Monday, December 29, 2014

Selamat Tinggal Bank Konvensional


Kajian dzuhur di mushalla kantor, disampaikan oleh Ust. Dwiono Koesen Al Jambi, merupakan bedah buku tulisan beliau. 

Walapun judul kajian ini berkaitan dengan bank, isi kajian sangat luas dan mendasar ke berbagai aspek keislaman.

Masyarakat umum banyak yang berpandangan bahwa sama saja antara bank syariah dan bank konvensional. Bahwa yang berbeda hanya sebutannya saja, tapi transaksinya sama saja. Bahwa bunga sama saja dengan margin.

Padahal bunga dari bank konvensional adalah riba, dan riba itu haram sebagaimana pada Al Baqarah 275,  “Keadaan mereka yang demikian itu, adalah  disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.”

Kebanyakan muslim masih beranggapan bahwa yang haram hanya makanan, yaitu babi. Banyak muslim sedemikian serius mencari makanan halal. Tetapi banyak yang belum menyadari bahwa membuka aurat juga haram. Bahwa bunga bank juga haram. Bahwa makanan dari yang berasal dari uang haram juga haram. Bahwa gaji yang berasal dari pekerjaan halal yang disimpan di bank konvensional juga haram.

Bank konvensional dapat dianalogikan seperti babi. Daging babi halal ketika tidak ada makanan, ketika dalam kondisi darurat. Maka ketika belum ada bank syariah, muslim boleh menabung di bank konvensional untuk keamanan dana yang dimilikinya.

Sedangkan bank syariah analoginya adalah daging kambing. Daging kambing adalah daging yang penuh dengan keberkahan karena menjadi pengganti ketika Nabi Ibrahim akan menyembelih Nabi Ismail, digunakan pada qurban Idul Adha, juga digunakan pada akikah. Namun banyak muslim yang takut makan daging kambing, karena informasi dari barat yang mengatakan bahwa daging kambing menyebabkan kolesterol tinggi, darah tinggi, dan asam urat.

Ketika membayangkan bank syariah, kebanyakan orang membayangkan repot, jaringan sedikit, dan keluhan lainnnya. Padahal apa pun yang ada di bank konvensional, di bank syariah juga ada. Maka seharusnya, tidak ada lagi kartu bank konvensional di dompet kita.

Banyak muslim yang menjadi muslim sejak lahir, menjadi muslim karena ikut-ikutan, tetapi tidak belajar Islam. Kita perlu banyak bertanya agar menjadi tahu dan dapat mengamalkan. Seringkali orang tidak segan untuk berkata bahwa dirinya awam dalam hal Islam, tetapi rela untuk belajar sampai jenjang yang demikian tinggi untuk ilmu dunia.

Bila ditanyakan kepada muslim, mengapa mereka shalat, maka akan ada beragam jawaban. Jawaban yang tepat adalah sebagaimana pada Al Baqarah ayat 3, yaitu orang beriman yang percaya kepada yang gaib. Tidak semua orang Islam bergerak untuk shalat ketika adzan. Tugas kita mengajak dan memberi tahu, jangan menghakimi. Banyak masjid besar yang kosong di waktu isya dan subuh. Inilah yang menyebabkan orang kafir menghinakan kita.

Uang masyarakat muslim saat ini masih banyak di bank konvensional. Ustadz membuat kepanjangan untuk RIBA yaitu Rayuan Iblis Berujung Azab. Rayuan bank konvensional berupa hadiah, kemudahan transaksi, layanan prima, serta wanita-wanita penggoda.

Sebentar lagi kita menjelang tahun baru Masehi. Banyak orang yang senang menyambut tahun baru Masehi dengan berbagai kegembiraan termasuk meniup terompet dengan anak-anak kita. Ini karena kita masih memiliki uang yang tidak diridhai Allah. Bila rezeki kita halal, maka kita akan senang menutup aurat, kita akan mencintai Al Qur’an, kita tidak suka mendengar musik. Ketika berjumpa dengan keluarga, yang kita cek adalah sudah shalat atau belum. Kita tidak menonton TV kecuali untuk hal-hal yang baik, seperti ceramah dan Al Qur’an.

Berkatalah jujur, maka Allah akan memperbaiki amal, dengan mempertemukan kita dengan orang alim.

Ketika sakit biasaya kita langsung membawa ke rumah sakit. Padahal penyakit zhahir hanya 10%.
Padahal ada 50% penyakit yang sering tidak dianggap sakit, yaitu sulit beribadah kepada Allah.
20% lagi adalah emosi marah jika disampaikan kebenaran karena berteman dengan syaitan. Padahal dalam hadits sudah dikatakan “la taghdhab wa lakal jannah, janganlah kamu marah dan bagimu surga.”
20% lagi adalah buruk sangka.

Untuk semua penyakit ada 6 obat yang mujarab :
1.   Al Qur’an, obat terbaik, sakit apa pun bisa sembuh. Kita perlu mendekatkan diri dengan Al Qur’an, bawalah Al Qur’an ke manapun kita pergi.  Banyak muslim malu membawa Al Qur’an dan membawa Al Qur’an di smartphone. Al Qur’an di smartphone padahal di smartphone bisa juga ada hal buruk, maka kita mencampurkan antara yang haq dengan yang bathil. Padahal orang kafir bangga membawa kitab mereka. Kita harus berani membawa Al Qur’an, agar orang kafir takut dan tidak menghinakan muslim.
2.   Habbatussauda, mengobati semua penyakit kecuali mati.
3.   Madu murni.
4.   Minyak zaitun, bisa digunakan untuk menetralkan suhu badan anak yang demam, dan digunakan di wajah untuk membuat awet muda untuk orang dewasa.
5.   Kurma, menguatkan untuk muslim yang jarang makan dan sering berpuasa, juga bisa mencegah santet.
6.   Air zamzam, menyembuhkan semua penyakit dan semua yang diinginkan akan diberikan Allah.

Ustadz Dwiono saat ini bekerja di BNI Syariah, yang beliau singkat menjadi BNIS, dengan kepanjangan Benci Neraka Ingin Surga.

Tanya Jawab :
Apakah perbedaan antara bank syariah yang satu dengan bank syariah yang lainnya.

Perlu pemahaman tentang akad-akad syariah, agar kita bisa memastikan setiap transaksi yang terjadi di bank syariah. Sering  orang menghakimi, padahal tidak memiliki ilmu, hanya ikut-ikutan dengan apa yang diajarkan ustadz.
Pada dasarnya semua bank syariah baik. Kita bisa memilih bank syariah manapun, dengan keyakinan tersebut.

Namun, memang bila kita menemui karyawan bank syariah, ada 4 kelompok karyawan bank syariah :
1.   Yang takut dengan azab Allah, jumlahnya sangat sedikit.
2.   Yang ditempatkan di bank syariah, dan belum sepenuhnya memahami konsep syariah.
3.   Yang mencari jabatan di bank syariah, karena saat ini bank syariah sedang berkembang, juga belum memahami konsep syariah.
4.   Pekerja yang baru lulus kuliah, yang tidak memiliki latar belakang syariah.

Bila kita menemui 3 dari 4 kelompok terakhir, mungkin masih ada informasi tentang syariah yang kurang tepat, kita jangan langsung menghakimi, sampaikan apa yang kita ketahui dengan baik.
Pada dasarnya sesuai dengan UU No. 21 tahun 2008 pasal 56, BI bisa memberhentikan karyawan bank syariah bila tidak menjalankan prinsip syariah dengan benar.



Thursday, August 21, 2014

Dijauhkan dari Laknat Allah

Dari ceramah dzuhur, tetapi mohon maaf lupa dicatat siapa Ustadz/Ustadzah-nya, dan juga tidak sampai selesai. Semoga tetap bermanfaat.

Ad dunya mal'unah wa ma fiha illa bitsalatsin, semua di dunia akan dilaknat dan semua yg ada di dalamnya, kecuali 3.


Dilaknat artinya tidak diberkahi, tidak diselamatkan, tidak diberikan keberkahan.

1. Dzakarallah : yang selalu dzikir, ibadah, ingat pada Allah

Sebagai hamba Allah, istri, ibu, pekerja, anggota masyarakat, daiyah, anak.
Setiap menyisir rambut anak kita, setiap lembar rambut bernilai ibadah untuk kita.

Ketika kita bekerja, niatkan bahwa kita keluar ini karenamu ya Allah, untuk meningkatkan kualitas pendidikan, membantu suami, bukan meninggalkan kewajiban kita.

2. Orang berilmu

Syarat ibadah diterima adalah adanya ilmu, ikhlas, dan ada contoh dari Rasulullah. 

Friday, August 15, 2014

Mempersiapkan Anak Menghadapi Akil Balig

Kajian Jum’at disampaikah oleh Ustadzah Fitri dari Sanggar Senyum yang juga seorang Kepala Sekolah SDIT.

Ustadzah Fitri sering menemui kasus bahwa anak remaja tidak siap untuk menjadi akil balig. Misalnya, belum memahami apa dan bagaimana itu haid, bagaimana membersihkan pembalut, takut dan malu diejek teman dan dimarahi orang tua ketika sudah akil balig.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua untuk mempersiapkan anak menghadapi akil balig :

1. Jaga komunikasi intensif

Komunikasi intensif harus dimulai sejak dini, dan semakin intensif ketika anak berusia 9 tahun. Lakukan komunikasi tentang hal apa saja, siapkan waktu khusus untuk masing-masing anak, agar dialog dapat berlangsung dengan lebih terbuka.

Dengan demikian akan terbangun trust, bahwa ayah dan ibu adalah orang yang tepat, yang akan menjadi sahabat jika ada masalah, yang dapat menjadi teman komunikasi yang “asik” menurut anak.

Jangan menunggu masalah baru memulai komunikasi, karena akan tertanam image bagi anak, bahwa ketika orang tua berkomunikasi artinya ada masalah, artinya akan dimarahi, diomeli, dan diberi nasihat.

Buat suasana yang menyenangkan untuk anak, agar anak merasa senang dan rileks, tidak ada rasa khawatir “mau diapain nih aku”.

2. Ketika ada masalah, sampaikan bahwa kita sebagai orang tua mereka adalah sahabat yang baik.

Sampaikan, bahwa referensi kita dapat menjadi referensi untuk anak. Sejak usia 9 tahun sudah bisa dimulai dialog tentang akil balig. Tanyakan apa yang sudah mereka ketahui tentang akil balig, jelaskan dan jawab pertanyaan yang diajukan anak. Jika ada pertanyaan yang belum bisa terjawab, mintalah waktu dan carilah informasi, kemudian berikan jawabannya.

Sampaikan bahwa orang tua perlu mengetahui masa penting anak, dan akil balig adalah salah satu masa penting anak. Minta anak untuk bertanya dan menyampaikan tentang akil balig pertama kali kepada orang tua, bukan kepada teman.

3. Ubah cara pandang

Sering kali kita membuat pernyataan kepada anak kita yang berusia 9-11 tahun “Nak, kok begitu sih, kamu kan sudah besar”. Padahal mereka bagaimana pun masih anak-anak, dan masih memerlukan referensi dari kita.

Dan justru semakin besar anak kita, maka sebenarnya mereka memerlukan perhatian yang lebih besar.

Agar Didoakan Malaikat

Dari Kajian Dzuhur yang disampaikan oleh Ust. Hasan Bishri.

Keistimewaan Do’a Malaikat
Maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.” (QS. Fushshilat: 38).
“Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).

Manusia Yang Didoakan Malaikat

1. Bersuci Sebelum Tidur

“Siapa yang bermalam dalam kondisi suci, maka Malaikat akan bermalam bersamanya. Tidaklah ia terbangun kecuali Malaikat mendo’akannya: ‘Ya Allah ampunilah hamba-Mu si Fulan, karena dia telah bermalam dalam kondisi suci.” (HR. Ibnu Hibban, dan dishahihkan Syekh al-Arnauth)

Apabila engkau hendak tidur di pembaringan, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan, dan bacalah: Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa takut dan penuh haram kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus. Jika kamu mati di malam itu, kamu mati dalam keadaan fitrah. Jadikanlah do’a tersebut sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan sebelum tidur.” (HR. Bukhari: 247, dan Muslim: 2710) 

‫: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ.


2. Itikaf di Masjid

Nabi saw. bersabda: “Para Malaikat selalu mendo’akan kalian selama masih ada di tempat shalatnya (Masjid). Mereka berkata: ‘Ya Allah kasihilah dia, ya Allah ampunilah dia, ya Allah terimalah taubatnya.” (HR. Muslim)

3. Berjamaah di Shaf Depan

Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-nya bershalawat pada mereka yang ada di Shaf terdepan.” (HR. Nasa-i dan dishahihkan Syekh al-Albani)  


4. Berjamaah di Shaf Sebelah Kanan

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya berdo’a untuk mereka yang ada di Shaf kanan. (HR. Abu Daud dan dihasankan al-Albani)

5. Mengisi Shaf yang Kosong

Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-nya bershalawat pada mereka yang mengisi Shaf kosong.” (HR. Nasa-i dan dishahihkan Syekh al-Albani)

6. Membaca ‘Aamiiin” Bersamaan dengan  Imam

“Jika seseorang di antara kalian mengucapkan “amin” dan bersamaan dengan itu malaikat yang di langit juga mengucapkannya sehingga bertepatan bacaan yang satu dengan yang lainnya, maka Allah
 akan mengampuni dosa orang tersebut yang telah lalu.” (HR. Muttafaq ‘alaih) 


7. Shalat Shubuh Berjamaah

“Siapa yang shalat Shubuh lalu tetap duduk di mushollanya, maka para Malaikat mendo’akannya. Do’a Malaikat tersebut adalah: ‘Ya Allah ampunilah dia, ya Allah sayangilah dia.” (HR. Ahmad dan dihasankan Imam Ahmad Syakir)

8. Infaq di Pagi Hari

Ketika semua hamba di setiap pagi hari, ada dua malaikat yang turun. Yang pertama berdo’a: ‘Ya Allah, berilah ganti pada orang yang telah berinfaq.’ Dan yang kedua berdo’a: ‘Ya Allah, lenyapkanlah harta orang yang enggan berinfaq.” (HR. Muttafaqun)

9. Mengajar Kebaikan ke Sesama

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya, serta para penghuni Langit dan Bumi, sampai semut di lubangnya dan ikan, mereka semua mendo’akan orang yang mengajarkan kebaikan kepada sesama.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan al-Albani).

10. Mendo’akan Sesama secara Ghaib

“Tidaklah seorang Muslim yang mendo’akan saudaranya tanpa sepengatuhannya, kecuali Malaikat berkata: “Kabulkan ya Allah, dan bagimu juga.” (HR. Muslim)

11.   Menjenguk Orang Sakit

“Tidaklah seorang Muslim menjenguk sesamanya kecuali Allah akan mengirim untuknya 70.000 Malaikat untuk mendo’akannya. Jika menjenguknya di pagi hari, maka dido’akan sampai sore. Jika jenguknya malam, maka dido’akan sampai pagi.”
(HR. Hakim dan dishahihkan al-Albani).


12. Bersantap Sahur

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya berdo’a pada orang-orang yang bersantap sahur.” (HR. Ibnu Hibban, dan dishahihkan al-Albani) 


13. Menjamu Orang Berbuka Puasa

"Sesungguhnya orang yang puasa akan didoakan oleh para malaikat apabila ada orang lain yang berbuka dengannya sampai kenyang (selesai)."
(HR. Tirmidzi dan ia menghasankannya)

14. Bershalawat Pada Rasulullah

"Tidaklah Seorang hamba bershalawat kepadaku kecuali para malaikat akan mendoakannya selama dia masih bershalawat. Maka hendaklah seorang hamba bershalawat sedikit atau banyak."
(HR. Ahmad dan dishahihkan al-Albani).


15. Berdoa Saat Berduka

“Jika kamu jenguk orang sakit atau bertakziyah, maka berdo’alah kebaikan. Karena para Malaikat akan mengamini do’a kalian.” (HR. Muslim)



Monday, July 21, 2014

Ceramah 23 Ramadhan 1435 : Sehari Bersama Orang Tua

Ceramah disampaikan oleh Ustadz Yasir A. Liputo 

Ustadz sering berdialog dengan para orang tua yang sudah berusia lanjut, bahwa anak-anak mereka sekalipun pulang kampung dan datang ke rumah, mereka tidak merasa dirindukan, karena anak-anak hanya bertemu 1 jam, lalu pergi karena bertemu teman-teman sekolah yang juga pulang kampung atau menghadiri acara-acara lainnya.

Cobalah untuk sehari penuh bersama orang tua, mirip seperti i'tikaf berdiam di masjid.

Menyayangi orang tua (birrul walidain) termasuk juga mertua.

Dalam memperlakukan orang tua, kita diminta untuk berbuat ihsan.

Ada dua pengertian ihsan.

Yang pertama ihsan dalam konteks akidah.
Yaitu beribadah seolah-olah kita melihat Allah, dan jika kita tidak dapat melihat Allah, sesungguhnya Allah melihat kita.

Yang kedua adalah ihsan dalam konteks berbuat baik.
Merujuk kepada hadits, bahwa Allah mewajibkan berbuat ihsan antara lain ketika menyembelih hewan.

Dalam Al Qur'an, kata ihsan disebutkan sebanyak 6 kali, 5 di antaranya pada ayat yang berkaitan dengan orang tua yaitu Al Baqarah 83, An Nisa 36, Al Isra 23-24, Luqman 14, Al Ahqaf.

1 yang lain adalah An Nahl 19, yang sering dibacakan khatib dalam shalat Jum’at.
Kepada orang kita tidak diminta untuk berbuat adil, karena adil tidak cukup untuk orang tua.

Dalam surat Al Baqarah 83, hanya dua hal pokok yang dibahas yaitu Allah dan orang tua. Ini adalah ayat yang sangat serius. Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Allah “telah menetapkan”, bukan sekedar ajakan atau anjuran.

Ada perbedaan antara adil dan ihsan. Adil adalah mengambil hak sebagaimana porsinya, serta memberikan hak sebagaimana porsinya. Sedangkan ihsan adalah mengambil hak kurang dari porsi, serta memberikan hak lebih dari porsi.

Dalam Islam, istilah yang dikenal adalah yatim, yaitu anak yang ayahnya meninggal ketika anak tersebut masih kecil. Tidak dikenal istilah piatu dalam Islam.

Jika hidup bermasalah, kita perlu evaluasi, apakah kita bermasalah dengan orang tua?

Dalam bulan Ramadhan ada dua doa yang dianjurkan untuk diucapkan sesuai dengan hadits dari Aisyah, yang salah satunya adalah “Allahumma inna nas’aluka ridhaka wal jannah, wa na’udzubika min sakhatika wan naar”.
Urutan yang diminta adalah ridha Allah, surga, dijauhkan dari neraka. Ridha Allah ditempatkan pada urutan pertama. Dan dalam hadits lain disebutkan bahwa ridha Allah berada pada ridha orang tua.

Dari yang kita alami selama ini, justru orang tua yang lebih ihsan kepada kita. Kita sering lebih sibuk dengan urusan keluarga kita sendiri, dan berkata, “kan ada anak yang lain, mengapa harus saya?” Sungguh sangat disayangkan.

Tanda-tanda jika orang tua ridha kepada anaknya :
1.       Jika orang tua selalu memaafkan anaknya
2.       Jika orang tua selalu berlapang dada kepada anaknya
3.       Jika orang tua selalu mendoakan atas kesalahan anaknya.
Ketiga hal ini sangat sulit kita dapatkan dari orang lain selain orang tua.

Bagi seorang anak, yang terpenting ketika berurusan dengan orang tua adalah “quick respond”. Segera memberikan respon dalam situasi apa pun. Jangan menunda.

Di antara ibu dan ayah, pada masa kecil, ibu yang lebih ridha, ibu yang mengandung, melahirkan, mengurus ketika sakit, mengurus berbagai keperluan anak. Ayah ridha pada anak ketika menikahkan putrinya.

Salah satu faktor penentu kebahagiaan di masa tua adalah perilaku menantu. Ayah harus melakukan seleksi dahulu kepada calon menantu.

Untuk seorang ayah yang telah berusia lanjut, yang penting baginya bukan berapa uang yang anaknya kirimkan. Beliau akan menjawab, sudah cukup dengan uang pension, sudah cukup dengan pendapatan dari kontrakan. Yang diperlukan ayah adalah dibanggakan dan dihormati.

Maka anak-anak harus kita latih sejak kecil, jika mereka datang dan mencari ibu, ingkatkan agar mereka menemui dahulu ayahnya.

Janganlah kita berbantahan dengan orang tua.

Ada kisah tentang pentingnya ridha orang tua. Di masa nabi Musa, ada seorang soleh yang bernama Juraij. Ketika Juraiz sedang beribadah, ibunya memanggil. Namun Juraij tidak menjawab panggilannya karena ingin menyelesaikan ibadahnya. Hal ini terjadi sampai dua kali. Kemudian tersiar berita bahwa ada seorang bayi yang lahir dari perzinaan Juraij dengan seorang perempuan. Penduduk marah dan mengancam akan membakar Juraij hidup-hidup di rumah ibadahnya sebagai hukuman. Ibu Juraij berkata bahwa dia sudah memaafkan Juraij atas kesalahan yang dilakukannya, namun penduduk tetap pada pendiriannya. Kemudian Juraij memerintahkan bayi itu untuk mengatakan siapa ayahnya, dan bayi itu berkata bahwa ayahnya bukan Juraij, melainkan seorang penggembala. Terbebaslah Juraij dari hukuman penduduk.

Apa bila kita berkata-kata kepada orang tua, gunakanlah kata-kata yang mulia. Cobalah untuk mengerti orang tua kita, karena sudah sangat banyak pengertian yang orang tua berikan pada kita.
Dalam sehari bersama orang tua di hari lebaran nanti ajaklah mereka kita akan berjalan-jalan ke luar rumah, ajaklah juga ketika akan makan di luar rumah.

Semoga ridha Allah dapat kita peroleh dari ridha orang tua.

Untuk anak, ridha Allah pada ridha orang tua. Namun perlu diingat juga bahwa untuk istri, ridha Allah ada pada ridha suami.
Maka ingatkan kepada ibu kita, bahwa beliau boleh berkata bagaimanapun pada kita, namun kepada ayah hendaklah beliau berkata baik.
Karena salah satu sebab banyaknya perempuan masuk neraka adalah karena mereka sedikit sekali bersyukur dengan kebaikan yang diberikan suaminya.

Ada kalanya dalam perjalanan hidup, kita menjadi lebih memahami Islam dengan benar sementara orang tua masih dalam pemahaman yang kurang tepat. Kita tetap berkewajiban menyampaikan hukum yang benar, namun tetap harus memperhatikan akhlak kepada orang tua. Hukum dan akhlak dalam Islam tidak pernah bertentangan.

Bahkan dalam kisah nabi Musa, ketika Allah memerintahkan nabi Musa untuk mendatangi Fir’aun yang telah melampaui batas, nabi Musa diminta untuk menggunakan kata-kata yang lembut kepada ayah angkatnya itu.

Kita harus merendahkan diri ke hadapan orang tua, bersikap arif, jangan sampai orang tua tersinggung. Sungguh, tanpa beliau, kita bukan siapa-siapa. Tanpa perjuangan dan pengorbanan mereka, kita bukan siapa-siapa. Apa yang mereka lakukan lebih ikhlas dari pemberian kita.

Ada suatu kisah seseorang yang datang kepada Umar bin Khattab, usianya 54 tahun, dia berkata bahwa dia sudah berbuat baik kepada ibunya sejak usianya 13 tahun. Jika tiba waktu haji dan umroh, ia menggendong ibunya untuk haji dan umroh. Walaupun ia sudah menikah, ia tetap mengutamakan ibunya. Ia bertanya, sudahkah ia berbuat baik? Umar berkata belum.

Perbedaan kasih sayang anak kepada orang tua dengan orang tua kepada anak, adalah anak seringkali menghitung-hitung apa yang sudah diberikannya kepada orang tua.

Untuk orang tua yang sudah meninggal, kewajiban anak adalah :

1. Shalatkan dan doakan.
Jika orang tua meninggal dan ada anak yang minta ditunggu, tunda untuk dimandikan. Karena jika sudah dimandikan, harus segera dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan. Jika ditunda dimandikan, bisa menunggu.
Jika kita selesai memandikan jenazah, kita harus mandi karena terkena najis. Setelah mandi baru bisa menshalatkan.

2. Penuhi janjinya.
Memenuhi janji adalah kewajiban anak, sehingga sebenarnya kurang tepat jika ketika ada orang tua meninggal kemudian keluarga menyampaikan bahwa “kepada yang masih memiliki urusan agar menghubungi keluarga”, karena justru itu adalah kewajiban anak untuk mencari janji yang perlu diselesaikan.

3. Sambung silaturahim
Yaitu dengan orang-orang yang kita kenal melalui orang tua kita.


4. Meneruskan kebaikan-kebaikan yang biasa dilakukan selama hidup.

Thursday, June 26, 2014

Hadits : Sedekah itu Mudah

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata :

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Setiap anggota tubuh manusia dapat melakukan sedekah, setiap hari di mana matahari terbit lalu engkau berlaku adil terhadap dua orang (yang bertikai) adalah sedekah
Engkau menolong seseorang yang berkendara lalu engkau bantu dia untuk naik kendaraannya atau mengangkatkan barangnya adalah sedekah
Ucapan yang baik adalah sedekah
Setiap langkah ketika engkau berjalan menuju shalat adalah sedekah
Dan menghilangkan gangguan di jalan adalah sedekah


HR Bukhari dan Muslim

Monday, March 17, 2014

Masukan untuk ODOJ - Sistem Lelang

Kalau boleh ingin memberikan masukan untuk ODOJ, terutama pada sistem lelang yang digunakan.
Lelang ini sebaiknya dipertimbangkan ulang karena beberapa hal berikut :

Pertama, kenapa ada lelang? Kalau saya melihatnya, tujuannya adalah supaya tercapai khatam kelompok. Pertanyaanya, apakah khatam kelompok ini memang perlu dikejar?

Kedua, ketika kita ambil lelang, apa niat kita? Apakah untuk mencapai khatam kelompok? Yang sebenarnya tidak ada? Apakah untuk membantu teman? Apakah untuk membaca Al Qur’an saja? Memang benar bahwa dengan adanya lelang dan pembagian lembar / juz di akhir waktu membuat terbangun kerja sama dan saling membantu. Tapi jika tujuan dari kerepotan itu adalah khatam kelompok yang masih samar tadi, apakah tidak lebih baik kita melakukan kesibukan lain yang lebih jelas tujuannya?

Ketiga, ada hadits sbb :
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anh, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi)

Dengan adanya lelang, kita jadi membaca Al Qur’an melompat-lompat. Yang melelang melompati juz yang tidak dibaca, yang membaca lelangan melompat ke juz lain dan lembar lain dari juz lelang yang diambil.

Membaca melompat-lompat ini juga yang akan terjadi  kalau ada yang ingin membaca lebih dari satu juz, tetapi karena ODOJ membatasi satu juz  per hari, sehingga disarankan untuk “tilawah sendiri” yang artinya melompat ke juz lain tilawah sendiri tersebut.

Keempat, dengan sistem lelang ini, akan ada pihak yang karena keterbatasannya menjadi terus menerus melelang, dan ada pihak lain yang harus terus menerus menerima lelang. Dalam jangka waktu panjang, akan terjadi rasa kurang nyaman bila ini terus menerus terjadi. Tentunya bisa diusahakan agar lelang digilir, atau berusaha mengikhlaskan saja, tetapi sistem ini membuat ODOJ menjadi tertutup dengan orang-orang yang masih ada di masa transisi. Padahal semua kebaikan harus dihargai walaupun masih diawali dengan hal yang sedikit.

Kelima, ada hadits sbb :
Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Hal ini tergambar dari hadits berikut: Dari Abdullah bin Amru bin Ash, beliau berkata, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berapa lama aku sebaiknya membaca Al-Qur’an?” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam satu bulan.” 

Dengan lelang, seseorang yang melelang juz-nya jadi tidak mengkhatamkan Al Qur’an karena dia melompati juz yang dilelang. Tentunya ini bisa disiasati dengan dia mengejar juz yang sudah dia lelang, tetapi karena dia akan menerima tugas juz sesuai pembagian kelompok, dia akan membaca melompat-lompat.

Lalu bagaimana usulannya?

ODOJ tanpa lelang, tetap menargetkan 1 juz per hari, tetapi ada fleksibilitas.
1.       Di awal waktu penanggung jawab harian membagi juz sesuai perkembangan masing-masing.
2.       Setiap orang membaca sesuai kemampuannya.
3.       Di waktu dzuhur setiap orang melaporkan pencapaiannya, penanggung jawab harian menyampaikan rekap
4.       Saling memotivasi jika ada yang masih belum mencapai setengah juz
5.       Di akhir waktu setiap orang melaporkan kembali di status baca terakhir, tidak perlu detil, juz saja, masing-masing yang mengetahui detilnya.
6.       Jika ada hari itu yang khatam, silakan membaca doa khatam.

Insya Allah akan lebih mudah, simple, terbuka bagi siapa saja, bisa saling memotivasi antara mereka yang sudah 2 atau 3 juz per hari dengan yang masih beberapa lembar per hari, sesuai sunnah karena masing-masing membaca runtun dari awal sampai akhir dan mulai lagi dari awal dan semua bisa mengusahakan untuk khatam masing-masing dalam sebulan.


Semoga masukan ini dapat dipertimbangkan, agar ODOJ dapat menjadi lebih baik lagi.