Showing posts with label bayi baru. Show all posts
Showing posts with label bayi baru. Show all posts
Friday, May 15, 2015
Wednesday, November 7, 2012
Siap Rawat Gabung (Rooming In)?
Saat ini saya sedang hamil sekitar 20 minggu. Kehamilan
sebelumnya sudah cukup lama, 4-11 tahun yang lalu, sehingga banyak “trend” yang
sudah berubah, yang Alhamdulillah ke arah yang baik.
4 tahun lalu sudah mulai trend IMD dan ASI Eksklusif. Dokter
mendukung IMD, suster tidak menawarkan susu formula, kantor menyediakan ruang
pompa ASI, sharing milis tentang persiapan ASI eksklusif untuk ibu bekerja sangat banyak. Alhamdulillah
anak saya yang ketiga bisa ASI sampai 2 tahun, berbeda dengan dua kakaknya yang
hanya kenal ASI sampai 3-4 bulan saja, di masa “kegelapan” 10-11 tahun yang
lalu.
Sejalan dengan program ASI Eksklusif, maka sekarang semakin
digalakkan rawat gabung (rooming in). Yaitu bayi dirawat dalam kamar yang sama
dengan ibu, untuk memastikan ibu dapat memberikan ASI sesering yang bayi
butuhkan. Tidak perlu menunggu bayi menangis terlalu lama, yang malah akan
menyulitkan bayi yang masih belajar menyusui. Keterikatan ibu dan bayi pun
lebih cepat terjalin, karena interaksi yang lebih intensif.
Sebenarnya, dari dulu pun sudah ada mekanisme rawat gabung,
tetapi sepertinya belum terlalu digalakkan. Terbukti 3 anak saya tidak ada yang
rawat gabung. Apa saya yang kurang aktif meminta ya?
Jika dibandingkan dengan rawat terpisah, maka ada
konsekuensi dari rawat gabung. Yaitu, ibu harus menangani sendiri seluruh
kebutuhan bayinya, tidak hanya ASI. Ibu harus mengganti popok ketika bayi BAK dan
BAB, bahkan harus memandikan bayi. Ada
beberapa RS yang tetap membolehkan suster membantu mengganti popok dan
memandikan bayi, tetapi ada yang “full lepas tangan” :-)
Untuk yang full lepas tangan, mungkin akan memberatkan untuk
ibu yang baru melahirkan ya? Apa lagi masih kesakitan dan lelah seusai
melahirkan dan banyak tamu yang datang menjenguk.
Saya agak “tegang” juga menghadapi kelahiran anak saya
nanti. Apakah saya akan rawat gabung? Atau tidak? Kalau ya, bisakah saya? Apa
lagi usia sudah senja *halah :-) Mungkin saya ajak babysitter untuk ikut menginap di RS ya? *dasar ibu pemalas :-)
Kita tunggu saja 4-5 bulan ke depan yaa :-)
Ada yang punya pengalaman rawat gabung? Boleh dooong di-share..
Sharing pengalaman yang bagus-bagus supaya ibu-ibu termotivasi :-) Atau yang jelek juga ngga apa-apa, supaya para ibu siap dengan berbagai kondisinya.. :-)
Monday, October 1, 2012
Anak Tidak Mau Dengan Pengasuh Baru
Ketika terjadi pergantian pengasuh anak, kadang-kadang anak kita tidak mau dengan pengasuh baru tersebut. Jangankan diasuh, dimandikan, atau disuapi makan. Didekati saja kadang tidak mau. Mengapa demikian? Dari pengalaman saya, ada beberapa kemungkinan sebabnya, sebagai berikut.
Pertama, beberapa anak memang tidak mudah dekat dengan orang baru.
Kedua, kalau biasanya mau dengan orang baru, sekarang tidak, bisa jadi sudah pada tahap usia tertentu, sehingga yang dia mulai memilih untuk berinteraksi dengan orang baru.
Ketiga, kalau biasanya gampang dengan orang baru, mungkin selama ini orang barunya bukan pengasuh yang terus-menerus berinteraksi, tetapi dengan tamu / orang baru yang hanya bertemu sebentar, dengan "suasana gembira" yang agak berbeda.
Keempat, seringkali antara pengasuh dan anak ada "jodoh-jodohan" juga, jadi ada yang memang anaknya merasa tidak cocok, titik. Walaupun kita merasa pengasuhnya ini baik dan rajin. Dan sebaliknya, ada yang anak kita cocok, padahal kita tidak suka sama pengasuh tersebut :-)
Kelima, mungkin pengasuhnya kurang pengalaman cara mendekati anak. Pengasuh ang sudah pengalaman, biasanya sudah tahu kalau anak senang diajak main, diajak ngobrol, jadi anak merasa senang dengan pengasuh tsb. Kalau masih baru, walaupun dasarnya baik dan rajin, mungkin masih bingung apa yang harus dilakukan ketika berinteraksi dengan anak. Biasanya anak juga sensitif, bisa merasakan jika pengasuh merasa bingung / kurang nyaman, sehingga dia pun merasa tidak nyaman.
Keenam, mungkin masih dalam masa adaptasi atau perkenalan. Lama-lama kalau sudah ketemu "sambungannya", anak akan senang dengan pengasuhnya.
Ketujuh, yang mudah-mudahan tidak terjadi, anak memiliki pengalaman buruk dengan pengasuh tsb. Tetapi jika ini sebabnya, biasanya bukan sekedar ogah-ogahan, tapi anak akan benar-benar tidak mau bahkan menangis jika akan didekati pengasuh ini.
Kedelapan, kalau ogah-ogahannya karena lebih milih ibunya, ini mah biasa :-) Anak selalu lebih mau sama ibunya.. Perlu latihan dengan ibunya "menghilang" supaya dia mau sama pengasuhnya.
Solusinya, untuk pengasuh yang baru, amati dulu sampai sekitar satu atau dua minggu.. Kalau masih belum ada perkembangan, mungkin ada baiknya dicari pengasuh yang baru.
Jika memang anak biasanya lama beradaptasi dengan pengasuh baru, ada baiknya pergantian pengasuh direncanakan sebelumnya. Kepada setiap pengasuh yang bekerja pada kita, kita minta bahwa jika akan berhenti, agar menyampaikan informasi 1 bulan sebelumnya misalnya (seperti di tempat kerja, one month notice, hehehe.. ), sehingga kita bisa mencari pengasuh baru, sementara pengasuh lama masih ada. Dalam waktu tersebut anak bisa beradaptasi dahulu dengan pengasuh barunya.
Tentunya ada konsekuensi dari cara ini, yaitu biaya pengasuh yang dobel sementara waktu :-) Tetapi untuk kebaikan anak, tidak apa lah kita sedikit berkorban.
Demikian sharing hari ini, semoga bermanfaat :-)
Pertama, beberapa anak memang tidak mudah dekat dengan orang baru.
Kedua, kalau biasanya mau dengan orang baru, sekarang tidak, bisa jadi sudah pada tahap usia tertentu, sehingga yang dia mulai memilih untuk berinteraksi dengan orang baru.
Ketiga, kalau biasanya gampang dengan orang baru, mungkin selama ini orang barunya bukan pengasuh yang terus-menerus berinteraksi, tetapi dengan tamu / orang baru yang hanya bertemu sebentar, dengan "suasana gembira" yang agak berbeda.
Keempat, seringkali antara pengasuh dan anak ada "jodoh-jodohan" juga, jadi ada yang memang anaknya merasa tidak cocok, titik. Walaupun kita merasa pengasuhnya ini baik dan rajin. Dan sebaliknya, ada yang anak kita cocok, padahal kita tidak suka sama pengasuh tersebut :-)
Kelima, mungkin pengasuhnya kurang pengalaman cara mendekati anak. Pengasuh ang sudah pengalaman, biasanya sudah tahu kalau anak senang diajak main, diajak ngobrol, jadi anak merasa senang dengan pengasuh tsb. Kalau masih baru, walaupun dasarnya baik dan rajin, mungkin masih bingung apa yang harus dilakukan ketika berinteraksi dengan anak. Biasanya anak juga sensitif, bisa merasakan jika pengasuh merasa bingung / kurang nyaman, sehingga dia pun merasa tidak nyaman.
Keenam, mungkin masih dalam masa adaptasi atau perkenalan. Lama-lama kalau sudah ketemu "sambungannya", anak akan senang dengan pengasuhnya.
Ketujuh, yang mudah-mudahan tidak terjadi, anak memiliki pengalaman buruk dengan pengasuh tsb. Tetapi jika ini sebabnya, biasanya bukan sekedar ogah-ogahan, tapi anak akan benar-benar tidak mau bahkan menangis jika akan didekati pengasuh ini.
Kedelapan, kalau ogah-ogahannya karena lebih milih ibunya, ini mah biasa :-) Anak selalu lebih mau sama ibunya.. Perlu latihan dengan ibunya "menghilang" supaya dia mau sama pengasuhnya.
Solusinya, untuk pengasuh yang baru, amati dulu sampai sekitar satu atau dua minggu.. Kalau masih belum ada perkembangan, mungkin ada baiknya dicari pengasuh yang baru.
Jika memang anak biasanya lama beradaptasi dengan pengasuh baru, ada baiknya pergantian pengasuh direncanakan sebelumnya. Kepada setiap pengasuh yang bekerja pada kita, kita minta bahwa jika akan berhenti, agar menyampaikan informasi 1 bulan sebelumnya misalnya (seperti di tempat kerja, one month notice, hehehe.. ), sehingga kita bisa mencari pengasuh baru, sementara pengasuh lama masih ada. Dalam waktu tersebut anak bisa beradaptasi dahulu dengan pengasuh barunya.
Tentunya ada konsekuensi dari cara ini, yaitu biaya pengasuh yang dobel sementara waktu :-) Tetapi untuk kebaikan anak, tidak apa lah kita sedikit berkorban.
Demikian sharing hari ini, semoga bermanfaat :-)
Tuesday, August 14, 2012
Hamil di Usia 40 Tahun, Alhamdulillah
Dari beberapa artikel medis,
kehamilan di usia 40 tahun, tepatnya di atas 35 tahun, termasuk kehamilan
beresiko. Antara lain berkaitan dengan tekanan darah tinggi, kadar gula darah
ibu, dan obesitas. Bagi janin pun terdapat resiko yang lebih tinggi untuk cacat
bawaan dan down syndrome.
Itu dari sisi resiko, dan memang
artinya ibu yang hamil di usia 40 tahun harus lebih memperhatikan kehamilannya.
Saya coba tanya mommies di milis
AFB tercinta, apakah ada yang punya pengalaman hamil di usia 40 tahun, ternyata
ada beberapa, dan hasilnya baik-baik saja. Malah ada yang masih setir mobil sampai usia kehamilan 8 bulan, dan
tidak merasa kalau sedang hamil di usia 40 :-)
Ibu Martha Tilaar hamil kesemua
anaknya (empat anak) di usia 40-an. Aktris Gong Li lahir saat ibunya berusia 40
thn. Beberapa kerabat dan member milis AFB sendiri juga hamil dan melahirkan di usia 40 dengan
aman dan selamat.
Malah ada yang bilang, hamil di
usia 40-an menghasilkan bibit unggul, karena si ibu sudah sangat mature secara
psikis, sehingga lebih tenang dan sabar menghadapi si kecil nanti.. Hehehe,
semoga.. semoga..
Intinya, jangan terlalu khawatir,
tetap berpikir positif. Resiko perlu dipahami, tetapi jangan sampai terlalu
terpengaruh secara psikis, karena akan berpengaruh juga ke kondisi psikis bayi
dalam kandungan. Kalau ada masalah, jangan terpaku, segera alihkan, dan kembali
tersenyum :-)
Pasrah dan yakin dengan ketentuan
Allah, bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Perbanyak dzikir,
doa, shalawat, dan membaca Al Qur’an, di
sepanjang waktu yang bisa dilakukan. Bersyukur bahwa Allah masih memberikan
amanah untuk kita.
Jika dibandingkan dengan
kehamilan di usia yang lebih muda, apa lagi di usia sebelum 30-an, tentu akan
terasa berbeda, tentu lebih berat. Tetapi, yang penting tetap tenang,
menikmati, dan enjoy :-)
Perlu lebih banyak istirahat, jangan terlalu “pecicilan”. Namun sebaiknya tetap
aktif, jangan hanya diam di rumah tanpa kegiatan.
Untuk konsultasi dokter,
disarankan untuk ke DSOG Fetomaternal, yaitu ahli USG, agar perkembangan janin
dalam kandungan dapat terpantau secara intensif. Kalau bisa dicari DSOG yang
suportif dan menenangkan, agar ibu hamil merasa tenang setelah konsul.
Beberapa tetap menjalani prosedur
pemeriksaan seperti ibu hamil pada umumnya. Beberapa menjalani tes khusus di
usia 11 minggu (USG dan phit) atau 12-14 minggu untuk mengecek kemungkinan down
syndrome.
Untuk ASI pun, sebagian besar
sukses ASI Eksklusif sampai 2 tahun bahkan lebih. Prinsipnya masih sama dengan ibu
menyusui mana pun, tetap berpikir positif.
Jaga asupan nutrisi bayi, makan
makanan yang sehat dan bergizi, dan hindari stress.
Selamat menikmati kehamilan di usia 40 :-)
Selamat menikmati kehamilan di usia 40 :-)
Terima kasih buat Mom Ari, Mom Mei, Mom Inzi, Mom Venny,
Mom Lia, Mom Milfa, dan Mom Debby atas sharing-nya yaa.. :-)
Tuesday, July 17, 2012
3 Sikap Menyambut Ramadhan
Ceramah dari Ustadzah Eni, semoga bermanfaat.
Ketika Ramadhan datang, maka pertama yang perlu kita lakukan adalah bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhan. Banyak di antara kita yang tidak sempat lagi berjumpa dengan Ramadhan tahun ini.
Dan sungguh banyak nikmat yang kita sering tidak hitung, padahal sangat berharga. Kedipan mata yang kita sering abaikan, padahal ketika kita tidak bisa berkedip, maka mata akan kering dan rusak. Dan secara medis, jika kita tidak bisa berkedip, diperlukan usaha khusus agar mata senantiasa basah.
Kita harus senang berjumpa dengan Ramadhan. Dikatakan bahwa mereka yang senang, akan dibebaskan tubuhnya dari api neraka. Rasa senang lahir dari hati, terlihat dari wajah yang berseri-seri.
Yang kedua adalah sabar. Karena beribadah membutuhkan kesabaran. Sabar menahan nafsu, sabar melakukan tilawah, sabar bangun di malam hari. Lakukanlah dengan nikmat. Nikmatilah ibadah kita.
Bacaan terbaik adalah Al Qur’an, dan bacaan Al Qur’an terbaik adalah di dalam shalat. Maka perbanyaklah hafalan Al Qur’an. Dalam shalat sunnah boleh membaca Al Qur’an dengan memegang mushaf Al Qur’an.
Jadwal imsakiyah yang sering diedarkan ketika bulan Ramadhan, sebenarnya bukan hanya jadwal sahur dan berbuka puasa. Di sana ada seluruh jadwal shalat. Jadwal itu bisa menjadi lembar mutaba'ah, lembar perhitungan. Ketika kita mencoret 1 hari, kita lakukan evaluasi, dengan berlalunya 1 hari itu. Bagaimana ibadah kita? Apakah dosa kita sudah diampuni? Apakah kebaikan kita sudah diterima? Sahabat menangis di akhir Ramadhan, bagaimana dengan kita?
Ketiga, tunjukkan kualitas diri. Allah mengetahui iman dengan cara diuji. Hasil dari Ramadhan, dibina 1 bulan, menjadi manusia bertakwa, la'allakum tattaquun. Ramadhan adalah rangkaian tarbiyah Allah.
Ada kisah salah seorang sahabat yang hijrah ke Habasyah. Rasulullah berdakwah, lalu diintimidasi. Untuk menyelamatkan agama, maka sebagian muslim hijrah ke Habasyah, yang penduduknya beragama Nasrani. Karena ujian yang berat, salah seorang sahabat menjadi seorang Nasrani.
Sungguh agama harus diperjuangkan. Maka dalam doa, yang kita mintakan adalah keselamatan dalam agama, salamatan fid diin.
Agar kita menjadi pemenang, kita memerlukan persiapan. Agar kita menjadi pemenang yang Allah banggakan di akhir Ramadhan. Jaga pola makan, bangun pagi, buat pikiran yang sehat, karena hati lebih utama untuk membentuk kesehatan, fisik dan metabolisme akan terpengaruh.
Imam Ali berkata bahwa hal yang paling kusukai adalah berpuasa di hari yang terik. Subhanallah.
Dalam tarawih, usahakan jangan sampai menguap. Karena setan akan tertawa ketika seseorang menguap dalam shalatnya. Tahan, sampai menangis pun, tetap tahan. Jangan pernah menunda tarawih.
Lakukan malam itu juga. Jangan berikan peluang pada setan.
Dalam shalat berjamaah, anak dan wanita haid memutus shaf. Karena itu wanita haid, yang memang dianjurkan untuk hadir di waktu shalat Idul Fitri, sebaiknya tidak berada dalam barisan shaf shalat. Shalat dengan shaf terputus tetap sah, hanya saja kurang afdhal dengan terputusnya shaf tersebut.
Urutan shaf shalat berjamaah adalah yang pertama laki-laki dewasa, kemudian anak laki-laki, kemudian perempuan, kemudian anak perempuan.
Jika di masjid ada anak yang membuat keributan atau mengganggu shaf, harus diberi pengertian dengan baik. Di masjid sebaiknya ada askar yang mengatur dengan cara yang baik. Askar bergiliran di antara jamaah, dan dia tidak ikut shalat berjamaah di hari itu. Jangan sampai kita melatih anak shalat, tetapi mengganggu shalat orang lain.
Ibu-ibu yang membawa anak, sebaiknya duduk shaf terakhir. Bawakan anak mainan, minuman, dan segala keperluannya.
Seringkali terjadi, ketika waktunya untuk ke masjid, Mbak (asisten rumah tangga) yang ke masjid, ibu di rumah menjaga anak-anak. Ketika waktunya ke mal, ibu yang ke mal, Mbak di rumah menjaga anak-anak. Sebetulnya terbalik, kita mempekerjakan Mbak adalah agar kita bisa tenang beribadah, bukan tenang ke mal :-) Mbak perlu juga ke masjid, tetapi perlu dipastikan bahwa benar ke mesjid untuk beribadah, bukan untuk ketemu teman lalu ngobrol dengan teman dan tidak shalat tarawih.
Ketika anak ke masjid, maka sebaiknya ibunya ke masjid juga. Bagian dari penteladanan, hari belajar buat keluarga, berangkat bersama seluruh keluarga. Insya Allah menjadi keberkahan
Bagaimana mengetahui bahwa nilai ibadah kita sudah bertambah? Salah satu ukurannya adalah kita makin khusyuk dalam tilawah, dzikir, shalat. Juga kita menjadi memiliki keikhlasan dan mudah untuk berlapang dada. Karena ibadah hati adalah yang paling sulit, juga ibadah yang sampai masuk ke hati.
Dengan kuantitas ibadah yang diperbanyak insya Allah lebih baik. Karena 3 ibadah bernilai 6 lebih baik daripada 1 ibadah bernilai 6. Sambil kita terus memperbaiki kualitas, agar dapat dicapai nilai 10, dengan kuantitas yang juga tinggi.
Ketika Ramadhan datang, maka pertama yang perlu kita lakukan adalah bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhan. Banyak di antara kita yang tidak sempat lagi berjumpa dengan Ramadhan tahun ini.
Dan sungguh banyak nikmat yang kita sering tidak hitung, padahal sangat berharga. Kedipan mata yang kita sering abaikan, padahal ketika kita tidak bisa berkedip, maka mata akan kering dan rusak. Dan secara medis, jika kita tidak bisa berkedip, diperlukan usaha khusus agar mata senantiasa basah.
Kita harus senang berjumpa dengan Ramadhan. Dikatakan bahwa mereka yang senang, akan dibebaskan tubuhnya dari api neraka. Rasa senang lahir dari hati, terlihat dari wajah yang berseri-seri.
Yang kedua adalah sabar. Karena beribadah membutuhkan kesabaran. Sabar menahan nafsu, sabar melakukan tilawah, sabar bangun di malam hari. Lakukanlah dengan nikmat. Nikmatilah ibadah kita.
Bacaan terbaik adalah Al Qur’an, dan bacaan Al Qur’an terbaik adalah di dalam shalat. Maka perbanyaklah hafalan Al Qur’an. Dalam shalat sunnah boleh membaca Al Qur’an dengan memegang mushaf Al Qur’an.
Jadwal imsakiyah yang sering diedarkan ketika bulan Ramadhan, sebenarnya bukan hanya jadwal sahur dan berbuka puasa. Di sana ada seluruh jadwal shalat. Jadwal itu bisa menjadi lembar mutaba'ah, lembar perhitungan. Ketika kita mencoret 1 hari, kita lakukan evaluasi, dengan berlalunya 1 hari itu. Bagaimana ibadah kita? Apakah dosa kita sudah diampuni? Apakah kebaikan kita sudah diterima? Sahabat menangis di akhir Ramadhan, bagaimana dengan kita?
Ketiga, tunjukkan kualitas diri. Allah mengetahui iman dengan cara diuji. Hasil dari Ramadhan, dibina 1 bulan, menjadi manusia bertakwa, la'allakum tattaquun. Ramadhan adalah rangkaian tarbiyah Allah.
Ada kisah salah seorang sahabat yang hijrah ke Habasyah. Rasulullah berdakwah, lalu diintimidasi. Untuk menyelamatkan agama, maka sebagian muslim hijrah ke Habasyah, yang penduduknya beragama Nasrani. Karena ujian yang berat, salah seorang sahabat menjadi seorang Nasrani.
Sungguh agama harus diperjuangkan. Maka dalam doa, yang kita mintakan adalah keselamatan dalam agama, salamatan fid diin.
Agar kita menjadi pemenang, kita memerlukan persiapan. Agar kita menjadi pemenang yang Allah banggakan di akhir Ramadhan. Jaga pola makan, bangun pagi, buat pikiran yang sehat, karena hati lebih utama untuk membentuk kesehatan, fisik dan metabolisme akan terpengaruh.
Imam Ali berkata bahwa hal yang paling kusukai adalah berpuasa di hari yang terik. Subhanallah.
Dalam tarawih, usahakan jangan sampai menguap. Karena setan akan tertawa ketika seseorang menguap dalam shalatnya. Tahan, sampai menangis pun, tetap tahan. Jangan pernah menunda tarawih.
Lakukan malam itu juga. Jangan berikan peluang pada setan.
Dalam shalat berjamaah, anak dan wanita haid memutus shaf. Karena itu wanita haid, yang memang dianjurkan untuk hadir di waktu shalat Idul Fitri, sebaiknya tidak berada dalam barisan shaf shalat. Shalat dengan shaf terputus tetap sah, hanya saja kurang afdhal dengan terputusnya shaf tersebut.
Urutan shaf shalat berjamaah adalah yang pertama laki-laki dewasa, kemudian anak laki-laki, kemudian perempuan, kemudian anak perempuan.
Jika di masjid ada anak yang membuat keributan atau mengganggu shaf, harus diberi pengertian dengan baik. Di masjid sebaiknya ada askar yang mengatur dengan cara yang baik. Askar bergiliran di antara jamaah, dan dia tidak ikut shalat berjamaah di hari itu. Jangan sampai kita melatih anak shalat, tetapi mengganggu shalat orang lain.
Ibu-ibu yang membawa anak, sebaiknya duduk shaf terakhir. Bawakan anak mainan, minuman, dan segala keperluannya.
Seringkali terjadi, ketika waktunya untuk ke masjid, Mbak (asisten rumah tangga) yang ke masjid, ibu di rumah menjaga anak-anak. Ketika waktunya ke mal, ibu yang ke mal, Mbak di rumah menjaga anak-anak. Sebetulnya terbalik, kita mempekerjakan Mbak adalah agar kita bisa tenang beribadah, bukan tenang ke mal :-) Mbak perlu juga ke masjid, tetapi perlu dipastikan bahwa benar ke mesjid untuk beribadah, bukan untuk ketemu teman lalu ngobrol dengan teman dan tidak shalat tarawih.
Ketika anak ke masjid, maka sebaiknya ibunya ke masjid juga. Bagian dari penteladanan, hari belajar buat keluarga, berangkat bersama seluruh keluarga. Insya Allah menjadi keberkahan
Bagaimana mengetahui bahwa nilai ibadah kita sudah bertambah? Salah satu ukurannya adalah kita makin khusyuk dalam tilawah, dzikir, shalat. Juga kita menjadi memiliki keikhlasan dan mudah untuk berlapang dada. Karena ibadah hati adalah yang paling sulit, juga ibadah yang sampai masuk ke hati.
Dengan kuantitas ibadah yang diperbanyak insya Allah lebih baik. Karena 3 ibadah bernilai 6 lebih baik daripada 1 ibadah bernilai 6. Sambil kita terus memperbaiki kualitas, agar dapat dicapai nilai 10, dengan kuantitas yang juga tinggi.
Monday, July 2, 2012
Bagaimana Muslimah Menyusui di Tempat Umum?
Sekarang sedang digalakkan kembali untuk menyusui bayi, eksklusif hanya ASI sampai usia 6 bulan, dan diteruskan sampai 2 tahun bahkan lebih.Dengan aktivitas muslimah yang cukup banyak di luar rumah, maka ada kalanya bayi perlu dibawa dan perlu disusui di tempat umum.
Hal penting yang perlu diingat adalah bahwa payudara sampai kapan pun tetap aurat. Batas aurat muslimah tidak berubah karena dia melahirkan dan menyusui.
Berikut yang perlu diperhatikan muslimah ketika menyusui di tempat umum :
1. Usahakan untuk menyusui di ruang menyusui, mushalla muslimah, atau ruang tertutup lainnya, bila perlu ke toilet, agar menyusui dapat dilakukan dengan tenang dan leluasa.
2. Gunakan pakaian yang mendukung dan bawalah kain penutup yang bisa membantu. Sekarang sudah banyak dijual aneka jenis baju menyusui, dari yang simpel untuk di rumah, sampai untuk pesta :-) Kain penutup atau apron juga sudah dibuat dengan aneka model dan warna.
Jika dengan seluruh perlengkapan ini anak bisa menyusu dengan tenang, maka bisa menyusui sambil makan di restoran, atau tempat yang agak ramai.
3. Jika anak tidak suka ditutupi ketika disusui, maka mau tidak mau harus mencari ruang menyusui, mushalla muslimah, atau ruang tertutup lainnya, bahkan toilet.
4. Alternatif lain, karena sebenarnya anak yang masih menyusui sebaiknya tidak perlu sering-sering pergi ke luar rumah, jika memang anak tidak perlu dibawa, sebaiknya anak ditinggal bersama dengan ASI hasil perahan. Sambil di jalan, ibu bisa memerah ASI-nya, tentunya tetap dengan menjaga auratnya.
5. Lebih jauh lagi, sesama ibu menyusui pun sebaiknya tetap menjaga batas-batas. Jika dapat menyusui di ruang-ruang terpisah, maka lebih baik menyusui dalam ruang terpisah.
Demikian, semoga Allah berikan kemudahan bagi kita untuk senantiasa berada di jalan lurus-Nya :-)
Hal penting yang perlu diingat adalah bahwa payudara sampai kapan pun tetap aurat. Batas aurat muslimah tidak berubah karena dia melahirkan dan menyusui.
Berikut yang perlu diperhatikan muslimah ketika menyusui di tempat umum :
1. Usahakan untuk menyusui di ruang menyusui, mushalla muslimah, atau ruang tertutup lainnya, bila perlu ke toilet, agar menyusui dapat dilakukan dengan tenang dan leluasa.
2. Gunakan pakaian yang mendukung dan bawalah kain penutup yang bisa membantu. Sekarang sudah banyak dijual aneka jenis baju menyusui, dari yang simpel untuk di rumah, sampai untuk pesta :-) Kain penutup atau apron juga sudah dibuat dengan aneka model dan warna.
Jika dengan seluruh perlengkapan ini anak bisa menyusu dengan tenang, maka bisa menyusui sambil makan di restoran, atau tempat yang agak ramai.
3. Jika anak tidak suka ditutupi ketika disusui, maka mau tidak mau harus mencari ruang menyusui, mushalla muslimah, atau ruang tertutup lainnya, bahkan toilet.
4. Alternatif lain, karena sebenarnya anak yang masih menyusui sebaiknya tidak perlu sering-sering pergi ke luar rumah, jika memang anak tidak perlu dibawa, sebaiknya anak ditinggal bersama dengan ASI hasil perahan. Sambil di jalan, ibu bisa memerah ASI-nya, tentunya tetap dengan menjaga auratnya.
5. Lebih jauh lagi, sesama ibu menyusui pun sebaiknya tetap menjaga batas-batas. Jika dapat menyusui di ruang-ruang terpisah, maka lebih baik menyusui dalam ruang terpisah.
Demikian, semoga Allah berikan kemudahan bagi kita untuk senantiasa berada di jalan lurus-Nya :-)
Monday, September 19, 2011
Sunat Anak Laki-Laki Ketika Bayi, Apa Plus Minusnya?
Dalam diskusi di beberapa milis balita dan bayi, sempat muncul beberapa kali tentang sunat atau khitan anak laki-laki ketika bayi, berikut saya share plus minusnya ya..
Biasanya bayi laki-laki akan diminta dokter untuk dikhitan jika ada indikasi fimosis, yaitu lubang lapisan kulit yang terlalu kecil, sehingga bisa mengakibatkan infeksi akibat kotoran yang bertumpuk.
Namun, sebenarnya, tanpa indikasi fimosis pun, ada beberapa keuntungan jika anak laki-laki dikhitan ketika bayi, yaitu sebagai berikut.
Pertama, bayi belum memiliki keinginan sendiri, sehingga orang tua bisa dengan mudah membawa ke klinik khitan dan melakukan khitan. Berbeda dengan anak yang lebih besar, biasanya sudah mulai takut, sehingga kita harus menunggu sampai ia benar-benar berani.
Kedua, proses khitan jauh lebih simpel, karena bayi belum memahami apa yang akan terjadi. Biasanya bayi hanya akan menangis ketika dilakukan penyuntikan bius lokal, setelah itu dia akan tenang sampai proses khitan berakhir, yang penting orang tua bisa membuat suasana menjadi menyenangkan. Anak yang lebih besar, karena dia sudah membayangkan akan ada “pemotongan”, ada kalanya masih tetap tegang dan ketakutan, walaupun sebenarnya sudah tidak ada lagi rasa sakit setelah penyuntikan obat bius.
Ketiga, proses penyembuhan lebih cepat, karena bayi belum banyak bergerak, dan ukurannya pun lebih kecil sehingga luka lebih cepat sembuh. Anak yang lebih besar biasanya lebih banyak bergerak, ketika dilakukan perawatan pun agak lebih rumit karena dia sudah bisa melihat dan membayangkan rasa sakit.
Lalu bagaimana dengan perayaan khitan? Sebenarnya dalam Islam, tidak ada contoh perayaan untuk khitan. Di Arab pun, khitan dilakukan ketika bayi. Juga di beberapa daerah yang Islamnya sudah cukup mentradisi, seperti di Gresik Jawa Timur, misalnya. Di luar negeri pun, di Amerika Serikat misalnya, bayi laki-laki muslim sudah langsung dikhitan di hari-hari awal setelah kelahiran, sehingga perawatan bayi baru lahir mencakup perawatan tali pusar dan perawatan pasca khitan.
Sekedar share pengalaman, anak saya yang bungsu dikhitan ketika berusia 2 bulan, karena indikasi fimosis, dan memang prosesnya jauh lebih simpel. Anak yang sulung dikhitan di usia 8 tahun, dan ada beberapa kesulitan seperti yang saya jelaskan di atas.
Dengan pengalaman itu, kalau saya punya anak laki-laki lagi, sepertinya saya akan khitankan ketika bayi, walaupun tidak ada indikasi fimosis :-) Bagaimana dengan Ayah dan Bunda sekalian? Silakan dipertimbangkan yaa..
Demikian dulu sharing pagi ini, semoga bermanfaat :-)
Biasanya bayi laki-laki akan diminta dokter untuk dikhitan jika ada indikasi fimosis, yaitu lubang lapisan kulit yang terlalu kecil, sehingga bisa mengakibatkan infeksi akibat kotoran yang bertumpuk.
Namun, sebenarnya, tanpa indikasi fimosis pun, ada beberapa keuntungan jika anak laki-laki dikhitan ketika bayi, yaitu sebagai berikut.
Pertama, bayi belum memiliki keinginan sendiri, sehingga orang tua bisa dengan mudah membawa ke klinik khitan dan melakukan khitan. Berbeda dengan anak yang lebih besar, biasanya sudah mulai takut, sehingga kita harus menunggu sampai ia benar-benar berani.
Kedua, proses khitan jauh lebih simpel, karena bayi belum memahami apa yang akan terjadi. Biasanya bayi hanya akan menangis ketika dilakukan penyuntikan bius lokal, setelah itu dia akan tenang sampai proses khitan berakhir, yang penting orang tua bisa membuat suasana menjadi menyenangkan. Anak yang lebih besar, karena dia sudah membayangkan akan ada “pemotongan”, ada kalanya masih tetap tegang dan ketakutan, walaupun sebenarnya sudah tidak ada lagi rasa sakit setelah penyuntikan obat bius.
Ketiga, proses penyembuhan lebih cepat, karena bayi belum banyak bergerak, dan ukurannya pun lebih kecil sehingga luka lebih cepat sembuh. Anak yang lebih besar biasanya lebih banyak bergerak, ketika dilakukan perawatan pun agak lebih rumit karena dia sudah bisa melihat dan membayangkan rasa sakit.
Lalu bagaimana dengan perayaan khitan? Sebenarnya dalam Islam, tidak ada contoh perayaan untuk khitan. Di Arab pun, khitan dilakukan ketika bayi. Juga di beberapa daerah yang Islamnya sudah cukup mentradisi, seperti di Gresik Jawa Timur, misalnya. Di luar negeri pun, di Amerika Serikat misalnya, bayi laki-laki muslim sudah langsung dikhitan di hari-hari awal setelah kelahiran, sehingga perawatan bayi baru lahir mencakup perawatan tali pusar dan perawatan pasca khitan.
Sekedar share pengalaman, anak saya yang bungsu dikhitan ketika berusia 2 bulan, karena indikasi fimosis, dan memang prosesnya jauh lebih simpel. Anak yang sulung dikhitan di usia 8 tahun, dan ada beberapa kesulitan seperti yang saya jelaskan di atas.
Dengan pengalaman itu, kalau saya punya anak laki-laki lagi, sepertinya saya akan khitankan ketika bayi, walaupun tidak ada indikasi fimosis :-) Bagaimana dengan Ayah dan Bunda sekalian? Silakan dipertimbangkan yaa..
Demikian dulu sharing pagi ini, semoga bermanfaat :-)
Thursday, September 15, 2011
Bayi Tidur Bersama Ortu atau Babysitter?
Di milis asiforbaby, ada pembahasan tentang tidurnya bayi, bersama orang tua ataukah ditemani babysitter.
Saya termasuk yang mendukung bayi tidur bersama orang tua, dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
Pertama, supaya bayi tidak terus menerus bersama babysitter. Bagaimana pun baby perlu berinteraksi dengan ibunya. Kalau sepanjang siang sudah dengan babysitter, paling tidak di malam hari dengan ibunya.
Kedua, bayi biasanya di malam hari masih sering terbangun dan biasanya dia menangis. Kondisi itu adalah kondisi "tidak nyaman" untuk bayi. Jika bayi tidur dengan babysitter, maka "solusi" bagi bayi untuk "kondisi tidak nyaman" adalah babysitter. Pola itu akan terbentuk pada bayi, dan dia akan lebih memilih babysitter daripada ibunya ketika ada "ketidaknyamanan".
Ketiga, perlunya pengenalan kebiasaan-kebiasaan tidur bayi. Tiap bayi punya kebiasaan masing-masing sebelum dan menjelang tidur, serta ketika bangun tidur, yang membuat proses tidur dan bangun jadi lebih mudah. Kebiasaan itu akan kita ketahui kalau kita tidur bersama bayi.
Keempat, antisipasi jika babysitter tidak ada. Bagaimanapun, akan ada waktu-waktu babysittertidak bersama kita. Misalnya dia cuti, atau kita menginap di tempat lain tanpa babysitter, atau bahkan babysitter berhenti. Jika anak sudah terbiasa tidur bersama babysitter, akan diperlukan penyesuaian yang cukup berat ketika babysitter itu tidak ada, terutama berkaitan dengan kondisi-kondisi nomor 1, 2, dan 3 di atas.
Kalaupun memang ingin membiasakan bayi untuk tidak tidur bersama orang tua, maka sebaiknya bayi tidur di kamar tersendiri di box yang tentunya harus aman. Untuk pemantauannya, gunakan baby monitor. Dan yang mengantar tidur tetap orang tua, yang datang ketika dia menangis tetap orang tua. Babysitter bisa diminta untuk ikut bangun di malam hari, tetapi posisinya hanya membantu saja.
Demikian, semoga bermanfaat :-)
Saya termasuk yang mendukung bayi tidur bersama orang tua, dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
Pertama, supaya bayi tidak terus menerus bersama babysitter. Bagaimana pun baby perlu berinteraksi dengan ibunya. Kalau sepanjang siang sudah dengan babysitter, paling tidak di malam hari dengan ibunya.
Kedua, bayi biasanya di malam hari masih sering terbangun dan biasanya dia menangis. Kondisi itu adalah kondisi "tidak nyaman" untuk bayi. Jika bayi tidur dengan babysitter, maka "solusi" bagi bayi untuk "kondisi tidak nyaman" adalah babysitter. Pola itu akan terbentuk pada bayi, dan dia akan lebih memilih babysitter daripada ibunya ketika ada "ketidaknyamanan".
Ketiga, perlunya pengenalan kebiasaan-kebiasaan tidur bayi. Tiap bayi punya kebiasaan masing-masing sebelum dan menjelang tidur, serta ketika bangun tidur, yang membuat proses tidur dan bangun jadi lebih mudah. Kebiasaan itu akan kita ketahui kalau kita tidur bersama bayi.
Keempat, antisipasi jika babysitter tidak ada. Bagaimanapun, akan ada waktu-waktu babysittertidak bersama kita. Misalnya dia cuti, atau kita menginap di tempat lain tanpa babysitter, atau bahkan babysitter berhenti. Jika anak sudah terbiasa tidur bersama babysitter, akan diperlukan penyesuaian yang cukup berat ketika babysitter itu tidak ada, terutama berkaitan dengan kondisi-kondisi nomor 1, 2, dan 3 di atas.
Kalaupun memang ingin membiasakan bayi untuk tidak tidur bersama orang tua, maka sebaiknya bayi tidur di kamar tersendiri di box yang tentunya harus aman. Untuk pemantauannya, gunakan baby monitor. Dan yang mengantar tidur tetap orang tua, yang datang ketika dia menangis tetap orang tua. Babysitter bisa diminta untuk ikut bangun di malam hari, tetapi posisinya hanya membantu saja.
Demikian, semoga bermanfaat :-)
Tuesday, July 19, 2011
Semua Bisa Dilakukan dari Mana Saja..
Berkat Internet, telepon, e-mail, SMS, yahoo messenger dan tentunya para penyedia jasa yang memanfaatkannya.
Belanja harian bisa via telepon dan SMS ke toko bahan makanan organik. Perlu obat, telepon delivery order ke apotik. Beli makanan jadi, delivery order bejibun.
Belanja baju anak-anak yang murah-murah yang ada di “sogo jongkok” bisa lewat SMS.
Beli buku, bisa SMS Pak Penjual buku di kantor, atau ke online shop. Beli sabun anti alergi anak-anak via SMS. Beli madu via SMS. Beli tenda, sleeping bag, baterai HP, tas notebook, bahkan kulkas pun, bisa via internet. Beli kado untuk bayi baru lahir, seabreg toko online bayi.
Beli jilbab, ciput, legging, kaos kaki, bisa via SMS ke online shop. Beli kosmetik Wardah ada yang jual online. Beli produk perawatan tubuh Pourvous tinggal ym atau SMS Mbak Ika. Beli batik, kain sarimbit, baju menyusui, tinggal pesan via e-mail. Dan terakhir yang menurut saya paling fenomenal, ternyata Wacoal juga sudah ada online shop-nya! Kulakan untuk toko online juga via email dan SMS.
Beli pembuat kompos, bor biopori via e-mail. Beli pohon dan tanaman via e-mail. Pesan tukang renovasi rumah, perbaikan listrik, dan perbaikan ledeng, via SMS. Pesan PRT, babysitter, infal lebaran, via SMS.
Transfer-transfer bank tinggal ke internet banking. Bank Niaga dan BSM transfer antar bank online.
Tinggal 3 yang masih belum ada online shop yang handal. Stationery (pensil, penghapus, buku tulis), produk Body Shop (walaupun saya cuma pake deodorannya saja hehe..), dan kado anak-anak yang representatif. Ada mainan anak-anak, tapi biasanya lebih ke mainan edukatif, bukan mainan yang sedang trendy di toko mainan :-)
Memang sih, belanja online seperti itu ada tambahan ongkos kirim. Tapi, untuk mereka yang tinggal di Jakarta, apa lagi ibu bekerja seperti saya, waktu rasanya amat sangat sempit. Sayang sekali waktu dihabiskan di jalan. Ada biaya bensin dan parkir plus cari parkir kalau bawa mobil sendiri, dan ada biaya taksi kalau naik taksi. Plus biaya konsumsi karena kelaparan akibat keliling mall :-)
Terima kasih kepada toko dengan delivery order, online shop, pesanan via SMS, dan internet banking, hidup saya terasa sangat mudah :-)
Belanja harian bisa via telepon dan SMS ke toko bahan makanan organik. Perlu obat, telepon delivery order ke apotik. Beli makanan jadi, delivery order bejibun.
Belanja baju anak-anak yang murah-murah yang ada di “sogo jongkok” bisa lewat SMS.
Beli buku, bisa SMS Pak Penjual buku di kantor, atau ke online shop. Beli sabun anti alergi anak-anak via SMS. Beli madu via SMS. Beli tenda, sleeping bag, baterai HP, tas notebook, bahkan kulkas pun, bisa via internet. Beli kado untuk bayi baru lahir, seabreg toko online bayi.
Beli jilbab, ciput, legging, kaos kaki, bisa via SMS ke online shop. Beli kosmetik Wardah ada yang jual online. Beli produk perawatan tubuh Pourvous tinggal ym atau SMS Mbak Ika. Beli batik, kain sarimbit, baju menyusui, tinggal pesan via e-mail. Dan terakhir yang menurut saya paling fenomenal, ternyata Wacoal juga sudah ada online shop-nya! Kulakan untuk toko online juga via email dan SMS.
Beli pembuat kompos, bor biopori via e-mail. Beli pohon dan tanaman via e-mail. Pesan tukang renovasi rumah, perbaikan listrik, dan perbaikan ledeng, via SMS. Pesan PRT, babysitter, infal lebaran, via SMS.
Transfer-transfer bank tinggal ke internet banking. Bank Niaga dan BSM transfer antar bank online.
Tinggal 3 yang masih belum ada online shop yang handal. Stationery (pensil, penghapus, buku tulis), produk Body Shop (walaupun saya cuma pake deodorannya saja hehe..), dan kado anak-anak yang representatif. Ada mainan anak-anak, tapi biasanya lebih ke mainan edukatif, bukan mainan yang sedang trendy di toko mainan :-)
Memang sih, belanja online seperti itu ada tambahan ongkos kirim. Tapi, untuk mereka yang tinggal di Jakarta, apa lagi ibu bekerja seperti saya, waktu rasanya amat sangat sempit. Sayang sekali waktu dihabiskan di jalan. Ada biaya bensin dan parkir plus cari parkir kalau bawa mobil sendiri, dan ada biaya taksi kalau naik taksi. Plus biaya konsumsi karena kelaparan akibat keliling mall :-)
Terima kasih kepada toko dengan delivery order, online shop, pesanan via SMS, dan internet banking, hidup saya terasa sangat mudah :-)
Friday, July 8, 2011
Kapan Toilet Training & Sprei Anti Ompol
Di milis asiforbaby ada pembahasan tentang kapan mulai toilet training dan manfaat sprei anti ompol.
Berikut jawaban saya di diskusi tersebut :-)Sebenarnya saya sudah pernah menulis juga tentang ini, nggak apa-apa ya diulang lagi :-)
Untuk toilet training, ada dua pendapat :
Ada yang men-training sejak baby bisa didudukkan di toilet, jadi sekitar usia 6 bulan.
Jadi caranya adalah secara periodik, misalnya 2 jam sekali, anak didudukkan di toilet lalu ditunggu sampai pipis / pup.
Lama-lama anak akan menemukan pola, duduk di toilet, akan pipis.
Prinsipnya lebih cepat lebih baik. Dan banyak juga yang berhasil dengan cara ini.
Positifnya, anak bisa lebih cepat bebas dari diaper.
Negatifnya, ada yang bilang karena ini sebenarnya terlalu cepat, beberapa anak setelah bebas diaper, kembali mengompol di usia tertentu.
Ada yang men-training sejak usia 2 tahunan.
Latar belakangnya, sudah bisa diajak bicara, sudah bisa menyampaikan kalau akan pipis / pup, dan ada psikolog yang pernah bilang, bahwa memang dari sisi perkembangan psikologis, tahap toilet training memang di usia ini.
Positifnya, sesuai psikolog tadi, sesuai perkembangan psikologis anak. Dan tidak terlalu repot mendudukkan secara periodik, cukup menunggu anak menyampaikan ketika dia memang benar-benar ingin pipis.
Negatifnya, lebih lama tergantung dengan diaper :-)
Saya sendiri pilih opsi kedua :-)
Untuk pelapis sprei anti ompol, buat saya sangat sangat bermanfaat. Sama sekali nggak rugi beli walaupun agak mahal.
Bahannya pun adem, nggak perlu pake perlak2, ketutup semua kasur, jadi kasur nggak basah dan nggak bau pesing.
Berikut jawaban saya di diskusi tersebut :-)Sebenarnya saya sudah pernah menulis juga tentang ini, nggak apa-apa ya diulang lagi :-)
Untuk toilet training, ada dua pendapat :
Ada yang men-training sejak baby bisa didudukkan di toilet, jadi sekitar usia 6 bulan.
Jadi caranya adalah secara periodik, misalnya 2 jam sekali, anak didudukkan di toilet lalu ditunggu sampai pipis / pup.
Lama-lama anak akan menemukan pola, duduk di toilet, akan pipis.
Prinsipnya lebih cepat lebih baik. Dan banyak juga yang berhasil dengan cara ini.
Positifnya, anak bisa lebih cepat bebas dari diaper.
Negatifnya, ada yang bilang karena ini sebenarnya terlalu cepat, beberapa anak setelah bebas diaper, kembali mengompol di usia tertentu.
Ada yang men-training sejak usia 2 tahunan.
Latar belakangnya, sudah bisa diajak bicara, sudah bisa menyampaikan kalau akan pipis / pup, dan ada psikolog yang pernah bilang, bahwa memang dari sisi perkembangan psikologis, tahap toilet training memang di usia ini.
Positifnya, sesuai psikolog tadi, sesuai perkembangan psikologis anak. Dan tidak terlalu repot mendudukkan secara periodik, cukup menunggu anak menyampaikan ketika dia memang benar-benar ingin pipis.
Negatifnya, lebih lama tergantung dengan diaper :-)
Saya sendiri pilih opsi kedua :-)
Untuk pelapis sprei anti ompol, buat saya sangat sangat bermanfaat. Sama sekali nggak rugi beli walaupun agak mahal.
Bahannya pun adem, nggak perlu pake perlak2, ketutup semua kasur, jadi kasur nggak basah dan nggak bau pesing.
Monday, May 9, 2011
Tips agar Anak Suka Sayur
Semakin lama semakin kita sadari bahwa makanan sehat adalah dengan proporsi yang banyak pada sayur dan buah.
Namun ketika kita mengajak anak kita untuk makan sayur dan buah, masalah yang sering kita hadapi adalah anak tidak suka.
Yang paling baik memang memulai dari ketika bayi mulai MPASI.
Tipsnya adalah :
1. Di awal, perkenalkan anak dengan satu per satu sayuran atau buah. Satu sayuran atau buah di satu waktu makan.
2. Walaupun anak sudah makan beberapa macam makanan di satu waktu, tetap masak sayuran secara terpisah, haluskan terpisah, dan berikan bergantian, agar anak tetap mengenal rasa masing-masing sayuran.
Bagaimana jika anak sudah telanjur besar dan tidak suka sayur?
Yang penting jangan menyerah :-)
Tips untuk anak yang sudah besar :
1. Buat menjadi aneka masakan. Sup, sayur bening, gado-gado, atau salad.
2. Perkenalkan aneka sayur dan buah.
3. Tampilkan sayur dan buah sebagai makanan yang lezat :-) Kalau kita suka dan kelihatan menikmati, anak akan ikut mencoba
4. Berikan sayur dan buah di setiap waktu makan, walaupun hanya sepotong kecil apel dan sepotong wortel :-)
5. Sepakati hadiah jika anak mau makan sayur atau buah.
Selamat mencoba, dan semoga sukses! :-)
Namun ketika kita mengajak anak kita untuk makan sayur dan buah, masalah yang sering kita hadapi adalah anak tidak suka.
Yang paling baik memang memulai dari ketika bayi mulai MPASI.
Tipsnya adalah :
1. Di awal, perkenalkan anak dengan satu per satu sayuran atau buah. Satu sayuran atau buah di satu waktu makan.
2. Walaupun anak sudah makan beberapa macam makanan di satu waktu, tetap masak sayuran secara terpisah, haluskan terpisah, dan berikan bergantian, agar anak tetap mengenal rasa masing-masing sayuran.
Bagaimana jika anak sudah telanjur besar dan tidak suka sayur?
Yang penting jangan menyerah :-)
Tips untuk anak yang sudah besar :
1. Buat menjadi aneka masakan. Sup, sayur bening, gado-gado, atau salad.
2. Perkenalkan aneka sayur dan buah.
3. Tampilkan sayur dan buah sebagai makanan yang lezat :-) Kalau kita suka dan kelihatan menikmati, anak akan ikut mencoba
4. Berikan sayur dan buah di setiap waktu makan, walaupun hanya sepotong kecil apel dan sepotong wortel :-)
5. Sepakati hadiah jika anak mau makan sayur atau buah.
Selamat mencoba, dan semoga sukses! :-)
Tips Toilet Training
Untuk melatih toilet training pada bayi, ada dua jenis pendekatan.
Yang pertama memulai sedini mungkin. Biasanya dimulai ketika bayi sudah mulai bisa duduk, dengan mendudukkan bayi secara periodik, dan menunggu sampai bayi BAK. Cara ini sering disebut juga dengan tatur.
Dengan cara ini bayi sering kali cepat untuk mampu BAK dan BAB di toilet dan berhenti mengompol.
Namun ada yang berpendapat bahwa usia tersebut terlalu dini jika dibandingkan dengan tahapan perkembangan bayi. Sehingga jika dipaksakan, walaupun bayi sempat dapat mengendalikan BAK dan BAB-nya, terdapat kemungkinan bahwa setelah usia batita, anak akan kembali mengompol.
Karena itu muncul pendapat kedua, yang menunggu sampai anak berusia sekitar 2 tahun, ketika anak memang sudah mengerti perintah, sudah bisa merasa kita akan BAK dan BAB, dan sudah bisa menyampaikan ke orang lain. Memang di satu sisi rasanya "sangat terlambat" jika dibandingkan dengan anak yang sudah di-"tatur" sejak bayi. Tapi biasanya prosesnya lebih cepat karena sesuai dengan perkembangan anak, dan hasilnya lebih langgeng.
Saya pilih metode yang kedua.
Memang sempat "gemes" karena sampai 2 tahun anak saya masih pakai popok sementara ada anak teman saya yang sudah sukses tanpa popok sejak usia 7 bulan.
Tapi, saya tetap sabar menanti :-)
Beberapa tips suskes toilet training, dari pengalaman ditambah dengan hasil diskusi di milis balita-anda.
1. Indikasi anak bisa mulai toilet training adalah anak sudah bisa merasa ketika akan BAK atau BAB, sudah bisa mengerti perintah, dan sudah bisa menyampaikan bahwa dia ingin BAK atau BAB.
2. Selama belum berhasil toilet training, sebaiknya anak tetap menggunakan cloth diaper baik ketika siang maupun malam, agar BAK tidak berceceran.
3. Tahap pertama ada latihan toilet training di siang hari, diawali dengan BAK. Minta anak agar menyampaikan ketika akan BAK. Tawarkan untuk BAK secara periodik, misalnya 2 jam sekali. Salah satu cara yang efektif adalah memulai di sekolah dengan guru.
Buat suasana toilet menyenangkan dan tenang. Gunakan alas toilet agar anak tidak "terperosok" masuk ke kloset.
Jangan buat anak stress ketika dalam perjalanan ke toilet. Salah satu cara yang saya gunakan adalah "mengajak bicara pada BAK". Saya katakan "Pis, jangan dulu keluar ya Pis, keluarnya di kloset ya." Jadi anak merasa bahwa mereka "ditemani" menahan BAK.
4. Jika tahap pertama sudah sukses, tahap kedua adalah menahan BAB, yang biasanya lebih mudah daripada BAK.
Pada tahap ini anak sudah bisa tanpa cloth diaper di rumah di siang hari. Namun ketika pergi sebaiknya masih menggunakan cloth diaper, karena anak belum tentu nyaman dengan toilet di luar rumah. Dan ketika malam, juga masih menggunakan cloth diaper.
5. Jika tahap pertama dan kedua sudah sukses sekitar satu-dua minggu, tahap ketiga adalah toilet training ketika pergi. Tahap awal anak bisa tetap menggunakan cloth diaper dulu.
Untuk bepergian, juga buat BAK dan BAB sebagai hal yang menyenangkan. Pilih toilet yang bersih, dan cek periodik apakah anak ingin BAK dan BAB.
Jika sudah cukup sukses, bisa mulai tanpa cloth diaper, namun ada baiknya cloth diaper tetap dibawa. Jika di jalan anak ingin BAK atau BAB dan sulit mencari toilet, bisa dipakaikan cloth diaper agar anak BAK dan BAB di sana. Namun ada beberapa anak yang sudah terbiasa BAK dan BAB di toilet justru kesulitan BAK dan BAB di cloth diaper.
6. Jika tahap ketiga sudah sukses, bisa masuk ke tahap terakhir yaitu toilet training untuk malam hari.
Pastikan anak BAK dulu sebelum tidur dan tidak minum terlalu banyak. Minta anak agar membangunkan kita, jika ingin BAK.
Jika sudah sukses sekitar satu-dua minggu, artinya anak kita sudah lulus toilet training! Selamat yaaa :-)
Oya, kadang-kadang anak masih terlupa dan BAK di celana atau mengompol. Tetap tenang, jangan marahi anak. Berikan motivasi dan ingatkan kembali agar BAK di kloset.
Semoga sukses toilet training!
Yang pertama memulai sedini mungkin. Biasanya dimulai ketika bayi sudah mulai bisa duduk, dengan mendudukkan bayi secara periodik, dan menunggu sampai bayi BAK. Cara ini sering disebut juga dengan tatur.
Dengan cara ini bayi sering kali cepat untuk mampu BAK dan BAB di toilet dan berhenti mengompol.
Namun ada yang berpendapat bahwa usia tersebut terlalu dini jika dibandingkan dengan tahapan perkembangan bayi. Sehingga jika dipaksakan, walaupun bayi sempat dapat mengendalikan BAK dan BAB-nya, terdapat kemungkinan bahwa setelah usia batita, anak akan kembali mengompol.
Karena itu muncul pendapat kedua, yang menunggu sampai anak berusia sekitar 2 tahun, ketika anak memang sudah mengerti perintah, sudah bisa merasa kita akan BAK dan BAB, dan sudah bisa menyampaikan ke orang lain. Memang di satu sisi rasanya "sangat terlambat" jika dibandingkan dengan anak yang sudah di-"tatur" sejak bayi. Tapi biasanya prosesnya lebih cepat karena sesuai dengan perkembangan anak, dan hasilnya lebih langgeng.
Saya pilih metode yang kedua.
Memang sempat "gemes" karena sampai 2 tahun anak saya masih pakai popok sementara ada anak teman saya yang sudah sukses tanpa popok sejak usia 7 bulan.
Tapi, saya tetap sabar menanti :-)
Beberapa tips suskes toilet training, dari pengalaman ditambah dengan hasil diskusi di milis balita-anda.
1. Indikasi anak bisa mulai toilet training adalah anak sudah bisa merasa ketika akan BAK atau BAB, sudah bisa mengerti perintah, dan sudah bisa menyampaikan bahwa dia ingin BAK atau BAB.
2. Selama belum berhasil toilet training, sebaiknya anak tetap menggunakan cloth diaper baik ketika siang maupun malam, agar BAK tidak berceceran.
3. Tahap pertama ada latihan toilet training di siang hari, diawali dengan BAK. Minta anak agar menyampaikan ketika akan BAK. Tawarkan untuk BAK secara periodik, misalnya 2 jam sekali. Salah satu cara yang efektif adalah memulai di sekolah dengan guru.
Buat suasana toilet menyenangkan dan tenang. Gunakan alas toilet agar anak tidak "terperosok" masuk ke kloset.
Jangan buat anak stress ketika dalam perjalanan ke toilet. Salah satu cara yang saya gunakan adalah "mengajak bicara pada BAK". Saya katakan "Pis, jangan dulu keluar ya Pis, keluarnya di kloset ya." Jadi anak merasa bahwa mereka "ditemani" menahan BAK.
4. Jika tahap pertama sudah sukses, tahap kedua adalah menahan BAB, yang biasanya lebih mudah daripada BAK.
Pada tahap ini anak sudah bisa tanpa cloth diaper di rumah di siang hari. Namun ketika pergi sebaiknya masih menggunakan cloth diaper, karena anak belum tentu nyaman dengan toilet di luar rumah. Dan ketika malam, juga masih menggunakan cloth diaper.
5. Jika tahap pertama dan kedua sudah sukses sekitar satu-dua minggu, tahap ketiga adalah toilet training ketika pergi. Tahap awal anak bisa tetap menggunakan cloth diaper dulu.
Untuk bepergian, juga buat BAK dan BAB sebagai hal yang menyenangkan. Pilih toilet yang bersih, dan cek periodik apakah anak ingin BAK dan BAB.
Jika sudah cukup sukses, bisa mulai tanpa cloth diaper, namun ada baiknya cloth diaper tetap dibawa. Jika di jalan anak ingin BAK atau BAB dan sulit mencari toilet, bisa dipakaikan cloth diaper agar anak BAK dan BAB di sana. Namun ada beberapa anak yang sudah terbiasa BAK dan BAB di toilet justru kesulitan BAK dan BAB di cloth diaper.
6. Jika tahap ketiga sudah sukses, bisa masuk ke tahap terakhir yaitu toilet training untuk malam hari.
Pastikan anak BAK dulu sebelum tidur dan tidak minum terlalu banyak. Minta anak agar membangunkan kita, jika ingin BAK.
Jika sudah sukses sekitar satu-dua minggu, artinya anak kita sudah lulus toilet training! Selamat yaaa :-)
Oya, kadang-kadang anak masih terlupa dan BAK di celana atau mengompol. Tetap tenang, jangan marahi anak. Berikan motivasi dan ingatkan kembali agar BAK di kloset.
Semoga sukses toilet training!
Friday, February 25, 2011
Daftar Belanja untuk Bayi Baru Lahir
Buat Moms yang mau melahirkan, selamat yaa.. Semoga lancar, anak dan ibunya sehat..
Wah, pasti lagi semangat banget ya.. plus harap-harap cemas, gimana nanti rasanya punya bayi.. :-) Seru kok Moms.. Menyenangkan (meskipun lelah) dan takkan terlupakan.. Dan melihat bayi kita tertidur pulas, adalah pemandangan yang paling indah di dunia.. :-)
Aku coba buat daftar belanja buat persiapan menyambut bayi baru.. Sebagai referensi saja, jumlahnya silakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.. Belanjanya, aku sendiri belanja online, xixixi, udah males pergi-pergi dengan perut gendut :-D
Oya, informasi aja, aku nggak pakaikan bayiku bedak, lotion, karena anakku alergi :-)
Kita mulai yaa..
Untuk bayi - baju dan teman2nya :
12 baju tangan pendek (kancing depan)
6 baju tangan panjang (kancing depan)
6 baju tangan buntung (kancing depan, untuk pengganti kaus dalam,dipasang dengan kancing di belakang)
12 celana pendek
6 celana panjang
12 Sarung kaki (sarung kaki lebih banyak, karena biasanya ikut basah ketika bayi pipis)
6 Sarung tangan
6 Topi (terutama dipakai jika bayi baru dicukur habis)
24 Popok segi empat
10 Popok plastik (pelapis popok segi empat supaya tidak tembus)
6 Cloth diaper
12 Bedong
6 Gurita (beberapa menyarankan tidak usah)
2 Selimut
1 Selimut kepala
2 Perlak kecil (20x30 cm, untuk ganti2 popok)
2 Perlak karet besar (untuk alas bak mandi dan alas setelah mandi)
2 Perlak plastik berlapis kain (alas tidur, supaya pipis tidak tembus ke kasur)
Untuk bayi - perlengkapan pendukung :
1 Tas kecil
1 Tas besar
1 Gendongan
1 Gunting kuku bayi
1 Sikat gigi bayi (buat nanti kalau sudah ada gigi, kalau belum pakai kain kasa yang direndam air hangat)
Minyak telon
Kapas bulat (bisa dari kapas kiloan, yang dibuat sendiri jadi bulat2, direndam air hangat, untuk pembersih bayi setelah pipis/pup, jangan gunakan tisu basah)
1 Tempat kapas basah
2 Kain kasa (untuk pembungkus pusar sebelum puput, beberapa RS memberikan alcohol swab)
Alkohol (untuk pusar sebelum puput)
Sabun bayi
Sampo bayi
6 Waslap
2 Handuk
6 Handuk kecil / sapu tangan
6 Alas makan (yang buat di dada itu loh moms, bayi kan makannya suka tumpah2)
1 set alat makan bayi
Buat bayi - peralatan yang agak besar :
1 Bak mandi
1 Keranjang baju
1 Jemuran baju
1 Kereta dorong
2 Ember kecil (untuk meletakkan baju kotor di kamar)
1 Box bayi
1 Keranjang bayi
1 Kursi makan (buat nanti kalau sudah bisa makan)
1 Bantal guling kecil
2 Bantal bolong / bantal peyang
2 Sarung bantal guling
Buat Ibu :
Pembalut (untuk nifas, pakai pembalut kain ya Moms, go green :-))
Kain
Gurita
Bra menyusui
Breast pad (ada yang dari kain juga)
Buat Ibu Bekerja ASI Eksklusif jalan terus yaaa :
Breast Pump (kalau nggak sukses pemerahan manual)
30 Botol ASIP (tergantung hasil perahan)
1 cooler bag
1 ice pack
1 pack label kecil (untuk menandai jam ASIP)
Demikian ya Moms, semoga bermanfaat, selamat berbelanja dan menikmati hari-hari bersama bayi baru :-)
Wah, pasti lagi semangat banget ya.. plus harap-harap cemas, gimana nanti rasanya punya bayi.. :-) Seru kok Moms.. Menyenangkan (meskipun lelah) dan takkan terlupakan.. Dan melihat bayi kita tertidur pulas, adalah pemandangan yang paling indah di dunia.. :-)
Aku coba buat daftar belanja buat persiapan menyambut bayi baru.. Sebagai referensi saja, jumlahnya silakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.. Belanjanya, aku sendiri belanja online, xixixi, udah males pergi-pergi dengan perut gendut :-D
Oya, informasi aja, aku nggak pakaikan bayiku bedak, lotion, karena anakku alergi :-)
Kita mulai yaa..
Untuk bayi - baju dan teman2nya :
12 baju tangan pendek (kancing depan)
6 baju tangan panjang (kancing depan)
6 baju tangan buntung (kancing depan, untuk pengganti kaus dalam,dipasang dengan kancing di belakang)
12 celana pendek
6 celana panjang
12 Sarung kaki (sarung kaki lebih banyak, karena biasanya ikut basah ketika bayi pipis)
6 Sarung tangan
6 Topi (terutama dipakai jika bayi baru dicukur habis)
24 Popok segi empat
10 Popok plastik (pelapis popok segi empat supaya tidak tembus)
6 Cloth diaper
12 Bedong
6 Gurita (beberapa menyarankan tidak usah)
2 Selimut
1 Selimut kepala
2 Perlak kecil (20x30 cm, untuk ganti2 popok)
2 Perlak karet besar (untuk alas bak mandi dan alas setelah mandi)
2 Perlak plastik berlapis kain (alas tidur, supaya pipis tidak tembus ke kasur)
Untuk bayi - perlengkapan pendukung :
1 Tas kecil
1 Tas besar
1 Gendongan
1 Gunting kuku bayi
1 Sikat gigi bayi (buat nanti kalau sudah ada gigi, kalau belum pakai kain kasa yang direndam air hangat)
Minyak telon
Kapas bulat (bisa dari kapas kiloan, yang dibuat sendiri jadi bulat2, direndam air hangat, untuk pembersih bayi setelah pipis/pup, jangan gunakan tisu basah)
1 Tempat kapas basah
2 Kain kasa (untuk pembungkus pusar sebelum puput, beberapa RS memberikan alcohol swab)
Alkohol (untuk pusar sebelum puput)
Sabun bayi
Sampo bayi
6 Waslap
2 Handuk
6 Handuk kecil / sapu tangan
6 Alas makan (yang buat di dada itu loh moms, bayi kan makannya suka tumpah2)
1 set alat makan bayi
Buat bayi - peralatan yang agak besar :
1 Bak mandi
1 Keranjang baju
1 Jemuran baju
1 Kereta dorong
2 Ember kecil (untuk meletakkan baju kotor di kamar)
1 Box bayi
1 Keranjang bayi
1 Kursi makan (buat nanti kalau sudah bisa makan)
1 Bantal guling kecil
2 Bantal bolong / bantal peyang
2 Sarung bantal guling
Buat Ibu :
Pembalut (untuk nifas, pakai pembalut kain ya Moms, go green :-))
Kain
Gurita
Bra menyusui
Breast pad (ada yang dari kain juga)
Buat Ibu Bekerja ASI Eksklusif jalan terus yaaa :
Breast Pump (kalau nggak sukses pemerahan manual)
30 Botol ASIP (tergantung hasil perahan)
1 cooler bag
1 ice pack
1 pack label kecil (untuk menandai jam ASIP)
Demikian ya Moms, semoga bermanfaat, selamat berbelanja dan menikmati hari-hari bersama bayi baru :-)
Subscribe to:
Posts (Atom)
