Thursday, August 30, 2012

Tips Shalat Khusyu’ : Penuhi Pikiranmu!



Kita sering membaca berbagai tips untuk shalat khusyu', berikut ada pembahasan yang cukup menarik, tentang shalat khusyu' dan kaitannya dengan bisikan setan dalam shalat serta cara otak kita bekerja.
 
Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari email yang saya terima dari http://understandquran.com, dari Dr Abdulazeez Abdulraheem, dengan judul asli “Don’t complain of Shaitan whispering, if you..”

Semoga bermanfaat.

==

Semua manusia mengalami gangguan dalam kekhusyu’an shalat, yang ditimbulkan oleh bisikan setan. Namun kita sedemikian terbiasa dengan kondisi tersebut, sampai akhirnya kita berhenti berusaha mencari solusinya.

Agar shalat dapat dilakukan dengan khusyu’, kita harus menutup seluruh pintu dan jendela pikiran kita dari kemungkinan masuknya setan.

Otak kita dapat mengerjakan paling tidak 5 hal secara bersamaan dalam satu waktu. Misalnya ketika kita sedang mengendarai mobil, maka secara bersamaan kita melakukan hal-hal berikut :
1.       Mengendalikan kemudi mobil
2.      Menekan dan melepaskan rem
3.      Berbicara dengan teman
4.      Memperhatikan situasi jalan
5.      Berpindah jalur
6.      Menghindar dari pejalan kaki dan kendaraan lainnya
Dan seterusnya.

Jika dalam shalat kita hanya membaca Al Qur’an / bacaan shalat saja, maka saat itu kita hanya menggunakan 1 kanal saja dari 5 kanal otak kita yang sebenarnya bisa bekerja bersamaan.

Mungkin ada yang pernah mendengar ungkapan : Pikiran kosong manusia adalah ruang kerja bagi setan. Maka yang sebenarnya lebih tepat adalah : Kanal pikiran kosong manusia adalah ruang kerja bagi setan.

Ketika kita biarkan 4 kanal tersebut terbuka untuk setan, apakah setan akan membiarkan kita shalat dengan benar? Tidak! Setan akan melakukan apa saja untuk menghancurkan shalat kita! Dia akan mengingatkan kita pada berbagai hal, selama kita shalat. Paling tidak pikiran kita akan teralih ke gangguan kecil seperti suara orang batuk atau suara kendaraan di luar. Dan perlahan-lahan setan akan mengajak kita keluar dari shalat kita!

Lalu, bagaimana solusinya?
Solusinya adalah, kita harus mengisi seluruh kanal pikiran tersebut? Bagaimana caranya?

     1.  Bacalah Al Qu’ran / bacaan shalat
     2.  Pahami bacaan yang kita baca
     3.  Bayangkan bacaan yang kita baca
     4.  Rasakan bacaan yang kita baca
     5.  Berinteraksi dengan bacaan yang kita baca

Jika kita belum melakukan kelima hal tersebut, maka artinya kita sudah mengundang setan untuk berbisik pada kita, tidak ada gunanya kita mengeluh tentang godaan setan itu. 

Maka yang terpenting adalah kita memahami Al Qur’an. Di website understandingquran.com terdapat kursus yang dapat membantu hal tersebut, lebih dari sekedar belajar Bahasa Arab.

Kita harus terus belajar untuk memperbaiki shalat kita.

With best wishes and prayers,
Dr Abdulazeez Abdulraheem

==

Ayo belajar Bahasa Arab, baca Al Qur'an dengan artinya, berusahalah memahami seluruh bacaan shalat. Boleh coba ikut kursus di website tersebut, atau cari kursus lain, atau paling tidak belajar sendiri dengan berbagai sumber yang sudah sangat banyak tersedia. 

Semoga Allah senantiasa membantu kita untuk memperbaiki shalat kita, sebagai amal utama kita untuk menghadap-Nya nanti.

Aamiin ya rabbal 'aalamiin..

Tuesday, August 28, 2012

Status Hari Ini : Bete?


Saya sering melihat beberapa teman menuliskan status di FB, BB, Twitter, YM, dll dsb, dengan berbagai berita buruk : bete, kesal, macet, sakit, lelah, bosan, malas, pusing, dll dsb.

Hehehe, sekedar tes sebentar, bagaimana perasaan kita ketika membaca rentetan berita buruk di atas? Seperti sempat terbawa ke situasi buruknya ya?

Memang sih, ketika ketika berada dalam situasi yang tidak menyenangkan, rasanya kita perlu “menumpahkan” perasaan itu. Salah satu cara yang sekarang “ngetrend” adalah menuliskannya di status.

Mungkin perlu dievaluasi lagi, apa tujuan “menumpahkan” itu? Sekadar supaya orang mengetahui apa yang kita rasakan? Lalu setelah orang mengetahui, kita ingin diapakan? Diperhatikan, dibangkitkan, diberi motivasi? Mengapa perlu orang lain untuk memperhatikan, membangkitkan, dan memotivasi?

Yang terjadi adalah, setiap kita membaca status kita, kita makin merasa situasi memburuk, dan orang lain yang membaca pun bisa jadi malah terbawa suasana buruk. Berani bertanggung jawab untuk itu?

Please grow up :-) Bangkitlah sendiri, motivasilah dirimu sendiri. Banyak orang lain yang memiliki problem yang lebih besar, menghadapi situasi yang lebih sulit. 

Kalau tetap terasa sulit, kembalikan ke Allah. Pada dasarnya segala sesuatu, walaupun ada orang yang melakukannya, terjadi karena ketetapan Allah. Kembalikan ke Allah, minta kemudahan dan solusi pada Allah, dan bangkitlah lagi. 

Coba ubah statusnya menjadi lebih positif misalnya : berusaha mencari titik terang, pasti ada solusinya, macet kesempatan berkontemplasi, berjuang melawan flu, semangaaaaat, be happyyyy, smiiiile :-)

Kita juga makin bersemangat, orang yang membaca juga ikut bersemangat. 

Semoga bermanfaat :-)

Mengubah “Saya Harus” menjadi “Saya Ingin”


Pernah merasakan bedanya? Ketika sesuatu kita lakukan karena merupakan keharusan, maka akan terasa berat, terasa sebagai beban, walaupun itu adalah sebuah hal yang remeh dan mudah. Misalnya, ketika kita baru saja merebahkan diri, anak kita minta diambilkan minum. Wah, rasanya beraaaat :-)
 
Tetapi, ketka kita lakukan sesuatu karena kita memang menginginkannya, maka beban seberat apapun tidak akan terasa. Misalnya, kondisi yang mirip dengan tadi, kita baru saja merebahkan diri, tiba-tiba terdengar adzan maghrib tanda buka puasa, di puasa kita hari pertama Ramadhan, pasti kita langsung bangkit kembali dan malah bisa berlari ke arah meja makan :-)

Sesuatu akan menjadi terasa sebagai suatu keharusan ketika “perintahnya” datang dari orang lain. Bisa dari anak kita, pasangan kita, bos kita, orang tua kita, dan siapa saja di luar kita.

Sedangkan keinginan datang dari kita sendiri, karena kebutuhan kita sendiri, karena sesuatu yang kita sukai.
Masalahnya, tidak semua yang kita lakukan memang merupakan keinginan kita. Semakin banyak kita berinteraksi dengan orang lain, semakin banyak “stakeholder” kita, maka semakin banyak “permintaan” yang datang kepada kita.

Bila kita memandang semua permintaan itu sebagai keharusan, waaaah, bisa-bisa hidup jadi seperti robot, yang terbeban, lama-lama mati kelelahan :-)

Karena itu, kita mesti coba ubah pandangan kita, supaya permintaan yang sebenarnya datang dari orang lain itu, menjadi kebutuhan kita, keinginan kita, kesukaan kita, bahkan hal yang kita tunggu-tunggu seperti adzan maghrib di bulan puasa :-) (lebay dikit.. )

Gimana caranya? Nah ini yang perlu dirumuskan.. :-)

Ambil kembali contoh yang tadi yaa.. Ketika anak kita minta tolong diambilkan minum. Pandang itu sebagai sebuah kesempatan emas berinteraksi dengan anak kita. Bahwa sebentar lagi, waktu mereka sudah besar, mereka tidak akan lagi meminta tolong pada kita. Bisa jadi nanti kita akan kehilangan saat-saat seperti itu. Bahwa dengan kita mengambilkan minum untuk mereka ketika mereka memang belum bisa mengambil sendiri, nanti ketika kita tua dan kesulitan, mereka akan dengan ikhlas membantu kita. Bahwa “perintah” yang datang dari anak kita itu, sebenarnya adalah “perintah” dari Allah, yang kita perlu “point”-nya untuk di akhirat nanti..

Hehehe panjang juga ya proses perumusannya.. Mudah-mudahan sempat dilakukan ketika aneka “permintaan” dan “perintah” datang, dan kita bisa lakukan dengan penuh semangat :-)

Kalau khawatir tidak sempat berpikir panjang, sepertinya point terakhir bisa digunakan di seluruh kasus, bahwa segala “perintah”, “tugas”, “permintaan”, walaupun datang dari siapa pun, pada hakikatnya adalah “perintah” dari Allah, yang kita perlukan “point”-nya untuk di akhirat nanti. Lakukan segala sesuatu hanya untuk Allah, dan mohonlah kekuatan kepada Allah. 

Semoga bermanfaat :-)

Thursday, August 16, 2012

27 Ramadhan - Bermasyarakat ala Rasulullah

Hari terakhir ceramah Ramadhan di kantor, disampaikan oleh Ustadz Syahroni Mardani, Lc. Semoga bermanfaat.

Rasulullah aktif bergaul di masyarakat. Ketika terjadi banjir di Mekkah yang sampai merusak ka’bah, sebelum Rasulullah menjadi Nabi, beliau ikut membersihkan ka’bah dan menjadi pemberi solusi dalam kesepakatan pemilihan siapa yang mengembalikan hajar aswad.

Maka “menjadi anak gaul adalah sunnah nabi”. Muslim yang bergaul dan sabar lebih baik daripada muslim yang tidak bergaul dan tidak sabar. Karena memang dalam pergaulan pasti terdapat tantangan.

Rasulullah adalah pribadi yang rendah hati dan tawadhu, sehingga beliau disenangi orang. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah berkata bahwa orang yang memiliki barang berhak untuk membawa barangnya sendiri, kecuali jika ia tidak kuta, ia dapat meminta tolong kepada yang lain. Tentunya dengan niat baik karena Allah.

Dalam hadits disebutkan bahwa harta yang disedekahkan tidak akan berkurang. Mereka yang suka memaafkan akan dimuliakan. Dan yang rendah hati karena Allah akan diangkat derajatnya oleh Allah.

Dikisahkan Rasulullah sedang berjalan dengan sahabat yang bernama Qays. Saat itu Rasulullah naik kuda, sedangkan Qays berjalan kaki di sampingnya. Rasulullah pun meminta Qays agar naik ke kuda beliau, namun Qays menolak. Lalu Rasulullah berkata bahwa jika akan berjalan bersama, agar naik ke kuda beliau. Jika tidak mau naik ke kuda beliau, lebih baik berjalan terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah merasa tidak nyaman ketika berjalan berkuda sedangkan ada teman seperjalanan yang berjalan kaki.

Ketika Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah, kaum Anshar tidak mengetahui yang mana Rasulullah, dan yang mana Abu Bakar. Hal ini karena Rasulullah tidak memiliki pakaian khusus sebagai nabi, tetap mengenakan pakaian biasa saja.

Rasulullah memiliki unta yang bernama Al Adba, yang tidak pernah terkalahkan (barangkali karena memang kencang, atau karena sahabat tidak ingin mendahului unta Rasulullah). Suatu hari ada seorang Arab dari perkampungan yang untanya mendahului unta Rasulullah. Sahabat pun merasa tidak nyaman. Rasulullah lalu bersabda, “Siapa yang menyombongkan diri dunia akan direndahkan oleh Allah SWT.”

Rasulullah peduli pada orang lain. Setelah shalat, beliau menghadap ke jamaah, untuk mengetahui siapa saja yang hadir dan tidak hadir, karena sakit misalnya.

Dalam hadits disebutkan bahwa barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tamu, memuliakan tetangga, dan berkata yang baik atau diam.

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Islam yang paling baik adalah memberi makan untuk orang lain dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal maupun yang belum kamu kenal.

Memberi makan termasuk untuk orang miskin maupun kepada teman dan kerabat. Yang juga baik adalah mengundang orang untuk makan bersama. Dengan makan bersama akan terjalin silaturahim. Orang yang sering mengundang maka, akan disukai orang. Janganlah kita termasuk orang yang “syuhha”, yaitu  bakhil berlebihan, bukan hanya bagi orang lain tetapi juga bagi diri sendiri.

Mengundang makan adalah tradisi dalam Islam, misalnya pada walimah akikah ataupun walimah ursy (pernikahan).  Minimal memotong 1 kambing, dan tidak ada batas maksimal. Mereka yang diundang tetapi tidak datang, maka termasuk maksiat kepada Allah. Dapat dikatakan wajib untuk datang, dan sunnah untuk makan.

Rasulullah selalu tersenyum, dan mengucapkan salam, dan menegur yang kenal maupun yang belum kenal. Dan beliau mengucapkan salam terlebih dahulu.

Abdullah bin Umar berjalan di Mekkah bersama Abdullah bin Fulan (maaf tidak terdengar namanya), kemudian mereka berjumpa dengan orang tua, Abdullah bin Umar pun menyapa, memberikan sorban, dan memintanya naik ke kudanya. Ketika ditanya, ternyata orang tua tersebut adalah kawan almarhum ayahnya, Umar bin Khattab. Maka salah satu cara berbakti pada orang tua yang telah wafat adalah dengan menghormati kawan-kawan beliau.

Wednesday, August 15, 2012

26 Ramadhan - Amalan Ramadhan, Idul Fitri, dan Zakat

Ceramah hari ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Sarwat, semoga bermanfaat.

Terdapat perbedaan antara Ramadhan dan Idul Fitri di masa Rasulullah dan di masa sekarang.
Yang dilakukan Rasulullah selama Ramadhan adalah tarawih, qiyamul lail, dilanjutkan dengan sahur. I’tikaf merupakan ibadah sunnah, yang sebenarnya dapat dilakukan juga di luar Ramadhan. Di bulan Ramadhan nilainya lebih tinggi. Rasulullah selama masa I’tikaf tidak keluar dari masjid sejak malam 21 Ramadhan sampai dengan maghrib 30 Ramadhan.

Namun lamanya I’tikaf tidak menjadi ukuran sahnya I’tikaf.
Di Indonesia biasanya hanya sampai malam 29, itu pun pesertanya biasanya sudah sangat sedikit. Serta biasanya lebih ramai di hari ganjil.
I’tikaf boleh berapa pun durasinya, perbedaannya nanti adalah pada pahalanya, yang akan bertambah jika waktunya lebih lama.

Karena I’tikaf adalah sunnah, maka jika ada hal yang wajib, I’tikaf harus mengalah. Misalnya bagi mereka yang bekerja, wajib untuk bekerja. Lain halnya jika ia bisa mengatur sehingga bisa cuti di masa I’tikaf.

Dalam I’tikaf dianjurkan memiliki pembantu yang bertugas membawakan makanan, karena lebih utama makan di masjid daripada makan di luar masjid.

OB di masjid bisa sambil kerja sambil berniat I'tikaf. Pada dasarnya syariat Islam tidak berat.

Karena I’tikaf tidak wajib, tidak perlu dinaikkan statusnya menjadi wajib. Karena masih banyak hal lain yang wajib, yang jangan sampai kita lupakan.

Seperti pada zakat. Orang sering lupa berzakat, tetapi sering menyumbang, infaq. Padahal zakat adalah kewajiban. Mereka yang tidak berzakat dianggap gugur keislamannya. Mereka yang tidak berzakat, sebagaimana dalam surat At Taubah ayat 32, akan dimasukkan ke dalam neraka bersama hartanya. Harta emas dan perak tersebut akan dibakar, lalu ditempelkan ke dahi, perut, dan punggung mereka, seraya malaikat berkata, “rasakan inilah harta yang kau tumpuk-tumpuk dan tidak dizakatkan.”

Agar bisa berzakat dengan benar, kita perlu memahami harta mana saja yang wajib dizakatkan. Mobil dan rumah, walaupun besar dan banyak, tetapi tidak menghasilkan, maka tidak terkena zakat.

Yang terkena zakat adalah emas, perak, uang, yang ditumpuk. Akan kena zakat kalo sampai nishab-nya, yaitu setara dengan emas 85 gram, atau kira-kira senilai Rp 42.5 juta. Jika suatu  waktu harta kita sudah mencapai Rp 42.5 juta, Maka tunggu 1 tahun dari waktu tersebut, jika harta kita masih sama atau lebih dari jumlah tersebut, maka itulah waktu untuk membayarkan zakatnya

Mobil, rumah, kondo, tanah, kuburan san diego, tidak dizakatkan, karena bukan termasuk harta yang produktif. Harta yang produktif dizakatkan dari hasil produksinya.

Zakat tidak ada hubungannya dengan Ramadhan. Zakat dibayarkan jika sudah tiba waktunya sesuai haul-nya. Bagi petani, zakat dilakukan ketika panen.
Zakat profesi, merupakan zakat yang masih dalam kontroversi. Sebagian ulama menganggap ada zakat profesi, sebagian lagi tidak.
Kita bisa memilih mana yang sesuai dengan keyakinan kita.

Namun, mana pun yang kita pilih, zakat tabungan tetap wajib.

Zakat fithrah wajib bagi mereka yang memiliki harta untuk hari ini dan besok. Zakat fitrah berupa makanan pokok.

Arti ‘Id Fithr : ‘Id = hari raya, Fithr = makanan
Ifthar : buka puasa, fathur : makan pagi
Zakat fithrah : zakat makanan pokok
Rasulullah memberikan zakat fithrah berupa gandum dan kurma

Idul Fitri artinya adalah hari raya untuk makan, maka tidak boleh berpuasa. Dan kita harus berbagi dengan yang berkekurangan. Afdhal-nya adalah makan sebelum shalat. Sehingga zakat fithrah sebaiknya ditunaikan di malam Idul Fitri.

Berbedal dengan Idul Adha, kita diminta untuk berpuasa setelah subuh, dan berbuka setelah menyembelih binatang kurban dan memakan sebagiannya.

Zakat fitrah boleh menggunakan uang. Sunnah aslinya menggunakan makanan pokok secara langsung, dan diserahkan kepada orang yang terdekat di sekitar kita, melalui amil, dan diberikan hanya kepada muslim.

Zakat bukan pencuci uang. Harta yang tidak sah, haram, abu-abu, haram juga untuk dizakatkan. Harta semacam itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Kita jika menemukan uang, tidak boleh memasukkannya ke kotak amal. Jika ada barang tercecer, maka kita bisa tinggalkan, atau kita ambil lalu kita umumkan selama 1 tahun di masjid. Ini merupakan bentuk amal ibadah.

Zakat bertujuan untuk membersihkan diri, bukan membersihkan harta.

Dari 8 penerima zakat, yang diutamakan adalah fakir miskin. Fakir miskin boleh memperoleh sampai 7/8 dari seluruh dana zakat. Sedangkan 7 penerima lainnya maksimal 1/8.
Karena kebanyakan penjelasan mengenai zakat adalah untuk fakir miskin. Hanya 1 ayat yang menjelaskan 8 asnaf.

Yatim dan janda tidak termasuk penerima zakat, kecuali jika mereka termasuk fakir dan miskin.

Tidak semua masjid fisabilillah, yang termasuk fi sabilillah adalah masjid yang ada di front terdepan, di tempat minoritas, yang membutuhkan perjuangan.

Harta yang belum dikuasai tidak perlu dizakatkan, seperti simpanan dana pensiun (DPLK). Harta tersebut belum dapat kita gunakan. Kita zakatkan ketika nanti kita terima, setelah setahun, dan jumlahnya masih di atas nishab.

Zakat sebaiknya tidak dibayar sebelum waktunya, tetap tunggu waktunya, walaupun di antara waktu-waktu tersebut ada fluktuasi.

25 Ramadhan - Tazkiyatun Nafs dan Lailatul Qadr


Ceramah kali ini disampaikan oleh Ust. Muhsinin Fauzi, semoga bermanfaat.

Apa pun yang kita hadapi di dunia ini, dan di mana pun kita menghadapinya, itu adalah “soal” dari Allah. Tinggal kita bisa mengerjakan atau tidak.

Pentingnya kebersihan hati, berkaitan dengan 3 hal berikut :
1. Kebahagiaan seseorang ditentukan kondisi hatinya
2. Kesuksesan lahir dari akhlaq, akhalq lahir dari kondisi batin
3. Keselamatan di akhirat dicapai dengan hati yg bersih

Dosa tertinggi adalah syirik, selain itu sombong, iri, dan mencintai dunia.

Terkait dengan dunia, muslim wajib menguasai, tetapi tidak boleh mencintai. Jika seseorang ingin meraih akhirat, maka dunia akan ia peroleh, dunia akan datang padanya. Allah memerintahkan muslim untuk banyak berzakat, maka muslim “harus” kaya. 

Dunia dan akhirat tidak bisa berada dalam satu hati. Hati tidak bisa diganggu. Jika kita fokus kepada dunia, maka pasti akhirat akan terlupakan. Untuk bisa fokus kepada akhirat, maka kita harus meninggalkan dunia dari hati kita.

Terkadang merasa merasa tidak rela, jika ia telah bersusah payah bekerja, penghasilannya harus digunakan untuk menafkahi banyak orang, keluarga besar. Padahal sebenarnya ia beruntung, karena rezeki saudaranya dilewatkan kepadanya. Bagaimana jika sebaliknya? Apakah ia mau?

Muslim tidak perlu mengejar jabatan. Namun muslim diperintahkan untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Untuk melaksanakannya, diperlukan kekuasaan. Karena jika tanpa kekuasaan, yang bisa dilakukukan bukan “amar ma’ruf” tetapi “permohonan ma’ruf” atau “himbauan ma’ruf”.

Di Indramayu, bupati memerintahkan seluruh warganya agar membaca  Al Qur’an selama 15 menit setiap hari sebelum bekerja. Al Qur’an dibagi. Hal ini bisa dilakukan karena bupati memiliki kekuasaan. Jika ustadz yang menyampaikan, hanya akan berlaku sebagai himbauan, yang terus akan ditawar-tawar oleh jamaah.

Walaupun kita memiliki dunia, kita harus zuhud. Jika kita tidak punya apa-apa, lalu kita zuhud, maka itu sebenarnya bukan zuhud.

3 cara agar hati bersih :

Pertama, at takholly takhliyyah, yaitu ke perilakunya, membersihkan hati dari penyakit hati dengan bertaubat.
Bertaubat dari dosa, karena jika kita telah bertaubat, kita menjadi seperti tidak punya dosa, dan kemudia kita berhak untuk memiliki kedekatan pada Allah, maka kita bukan lagi manusia biasa, melainkan wali Allah.

Perilaku yang buruk dijinakkan. Misalnya seseorang yang sombong dengan mobilnya, maka jangan menggunakan mobil.

Jika kita masih sombong dengan suatu karunia, maka sesungguhnya mental kita belum siap dengan karunia itu. Tanda bahwa kita sudah stabil adalah, sebesar apa pun karunia, kita siap menerima, hati tidak oleng.

Tanda oleng adalah kita merasa tidak nyaman di hati, ada sesuatu yang berbeda dalam hati. Misalnya ketika kita menyatakan “rumah saya di kompleks, rumahnya di gang”, jika kita masih ada sesuatu rasa berbeda dalam hati, maka itu perlu diwaspadai.

Sombong adalah sedikit merasa lebih dari orang lain.
Diawali dengan ujub, yaitu merasa bangga dengan sesuatu. Lebih jauh lagi, sifat ujub ini semakin didorong dengan kapitalisme, yang memang mendorong orang membeli sesuatu untuk dapat dibanggakan. Contohnya, ketika kita bangga, “anak saya pintar”.
Setelah itu, ingin kebanggan tersebut didengar oleh orang lain : sifat sum’ah. Contohnya, kita ceritakan ke teman kita, “anak saya pintar, dia dapat nilai sekian sekian.”
Selanjutnya, kebanggaan tersebut kita perlihatkan : sifat riya’. Contohnya, kita tunjukkan anak kita, dan sampaikan prestasinya.
Selanjutnya, kita menjelekkan milik orang lain : sifat sombong. Contohnya, setelah kita menceritakan prestasi anak kita, kita menjelekkan anak orang lain.

Dengan fenomena social media, ketika orang “narsis” menampilkan dirinya, maka harus hati-hati, apakah kita telah ujub, sum’ah, riya’, bahkan sombong.

Yang lebih buruk lagi adalah maghrur, yaitu sombong, padahal tidak punya apa-apa.

Yang kedua, at tahally tahliyah, yaitu memasukkan sifat baik ke hati dengan berbagai cara salah satu memperkuat ibadah. Dengan memasukkan sifat-sifat baik, semoga lambat laun akan membersihkan hati.

Sebenarnya dunia dan segala isinya yang kita rasa menjadi milik kita ini, dapat diibaratkan seperti mobil yang dititipkan ke kita sebagai tukang parkir. Kita tidak perlu bangga dengan barang yang dititipkan. Harta, istri, anak, semua hanya “Allah parkirkan” untuk kita. Sangat mudah bagi Allah untuk “mengambil kembali yang telah Ia parkirkan”. Pada istri, tinggal Allah berikan rasa benci, maka ia akan meninggalkan suaminya, tidak perlu cara yang panjang dengan sakit lalu meninggal. Harta tinggal Allah buat kita lupa dengan nomor rekening, maka bisa dibilang hilang sudah harta kita.

Pelajaran tentang ilmu hati, dapat diibaratkan seperti dokter spesialis, sedangkan ilmu secara syariat dan hukum adalah dokter umum.

Secara umum, kita mungkin sudah melakukan shalat, puasa, zakat, sesuai hukum, dan sah. Namun jika ditelusuri lebih lanjut, apakah kita khusyuk dalam shalat? Apakah kita telah bersyukur ketika makan? Karena ikhlas, sabar, syukur, mencintai Allah, mencintai Rasulullah, takut pada Allah, juga merupakan perintah Allah.

Ketiga, at tahaqquq wat takholluq, yaitu mempelajari asmaul husna, dan berusaha mengikuti sifat Allah.
Allah bersifat Rahman dan Rahim, maka kita harus bersifat lembut. Ulama yang memiliki pendekatan dengan hati, ketika melihat maksiat tidak akan marah, dia akan jatuh kasihan, sehingga justru orang tersebut menjadi trenyuh dan ingin bertaubat. Seperti yang dilakukan oleh Walisongo. Karena jika seseorang didekati dengan hati, akan bertemu dengan hati.

Selanjutnya adalah mengikuti sifat-sifat Rasulullah, yang antara lain bersyukur dengan seluruh badan beliau.

2 metode dalam membersihkan hati :

Pertama, mengambil semua syariah sebagai sarana tazkiyatun nafs, yang dicontohkan oleh Hasan Al Banna, disebut sebagai Islam syamil, dengan semua melakukan ibadah faraidh dan nawafil. Secara teori sangat luar biasa, dan bila diimplementasikan dengan benar, akan benar-benar dekat pada Allah. Namun, seringkali menjadi tidak fokus.

Yang kedua, fokus pada dzikir. Seluruh ibadah lain dijalankan secara rata-rata, fokus pada dzikir. Hal ini yang dilakukan pada tasawuf dan tarikat.

I'tikaf bertujuan menghindar dari debu dosa, ber-uzlah, untuk mendapatkan kebenaran.

Dicintai Allah adalah ujung perjalanan.
Perbuatan adalah wasilah atau sarana agar kita dapat dekat dengan Allah, sehingga kita memperoleh rahmat Allah, dan akhirnya Allah berikan surga.

Dzikir dalam kesendirian mengobati penyakit. Tidak ada yang lebih bermanfaat untuk hati, selain uzlah,  menyingkir dari dunia, membersihkan diri. Sendiri dengan Tuhannya, membersihkan hati.

Lailatul qadr adalah 1 malam yang Allah tetapkan jadi malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang beribadah di malem itu mendapatkan rizki lailatul qadr. Sebagian mengatakan ada di 10 malam terakhir Ramadhan, sebagian mengatakan di malam ganjilnya, sebagian mengatakan di malam 27 Ramadhan, seperti di Timur Tengah yang fokus beribadah di malam tersebut.

Bagaimana caranya agar memperoleh kemuliaan lailatul qadr? “Nongkrong” di masjid. Rasulullah mencontohkan I’tikaf dengan duduk, dan berdiam, menyendiri. Lebih baik lagi jika ditambah dengan membaca Al Qur’an. Hidupkan malam, maka kita akan mendapatkan kemuliaan lailatul qadr. Tinggal yang perlu dipastikan adalah, bagaimana kualitas ibadah kita saat itu? Kuat atau lemah? Benar-benar terjaga, atau sambil mengantuk?

Fokus dari ibadah di malam lailatul qadr adalah taubat. Sebagaimana hadits dari Sayyidah 'Aisyah Radhiyallahu 'anha bahwa dia berta "Ya Rasulullah apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi) apa yg harus aku ucapkan?" Beliau menjawab"Ucapkanlah Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan Mencintai orang yg meminta ampunan maka ampunilah aku. (Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa, fa’fuani)"  (HR. Tirmidzi (3760) Ibnu Majah (3850) dari 'Aisyah sanad shahih).