Showing posts with label kematian. Show all posts
Showing posts with label kematian. Show all posts

Wednesday, April 12, 2017

Manajemen Diri

Ceramah disampaikan oleh Ustadz Ir. Furqan Al Faruqi di Mushalla Tarbiyah, hari Senin 13 Rajab 1438 / 10 April 2017. 

Hadits Rasulullah yang disampaikan kepada Ibnu Umar :
Jadilah kamu seperti orang asing, musafir yang dalam perjalanan.

Orang asing biasanya berhati-hati, tidak berlaku aneh-aneh.
Orang berada dalam perjalanan tidak membawa banyak barang, membawa secukupnya.

Hadir di kajian bermanfaat untuk mengingatkan bila lupa

Hidup sebetulnya sangat singkat. Secara ilmiah usia alam semesta 13.7 miliar tahun, maka usia kita yang 60, 70, bahkan 900 sangat tidak sebanding. Bila waktu dianalogikan sebagai 1 garis, dan kejadian kehidupan setiap orang menjadi cahaya yang menyala, maka 1 orang hanya sepersekian detik menyala dan kemudian lenyap lagi.

Dan dalam waktu yang singkat itu menentukan apakah kita ke neraka atau surga, sebuah resiko yang panjang.

Ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak adil. Sesuatu yang terjadi dalam waktu singkat, berdampak pada sesuatu yang berjangka panjang. Tapi dalam kehidupan banyak peristiwa yang seperti itu. Kelalaian hanya beberapa detik, dapat berakibat pada kecelakaan yang fatal dengan akibat yang harus ditanggung seumur hidup. Bila untuk kehidupan sehari-hari kita bisa menerima, maka seharusnya kita tidak perlu berdalih untuk kehidupan akhirat.

Untuk memnfaatkan waktu yang sangat singkat tersebut kita memerlukan manajemen agar bisa efisien dan efektif, sebagaimana sering kita gunakan untuk situasi waktu terbatas dengan tujuan yang banyak.

Hidup selalu ada perubahan. Di masa sekarang perubahan makin eksponensial. Banyak orang menjadi galau karena banyak hal belum pernah terjadi, dan terjadi dengan cepat.

Ustadz biasa bekerja cepat, punya 1000 bank tema karena terbiasa menulis termasuk menulis rangkuman. Dahulu bila mengajar selalu membagikan makalah tetapi karena ternyata tidak dibaca akhirnya tidak dilanjutkan.

Sebagai musafir, ketika akan melakukan perjalanan jauh, maka ada persiapaan yang dilakukan.

Di masa lalu sekitar tahun 70-an, ketika orang pergi naik haji menggunakan kapal, maka sangat banyak bekal yang dibawa, dengan peti yang begitu besar.

Pertama, dalam surat At Takwir, yaitu penentuan tujuan, kita mau ke mana.
Islam Alhamdulillah dibimbing oleh Allah. Non muslim kebanyakan gelisah karena dalam ketidakpastian, dan ketidakpastian membuat tidak nyaman.

Dalam Al Qashash dijelaskan bahwa tujuan kita adalah mempersiapkan kehidupan sesudah kematian.

Dalam menentukan tujuan atau cita-cita ada kriteria yang sebaiknya dipenuhi :

1 Boleh memiliki cita-cita individual, yaitu cita-cita yang baik dan tidak menyalahi syariat.
2 Jangan lepas dari visi kelompok agar tidak terjadi konflik, contohnya di perusahaan.  
3 Tidak boleh bertentangan dengan kemanusiaan, dan bermanfaat bagi manusia.
4 Tidak boleh lepas dari dakwah.

Muslim saat ini kurang semangat “misionaris”. Padahal kita seharusnya selamat bersama-sama. Sebagaimana dalam surat Al Fatihah disebutkan iyyakana’budu, hanya kepada-Mu “kami” memohon pertolongan, maka itu menunjukkan muslim harus bersama.

Muslim harus berdakwah. Tidak bisa kita baik sendiri dan akan selamat. Sebagaimana para nabi, yang diutus untuk menyebarkan. Contoh yang lalai adalah Nabi Yunus, menyerah dan merasa bahwa umatnya tidak bisa diajak lagi, maka beliau dihukum, dan dalam Al Qur’an dikatakan bahwa bila beliau tidak minta ampun, maka akan diabadikan dalam perut ikan.

Berdakwah harus dilakukan, dengan porsi, peran, cara yang sesuai dengan keadaan.

5 Dalam rangka ibadah kepada Allah, hidup adalah totalitas ibadah
6 Agar minimal selamat dari neraka

Ada yang masuk surga tetapi masuk dulu ke neraka. Bila doa dihindarkan dari neraka, maka pasti langsung ke surga. Dalam manajemen maka ini adalah risk management.

Dalam hadits Rasulullah digambarkan ada orang yang terakhir masuk surga dan sudah sangat lama di neraka, yang akhirnya masuk surga karena ada secercah keimanan.

7 Meraih level surga tertentu

Hidup adalah ladang amal dan ujian kehidupan. Bila hidup terasa berat, sesungguhnya kita beruntung karena masih hidup. Jangan cengeng apa lagi sampai ingin bunuh diri. Tapi mereka yang sering mengaji biasanya terhindar dari kegalauan. Kita harus bisa memaknai secara positif, dan bila terpeleset segera istighfar.


Kedua, fokus pada tujuan

Hasil seringkali tidak sinkron dengan tujuan. Misalnya pedagang tapi sebetulnya tidak ingin mencari untung. Atau anggota legislatif yang mencari kekayaan, padahal seharusnya perannya adalah menyampaikan aspirasi dan mem-balance pemerintah. Atau ingin kaya dengan menjadi ustada.

Ada kisah lebai (pembaca doa) yang malang di desa di Sumatera. Suatu hari ia menerima 2 undangan di hulu dan hilir sungai. Bingung memilih yang mana, akhirnya pergi ke hulu dengan sampan, dan ketika tiba ternyata doa sudah dibacakan dan nasi berkat sudah dibagikan. Pergi lagi mengejar ke hilir, dan ternyata juga doa sudah dibacakan dan nasi berkat sudah dibagikan.

Santri yang mau lulus tingkat SMA mengambil terlalu banyak pilihan, sampai 10 alternatif. Harus fokus, 1 atau 2 saja, dan yang terpenting adalah doa orang tua.

Seringkali tidak ada alasan seseorang menjadi sukses, tetapi alasan untuk menjadi tidak sukses adalah karena terlalu banyak alasan.


Ketiga, petunjuk

Petunjuk ada dalam Al Qur’an, yang benar-benar sinkron.

Ada jamaah yang mengeluh karena sering ikut kajian, sering bertanya, malah makin stress karena makin bingung. Islam seharunsya mudah. Bacalah Al Qur’an karena terjamin 100%.


Keempat, bekal

Dulu pengajar harus memiliki persiapan fisik. Saat ini cukup dengan flash disk, bahkan bisa akses di google drive. Yang penting adalah bekal yang valid. Bekal yang bisa digunakan di tempat lain dan berlaku, misalnya uang rupiah maka harus ditukar dengan mata uang setempat. Harus bersifat cair dan mudah digunakan dan mudah dipertukarkan.

Maka bekal terbaik adalah taqwa, yaitu segala bentuk kebaikan.

Ketika naik haji, diperintahkan untuk berbekal, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa, yang kemudian akan diikuti oleh visa dan berbagai kemudahan.

Ustadz mengisahkan pernah membimbing umrah teman-teman dari ITB untuk umrah Ramadhan. Ketika berangkat bandara kebakaran, hampir perjalanan ditunda tetapi diminta untuk bertahan di depan counter. Jamaah puasa 18 jam baru berbuka ketika tiba di Jeddah.

Tiba di hotel, ternyata kamar sudah diambil orang lain. Kita harus ingat bahwa bila Allah mengambil sesuatu adalah karena akan menggantikan dengan yang lebih baik. Manajemen hotel menawarkan pengganti, tetapi karena jamaah marah, pemberian tersebut ditolak, dan akhirnya diberikanlah kamar yang diminta. Ternyata ketika dalam perjalanan ke masjid melewati hotel pengganti yang sebenarnya hotel yang sangat bagus.

Di tanah suci, yang penting adalah bekal taqwa, bekal lain menjadi kurang relevan.

Tiba di Masjidil Haram, salah satu jamaah kehilangan dompetnya. Maka ustadz mengingatkan, bahwa sudah banyak cobaan terjadi sejak berangkat, harus belajar sesuatu, bahwa reaksi menentukan.

Tetap tenang dan berdoa kepada Sang Penguasa Ka’bah. Dicoba kembali mencari di Masjidil Haram mengikuti ke mana kaki melangkah. Tiba-tiba terlihat 3 orang askar di kejauhan yang kemudian memanggil, padahal itu bukan lokasi yang tadi dilewati. Ternyata ada orang Maroko yang menemukan dompet tersebut dan melihat fotonya dan melihat kesamaan wajah. Jamaah itu pun tertunduk lemas, tidak bisa lagi bicara.

Penemu dompet tadi adalah atlet nasional Maroko, barangkali itu cara Allah untuk mengenalkan dengan orang Maroko.

Hidup berbekal taqwa. 

Wednesday, May 27, 2015

Tafsir Surat Al A’raf tentang Penyihir Fir’aun

Ceramah disampaikan oleh Ustadz Muhaimin.

Surat Al A’raf ayat 113 sampai dengan 126 menggambarkan perubahan kondisi spiritual para penyihir Fir’aun yang berubah total dalam waktu yang singkat.

Kisah ini merupakan lanjutkan dari kisah Nabi Musa pada surat As-syu’ara ketika Nabi Musa berdialog dengan Fir’aun, ketika Fir’aun meminta Nabi Musa menunjukkan kehebatannya sebagai Nabi. Nabi Musa menunjukkan tangannya yang bersinar seperti matahari, kemudian tongkatnya yang bisa berubah menjadi ular. Fir’aun menganggap Nabi Musa sebagai penyihir dan meminta untuk melawan penyihir kerajaan. Selain itu terdapat dialog tentang ketuhanan antara Fir’aun dan Nabi Musa.

Pada awalnya para penyihir hadir untuk bertanding melawan Nabi Musa dan mereka mengharapkan hadiah serta kedudukan. Namun setelah melihat mujizat Nabi Musa, yaitu tongkatnya berubah menjadi ular dan memakan ular penyihir, para penyihir mengetahui secara pasti bahwa hal itu bukan sihir, dan maka Nabi Musa adalah benar seorang Nabi.

Para penyihir pun secara spontan berubah menjadi beriman kepada Nabi Musa.

Digambarkan bahwa di suatu masa nanti seseorang dapat beriman di pagi hari, dan menjadi kafir di sore harinya. Karena memang hati sangat mudah berbolak-balik, mudah untuk mencintai, mudah juga untuk membenci. Maka ada doa untuk menetapkan hati, yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘aladdiinik.

Melihat kejadian ini, Fir’aun sangat marah. Selain kejadian ini, sebenarnya kemarahan Fir’aun juga disebabkan oleh rentetan kekalahan yang dialaminya dengan Nabi Musa.

Kekalahan pertama adalah sebagaimana pada surat Asy Syu’ara, yaitu ketika Nabi Musa tidak mengakui Fir’aun sebagai tuhan.
Kekalahan kedua, juga dalam surat Asy Syuara, ketika kalah pada dialog tentang ketuhanan dengan Nabi Musa.
Kekalahan ketiga, adalah ketika penyihir kerajaan kalah dengan Nabi Musa, ditambah dengan pengakuan para penyihir itu bahwa mereka beriman kepada Nabi Musa.

Fir’aun sangat marah dan menganggap kejadian tersebut sebagai tipu daya dari para penyihir itu, dan ia mengancam mereka dengan hukuman potong silang yaitu kaki kanan dan tangan kiri atau kaki kiri dan tangan kanan, yang dilanjutkan dengan penyaliban.

Sedikit tentang penjelasan arti kata “tsumma”.
Pada kisah ini digambarkan bahwa Fir’aun mengancam penyihir dengan hukuman potong silang, “tsumma” penyaliban.
“Tsumma” artinya berurutan, yang satu setelah yang lain, dengan terdapat jarak waktu.
Contoh kalimat yang lain, Eko “wa” Aki masuk ke mushalla. Penggunaan kata “wa” artinya bersamaan.
Kalimat kedua, Eko masuk, “fa” Aki masuk ke mushalla. “Fa” artinya berurutan dalam waktu yang sebentar.
Kalimat ketiga, Eko masuk, “tsumma” Aki. “Tsumma” artinya berurutan dengan jangka waktu cukup panjang.

Kembali ke penyiksaan Fir’aun kepada para penyihir, maka maknanya adalah setelah Fir’aun menyiksa mereka dengan potong silang beberapa lama, mereka pun disalib.

Pada ayat ke 125 para penyihir mengatakan bahwa mereka akan kembali ke Allah.

Hikmah dari ayat ini adalah bahwa setiap orang memiliki momen untuk kembali kepada Allah. Bagi para penyihir ini, adalah ketika mereka melihat mujizat Nabi Musa, yang mereka ketahui dengan pasti bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Artinya mujizat itu datang dari Tuhan, dan artinya Nabi Musa adalah benar seorang nabi.

Hikmah yang lain adalah bukti kebenaran dapat datang begitu saja tanpa diminta.

Pada ayat selanjutnya digambarkan para penyihir meminta kepada Allah “berikan kesabaran dan wafatkan kami dalam keadaan Islam atau berserah diri”.

Pada dasarnya, kita tidak boleh meminta untuk mati. Bila kita merasa menderita akan suatu penyakit, maka mintalah kesembuhan, dan bila kematian adalah lebih baik, maka wafatkan.

Dalam Islam, muslim bukan hanya umat Nabi Muhammad. Umat Nabi Musa pun disebut muslim, umat seluruh Nabi disebut muslim.
Pembedaan antara Islam, Kristen, dan  Yahudi adalah pada sistem kemasyarakatan.

Manusia tidak dibiarkan mengatakan dirinya beriman lalu tidak diuji. Dalam hidup, semua adalah ujian. Yang terpenting adalah mana amalan yang terbaik.

Bagi kita umat Nabi Muhammad, amalan terbaik adalah mujizat Nabi Muhammad yaitu Al Qur’an. 

Friday, May 15, 2015

Kitab Al Adabul Mufrad 14-16

Kajian dzuhur disampaikan oleh Ustadz Ahmad Ridwan, Lc.

Kitab Al Adabul Mufrad berisi Akhlak dan Adab seorang muslim, kali ini sampai pada urutan ke 14.


Bagian ke 14 tentang Berbakti kepada Orang Tua.

Hadits Rasulullah kurang lebih sebagai berikut :
Pada suatu hari seorang sahabat Rasulullah menaiki tunggangan bersama Abu Hurairah, lalu sampai di Al Atiq (mudah-mudahan tidak salah dengar), di mana tempat itu adalah sebuah pasar kambing. Abu Hurairah memasuki tempat tersebut dan berteriak mengucapkan salam kepada ibunya, karena di sana adalah wilayah tempat ia tinggal. Ibunya menjawab salam tersebut, lalu Abu Hurairah menjawab kembali dengan  “Semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau merawatku ketika kecil”, dan ibunya menjawab kembali dengan, “Semoga Allah meridhaimu karena engkau telah berbakti.”

Hal ini menggambarkan interaksi Abu Hurairah dengan ibunya.
Padahal ibunya ini di awal adalah seorang kafir, yang berjanji tidak akan berteduh dan tidak akan makan dan minum sampai Abu Hurairah keluar dari Islam.

Lalu Abu Hurairah meminta kepada Rasulullah agar mendoakan kepada Allah agar memberikan hidayah bagi ibu Abu Hurairah.

Abu Hurairah pernah dipanggil oleh ibunya, dan beliau menjawab “Labbaik wa sa’daik”. Ini adalah jawaban terbaik terhadap sebuah panggilan, seperti jawaban atas panggilan haji dari Allah.
Namun kemudian Abu Hurairah merasa bahwa ia telah bersuara lebih tinggi dari ibunya, maka ia pun ber-istighfar. Maka Abu Hurairah memenuhi panggilan ibunya, dan setelah selesai ia pergi memerdekakan 2 orang budak sebagai pengganti dosa karena mengangkat suara lebih tinggi.

Dalam surat Luqman, Luqman berkata bahwa seburuk-buruk suara adalah suara keledai. Dan suara yang lebih tinggi dari suara orang tua adalah lebih buruk dari itu.

Seorang Ulama Hadits, Zubhi, mengatakan bahwa Abu Hurairah pernah menunda haji karena berbakti  pada orang tua.

Abu  Hurairah nama sebenarnya adalah Abi Abdu Umar, yang sebelum muslim bernama Abi Syams, yang setelah muslim diubah oleh Rasulullah menjadi Abdullah.
Abu Hurairah artinya laki-laki yang menyukai anak kucing. Dikisahkan suatu hari Abu Hurairah membawa seekor anak kucing di dalam tangan gamisnya ketika sedang menggembalakan kambing.

Abu Hurairah masuk Islam di tahun 6-7H, dan 4 tahun bertemu Rasulullah.
Beliau adalah perawi hadits terbanyak, karena senantiasa mengikuti Rasulullah, kecuali pada waktu perang.
Abu Hurairah adalah salah satu sahabat yang jarang ikut perang.

Abu Hurairah termasuk kategori ahlus suffah, yang tinggal di masjid.
Awalnya masjid tidak beratap, kecuali hanya di bagian tempat imam dan beberapa shaf depan. Ketika kiblat berpindah, maka bagian depan ini menjadi bagian belakang masjid, dan di sinilah Abu Hurairah tinggal.

Beliau sangat zuhud, tidak memiliki banyak uang, dan mengandalkan hidupnya melalui doa kepada Allah. Di periode Muawiyah bin Abu Sufyan beliau ditunjuk menjadi gubernur.

Bila Abu Hurairah sedemikian berbaktinya kepada orang tuanya padahal orang tuanya sebelumnya musyrik, maka kita lebih-lebih lagi, karena orang tua kitalah yang mengajarkan Islam kepada kita.

Kisah lain adalah tentang Muhammad Ibnul Munkadir dan adiknya, Umar Ibnul Munkadir.
Muhammad Ibnul Munkadir berkata, “Aku bermalam di rumah ibuku dan semalam suntuk memijat kaki ibuku. Sedangkan Umar, sepanjang malam melakukan shalat tahajjud. Dan aku tidak mau pahalaku ditukar dengan pahala Umar, karena sesuai Al Isra 23, setelah mentauhidkan Allah, selanjutnya adalah berbuat baik kepada kedua orang tua.

Kisah lain adalah Ibu Abdullah bin Mas’ud, yang di suatu malam meminta kepada Abdullah bin Mas’ud untuk mengambilkan air. Karena cukup lama, akhirnya ibu beliau tertidur. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku lalu berdiri di samping ibuku. Jika aku lelah, aku duduk. Bila aku mengantuk ketika aku duduk, aku kembali berdiri. Sampa tiba menjelang waktu subuh, ibuku bangun, lalu mengambil air yang aku bawa dan meminumnya.”

Kisah lain adalah Kihmiz ibn Yazid, seorang ulama yang sering menggelar kajian di rumahnya. Sampai suatu hari ibunya berkata bahwa beliau tidak menyukai teman-teman beliau yang sering datang menghadiri kajian. Maka ketika teman-temannya datang, mengucapkan salam, Kihmiz menjawab salam dan langsung berkata “Irjiu, pergilah”. Teman-temannya bertanya, “Mengapa?” Kihmiz menjawab, “Ibuku tidak suka dengan teman-temanku.” Mereka pun pergi.

Kisah lain adalah Abdullah bin Abbas, ketika ada seseorang yang membunuh wanita yang menolak pinangannya. Kepada orang tersebut, Abdullah bin Abbas bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?” Orang tersebut menjawab, “Tidak”. Sahabat yang lain bertanya, “Mengapa engkau menanyakan hal itu wahai Abdullah bin Abbas?” Abdullah bin Abbas menjawab, “Sebaba aku tak tahu perkara lain yang lebih baik daripada bakti anak kepada orang tua.”


Bagian ke 15 tentang Durhaka kepada Orang Tua

Dari Abdurrahman bin Abi Baqrah, Rasulullah bersabda :
Maukah aku kabarkan dosa paling besar (diucapkan Rasulullah 3 kali), yaitu syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua (lalu Rasulullah berdiri dari yang sebelumnya duduk), dan ketahuilah, kesaksian dusta. Rasulullah mengulang-ulang terus menerus sampai kami berharap agar beliau diam.

Rasulullah mengulang-ulang karena mengingatkan atas dosa yang paling besar tersebut, yang seringkali dianggap remeh. 

Melihat contoh-contoh kisah bakti para sahabat kepada orang tuanya, bila dibandingkan dengan masa kini, misalnya pada contoh Kihmiz bin Yazid, mungkin bila kita mengalami hal yang sama, kita akan bertanya, “Memangnya kenapa Bu?” Dan kemudian ketika teman-teman kita datang, kita malah pergi dengan mereka.

Perkataan dusta seringkali dilakukan pada humor. Ketika kita berdusta agar orang-orang tertawa dengan humor yang kita sampaikan.

Padahal Rasulullah bersabda : “Aku jamin surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan walaupun benar, mereka yang meninggalkan canda yang berdusta.”

Salah satu perawi hadits tentang durhaka kepada orang tua di atas (maaf namanya tidak tertangkap) adalah seorang hafizh hadits, yang hafal minimal 100.000 hadits, lengkap dengan sanadnya. Di masa sekarang sepertinya sudah tidak ada lagi hafizh hadits seperti ini.

Di zaman yang maju ini, kecanggihan berbagai peralatan dan gadget menyebabkan hati kita menjadi keras. Bila ada yang sering berkata kasar dan memiliki hati yang keras, cobalah untuk mengevaluasi lagi bagaimana interaksi dengan gadget. Perbaiki interaksi dengan anak dan orang tua. Perbanyak sentuhan pada anak, sentuhan pada orang tua, di tangan, badan, dan kakinya. Di sanalah ada rahmah antara anak dan orang tua.

Pelajaran dari Abu Hurairah, kita jangan sampai mengangkat suara kita kepada orang tua. Bila orang tua kita pendengarannya sudah melemah, tetap rendahkan suara kita, gunakan bahasa isyarat untuk membantu, atau berbisik kepada orang tua.


Bagian ke 16 – Banyak Bertanya & “Katanya”

Pada hadits ini, Al Mughirah diminta oleh sahabat, “Tuliskan apa yang kau dengar dari Rasulullah”, Al Mughirah lalu mendikte, “Aku mendengar Rasulullah berkata, janganlah kalian banyak “sual” (meminta atau bertanya) dan Rasulullah melarang “qila waqal” (konon, katanya).

Berkaitan dengan Muawiyah bin Abi Sufyan. Khawarij menganggap kafir karena beliau menentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Padahal bagi ahlus sunnah, beliau adalah salah satu sahabat yang diridhai. Bahkan dalam salah satu hadits, Rasulullah berkata, semoga Allah mengampuni orang yang menyerang Konstantinopel, yang dimaksud adalah Muawiyah bin Abi Sufyan yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Yazid bin Muawiyah.

Al Mughirah bin Syurbah adalah sahabat Rasulullah yang memiliki budak Abu Lu’lu’ yang kemudian menikam Umar bin Khattab.

Dalam hadits tersebut Rasulullah melarang anak banyak meminta pada orang tua, termasuk juga meminta kepada orang lain. Pada hadits lain dikatakan bahwa orang yang sering meminta pada orang lain, di akhirat nanti wajahnya tidak berdaging.

Perumpamaan lain untuk keburukan di akhirat misalnya, orang yang tidak adil kepada istri-istrinya, di akhirat bahunya akan miring sebelah. Yang lain lagi, orang yang mendahului imam, di akhirat kepalanya akan menjadi kepala keledai.

Hendaklah kita tidak bertanya, yang dengan pertanyaan itu, orang akan mencibir kepada kita.
Atau seperti Bani Israil ketika mendapat perintah untuk menyembelih sapi.

Di akhirat nanti, umurnya digunakan untuk apa, ilmunya digunakan ke mana, dan khusus untuk harta, diperoleh dari mana dan digunakan ke mana.

Berkaitan dengan “konon dan katanya” hendaklah kita menghindarkan mendengarkan berita yang belum jelas kepastiannya, seperti pada infotainment.


Tuesday, May 5, 2015

Memahami Hukum Wajib

Ceramah Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Syaiful Bahri, Lc.

Wajib adalah hal yang dituntut secara tegas oleh Allah untuk dilakukan oleh manusia. Maka hal yang bersifat Wajib harus dilakukan, pelakunya mendapat pahala, dan yang tidak melakukan menjadi berdosa.

Pembagian Wajib berdasarkan Waktu :

Pertama, Muwassa’ yang berasal dari kata Waasi’ yang artinya luas.
Muwassa’ artinya waktunya terbentang luas. Rentang waktu yang Allah berikan lebih luas daripada waktu untuk melaksanakan ibadah tersebut. Sehingga yang dalam waktu yang Allah berikan, seseorang dapat mengerjakan ibadah lain yang sejenis.

Misalnya shalat, bersifat muwassa’.
Shalat dzuhur dapat dikerjakan sejak adzan dzuhur sampai dengan sekitar jam 3.
Di dalam waktu shalat dzuhur, seseorang dapat melakukan shalat lain misalnya shalat gerhana, shalat syukrul wudhu, shalat istisqa, dll.

Contoh lain adalah Qadha Puasa Ramadhan bersifat muwassa’, dapat dilakukan sejak syawal sampai sya’ban tahun berikutnya.

Kedua, Mudhayyaf, yang berasal dari kata Dhayyifun, yang artinya sempit.
Mudhayyaf artinya rentang waktunya sempit. Rentang waktu yang diberikan dan waktu untuk menjalankan ibadahnya sama panjangnya. Sehingga dalam waktu tersebut tidak bisa dilakukan ibadah lain, hanya bisa melakukan ibadah itu saja.

Misalnya Puasa Ramadhan. Di bulan Ramadhan seseorang hanya bisa melaksanakan puasa Ramadhan, tidak bisa melaksanakan puasa lainnya.

Dampak dari pembagian hukum wajib berdasarkan waktu adalah pada pentingnya niat secara spesifik.

Contoh kasus :
Bila seseorang pada bulan Ramadhan berpuasa tanpa menyebutkan niat secara spesifik, sahkah puasanya?
Puasanya sah, karena Puasa Ramadhan bersifat Mudhayyaf, di bulan Ramadhan hanya bisa dilakukan Puasa Ramadhan, maka dengan niat yang tidak spesifik, akan dianggap sebagai Puasa Ramadhan.

Ketiga, Dzusyibhain, yaitu bersifat Muwassa’ tetapi juga Mudhayyaf.

Contohnya Ibadah Haji.

Muwassa’ karena Wajib dari Allah untuk waktu yang panjang sejak Syawal sampai Dzulhijjah, sekitar  3 bulanan.
Namun inti Ibadah Haji ada di tanggal 8-13 Dzulhijjah.

Efek Hukum Fiqih dari adanya Perbedaan Wajib dari Sisi Waktu

Pertama, Wajibkah seseorang untuk menentukan niat tertentu untuk suatu ibadah, atau cukup berniat secara umum?

Untuk Shalat, karena Shalat bersifat Muwassa’, maka melaksanakan wajib berniat dan menentukan niatnya, karena dalam waktu tersebut dapat dilakukan ibadah shalat lainnya.
Dan jika sudah terlanjur shalat padahal belum menetapkan niat secara spesifik, maka shalat harus diulang.

Bila bersifat Mudhayyaf, maka niat dapat dilakukan secara umum.

Untuk Puasa Senin Kamis, Daud, Ayyamul Bidh, walaupun sunnah tetapi bersifat Muwassa’, maka niat harus spesifik.

Dengan pembedaan ibadah menjadi bersifat Muwassa’ maupun Mudhayyaf, menyebabkan suatu ibadah dapat diberikan 2 pahala.

Misalnya untuk Shalat yang bersifat Muwassa’, bila seseorang melakukan shalat di awal waktu, maka ia mendapatkan pahala shalat dzuhur dan pahala shalat di awal waktu.
Bila ia tidak memiliki udzur syar’i namun menunda shalat dzuhur hingga jam 3 sore, maka dipertanyakan kelalaiannya, baginya dosa atas kelalaian tersebut.

Puasa Ramadhan bersifat Mudhayyaf, bagi yang melaksanakan mendapatkan 2 pahala yaitu pahala puasa Ramadhan dan fadhilah kemuliaan bulan Ramadhan.

Bila pada bulan Ramadhan seseorang berniat untuk puasa nadzar, apakah puasanya sah?
Puasanya tidak sah, karena puasa yang dibolehkan dalam bulan Ramadhan hanya puasa Ramadhan. Dan niat puasa nadzar-nya tidak bisa diubah menjadi puasa Ramadhan.

Kedua, bila seseorang meninggalkan kewajiban tanpa udzur kemudian wafat sebelum melaksanakan kewajiban tersebut, apakah ia berdosa?

Misalnya seseorang berniat shalat asar di rumah, namun di perjalanan ke rumah ia mengalami kecelakaan lalu wafat.
Dari segi waktu, karena shalat bersifat Muwassa’, maka ia memang diperkenankan untuk menunda shalat karena waktunya memang masih ada, dan ia memang sudah berniat untuk shalat. Sehingga ia tidak berdosa karena tidak shalat.
Namun dosa baginya karena kelalaian menunda shalat yang sebenarnya bisa dilakukan di awal waktu.

Misalnya seseorang belum meng-qadha puasa Ramadhan, lalu sebelum meng-qadha ia wafat. Apakah berdosa? Apakah wajib dibadalkan?

Meng-qadha puasa bersifat Muwassa’, sehingga ia tidak berdosa bila menundanya, selama ia memang berniat untuk melakukannya. Bila ia wafat, maka ia berhutang kepada Allah. Dosanya bukan karena tidak meng-qadha, melainkan karena kelalaiannya menunda ibadah yang bisa ia lakukan segera. 

Apakah perlu dibadalkan?
Sebagian ulama berpendapat bahwa karena waktunya panjang, dan ia sebenarnya sudah berniat, maka ia tidak berdosa karena tidak melaksanakan, sehingga tidak  perlu dibayarkan.
Ada hadits yang menyatakan bahwa bila seseorang mati dan punya hutang puasa hendaklah walinya membayarkan.
Yang dimaksud dalam hadits ini adalah hutang nadzar.
Sebab puasa Ramadhan diwajibkan oleh Allah, bila tidak dilaksanakan hutangnya kepada  Allah.
Sedangkan puasa nadzar diwajibkan oleh orang itu sendiri, hutang inilah yang harus dibadalkan walinya.

Shalat tidak dibadalkan karena bersifat Muwassa’, luas waktunya.

Bagaimana dengan membadalkan haji?
Ibadah haji bersifat kedua-duanya yaitu Muwassa juga Mudhayyaf.

Bila pada suatu waktu seseorang sudah memiliki kecukupan harta dan ilmu, maka pada waktu tersebut sudah jatuh baginya kewajiban haji. Bila hingga wafat ia belum sempat menunaikan ibadah haji, maka dibadalkan oleh keluarganya dengan mengambil dari harta yang ditinggalkannya.


Bila seseorang seumur hidupnya tidak mampu, maka tidak jatuh baginya kewajiban untuk berhaji, maka tidak perlu dibadalkan. 

Tuesday, April 28, 2015

Menyambut Bulan Rajab

Ceramah Dzuhur disampaikan oleh Ustadz Hilman Rosyad.

Kita semua sebenarnya sebentar lagi akan mati, maka mari kita maksimalkan waktu yang tersisa dengan memperbanyak ibadah dan amal baik.

Memasuki bulan Rajab, yang perlu diingat adalah bahwa dalam bulan Rajab terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj.

Tidak perlu memperdebatkan apakah dalam Isra’ Mi’raj yang diperjalankan adalah ruh atau jasad Rasulullah, namun sebagian besar ulama menyatakan bahwa yang diperjalankan adalah ruh dan jasad Rasulullah.

Ada tiga hal yang dapat menjadi pelajaran dari Isra’ Mi’raj di bulan Rajab.

Pertama, dari perspektif Kesejarahan.

Tahun tersebut adalah Tahun Kesedihan bagi Rasulullah, karena wafatnya dua orang tercinta beliau yaitu istri beliau, Khadijah dan paman beliau, Abu Thalib.

Abu Thalib memelihara Rasulullah sejak beliau berusia 8 tahun. Abu Thalib sebenarnya memiliki kehidupan yang sulit. Beliau dapat dikatakan termasuk miskin, dengan anak yang banyak. Namun kecintaan beliau pada Rasulullah begitu mendalam. Dan sejak memelihara Rasulullah terasa banyak keberkahan bagi keluarga beliau.

Setelah wafatnya Abu Thalib, kaum Quraisy makin berani melakukan kekerasan, sehingga dapat dikatakan dakwah Rasulullah saat itu tidak berkembang lagi. Bahkan ketika beliau ke Thaif, beliau dihinakan bahkan sampai dilempari dengan batu.

Sebagai manusia biasa, Rasulullah dalam kondisi yang remuk redam, dan dalam doanya, beliau merasa gagal mengemban amanah sebagai utusan Allah.

Namun Allah menganggap beliau berprestasi, karena tetap istiqamah berdakwah, tidak tergiur dengan bujukan kaum Quraisy, dan tetap tabah dalam menghadapi kekerasan.

Maka sebagai reward, Allah berikan Isra’ Mi’raj kepada Rasulullah. Point yang penting adalah walaupun Rasulullah merasa lelah, capek, dan gagal, Allah tidak melihat hasil, Allah melihat proses dengan kesabaran menghadapi berbagai kesulitan.

Setelah pulang dari Isra’ Mi’raj, Rasulullah merasa lebih nyaman, lebih optimis, lebih bahagia. Isra’ Mi’raj memompa semangat baru bagi Rasulullah untuk melanjutkan perjuangan dan merencanakan perjalanan hijrah.

Pelajaran Kedua, adalah berkaitan dengan respon Allah terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj.

Menjelang Isra Mi'raj, Allah menurunkan surat Adh Dhuha, di mana Allah menenangkan Rasulullah atas situasi yang sedang dihadapi.

Al Qur’an Allah turunkan melalui malaikat Jibril sebagai respon atas urusan yang dihadapi Rasulullah.

Respon Allah terhadap Isra Mi'raj, sebagaimana pada surat Al Isra’ ayat 1, hanya terhadap Isra’ saja.
Padahal secara logika, yang lebih mengagumkan adalah perjalanan Mi’raj, yang menembus tujuh langit, adanya dialog dengan malaikat Jibril tentang surga, neraka, dan penghuninya, dan akhirnya Rasulullah bertemu dengan Allah.

Sedangkan Isra’, sebenarnya “hanya” perjalanan di bumi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dengan tidak begitu banyak kisah sepanjang perjalanan, dan di Masjidil Aqsha Rasulullah shalat 2 rakaat.

Sebagaimana dalam surat Al Isra’ ayat 1 tersebut, dinyatakan tentang wilayah Palestina yang diberkahi.

Bila dipertimbangkan secara logika, apa perlunya Allah melakukan “transit” bagi Rasulullah ke Masjidil Aqsha di Palestina, padahal mudah saja bagi Allah untuk langsung menaikkan Rasulullah dari Masjidil Haram.

Di sinilah Allah menyimpan rahasia dan tujuan, agar kita tidak pernah lupa dengan Palestina.

Palestina sempat dikuasai kaum Nasrani selama 6-7 abad, yang kemudian ditaklukkan oleh Shalahuddin Al Ayyubi. Dan Shalahuddin Al Ayyubi berpesan agar umat Islam mempelajari syariah yang benar, jangan sampai Syiah bangkit kembali.

Kemudian Islam melemah dan akhirnya Yahudi berkuasa atas Palestina sejak 1917. Tahun 1948 mereka mulai memproklamirkan negara Israel.

Menurut perkiraan, dalam 3 tahun lagi Islam akan kembali berkuasa di Palestina. Seperti yang dinyatakan pada defile pasukan Izuddin Al Qassam. Dari berbagai serangan Israel, banyak korban terutama kaum sipil. Namun pasukan Izuddin Al Qassam jauh lebih sedikit yang syahid dibandingkan dengan tentara Israel yang tewas.

Surat Al Isra’ ayat 2, 3, 4, 5, 7 menjelaskan tentang Bani Israil.

Wilayah Palestina dan sekitarnya akan menjadi pusat pertarungan kafir dan Islam. Pada krisis Irak sudah 2jt orang tewas, Suriah 1jt orang, Libya dan Mesir sekitar 200rb orang. Sungguh ini adalah konspirasi untuk mempertahankan Israel.

Namun bisa kita lihat bahwa kekuatan Israel semakin menurun. Banyak pasangan Israel yang memilih untuk tidak punya anak, sedangkan di Palestina, pasangan memiliki banyak anak. Setiap tahunnya Palestina menghasilkan 20rb huffazh (penghafal Al Qur’an).

Palestina tidak sejak dulu berada di jalan  Islam yang benar. Di tahun 60an, Palestina sama saja dengan negara lain dan bersifat sekuler. Hamas saat itu tidak bersedia untuk memimpin, karena masyarakat belum siap. Mereka memulai perjuangan dengan membangun sekolah, dan di tahun 1988 Hamas mulai memimpin dan memperbaiki masyarakat dengan Islam yang benar.

Pelajaran Ketiga, tentang kewajiban Shalat yang diperintahkan pada Isra’ Mi’raj.

Atas perjalanan Isra’ Mi’raj, banyak umat Islam yang ragu atas kebenarannya. Namun Abu Bakar Ash Shiddiq langsung membenarkan.

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan syariah shalat 5 waktu.

Seluruh syariah yang lain yang disampaikan melalui Al Qur’an, disampaikan oleh Allah melalui malaikat Jibril. Setiap huruf dalam Al Qur’an disampaikan melalui malaikat Jibril.

Kecuali shalat.
Shalat langsung disampaikan oleh Allah.
Dan tidak disampaikan lagi dalam Al Qur’an.
Ayat dalam Al Qur’an tentang shalat banyak, bahkan tentang wudhu, tetapi tidak ada pembahasan tentang shalat fardhu yang 5 waktu.

Maka memasuki bulan Rajab, di mana di dalamnya terdapat Isra’ Mi’raj, yang pada saat itu Rasulullah menerima perintah shalat, kita ingat kembali kewajiban shalat.

Shalat sehari-hari kita lakukan. Terus menerus, Tidak ada jeda. Tidak ada rukhsakh untuk meninggalkan, hanya ada rukhsakh untuk mempersingkat atau menggabungkan waktu.

Aturan shalat sangat rigid dan kaku, dengan hadits Rasulullah yang mengatakan, “Shalatlah sebagaimana aku shalat.”

Namun walaupun shalat dilakukan terus menerus, kita tidak merasa bosan dan tidak ada efek samping. Justru banyak manfaat dan benefit dari shalat, yaitu :
1.       Sarana dzikir yang efektif
2.       Penentram jiwa
3.       Menjaga dari perbuatan keji dan munkar
4.       Merupakan indicator dari baik atau buruknya amal seseorang

Di akhirat nanti, yang pertama dihisab adalah shalat.

Bila shalatnya baik, maka amal yang lain akan baik. Perilaku kepada orang tua, suami, istri, anak, tetangga, cara mencari nafkah, menggunakan harta, bersedekah, berhaji dan berumrah.
Bila shalatnya berantakan, maka berantakan pula amal yang lainnya. 

Thursday, April 9, 2015

Cahaya Kematian

Dicopy paste dari materi yang disampaikan oleh Ustadzah Sinta Santi.

Jika berbicara mengenai kematian, maka pastilah semua orang yang berakal kurang menyukainya. Jika bisa, manusia ingin hidup selamanya. Oleh karena itulah, manusia membenci hal-hal yang dapat menjadi pembinasa bagi kehidupannya, termasuk kematian.

 “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” QS 2:96.

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (ar-Rahman: 26-27).

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."(al-Jumu’ah: 8).

Kematian pasti akan terjadi dan akan menimpa semua makhluk yang bernyawa. Akan tetapi kapan kematian atau ajal itu akan terjadi, semua makhluk tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Karena ia merupakan misteri dan rahasia Ilahi. Oleh karenanya, manusia yang cerdas akan selalu mengevaluasi diri dan melakukan persiapan untuk hari keberangkatannya.

“Yang mengikuti si mayyit ada tiga perkara; keluarga, harta dan amalnya. Yang dua kembali dan yang masih tetap (bersamanya) hanya satu. Keluarga dan hartanya kemabali dan sementara amalnya kekal bersamanya.” Muttafaqun ‘Alaih.

“Orang yang cerdas/kuat (mensikapi hidup) adalah yang selalu menghisab dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati. Orang yang lemah adalah yang mengekor hawa nafsunya dan berandai-andai terhadap Allah.” HR At-Tirmidzi.

Ada Empat Perenungan Seputar Kematian :

Pertama, Waktu kedatangannya yang tidak diketahui.

Kekhawatiran akan datangnya sang tamu yang tak diundang ini  hendaknya terus dihayati dan dirasakan setiap saat. Hal ini disebabkan waktu kedatangannya yang ghaib, sehingga diperlukan kewaspadaan yang terus menerus. Hal yang berbeda tentu akan terjadi apabila sebelumnya seseorang itu tahu kapan waktu kedatangannya, dan atau diberitahu kapan ia  akan datang.  Hal ini tentu akan menyebabkan seseorang itu mempersiapkan kedatangannya.

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat;  dan  Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.  Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan  pasti) apa  yang  akan  diusahakannya  besok  Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan  mati.  Sesungguhnya  Allah  Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”  (Luqman: 34).

Kedua, Kematian merupakan sudden death status seseorang, apakah ia meninggal sebagai seorang mukmin atau sebaliknya.

Kehadiran setan pada saat menjelang kematian seorang manusia sangatlah berbahaya. Sebab, hal inilah yang menjadi tolok ukur amal seseorang. Dalam sebuah riwayat Rasulullah saw. pernah bersabda, “Amal itu ditentukan di saat penutupannya.” Maksud dari hadist ini adalah keseluruhan amalan seseorang akan dinilai pada saat kematiannya atau bagaimana ia mengakhiri hidupnya. Disinilah setan bermain. Ia ingin setiap muslim atau mukmin yang sedang menghadapi kematiannya, akhirnya mati dalam keadaan kufur.

Ketiga, Mewaspadai Su’ul Khatimah.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba beramal dengan amalan ahli surga, hingga jarak antara ia dengan surga hanyalah sejengkal. Kemudian, berlakulah ketentuan Allah atas dirinya, dan  ia pun beramal dengan amalan ahli neraka, yang menyebabkannya terjerumus ke dalamnya.”

Setiap muslim hendaknya senantiasa mewaspadai hal ini, hingga lahirlah dalam dirinya rasa kekhawatiran jika hal tersebut menimpanya. Hal ini akan mendorongnya untuk lebih mengontrol perilakunya, dan menimbulkan rasa harap-harap dan cemas terhadap Allah SWT. Rasulullah  saw. mengajarkan satu doa kepada kita agar terhindar dari akhir yang buruk itu, “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada akhirnya, sebaik-baik amalku pada penghabisannya, dan sebaik-baik hariku pada saat aku berjumpa dengan-Mu.”

Keempat; Beratnya Menghadapi Sakratul Maut

Al-Qur`an menggambarkan keadaan sakratul maut ini dalam surat al-Qiyamah, ayat 29 dengan ungkapan, “Wal taffatis saaqu bissaaqi”, yang artinya adalah ‘syiddatul baalighah ‘indalmauti’ atau kedahsyatan, tekanan, ketakutan, kesakitan, himpitan, dan berbagai keadaaan dan perasaan yang tidak enak, semua  ini bercampur aduk menjadi satu di saat menjelang kematian. Bahkan, menjelang wafatnya, Rasulullah saw. pun merasakan beratnya menghadapi sakratul maut. Aisyah ra. berkata, “Rasulullah saw. sampai membasuh wajahnya dengan air sambil berkata, “Tiada tuhan melainkan Allah, sesungguhnya pada kematian itu ada sakaratnya.”

Cahaya Kematian ada Empat :

  • Amal Saleh, Segala ucapan dan perbuatan seseorang yang diridhai dan dicintai Allah SWT, baik yang berkaitan dengan dimensi Aqidah, Ibadah, mu’amalah, sulukiah dan amal-amal kebaikan lainnya.
  • Sedekah Jariah, Sedekah yang bersifat permanen dan terus menerus pemanfaatannya atau yang disebut dengan waqaf abadi seperti tanah, bangunan, pekarangan, usaha (hotel, mini market, warnet dll), uang tunai dll.
  • Ilmu Yang Bermanfaat, Ilmu yang kita ajarkan kepada orang lain dan selanjutnya ia melaksanakannya, mengembangkannya dan mengajarkannya kepada yang lain. Baik ilmu tersebut ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum yang bermanfaat bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat.
  • Anak Saleh Yang Berdo’a Untuknya, Anak-anak kita yang terdidik dan terbina yang senantiasa taat terhadap nilai-nilai kebenaran Islam, selalu berbuat kebaikan dan mendo’akan kita setelah wafat kita.

 Semoga cahaya-cahaya kematian itu milik kita.