalat dengan benar? Tidak! Setan akan melakukan apa saja untuk menghancurkan shalat kita! Dia akan mengingatkan kita pada berbagai hal, selama kita shalat. Paling tidak pikiran kita akan teralih ke gangguan kecil seperti suara orang batuk atau suara kendaraan di luar. Dan perlahan-lahan setan akan mengajak kita keluar dari shalat kita!

Lalu, bagaimana solusinya?
Solusinya adalah, kita harus mengisi seluruh kanal pikiran tersebut? Bagaimana caranya?

     1.  Bacalah Al Qu’ran / bacaan shalat
     2.  Pahami bacaan yang kita baca
     3.  Bayangkan bacaan yang kita baca
     4.  Rasakan bacaan yang kita baca
     5.  Berinteraksi dengan bacaan yang kita baca

Jika kita belum melakukan kelima hal tersebut, maka artinya kita sudah mengundang setan untuk berbisik pada kita, tidak ada gunanya kita mengeluh tentang godaan setan itu. 

Maka yang terpenting adalah kita memahami Al Qur’an. Di website understandingquran.com terdapat kursus yang dapat membantu hal tersebut, lebih dari sekedar belajar Bahasa Arab.

Kita harus terus belajar untuk memperbaiki shalat kita.

With best wishes and prayers,
Dr Abdulazeez Abdulraheem

==

Ayo belajar Bahasa Arab, baca Al Qur'an dengan artinya, berusahalah memahami seluruh bacaan shalat. Boleh coba ikut kursus di website tersebut, atau cari kursus lain, atau paling tidak belajar sendiri dengan berbagai sumber yang sudah sangat banyak tersedia. 

Semoga Allah senantiasa membantu kita untuk memperbaiki shalat kita, sebagai amal utama kita untuk menghadap-Nya nanti.

Aamiin ya rabbal 'aalamiin..

Friday, July 27, 2012

Top 3 Secrets To Quranic Arabic

Copy paste e-mail dari newsletter understandquran.com. Semoga bermanfaat :-)

==

As-Salamu Alaikum ,

If you want to cut to the chase and get started in our life-changing "Understand Quran - 50% of Quranic Words",  click here:

http://understandquran.com/join-us.html

Otherwise, find out top 3 secrets to Quranic Arabic and enjoy this story by one of our students - Mamoon Yusaf:

It was a real blow when I realized I had wasted literally thousands of pounds and hundreds of hours on Arabic courses and, years of study later, I still hadn't achieved my outcome of understanding the Quran.

That's because I didn't know the 3 secrets you're about to discover in this article.

But first, let me tell you where my urge to learn Quranic Arabic came from...

My parents, like most parents of my generation, made me go to a Maulvi Saab every weekend morning when I was a kid, even though I didn't understand a word of what I was reciting in the Quran. Even as a
child, it was off-putting and frustrating to be forced to read a book, without understanding it. In fact, it
made me want to rebel.

After all, we were taught French in school so we could read French books, so why was I reading this book without understanding it?

It turns out that my instinct as a child was correct, and the way we were being taught was counter - intuitive. So, when I finished school, the first thing I did right after my A-Levels was to find the 'best' Arabic courses that were out there.

I wanted to find out what Allah was really saying to me in the Quran. And, I wanted to know for myself that the extreme activities I saw on TV were disgusting to Allah.

I enrolled in two courses that Summer, a grammar course and an 'intensive Arabic and Islamic Studies' course. They were both great, and in many ways whet my appetite for more Quran, but certainly didn't
satisfy my hunger to understand the Quran in Arabic.

A couple of years later, having forgotten almost everything I learned on those courses and having mistakenly accepted that I couldn't understand Quranic Arabic as a spare-time hobby, I took it a step further - I changed my degree course from medicine to Arabic (yes, you read that right and no, I don't want to go back).

I figured, if I do a degree in Arabic, and if I do well in it, then surely I'll be able to read the Quran and understand it...

You can imagine my surprise 3 years into a four year degree, and after spending a year in an Arab country, when not only did I NOT understand all the Quran, but it also became clear to me that even if I got a
first class degree at one of the top universities in the UK for Arabic, I still wouldn't reach my goal!

This freaked me out!

So I did some more in-depth research to find out exactly what resources were needed to understand the Quran.

I got all the self-study guides I could find, did a load of online research, spoke with people who had already 'incidentally' achieved the goal I wanted, and within the next few weeks, I achieved the
dream. And here is how...

HOW TO UNDERSTAND QURANIC ARABIC QUICKLY & EASILY

Here are the top ways to study Arabic for the specific Outcome of understanding the Quran:

1. Only study basic grammar.


Most people will tell you that you need to spend your whole life studying Arabic grammar to appreciate the Beauty of the Quran.

What they don't tell you is that you can know enough grammar to string the Arabic sentences together, without ever needing an English Translation again, in only a few hours of focused study.

There are many books and courses out there that teach exactly this, and you can study them on your own.

2. Only learn Arabic to English.


Because your goal is to just understand what the Quran says, you can save yourself at least 50% of your study time by following this golden rule.

You don't need to know the Arabic for 'take me to the Sheesha Bar', because that is superfluous to your goal of understanding the Quran.

You only need to learn vocabulary, and do exercises, that get you to translate Arabic sentences into English, not the other way around.

3. Only learn the vocabulary that's actually in the Quran

This one takes the biscuit.

You will save yourself literally hundreds of hours of personal study if you avoid learning any words that arenot in the text of the Quran itself. How do you do this?

Simply by taking all of your vocabulary lists directly from the Quran, or by using ready-made resources that have Quran-only vocab lists in them.

In fact, ONLY 300 Arabic words account for 70% of the words in the whole Quran, because they are repeated so frequently.


BONUS TIP

4. Use what you already know as your text book.

If you're a western Muslim, you probably already know a lot more Arabic than you give yourself credit for.

You know the contents of prayer, you probably know some Quran already, and if you don't you're probably going to learn them by rote soonanyway.

Use that as the basic text book. Don't bother with Rosetta Stone or any other language course, with its own text books. They are a waste of your time.


Copyright © 2012 Understand Quran Academy, All rights reserved.

Tuesday, June 12, 2012

Tafsir Al Muddatstsir Ayat 1

Pengajian siang ini disampaikan oleh Ustadz Amir Faishol Fath. 

Al muddatstsir, adalah isim fail (kata yang menunjukkan pelaku), kata dasarnya adalah datsara (kata kerja lampau) dan yudatstsiru (kata kerja sedang). Artinya adalah orang yang sedang berselimut.
Sama dengan al muzzammil, zamala, yuzammilu.

Ilmu yang mempelajari pecahan-pecahan kata dalam Bahasa Arab disebut dengan ilmu sharf. Jika ingin memahami Bahasa  Arab, maka ilmu ini harus dihafalkan.

Tafsir  surat Al Muddatstsir terdapat dalam riwayat dari Imam Bukhari, sebagai berikut :

“Sesungguhnya aku berdiam diri di gua Hira. Maka ketika habis masa diamku, aku turun lalu aku telusuri lembah. Aku melihat ke kanan, tidak ada apa-apa, aku melihat ke kiri, tidak ada apa-apa, aku melihat ke depatn, tidak ada apa-apa, aku melihat ke belakang, tidak ada apa-apa. Lalu aku lihat ke langit, tiba-tiba aku melihat Jibril duduk di atas kursi.”

Kursi ini adalah penggambaran akan hal yang gaib. Dalam riwayat lain diceritakan tentang Jibril yang memiliki 600 sayap, yang jika sayapnya dibuka, maka langit timur dan barat tertutup.

Lanjutan dari hadits tadi, “Maka aku temui Khadijah, dan aku berkata ‘Selimuti aku’, maka Khadijah pun menyelimuti  Rasulullah."

Sebagaimana dalam surat Al Muzzammil ayat 4, yang menyatakan bahwa “akan Kuberikan kepadanya perkataan yang berat”. Makna berat dalam hal ini ada dua, yaitu berat ketika Rasulullah menerimanya, sehingga beliau gemetar dan berkeringat. Atau berat dari sisi hukum, berat untuk mempelajari dan mengamalkannya.

Rasulullah kemudia meminta agar dikompres ubun-ubunnya dengan air dingin.
Lalu turunlah surat Al Muddatstsir ayat 1-3.
Ketiga ayat tersebut diakhiri dengan huruf ra yang sebelumnya berbunyi kasrah, maka dibaca dengan tarqiq (seperti tersenyum).

Dalam surat Al Muddatstsir Allah memanggil bukan dengan nama, melainkan dengan perbuatan Rasulullah, yang saat itu sedang berselimut. Hal itu adalah bentuk penghormatan. Seperti juga ketika Rasulullah memanggil Aisyah dengan wahai Humairah, wahai yang berpipi merah. Seperti juga ketika kita memanggil seseorang yang kita hormati dengan jabatannya.

Ketika Allah memanggil dengan perbuatan tersebut, Rasulullah segera meninggalkan selimutnya. Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi kita, jika kita ingin membuat seseorang menghentikan suatu kegiatan yang kurang baik, kita bisa panggil orang tersebut dengan apa yang sedang dilakukannya. Misalnya, wahai orang yang kecanduan game, wahai orang yang sufi (suka film), dsb :-)

Dari makna ini juga dapat difahami bahwa selimut sering membuat orang terlena, membuat orang tidak terbangun subuh, dan menjadi penghalang bagi kedekatan kepada Allah.

Tuesday, January 31, 2012

Bahasa Arab Bahasa Islam

Copy paste dari www.muslimah.or.id

Bahasa Arab Bahasa Islam


Penulis: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar

Kemuliaan Bahasa Arab

Tahukah engkau saudariku, keutamaan bahasa arab sangatlah banyak. Sebagaimana perkataan Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2, yang artinya,

“Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkan.”

Ia berkata, “Yang demikian itu (bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa arab) karena bahasa arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada Rasul yang paling mulia (yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam) dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia di atas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Ramadhan), sehingga Al-Qur’an menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat Yusuf)

Bahasa Penduduk Surga

Suatu saat terjadi percakapan di antara seorang ustadz dan seorang pria.

A: Ustadz, katanya bahasa surga itu bahasa arab ya?
B: Katanya begitu pak… tapi haditsnya dho’if.

Tahukah engkau saudariku, memang banyak kita dengar perkataan bahwa bahasa arab adalah bahasa yang digunakan di surga. Namun ternyata tidak ada hadits shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang masalah ini sebagaimana dinyatakan Abu Shuhaib al-Karami yang mentahkiq kitab Mukhtashar Hadi al-Arwah karya Ibnu Qayyim Al-Jaujiyyah. Namun banyak atsar salaf yang menguatkan hal ini (bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab). Wallahu a’lam bi shawab.

‘Afwan Jiddan (??)

Kalimat yang satu ini, rasanya sudah menjadi sebuah perkataan umum yang merebak dimana-mana. Secara kata perkata, memang terlihat benar, karena ‘afwan berarti maafkan aku, sedangkan jiddan artinya sungguh-sungguh/benar-benar.

Tahukah engkau saudariku, ternyata kalimat ‘afwan jiddan tidak dikenal dalam bahasa arab yang benar. Ini sama seperti seseorang yang belajar bahasa Inggris kemudian mengatakan, “My watch is dead”. Secara kata perkata memang benar, namun secara penggunaan bahasa asalnya, kalimat tersebut bukanlah kalimat yang benar.

Kata ‘afwan itu sendiri sebenarnya sudah merupakan sebuah permintaan maaf yang sangat. Jika dirinci, kata ‘afwan mempunyai kalimat lengkap Asta’fika yang artinya aku benar-benar minta maaf kepadamu. Nah, berarti maksud orang yang mengatakan ‘afwan jiddan bahwa ia minta maaf dengan sungguh-sungguh sebenarnya sudah diwakilkan dengan kata ‘afwan itu sendiri. Adapun kata dalam bahasa arab lainnya yang berarti maaf adalah aasif. Dan untuk kata ini (aasif) tidak terkandung makna permintaan maaf dengan sungguh-sungguh.

4 Nama Nabi

Tahukah engkau saudariku? Ternyata hanya ada 4 Nabi kita (yang disebutkan namanya dalam Al-Qur’an dan Sunnah) yang memiliki nama dari bangsa Arab murni, yaitu nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, Shalih, Syu’aib dan Hud. Adapun nama-nama nabi lainnya merupakan nama ‘ajam (asing). Dan secara kaidah bahasa arab, antara nama asli Arab dan nama asing memberikan konsekuensi yang berbeda, yaitu untuk nama asing dalam penggunaannya tidak boleh diberi tanda tanwin. Masih penasaran? Ayo belajar bahasa arab…

Musyawarah Akbar (??)

Kadang aneh terlihat, ketika suatu spanduk dari organisasi Islam kemudian bertuliskan musyawarah akbar. Tahukah engkau saudariku, terdapat kesalahan penerapan kaedah bahasa arab dalam susunan tersebut.

Kata musyawarah (yang berasal dari bahasa arab) merupakan isim muannats (jenis kata feminin). Sedangkan kata akbar merupakan isim mudzakar (jenis kata maskulin). Dalam kaedah bahasa arab, tidak tepat jika memadankan dua kata (yang dinamakan na’at man’ut) dengan kata yang berlainan jenis. Maka yang benar adalah musyawarah kubro. Karena kata kubro merupakan isim muannats. Bingung? Ayo belajar bahasa arab…

Abu dan Ummu

Tahukah engkau saudariku, penggunaan Abu dan Ummu juga dipelajari dalam bahasa arab pada bab ‘Alam (nama). ‘Alam itu sendiri terbagi menjadi tiga bagian. Salah satunya adalah kun-yah. Kun-yah adalah nama yang diawali dengan lafazh Abu dan Ummu, seperti Abu Bakr, Ummu Kultsum dan sebagainya. Biasanya, kata yang digunakan setelah kata Ummu atau Abu adalah nama anak pertama dari sang pemilik nama. Namun, tidak berarti bahwa orang yang belum menikah bahkan anak-anak sekalipun tidak dapat menggunakan nama kun-yah. Sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah memanggil seorang anak kecil dengan nama kun-yah, dalam hadits yang diceritakan oleh Anas radhiallahu ‘anhu,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan aku memiliki seorang saudara yang biasa dipanggil dengan sebutan Abu ‘Umair. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam datang, lalu memanggil: ‘Wahai Abu ‘Umair, apa yang sedang dilakukan oleh si Nughair kecil.’ Sementara anak itu sedang bermain dengannya.” (HR. Bukhari)

Pentingnya Belajar Bahasa Arab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bahasa arab itu termasuk bagian dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Quran dan As-Sunnah itu wajib. Tidaklah seseorang bisa memahami keduanya kecuali dengan bahasa arab. Dan tidaklah kewajiban itu sempurna kecuali dengannya (mempalajari bahasa arab), maka ia (mempelajari bahasa arab) menjadi wajib. Mempelajari bahasa arab, diantaranya ada yang fardhu ‘ain, dan adakalanya fardhu kifayah.” (Iqtidho, Ibnu Taimiyah 1/527 dikutip dari majalah Al-Furqon)

Tahukah engkau saudariku, dorongan untuk belajar bahasa arab bukan hanya khusus bagi orang-orang di luar negara Arab. Bahkan para salafush sholeh sangat mendorong manusia (bahkan untuk orang Arab itu sendiri) untuk mempelajari bahasa arab.

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Pelajarilah bahasa arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.” (Iqitdha)

‘Umar radhiallahu ‘anhu juga mengingatkan para sahabatnya yang bergaul bersama orang asing untuk tidak melalaikan bahasa arab. Ia menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari, “Adapun setelah itu, pelajarilah Sunnah dan pelajarilah bahasa arab, i’rablah al-Qur’an karena dia (al-Qur’an) dari Arab.” (Iqtidho, Ibnu Taimiyah, dikutip dari majalah Al-Furqon)

Dari Hasan Al-Bashari, beliau pernah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang suatu kaum yang belajar bahasa arab?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang baik, karena mereka mempelajari agama nabi mereka.” (Mafatihul Arrobiyah, dikutip dari majalah Al-Furqon)

Dari as-Sya’bi, “Ilmu nahwu adalah bagaikan garam pada makanan, yang mana makanan pasti membutuhknanya.” (Hilyah Tholibul ‘Ilmi, dikutip dari majalah Al-Furqon)

Tertarik belajar arab lebih jauh? Alhamdulillah silakan ikuti terus pelajaran bahasa arab yang ada di www.badar.muslim.or.id

Maraji’:

Pentingnya Bahasa Arab. Makalah YPIA oleh Divisi Bahasa Arab YPIA
Majalah Al-Furqon edisi 1 tahun VII 1428/2008
Mukhtashar Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah (terj) dengan tahkik Abu Shuhaib al-Karami, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Pustaka Arafah, cetakan 1, Oktober 2005
Mutammiah Ajurumiyyah (edisi terjemah). Syaikh Syamsudin Muhammad Araa’ini. Sinar Baru Algensindo cetakan 5
Mulakhos Qowa’idul Lughotil ‘Arobiyyah. Fu’ad Ni’mah. Dar Ats-Tsaqoofah Al-Islamiyyah. Beirut.
Iqthido Ash-Shirotil Mustaqim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Tahqiq dan Ta’liq oleh Dr. Nashir Abdul Karim Al-’Aql. Wizarot Asy Syu-un Al Islamiyah wal Awqof

***

Artikel www.muslimah.or.id

Bagaimana Cara Menjawab Ucapan “Jazakallahu khairan"...?

Copy paste dari broadcast message di BBM saya hari ini, semoga bermanfaat :-)

==

Semoga Fatwa Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad berikut ini bisa merincinya.

Pertanyaan:
Apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya (ucapan “Jazakallahu khairan”) dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga)?

Beliau menjawab,
“Tidak. Sepantasnya, dia juga mengatakan. ‘jazakallahu khairan’ (semoga Allah membalasmu kebaikan pula).
Yaitu didoakan sebagaimana dia berdoa.

Meski perkataan seperti ‘wa iyyakum’ sebagai athaf (mengikuti) ucapan ‘jazakum’ –yaitu ucapan ‘wa iyyakum’– bermakna ‘sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian, namun jika dia mengatakan ‘jazakallahu khair’ dan menyebut doa tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdal”

[Transkrip dari kaset Durus Syarah Sunan At-Tirmidzi, oleh Al-’Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah, kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, no. hadits 222]

www.muslimah.or.id

Semoga bermanfaat.