Friday, July 29, 2011

Sejarah Ramadhan

Dari ceramah Jumat, tentang sejarah Ramadhan.

Dalam sebuah hadits qudsi (perkataan Allah yang redaksinya dari Rasulullah) :
Semua amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untuk Aku, dan Aku yang langsung akan membalasnya.

Ada pendapat bahwa makna dari hadits ini adalah bahwa seluruh ibadah lain berpotensi disusupi riya', karena bisa dilihat oleh orang lain, terlihat mana yang baik dan mana yang buruk. Misalnya membaca Al Qur’an, berceramah, shalat.
Sedangkan puasa, adalah ibadah sirriyah, bersifat rahasia, tersembunyi. Tidak terlihat secara kasat mata, mana yang berpusa dengan melakukan amal banyak dengan mereka yang menghabiskan waktunya untuk tidur. Hanya kita dan Allah yang mengetahui.

Kitab-kitab Allah diturunkan di bulan Ramadhan. Suhuf Ibrahim diturunkan di malam pertama Ramadhan. Taurat di tanggal 6 Ramadhan. Injil di tanggal 13 Ramadhan. Al Qur’an di tanggal 24 Ramadhan (atau ada juga yang menyatakan tanggal 17 Ramadhan). Maka Ramadhan lah yang Allah pilih untuk menjadi bulan puasa, karena di bulan itu diturunkan kitab-kitab Allah tersebut.

Maka, amal yang paling dicintai Allah di bulan Ramadhan adalah membaca Al Qur'an.

Ibadah Ramadhan membuat kita lebih tinggi dalam orientasi ukhrawi dari pada dunia. Maka sebaiknya urusan dunia selesaikan sebelum Ramadhan, sehingga salah satu persiapan yang penting untuk Ramadhan memang adalah persiapan harta, agar kita dapat melakukan perbelanjaan untuk bulan Ramadhan dan Syawal di bulan-bulan sebelum Ramadhan.

Puasa adalah perisai, tidak boleh berkata keji, kotor, caci maki. Ketika ada yang mengajak berkelahi, katakan, “Aku sedang berpuasa.” Tidak boleh bohong, tidak boleh marah. Termasuk juga di malam harinya.

Doa buka puasa yang sahih adalah seperti ditulis di blog berikut :
http://dialogimani.wordpress.com/2008/08/02/doa-berbuka-puasa-sunnah/

Bagi orang yang berpuasa, ada dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka, dan nanti ketika berjumpa dengan Allah di akhirat.

Ada tiga orang yang doanya Allah kabulkan : orang yang berpuasa hingga berbuka, hakim yang adil, dan orang yang teraniaya.

Teknisnya, ketika berbuka puasa, sebelum minum kita berdoa, setelah minum kita berdoa lagi. Panjatkan seluruh harapan dan keinginan kita kepada Allah. Sebagaimana pada Al Baqarah 186 : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku deka. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”

Ayat ini disampaikan dalam rangkaian penjelasan tentang Ramadhan. Maka di bulan Ramadhan adalah salah satu waktu terbaik untuk memanjatkan doa, yaitu ketika berbuka puasa.

Dalam memotivasi anak untuk berpuasa, karena mereka belum wajib berpuasa, sebaiknya tidak menggunakan paksaan. Biarkan mereka berpuasa semampu mereka. Misalnya sahur jam 8 pagi, lalu puasa, jam 10 buka lagi, lalu puasa lagi, jam 12 buka lagi, dan seterusnya. Yang penting kita memperkenalkan adanya sahur, puasa, zakat, dan berbagai kegiatan di bulan Ramadhan. Kita buat penyambutan Ramadhan, buat hiasan seperti di hari ulang tahun. Yang perlu disambut adalah Ramadhan, bukan Idul Fitri.

Khatam Al Qur’an, paling cepat adalah 3 hari.
Membaca Al Qur’an yang terbaik adalah dengan pemahaman. Namun jika dirasa akan menjadi terlalu lama, kita dapat juga memfokuskan pada khatam Al Qur’an dengan membacanya tanpa artinya, namun kita berniat bahwa setelah Ramadhan nanti kita akan pelajari artinya.

Sudahkah kita tetapkan target baca Al Qur’an kita? 1 kali khatam? 2 kali? 3 kali? Mari kita tetapkan, semoga Allah berikan kemudahan.

Bersama Keluarga Menyambut dan Mengisi Ramadhan

Dari berbagai pengajian, saya coba susun tips menyambut dan mengisi bulan Ramadhan, semoga bermanfaat.

Pertama, kita tumbuhkan semangat dan rasa rindu untuk bertemu dengan bulan Ramadhan :

- Membuat hiasan-hiasan di rumah seperti suasana ulang tahun, membuat spanduk dengan tulisan “Selamat datang Ramadhan” dengan seluruh anak-anak, tentunya dengan pembagian peran sesuai kemampuan anak-anak kita.
- Menjanjikan hadiah bila anak mencapai target puasa, juga disesuaikan dengan kemampuan anak kita masing-masing.
- Bercerita kepada anak-anak tentang menyenangkannya Ramadhan, ketika berbuka, dengan makanan-makanan kesukaan mereka.
- Ceritakan tentang besarnya rahmat Allah di bulan Ramadhan, doa yang dikabulkan, lailatul qadr yang seperti amalan 1000 bulan, yang bisa didapatkan juga oleh anak-anak

Kedua, kita atur waktu agar tidak habis untuk hal-hal yang kurang prioritas di bulan Ramadhan :

- Menyiapkan berbagai keperluan lebaran sebelum Ramadhan tiba. Hal ini termasuk bingkisan untuk keluarga besar, tetangga, uang receh untuk saweran, pesanan aneka makanan dan kue lebaran.
- Mengatur waktu cuti pembantu agar tidak semua pulang secara bersamaan. Jika ada kelebihan uang, selama pembantu pulang kampung, pekerjakan pembantu pengganti. Persiapkan pemesanannya sejak sebelum Ramadhan, termasuk anggarannya.

Ketiga, meluruskan mana yang prioritas di hari Idul Fitri dan 10 hari terakhir Ramadhan :

- Mudik sebenarnya tidak harus dilakukan di Idul Fitri. Rasulullah tidak pulang ke Mekkah ketika Idul Fitri. Jika memang keluarga kita dekat, di satu kota, tak apa jika kita bersilaturrahim. Tetapi jika harus ke luar kota, menghabiskan banyak biaya, melelahkan, untuk suatu hal yang tidak prioritas. Jika memungkinkan, sampaikan juga kepada para pembantu di rumah, untuk mempertimbangkan hal ini. Boleh juga kita janjikan uang tambahan jika mereka tidak pulang di hari Idul Fitri.
- Baju lebaran sebenarnya tidak harus baru. Rasulullah menyarankan mengenakan pakaian terbaik, tetapi tidak menyatakan pakaian baru. Perlu diluruskan agar pembelian pakaian baru, sepatu baru adalah sesuai kebutuhan, bukan dijadwalkan di setiap Idul Fitri.
- Memasak kue dan aneka masakan sebenarnya juga tradisi yang agak berlebihan. Di Idul Fitri sambil bersilaturrahim ke rumah-rumah keluarga, maka masing-masing keluarga menyediakan makanan, dan kita pun jadi makan berkali-kali. Sungguh agak kontradiktif dengan prinsip Islam yang menghindarkan makan terlalu kenyang dan sikap mubazir.

Keempat, bersama-sama menyusun rencana program Ramadhan, antara lain tilawah Al Qur’an, lokasi tarawih jika tidak tarawih di rumah, lokasi I’tikaf jika berniat I’tikaf, serta detil rencana untuk pelaksanaannya.

Semoga Allah memudahkan kita mengoptimalkan setiap detik Ramadhan kali ini..

Lailatul Qadr

Ceramah Jum’at lalu diisi oleh Ust. Santi Sinta, tentang Lailatul Qadr.

Apakah kita sudah menyadari pentingnya Lailatul Qadr?

Sepertinya masih banyak yang di 10 hari terakhir Ramadhan masih disibukkan dengan belanja pakaian lebaran di mal, sibuk memasak di dapur, demi menyambut Syawal. Padahal yang lebih penting untuk kita sambut adalah Ramadhan, dibandingkan dengan Syawal. Dan persiapan yang paling utama diperlukan adalah persiapan ruhiyah.

Sesuai dengan katanya, maka lailatul qadr terjadi di malam hari. Al Qadr bermakna bahwa yang memperoleh lailatul qadr akan abadi dalam kebaikan. Karena semua kebaikan yang dilakukan, dicatat Allah seolah-olah dilakukan selama 83 tahun 4 bulan (1000 bulan)

Terdapat beberapa makna dari Al Qadr.

Pertama, At ta'zim, yaitu agung, keagungan.
Pada malam itu Allah turun ke langit bumi, membawa pasukan Al Qur'an secara sempurna. Al Qur’an adalah perkataan Allah, yang merupakan bagian dari dzat Allah. Allah memutuskan memerintahkan seluruh malaikat turun bersama-Nya ke langit bumi. Semuanya.

Pernah digambarkan bahwa malaikat Jibril ketika mengepakkan sayap kiri menutupi seluruh ufuk barat, dan sayap kanan menutupi seluruh ufuk timur. Maka di malam itu sungguh bumi akan dipenuhi oleh malaikat.

Kedua, Asyrof, syarf, yaitu kemuliaan.
Lailatul qadr hanya diberikan Allah kepada makhluk-Nya yaitu manusia, yaitu pahala 1000 bulan. Umur sesorang biasanya lebih besar jumlahnya dari ibadahnya, karena sulit bagi seseorang untuk terus dalam kondisi beribadah. Dengan karunia lailatul qadr, maka kita seolah-olah melakukan kebaikan tanpa terputus selama 1000 bulan. Dan kemuliaan ini hanya ada di malam lailatul qadr.

Ketiga, At thadiyiq, yaitu sempit, terbatas.
Lailatul qadr tidak ada di zaman sebelum Rasulullah. Sesuai hukum Allah, sesuai sunatullah, malam adalah waktu istirahat, Sehingga perlu upaya agar di 10 malam terakhir kita dapat terbangun, mendekatkan diri pada Allah, bergadang untuk kebaikan.

Di malam itu seluruh malaikat turun, memenuhi bumi, sehingga sebenarnya bumi terasa sangat sempit. Namun manusia tidak bisa merasakannya. Padahal malam itu malaikat memenuhi bumi, akan memberikan ganjaran bagi manusia yang mau mencarinya. Malaikat akan berdoa untuk orang yang beribadah di malam itu. Dan, doa malaikat selalu diijabah.

Keempat, Al Manzilah, kedudukan yang tinggi, yaitu surga.
Di bulan Ramadhan, neraka ditutup dan surga dibuka. Kita sudah pernah mendengar ciri-ciri lailatul qadr. Dan biasanya orang bisa merasakannya, karena keberkahannya yang sangat luas.

Kelima, Al Barokah, malam keberkahan.

Keenam, Taqdir.
Malam itu merupakan malam penentuan amal baik seseorang yang akan ditetapkan untuk tahun depan, menunjukkan sejauh mana amal kita di tahun depan. Di malam itu kita sampaikan apa yang kita inginkan.

Dengan segala kemuliaan lailatul qadr tersebut, sebenarnya sungguh rugi jika kita sia-siakan untuk keperluan dunia menyambut Syawal.

Maka kita perlu merencanakan target kita untuk bulan Ramadhan. Di Mesir, di 10 hari terakhir, jamaah masjid membludak. Dan indahnya lailatul qadr, setiap orang bisa memperolehnya jika ia mencarinya. Jika suami yang memperoleh, maka imbasnya akan ke seluruh keluarga, begitu pula jika istri atau anak yang memperoleh. Dengan catatan, semua bekerja sama untuk kebaikan.

Segala urusan duniawi memang perlu disiasati untuk mempermudah, misalnya dengan makanan-makanan yang praktis.

Lailatul qadr, mengapa Allah letakkan di 10 hari terakhir? Padahal biasanya justru di awal Ramadhan lah kita masih bersemangat, dan di akhir itu kita sudah “menurun” semangatnya? Justru itulah ujian dari Allah. Di bulan Ramadhan, memang setan dibelenggu, tetapi nafsu, kita kendalikan sendiri.

Allah juga berikan jaminan terbebas dari neraka malam itu, dengan 1 hari di padang mahsyar sama dengan 50 ribu tahun umur manusia. Surga yang sudah cantik Allah minta untuk berhias menyambut hamba Allah yang beribadah pada-Nya.

Bagaimana dengan mudik? Jika memungkinkan, berikan pembelajaran pada orang tua. Agar tidak perlu pulang setiap tahun, atau pulang di hari di luar Ramadhan dan Syawal. Kita latih orang tua kita. Dan di masa depan nanti, kita juga harus rela jika keluarga tidak berkumpul di hari Idul Fitri.

Di malam lailatul qadr, apa yang dapat kita lakukan? Optimalkan dzikir, tilawah, dan doa. Jangan pikirkan keletihan. Semua orang bisa, termasuk mereka yang haid dan nifas, juga anak-anak. Ini adalah hak veto Allah. Mereka yang mencari, akan menemukan.

Semoga kita semua termasuk yang memperoleh keberkahan lailatul qadr di Ramadhan mendatang.. Aamiin..


Ceramah Jum’at lalu diisi oleh Ust. Santi Sinta, tentang Lailatul Qadr.

Apakah kita sudah menyadari pentingnya Lailatul Qadr?

Sepertinya masih banyak yang di 10 hari terakhir Ramadhan masih disibukkan dengan belanja pakaian lebaran di mal, sibuk memasak di dapur, demi menyambut Syawal. Padahal yang lebih penting untuk kita sambut adalah Ramadhan, dibandingkan dengan Syawal. Dan persiapan yang paling utama diperlukan adalah persiapan ruhiyah.

Sesuai dengan katanya, maka lailatul qadr terjadi di malam hari. Al Qadr bermakna bahwa yang memperoleh lailatul qadr akan abadi dalam kebaikan. Karena semua kebaikan yang dilakukan, dicatat Allah seolah-olah dilakukan selama 83 tahun 4 bulan (1000 bulan)

Terdapat beberapa makna dari Al Qadr.

Pertama, At ta'zim, yaitu agung, keagungan.
Pada malam itu Allah turun ke langit bumi, membawa pasukan Al Qur'an secara sempurna. Al Qur’an adalah perkataan Allah, yang merupakan bagian dari dzat Allah. Allah memutuskan memerintahkan seluruh malaikat turun bersama-Nya ke langit bumi. Semuanya.

Pernah digambarkan bahwa malaikat Jibril ketika mengepakkan sayap kiri menutupi seluruh ufuk barat, dan sayap kanan menutupi seluruh ufuk timur. Maka di malam itu sungguh bumi akan dipenuhi oleh malaikat.

Kedua, Asyrof, syarf, yaitu kemuliaan.
Lailatul qadr hanya diberikan Allah kepada makhluk-Nya yaitu manusia, yaitu pahala 1000 bulan. Umur sesorang biasanya lebih besar jumlahnya dari ibadahnya, karena sulit bagi seseorang untuk terus dalam kondisi beribadah. Dengan karunia lailatul qadr, maka kita seolah-olah melakukan kebaikan tanpa terputus selama 1000 bulan. Dan kemuliaan ini hanya ada di malam lailatul qadr.

Ketiga, At thadiyiq, yaitu sempit, terbatas.
Lailatul qadr tidak ada di zaman sebelum Rasulullah. Sesuai hukum Allah, sesuai sunatullah, malam adalah waktu istirahat, Sehingga perlu upaya agar di 10 malam terakhir kita dapat terbangun, mendekatkan diri pada Allah, bergadang untuk kebaikan.

Di malam itu seluruh malaikat turun, memenuhi bumi, sehingga sebenarnya bumi terasa sangat sempit. Namun manusia tidak bisa merasakannya. Padahal malam itu malaikat memenuhi bumi, akan memberikan ganjaran bagi manusia yang mau mencarinya. Malaikat akan berdoa untuk orang yang beribadah di malam itu. Dan, doa malaikat selalu diijabah.

Keempat, Al Manzilah, kedudukan yang tinggi, yaitu surga.
Di bulan Ramadhan, neraka ditutup dan surga dibuka. Kita sudah pernah mendengar ciri-ciri lailatul qadr. Dan biasanya orang bisa merasakannya, karena keberkahannya yang sangat luas.

Kelima, Al Barokah, malam keberkahan.

Keenam, Taqdir.
Malam itu merupakan malam penentuan amal baik seseorang yang akan ditetapkan untuk tahun depan, menunjukkan sejauh mana amal kita di tahun depan. Di malam itu kita sampaikan apa yang kita inginkan.

Dengan segala kemuliaan lailatul qadr tersebut, sebenarnya sungguh rugi jika kita sia-siakan untuk keperluan dunia menyambut Syawal.

Maka kita perlu merencanakan target kita untuk bulan Ramadhan. Di Mesir, di 10 hari terakhir, jamaah masjid membludak. Dan indahnya lailatul qadr, setiap orang bisa memperolehnya jika ia mencarinya. Jika suami yang memperoleh, maka imbasnya akan ke seluruh keluarga, begitu pula jika istri atau anak yang memperoleh. Dengan catatan, semua bekerja sama untuk kebaikan.

Segala urusan duniawi memang perlu disiasati untuk mempermudah, misalnya dengan makanan-makanan yang praktis.

Lailatul qadr, mengapa Allah letakkan di 10 hari terakhir? Padahal biasanya justru di awal Ramadhan lah kita masih bersemangat, dan di akhir itu kita sudah “menurun” semangatnya? Justru itulah ujian dari Allah. Di bulan Ramadhan, memang setan dibelenggu, tetapi nafsu, kita kendalikan sendiri.

Allah juga berikan jaminan terbebas dari neraka malam itu, dengan 1 hari di padang mahsyar sama dengan 50 ribu tahun umur manusia. Surga yang sudah cantik Allah minta untuk berhias menyambut hamba Allah yang beribadah pada-Nya.

Bagaimana dengan mudik? Jika memungkinkan, berikan pembelajaran pada orang tua. Agar tidak perlu pulang setiap tahun, atau pulang di hari di luar Ramadhan dan Syawal. Kita latih orang tua kita. Dan di masa depan nanti, kita juga harus rela jika keluarga tidak berkumpul di hari Idul Fitri.

Di malam lailatul qadr, apa yang dapat kita lakukan? Optimalkan dzikir, tilawah, dan doa. Jangan pikirkan keletihan. Semua orang bisa, termasuk mereka yang haid dan nifas, juga anak-anak. Ini adalah hak veto Allah. Mereka yang mencari, akan menemukan.

Semoga kita semua termasuk yang memperoleh keberkahan lailatul qadr di Ramadhan mendatang.. Aamiin..

Thursday, July 28, 2011

Apa Target Ramadhan Kita?

Kabarnya, Rasulullah dan para sahabat, jika telah berlalu bulan Ramadhan, maka 6 bulan setelah Ramadhan adalah bulan pelestarian amal-amal Ramadhan tersebut. Dan 6 bulan setelah itu adalah persiapan untuk ke Ramadhan berikutnya.

Coba kita hitung ya, berarti persiapan Ramadhan itu dimulai sejak kapan ya?
Coba kita cek berdasarkan bulan Hijriyah yaaa..

Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah.

Maka, persiapan Ramadhan dimulai sejak Rabiul Awal. Yaitu sejak bulan Maulud. Dan waktu pelestarian amalan Ramadhan berlangsung sampai bulan Safar. Subhanallah.
Di kantor saya, Alhamdulillah bazaar Ramadhan yang tahun-tahun sebelumnya dilakukan di bulan Ramadhan, digeser waktunya menjadi sebelum Ramadhan. Maka ini mendukung karyawan untuk mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan dan urusan untuk Ramadhan sebelum Ramadhan, agar dapat lebih berfokus pada ibadah di bulan Ramadhan.

Sekarang, yang juga penting adalah rencana untuk bulan Ramadhan, agar Ramadhan kali ini tidak berlalu begitu saja, tetapi menghasilkan kualitas ibadah terbaik yang pernah kita lakukan. Waktu Ramadhan yang sangat singkat, dengan limpahan peluang pahala yang begitu besar, akan sangat sayang bila tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Seperti juga di pekerjaan, di sekolah, dalam beribadah pun kita perlu punya target. Berdasarkan target itu kita bisa menyusun rencana, mengalokasikan waktu dan sumber daya, agar target tercapai, bahkan kita dapat melebihi target.

Misalnya, kita menargetkan untuk meng-khatam-kan Al Qur’an 1 kali dalam bulan Ramadhan kali ini. Maka jika Al Qur’an terdiri atas 30 juz dan Ramadhan ada 30 hari, jadwal baca Al Qur’an adalah 1 juz per hari. 1 juz mungkin akan terasa cukup berat jika dibaca sekaligus dalam satu waktu. Maka kita bagi, misalnya setelah subuh ½ juz, menjelang maghrib ½ juz. Insya Allah bisa tercapai.

Kita bisa juga menargetkan untuk memberikan buka puasa untuk masjid. Sejak sebelum Ramadhan kita sebaiknya sudah mulai merencanakan apa yang akan kita berikan, bagaimana menyiapkannya, berapa banyak, dan berapa perkiraan biayanya.

Atau misalnya, kita bisa menargetkan untuk menambah hafalan Al Qur’an. Mirip seperti target membaca Al Qur’an, kita pilih dahulu suratnya, kita bagi surat tersebut menjadi hafalan harian. Sehari satu ayat, seperti program Ustadz Yusuf Mansyur.

Yang lain, jika kita berencana membelikan bingkisan lebaran baik untuk keluarga kita sendiri, ayah ibu, adik kakak, tetangga, karyawan, teman, dan lain-lain, juga sebaiknya disiapkan sejak sebelum lebaran. Gunakan cara yang sepraktis mungkin. Belanja online seperti hobi saya, misalnya :-)

Terakhir, jika memungkinkan, sebaiknya Ramadhan tidak usah mudik. Silaturrahim memang dianjurkan dalam Islam, tetapi tidak ada ketentuan bahwa silaturrahim dilakukan di Idul Fitri. 10 hari terakhir Ramadhan merupakan hari-hari yang sangat tinggi nilainya, dengan adanya lailatul qadr di dalamnya. Jika kita melakukan satu ibadah di saat itu, maka seolah-olah kita melakukan ibadah tersebut selama 83 tahun tanpa terputus. Subhanallah. Bahkan kita pun belum tentu dapat mencapai usia 83 tahun. Apa lagi menggunakan seluruh usia tersebut untuk beribadah. Sungguh sangat sayang jika di waktu ini kita sedang sibuk dengan aktivitas yang sebenarnya bisa kita tunda ke hari lain.

Yuk, kita buat rencana untuk Ramadhan 1432 kali ini ya.. Semoga Ramadhan kali ini menjadi yang terbaik selama ini yaa.. Aamiin.. :-)

Monday, July 25, 2011

Surga karena Rahmat Allah (Tafsir Al Haqqah)

Ibnu Abu Hatim mengatakan dst dari Abdullah ibnu Abdullah, sesungguhnya Allah menghentikan hamba-Nya di hari kiamat, lalu menampakkan kepadanya keburukan-keburukannya yang tertulis di bagian luar catatan amal perbuatannya.
Lalu Allah berfirman kepadanya, “Engkau tentu mengetahui ini.”
Hamba tersebut menjawab, “Ya, wahai Tuhanku,”
Lalu Allah SWT berfirman kepadanya, “Sesungguhnya Aku tidak akan mempermalukanmu dengannya, dan sesungguhnya sekarang Aku telah mengampunimu.”
Maka pada saat itulah hamba tersebut berkata : “Ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku." (Al Haqqah 19-20).
Hamba tersebut berkata demikian karena yakin dirinya telah selamat dari hal yang mempermalukan dirinya di hari kiamat.

Sesungguhnya telah disebutkan dalam sebuah hadits sahih dari Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa beliau bersabda : “Beramallah, luruslah dan dekatkan diri kalian (kepada Allah), dan ketahuilah bahwa seseorang dari kalian tidak akan dapat dimasukkan ke dalam surga oleh amal perbuatannya.”
Mereka bertanya, “Termasuk juga engkau, ya Rasulullah?”
Rasulullah SAW menjawab, “Dan tidak pula aku, kecuali bila Allah melimpahkan kepadaku rahmat dan karunia dari-Nya.”

Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al Haqqah

Wednesday, July 20, 2011

Ceramah Tarhib (Menyambut) Ramadhan

Ceramah Tarhib Ramadhan kali ini disampaikan oleh Ust. Muslih Abdul Karim

Ceramah diawali dengan doa dari Ust. Muslih agar seluruh jamaah diberikan rezeki yang barokah serta masuk surga. Ust. Muslih juga mengingatkan bahwa dalam kajian seperti saat itu, yang hadir tidak hanya kita, tetapi juga ribuan malaikat yang mendoakan kita.

Tema Ramadhan kantor saya adalah Ruuhuul Jadiid, yang artinya semangat baru.

Ada dua jenis ibadah, yang keduanya harus dibekali dengan ruuhul jadiid. Yang pertama adalah ibadah ritual, yang kedua adalah ibadah sosial, yang dimulai dari kerja keras.

Di akhirat nanti, ada pintu surga yang bernama Ar Rayyan, yang artinya pintu yang segar dan nikmat. Akan ditanyakan, “Mana orang yang berpuasa?” Maka semua yang berpuasa pun berdiri, dan Allah izinkan untuk masuk surga melalui pintu Ar Rayyan tersebut.

Puasa, atau ash shaumu, pada hakikatnya adalah al imsak, yang berarti menahan.

Mereka yang berpuasa, di akhirat nanti, ternyata ada yang diperbolehkan untuk masuk ke pintu Ar Rayyan, ada juga yang tidak. Yang dibolehkan masuk hanya mereka yang benar-benar menahan diri, dari makan dan minum, berhubungan suami istri, termasuk juga menahan diri dari berbuat maksiat kepada Allah, kepada perusahaan, dari perilaku curang dan juga berbohong.

Kisah Maryam ada kaitannya juga dengan shaum.

Maryam tinggal di masjid Aqsha, seorang perempuan yang salihah, jamilah (cantik), dan baik hatinya, berusia 19 tahun. Walaupun telah berusia 19 tahun, Maryam tidak pernah datang bulan.
Suatu ketika Maryam berjalan ke arah Timur, sampai di bawah sebuah pohon. Muncullah seorang pemuda tampan yang berusia sekitar 21 tahun. Maryam pun menjerit, dan berkata, “Aku berlindung kepada Allah. Wahai anak muda, jangan kaudekati aku jika kau adalah orang yang bertaqwa.” Pemuda itu pun menjawab, “Saya adalah malaikat Jibril utusan Tuhanmu.” Jibril pun menjelaskan bahwa Maryam akan hamil. Maryam pun sangat terkejut, “Bagaimana mungkin, aku tidak memiliki suami lalu hamil?”
Demikianlah Allah menakdirkan, Maryam pun hamil. Maryam sebenarnya ridha dengan takdir Allah tersebut, tetapi yang beliau khawatirkan adalah pikiran masyarakat yang tidak memahami perkaranya. Maka Maryam pun melarikan diri dari rumah, sampai ke Baitulahim. Di sana ada pohon kurma yang batangnya sudah tua. Maryam pun sempat mengeluh, bahwa beliau lebih baik mati darip pada harus menanggung malu.
Namun ternyata telah tiba waktunya melahirkan. Dan ternyata anak yang dilahirkan itu bisa berbicara. Anak itu pun berkata, “Ibu jangan sedih, senangkan hatimu, gerakkanlah batang kurma ini untuk mendapatkan makanan.” Maka batang kurma pun digerakkan, dan jatuhlah kurma 1/2 matang. Ketika diperlukan untuk mandi, muncullah air mengalir.
Maryam pun akhirnya memutuskan untuk pulang, dan berjanji untuk tidak akan berbicara dengan orang lain, berjanji untuk “shauma” (menahan, imsak).
Ketika pulang, benarlah seperti yang diduga, orang-orang mulai bertanya, “Wahai saudaranya Nabi Harun, Ayah dan Ibumu seorang yang baik, mengapa engkau memiliki anak padahal belum menikah?” Sesuai janjinya, Maryam tidak menjawab pertanyaan tersebut, dan menunjuk kepada bayinya, agar mereka bertanya kepada bayi tersebut. Bayi itu pun berbicara, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab Injil dan Dia menjadikanku seorang Nabi.”
Orang-orang itu pun memahami persoalannya, dan memaafkan Maryam.

Maka, hakikat puasa adalah menahan, jangan mengikuti hawa nafsu.

Dalam bulan Ramadhan, semua kebaikan dicatat senilai dengan ibadah wajib. Datang ke kantor adalah ibadah non ritual. Maka tiba 10 menit sebelum jam kerja, tiba tepat waktu, bisa tidak kalah nilainya dengan shalat, umrah ramadhan, bahkan haji.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia adalah orang yang merugi. Barang siapa yang hari ini lebih jelek dari pada hari kemarin, maka dia adalah orang yang celaka. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari pada hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung dan sukses dunia akhirat.

Bagaimana caranya? Cinta dhuafa, anak yatim, akan jadi tetangga Rasulullah di surga

Orang yang berpuasa yang baik, kerjanya akan makin giat. Sejarah di zaman nabi, kegiatan yang paling hebat terjadi di bulan Ramadhan. Peningkatan terjadi di dua aspek ibadah, baik ritual maupun sosial.

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, amalan apakah yang dapat mengantar ke surga?”
Rasulullah pun menjawab, “Bacalah Al Qur'an 1 juz sehari, sehingga khatam dalam 1 bulan.”
Orang itu pun menjawab bahwa dia tidak sanggup karena sangat sibuk.
Rasulullah pun tersenyum, dan menjawab, “Bacalah surat Ha Miim (ada 7 surat yang cukup panjang).” Orang itu pun menjawab bahwa ia masih tidak sanggup.
Rasulullah pun tersenyum, dan menjawab, “Bacalah surat pendek, dari Qaaf sd An Naas (sekitar 4 juz).”
Orang itu pun menjawab bahwa ia masih tidak sanggup.
Rasulullah pun tersenyum, dan menjawab, “Bacalah surat Al Zalzalah.”
Orang itu pun setuju, dan berlalu.
Rasulullah pun berkata, “Demi Allah, dia dijamin masuk surga, bahagia dunia akhirat.”

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa mereka yang membaca, memahami, dan mengamalkan surat Al Zalzalah dijamin masuk surga, karena di dalamnya ada ayat ke-4, “Yaumi idzin tuhadditsu akhbaaroha,” yang artinya “Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”
Jika kita yakin bahwa bumi nanti akan bersaksi, maka kita akan sangat berhati-hati dalam bertindak, dan hal ini akan mengantarkan kita ke surga.

Pesan untuk Bulan Ramadhan :

Pertama, jangan ada yang ketinggalan shalat tarawih. Boleh 11, 23. Yang penting khusyuk. Jangan ribut, jangan berselisih.
Jika kita berimam kepada imam yang shalat 23 rakaat, ikuti sampai 23 rakaat. Karena jika kita beribadah sampai selesai, pahalanya sama dengan beribadah semalam suntuk.

Kedua, berikan ifthar, buka puasa kepada orang lain, walaupun hanya 1 gelas air, akan mendapatkan
pahala sebanyak orang itu. Apa lagi jika ditambahkan dengan kurma dan lain-lain. Dengan hanya Rp 15.000, bisa menjadi ifthar untuk 48 orang. Allah jamin masuk surga.

Di Masjidil Haram, orang-orang kaya di Arab Saudi berebutan memberikan buka puasa. Mereka membawa sendiri makanan dan kain untuk digelar, mengucapkan salam kepada orang yang datang, dan mengajak untuk berbuka. Di Masjid Nabawi, orang-orang ditarik untuk bergabung berbuka. Di Sudan, ketika waktunya berbuka, setiap rumah mengeluarkan meja berisi beraneka makanan, untuk diambil gratis oleh siapa saja.

Ketiga, jangan sampai ketinggalan lailatur qadr. Lakukan berbagai macam kebaikan, SMS Cinta Dhuafa, berikan ifthar, tarawih, datang ke rumah ibu membawa oleh-oleh.

Kapankah lailatul qadr itu sebenarnya? Ada yang mengatakan 10 malam terakhir. Ada yang mengatakan 5 malam ganjil di 10 malam terakhir. Ada yang mengatakan malam 27 Ramadhan. Di Saudi Arabia, malam 27 Ramadhan masjid sangat ramai sejak jam 2 pagi sampai jam 3 pagi, kira-kira sekitar 4 juta jamaah. Namun, ada juga yang mengatakan lailatul qadr malam Ramadhan, bisa sejak tanggal 1 Ramadhan. Maka sebaiknya kita terus melakukan ibadah terbaik sepanjang Ramadhan, termasuk bagi muslimah yang sedang datang bulan. Jadi lailatul qadr jangan dipancing, tapi dijaring :-)

Al Qur’an juga memerintahkan kita untuk bekerja. Bekerjalah dengan bersemangat. Kerjamu akan dinilai oleh Allah, oleh Rasulullah, dan oleh umat manusia.

Tuesday, July 19, 2011

Semua Bisa Dilakukan dari Mana Saja..

Berkat Internet, telepon, e-mail, SMS, yahoo messenger dan tentunya para penyedia jasa yang memanfaatkannya.

Belanja harian bisa via telepon dan SMS ke toko bahan makanan organik. Perlu obat, telepon delivery order ke apotik. Beli makanan jadi, delivery order bejibun.
Belanja baju anak-anak yang murah-murah yang ada di “sogo jongkok” bisa lewat SMS.

Beli buku, bisa SMS Pak Penjual buku di kantor, atau ke online shop. Beli sabun anti alergi anak-anak via SMS. Beli madu via SMS. Beli tenda, sleeping bag, baterai HP, tas notebook, bahkan kulkas pun, bisa via internet. Beli kado untuk bayi baru lahir, seabreg toko online bayi.

Beli jilbab, ciput, legging, kaos kaki, bisa via SMS ke online shop. Beli kosmetik Wardah ada yang jual online. Beli produk perawatan tubuh Pourvous tinggal ym atau SMS Mbak Ika. Beli batik, kain sarimbit, baju menyusui, tinggal pesan via e-mail. Dan terakhir yang menurut saya paling fenomenal, ternyata Wacoal juga sudah ada online shop-nya! Kulakan untuk toko online juga via email dan SMS.

Beli pembuat kompos, bor biopori via e-mail. Beli pohon dan tanaman via e-mail. Pesan tukang renovasi rumah, perbaikan listrik, dan perbaikan ledeng, via SMS. Pesan PRT, babysitter, infal lebaran, via SMS.

Transfer-transfer bank tinggal ke internet banking. Bank Niaga dan BSM transfer antar bank online.

Tinggal 3 yang masih belum ada online shop yang handal. Stationery (pensil, penghapus, buku tulis), produk Body Shop (walaupun saya cuma pake deodorannya saja hehe..), dan kado anak-anak yang representatif. Ada mainan anak-anak, tapi biasanya lebih ke mainan edukatif, bukan mainan yang sedang trendy di toko mainan :-)

Memang sih, belanja online seperti itu ada tambahan ongkos kirim. Tapi, untuk mereka yang tinggal di Jakarta, apa lagi ibu bekerja seperti saya, waktu rasanya amat sangat sempit. Sayang sekali waktu dihabiskan di jalan. Ada biaya bensin dan parkir plus cari parkir kalau bawa mobil sendiri, dan ada biaya taksi kalau naik taksi. Plus biaya konsumsi karena kelaparan akibat keliling mall :-)

Terima kasih kepada toko dengan delivery order, online shop, pesanan via SMS, dan internet banking, hidup saya terasa sangat mudah :-)

Miramagia, Seru dan Bagus, Sayangnya..

Ada yang pernah coba main game online Miramagia? Saya coba search di Google, review Miramagia dari orang Indonesia, belum ada.. :-)

Saya diajak anak saya, dan ternyata memang seru :-)

Kita diberi lahan untuk ditanami, punya binatang untuk dipelihara, punya rumah dengan taman, ada laboratorium pribadi, ada tempat ibadah, ada tempat penyimpanan hasil pertanian. Nanti kita belajar berjualan ke pasar, dengan menentukan sendiri harga barang yang mau kita jual, belanja. Level kita ditentukan antara lain dari jumlah emas yang kita miliki.

Kita punya teman dalam satu kelompok, yang random dipilihkan ketika kita mendaftar. Dengan teman-teman itu kita bisa bertegur sapa, dan saling memberi hadiah. Ada macam-macam kompetisi baik pribadi maupun kelompok, yang berhadiah emas.
Seiring dengan waktu, pilihan tanaman bertambah, dengan waktu Binatang makin besar, perlu kandang makin besar. Laboratorium, tempat ibadah, rumah, juga perlu diperbesar.

Bagus kan?

Anak-anak jadi belajar proses bertani, belajar berstrategi, memilih tanaman yang akan ditanam, baik dilihat dari sisi waktu penanamannya (ada yang 3 menit ada yang 24 jam), maupun harga jualnya. Belajar berjualan, menentukan harga yang tepat, agar laku terjual. Belajar bermasyarakat, beramah tamah dengan teman-teman satu kelompok. Belajar bekerja sama, untuk memenangkan kompetisi kelompok. Plus belajar bahwa mata uang yang sesungguhnya adalah emas :-)

Namun, ada yang sangat saya sayangkan..

Konteks seluruh cerita adalah magic atau sihir. Jadi yang saya sebut tempat ibadah adalah magic circle berupa batu-batuan melingkar. Ketika menanam dan memanen, yang dilakukan adalah memberi mantra yang pada ilustrasinya diberikan gambar bintang-bintang kecil berkerlap-kerlip. Di laboratorium, yang dilakukan adalah mempelajari mantra-mantra baru, yang bisa membantu dalam membersihkan lahan dan mempercepat panen. Dan kita bisa juga iseng menyihir teman dan pengunjung lain. Plus, setiap hari bisa dilakukan pemutaran roda keberuntungan dengan beraneka hadiah.

Duh, sungguh jauh dari nilai-nilai Islam, akidah, dan syariah.

Betapa ingin ada game seperti ini, yang seru, menarik, mendidik, tetapi di dalamnya terkandung nilai-nilai Islam.

Misalnya, di waktu-waktu shalat, maka diharuskan ke tempat ibadah, ada masjid di desa, semua yang sedang online shalat bersama. Bertani, berdagang masih oke untuk dilanjutkan. Kegiatan belajar bukan dalam konteks mantra, tetapi benar-benar belajar. Kemudian bisa diperkenalkan juga dengan konsep zakat dan infaq, dengan datangnya pengunjung yang berkebutuhan. Ada juga target ibadah harian, misalnya membaca Al Qur'an, shalat dhuha, shalat tahajjud, yang menambah bonus akhirat, misalnya.

Tapi, yang pertama yang harus ditampilkan adalah game yang seru dan menarik. Nilai-nilai Islamnya itu dimasukkan secara sangat samar, tapi tertanam.

Gimana, mudah-mudahan ada yang tertarik membuat? Saya ikutan buat konsepnya nanti.. Ditunggu kabarnya yaa.. :-)

Friday, July 15, 2011

Ketika Sang Bulan Tiba

Setiap bulan, perempuan selalu kedatangan "tamu". Buat muslim, maka artinya dilarang untuk melakukan berbagai ibadah : shalat, puasa, haji, membaca Al Qur'an.

Di satu sisi, dapat dipandang sebagai "kebebasan" :-)

Tapi di sisi lain, rasanya sayang juga waktu berlalu tanpa ada hal berarti yang bisa dilakukan.

Setelah mengingat-ingat dari berbagai ceramah, tetap ada hal bermanfaat yang bisa dilakukan ketika haid :

1. Belajar Al Qur'an, baik tahsin maupun tahfizh. Karena konteksnya adalah belajar.
2. Berdoa, termasuk doa pagi dan sore.
3. Membaca tafsir Al Qur'an.
4. Membaca buku-buku lain yang bermanfaat.
5. Tetap bangun di waktu tahajjud, dan mengisi waktu tersebut dengan kegiatan-kegiatan di atas.

Maka, waktu haid tetap dapat bermanfaat :-)
Selamat mencoba.. :-)

Persiapan Ramadhan untuk Keluarga

Berikut catatan saya dari ceramah Jumat untuk persiapan Ramadhan. Mohon maaf jika detil isinya tidak terlalu detil tentang persiapan Ramadhan keluarga. Semoga tetap dapat diperoleh manfaatnya.

Seorang ulama pernah menyampaikan, bahwa bulan Rajab adalah waktunya menanam, bulan Sya’ban menyiram, dan bulan Ramadhan memanen hasilnya. Dan ulama lain juga berkata, sambutlah Ramadhan seperti orang sakit yang merindukan kesembuhan, tanah tandus yang merindukan hujan, dan seorang kekasih yang merindukan kekasihnya.

Untuk acara pernikahan yang berlangsung selama beberapa jam saja, kita telah melakukan persiapan dari jauh-jauh hari, sejak enam bulan, bahkan setahun sebelumnya. Maka untuk bulan Ramadhan, yang berlangsung selama 30 hari, sebenarnya juga diperlukan persiapan yang serius.

Para sahabat menyiapkan Ramadhan sejak 6 bulan sebelumnya, dan 6 bulan setelah Ramadhan adalah waktu untuk melestarikan hasil Ramadhan.

Ada tiga titik penting dalam Ramadhan, yaitu persiapan, pelaksanaan, serta optimalisasi hasil.

Persiapan Ramadhan terdiri atas 4 hal.

Pertama, Al I’daad al Imaani war ruuhi, persiapan keimanan :

1. Meyakini bahwa puasa adalah ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT. Menyikapi ibadah wajib, maka seharusnya lebih kita cintai dari pada ibadah sunnah.
Ayat tentang puasa, Al Baqarah 183 menyebutkan “kutiba.. kama kutiba..”, yang artinya “diwajibkan.. sebagaimana diwajibkan..”. Hikmah dari penyebutan sebagaimana diwajibkan, adalah agar kita merasa lebih ringan dalam menjalankannya.

2. Meyakini bahwa di balik kewajiban tersebut ada tujuan besar, yaitu menjadi orang yang bertakwa.
Ayat tersebut menyebutkan “wahai orang beriman.. agar kamu bertakwa”, maka dapat disimpulkan bahwa tidak semua orang beriman dapat mencapai ketakwaan. Salah satu caranya adalah dengan berpuasa. Arti takwa adalah melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua larangan. Ingat, semua yaa, bukan sebagian 

3. Meyakini hikmah puasa
Binatang pun berpuasa jika ingin meningkatkan kualitasnya, misalnya ikan ketika setelah makan makanan yang kotor, dipindah ke kolam bersih dan dipuasakan, pinguin jantan mengerami telur selama 6 bulan melakukan perjalanan sambil berpuasa, ikan salmon berpuasa ketika kembali ke hulu melawan arus, ulat berpuasa ketika menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu.

Maka kita sebaiknya menjadi lebih baik setelah berpuasa.

Pengkondisian jiwa dan hati juga sangat diperlukan untuk keluarga, termasuk khadimat :
1. Buat spanduk dengan melibatkan semua anak-anak
2. Berikan masing-masing Al Qur’an untuk dibaca selama Ramadhan
3. Berikan buku tentang Ramadhan
4. Persiapkan hadiah Ramadhan sejak sekarang, janjikan kepada anak-anak sesuai kemampuannya. Misalnya anak TK target 3-5 hari puasa, SD 10 hari, dst.

Kedua, Al I’daad al ilmi wat takhofi, persiapan ilmu dan wawasan seputar Ramadhan

1. Persiapan ilmu tentang ilmu filosofi puasa, termasuk di dalamnya tujuan dan hikmah puasa
2. Persiapan ilmu tentang fiqih puasa, misalnya apa saja yang membatalkan puasa, termasuk berhati-hati dengan yang mengurangi / menghapus pahala puasa (misalnya membicarakan orang lain, yang sering kali tidak terasa kita lakukan ketika berpuasa)
3. Persiapan ilmu tentang hikmah / keutamaan puasa :
a. Bulan keberkahan
b. Bulan maghfirah, pengampunan
c. Bulan dilipatgandakan pahala, 1 kebaikan sama dengan 1 ibadah fardhu, dan 1 ibadah fardhu sama dengan 70 ibadah fardhu

Ketiga, Al I’daad al jasadi, persiapan fisik

Kita perlu berlatih berpuasa. Rasulullah pun memperbanyak puasa sejak bulan Sya’ban.

Keempat, Al I’daad al maali, persiapan harta

Terutama untuk memperbanyak sedekah, dan menyiapkan seluruh kebutuhan Ramadhan dan Idul Fitri. Keperluan Idul Fitri sebaiknya disiapkan sejak sekarang, sejak sebelum Ramadhan. Agar kita dapat lebih fokus beribadah di bulan Ramadhan. Sangat sayang jika detik-detik Ramadhan dihabiskan dengan hal-hal yang tidak bernilai ibadah, seperti berbelanja, mengecat rumah, memasak kue dan makanan lain, memilih-milih model baju lebaran, dll.

Sebuah kisah nyata, ada seorang pekerja yang mempersiapkan seluruh pekerjaannya di 11 bulan sebelum Ramadhan, sehingga di bulan Ramadhan ia libur dari pekerjaan, dan berfokus untuk beribadah. Seorang ustadz juga pernah bercerita, bahwa ada seorang tukang cendol yang libur berjualan sepanjang Ramadhan, dengan tujuan yang sama.

Ibadah terpenting dalam bulan puasa adalah puasa. Barangsiapa meninggalkan puasa tanpa ada rukhshah, maka tidak dapat digantikan walaupun dengan 1 tahun puasa.

Jangan sampai meninggalkan seluruh ibadah wajib, dan perbanyak ibadah sunnah.
Setelah Ramadhan berakhir, biasanya kita masih terbangun di waktu sahur. Itu sebenarnya adalah petunjuk dari Allah, agar kita meneruskan ibadah-ibadah Ramadhan sepanjang tahun.

Thursday, July 14, 2011

Istiqamah

Pengajian dzhuhur hari ini disampaikan oleh Ust. Muhsinin Fauzi, semoga bermanfaat.

Pembahasan tentang istiqamah mungkin sudah sangat sering kita dengar. Jika kita sebulan melakukan kebaikan, atau setahun, maka cukup mudah. Tetapi terus melakukannya sepanjang hayat, memiliki tantangan tersendiri.

Firman Allah SWT dalam QS Fushilat 30-32 :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah.”
Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan bagimu dari Yang Maha Pengampun dan lagi Maha penyayang.”
Maka mereka yang istiqamah mendapatkan tempat yang luar biasa mulia.

Pertama, mendapatkan kebahagiaan sempurna, karena di dunia tidak ada rasa takut akan masa depan, dan rasa sedih akan masa lalu.

Kedua, di akhirat diberikan kabar baik dengan surga yang dijanjikan.
Bagi orang yang beriman, akhirat adalah segalanya. Al Qur'an hampir keseluruhan isinya adalah tentang akhirat. Pembahasan tentang dunia hanya sangat sedikit, antara lain agar kita jangan lupa urusan dengan dunia, serta agar kita mengejar karunia Allah dan mengingat Allah.

Ketika Utsman bin Affan terancam terbunuh, ia tetap tenang. Abu Hurairah menawarkan perlindungan, namun Ustman bin Affan menyampaikan bahwa yang dicari adalah beliau, sehingga andaikatapun dilindungi, mereka akan terus mencari. Selain itu beliau pun telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Dan akhirnya malam itu beliau terbunuh.

Ketiga, dilindungi Allah pada kehidupan di dunia dan akhirat.
Orang boleh berbuat apa saja, kalau sudah ada penjagaan Allah, maka semua tidak ada gunanya.
Senantiasa dijaga Allah dan ditolong Allah, sehingga tidak membutuhkan tidak membutuhkan seiapa pun.

Sebagaimana pada hadits Rasulullah, barangsiapa dicintai Allah, Allah akan menjadi matanya, pendengarannya, dan ketika ia meminta, dan memohon perlindungan, akan Allah berikan. Karena cara terbaik untuk mendapatkan sesuatu adalah dengan minta. Dalam Perang Badar, faktor yang terpenting adalah doa Rasul di Kamis sore, bukan strategi, taktik, dan lain-lain. Setelah doa itu datanglah pertolongan Allah, dan musuh pun mati oleh malaikat. Doa yang dikabulkan Allah adalah doa dari hamba yang dekat kepada-Nya, yang istiqamah di jalan Allah.

Penjagaan di dunia : dijaga dari kemungkinan buruk dan dari maksiat.
Ada sebuah kisah nyata. Ada seorang yang sangat baik sejak kecilnya, di masa mudanya berparas tampan dan dalam pergaulan semasa sekolah beberapa kali dalam dirinya terbersit keinginan seperti teman-temannya yang lain, bersepeda motor dengan teman perempuan. Namun setiap kali niat ini terbersit, maka seperti ada bisikan/sentuhan di telinganya, sehingga akhirnya dia tidak pernah berhasil melakukan hal tersebut. Ini adalah bentuk penjagaan Allah dari maksiat.
Rasulullah pernah mau menyentuh patung ketika belum menjadi Nabi, dan dicegah oleh malaikat Jibril. Ketika beliau akan masuk ke tempat yang ada maksiatnya, sebelum sampai beliau tertidur.

Dijaga dari kemungkinan buruk, seperti kemiskinan, keterancaman, dan berbagai masalah lainnya.
Kalaupun ada, maka merupakan ujian untuk menaikkan tingkat. Pada ujian itu akan disertakan kekuatan untuk menghadapinya. Sehingga dari luar tampak seperti keburukan, tetapi orang itu sendiri tidak merasakannya sebagai keburukan.

Di akhirat dijaga dari murka dan neraka Allah SWT.

Keempat, mendapatkan apa yang diinginkan yaitu surga.

Dunia bukan tempat untuk mengobral keinginan. Dunia ini memang seperti sebuah permainan. Allah berikan kepada manusia keinginan, akan wanita, harta, kekuasaan, dsb. Namun, Allah berikan batas-batas, pagar-pagar, agar manusia tidak menginginkan dunia (zuhud). Justru itulah permainannya. Maka kita boleh mewujudkan keinginan, tetapi senantiasa ada batasnya. Zuhud adalah cinta pada Allah sehingga hati tidak tertarik pada dunia.

Waktu untuk melepas keinginan adalah di akhirat nanti. Karena di dunia, tidak semua keinginan dapat diwujudkan. Sampai kapan pun, keinginan selalu lebih besar dari kemampuan kita untuk mendapatkannya. Selain itu, ada keinginan yang dapat jatuh menuju maksiat. Maka kita harus membiasakan diri untuk menghentikan keinginan

Di surga nanti, manusia bisa minta apa saja, dan akan langsung diberikan. Dikisahkan akan ada orang di surga yang meminta anak, maka langsung diberikan, hamil, dan lahir. Lalu ia meminta kebun, langsung diberikan, dan langsung panen. Ketika Rasulullah menyampaikan hal ini, seorang Badui berkomentar bahwa orang itu pastilah orang Anshor, karena merekalah yang berkebun, sedangkan orang Badui beternak. Surga memang sesuai dengan keiginan masing-masing orang nantinya.

Istiqamah termasuk dalam kewajiban (walaupun tidak tercakup dalam fiqih).
Dalam sifat istiqamah terdapat sebuah fadhilah besar, yang lebih baik dari 1000 karomah. Karomah tertinggi surga, karomah terendah adalah dijaga Allah.

Istiqamah secara bahasa artinya lurus. Konsisten di jalan kebaikan dan kebenaran, meskipun ada lolongan srigala, godaan yang dahsyat.

Istiqamah dapat terbagi dua, yaitu istiqamah dalam sikap serta istiqamah dalam perbuatan.
Istiqamah dalam sikap, sekali bersikap, seterusnya konsisten, walaupun tetap fleksibel dalam konteks yang dibenarkan.
Istiqamah dalam perbuatan, yaitu selalu dalam perbuatan baik. Karena sebaik-baik amal adalah yang langgeng meskipun sedikit. Dalam menapaki jalan kebaikan, yang terpenting adalah pada kelanggengannya, bukan pada banyaknya amalan.

Contoh Rasulullah yang istiqamah dalam sikap adalah ketika datang kaum Quraisy dan Abu Thalic, yang berkata bahwa kaum Quraisy semakin keberatan dengan dakwah, dan agar Rasulullah berhenti sejenak dengan dakwah, dan diberikan penawaran jika Rasulullah ingin menjadi raja, harta, ataupun wanita. Namun Rasulullah tetap pada jalan dakwah.

Akan datang masa ketika hanya ada dua pilihan, yaitu menjadi orang lemah atau orang jahat. Maka pilihlah untuk menjadi orang lemah.

Contoh Rasulullah istiqamah dalam perbuatan adalah ketika Rasulullah pernah terlewat untuk melakukan shalat qabliyah Asar, dan beliau lakukan setelah Asar, maka seterusnya beliau melakukan
ba'diyah Asar. Maka prinsipnya, sekali berbuat, teruskan sampai akhir hayat. Maka amal soleh hanya akan terus meningkat, tidak mungkin turun.

Tips agar dapat istiqamah :

Pertama, kuatkan tujuan dan niat. Apa yang kita cari dalam hidup ini. Sikap istiqamah tergantung kepada motivasi dan tujuan.

Kedua, lakukan perbuatan dalam kondisi sedang, sisakan kekuatan untuk esok hari. Amal soleh jangan pernah turun. Kalau sebenarnya kita mampu untuk 8, 4 saja dulu, baru nanti pelan-pelan meningkat.

Ketiga, buat variasi dan peningkatan, agar tidak timbul kejenuhan dalam beribadah.

Hati-hati, Semua Akan Bergulir..

Pernah mencoba memulai sesuatu, yang berawal dari suatu aktivitas kecil, ternyata berkembang, melebar dan mendalam? Semakin intensif juga ekstensif? Ada enrichment juga enlargement? :-D

Dan hal ini berlaku untuk aktivitas yang baik maupun aktivitas yang kurang baik.
Kita coba contoh aktivitas yang baik ya. Misalnya kita coba hadir sekali ke pengajian hari Jumat di kantor. Keberangkatan pertama biasanya amat sangat sulit sekali banget :-) Tidak terbayangkan nanti akan ketemu siapa, harus bersikap bagaimana, bawa mukena sendiri atau mukena mushalla, makan dulu atau tidak, dll, dsb :-)

Tapi setelah keberangkatan pertama, ketika datang lagi hari Jumat, rasanya sudah lebih ringan untuk berangkat. Dan berlanjut ke Jumat – Jumat berikutnya.
Dari sana, akan ada informasi tentang pengajian di hari-hari lain, kita akhirnya ikutan lagi 2 pengajian mingguan lainnya, misalnya di hari Senin dan Rabu.

Di mushalla, ternyata ada penjual buku, kita beli buku-buku agama dan belajar banyak ilmu agama. Kita beli Al Qur’an dan memperbanyak membaca Al Qur’an. Kita beli CD murratal Al Qur’an dan jadi sering dengar murratal Al Qur’an di meja kerja.

Dari materi pengajian dan buku yang kita baca, akan banyak sekali ilmu, nasihat, tips, yang bisa kita terapkan. Kita pun secara bertahap mulai memperbaiki diri, setiap hari semakin baik.

Itu contoh yang baik.

Dan ini berlaku juga untuk hal yang buruk. Yang buruk tidak perlu dicontohkan ya, salah-salah jadi inspirasi buruk nantinya :-)

Maka, mari kita berhati-hati melangkah. Satu langkah kecil akan bergulir, dan terus bergulir, terakumulasi menjadi bola salju. Jika itu kebaikan, beruntunglah kita. Jika itu keburukan.. Alangkah sayangnya..

Kenapa Kamu Lakukan?

Salah satu tanda baiknya akhlak Rasulullah SAW adalah beliau tidak pernah mempertanyakan kepada seseorang, “Kenapa kamu tidak lakukan hal ini?” atau “Kenapa kamu melakukan hal ini?”.

Mungkin terlihat simpel, tetapi memang pertanyaan itu sangat sering kita ucapkan, dan sesungguhnya bisa menjadi sangat menyinggung bagi yang kita ajak bicara.
Pada dasarnya, kebanyakan orang pasti bermaksud baik ketika melakukan sesuatu. Pertanyaan itu menjadi “tuduhan” bahwa apa yang dia telah lakukan itu ternyata sangat tidak tepat. Maksud baiknya “dianggap” buruk. Dan sering kali orang tersebut tidak bisa menjawab juga kenapa dia lakukan itu. Ya, sudah begitulah yang terjadi.

Untuk orang yang bermaksud buruk, tidak perlu dibahas. Dia tidak peduli jika kita bertanya atau pun tidak :-) Dan jawabannya pun tidak ada gunanya. Kecuali jika kita tertarik untuk menganalisis perilaku orang tersebut.

Sepertinya memang pertanyaan ini hanya diperlukan jika kita ingin menganalisis perilaku seseorang. Dan konteksnya pun bukan “menghakimi” tetapi “membantu, menjadi penasehat, teman bicara”.

Kembali ke kasus ketika kita yakin orang tersebut berniat baik. Yang perlu kita telaah lagi, ketika kita bertanya, apakah memang kita perlu jawabannnya? Jika ada jawabannya, lalu apa tindak lanjutnya? Apakah tindak lanjut itu dapat saja langsung dilakukan tanpa kita perlu tahu jawaban dari pertanyaan itu?

Sering kali, kita memang tidak perlu jawabannya. Kita hanya ingin orang tersebut mengakui kesalahannya. Tapi, alih-alih mengakui kesalahannya, yang terjadi justru sebaliknya, orang akan mencari justifikasi, sehingga yang terjadi adalah perdebatan.

Lalu, bagaimana sebaiknya?
Sebaiknya, hapus kedua kalimat pertanyaan itu dari daftar percakapan :-)
Setiap kali ada hal yang tidak sesuai dengan harapan kita. Stop. Jangan bertanya kenapa. Langsung berikan saja harapan tindak lanjutnya.

Hidup akan terasa lebih damai :-)

Tuesday, July 12, 2011

Tuntunan Shalat Sunnah Rawatib

Copy paste dari milis Daarut Tauhiid, semoga bermanfaat.

===
From: didin
Date: 2011/7/11
Subject: [daarut-tauhiid] Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib
To: daarut-tauhiid@yahoogroups.com


Tuntunan Shalat Sunnah Rawatib

Sesungguhnya diantara hikmah dan rahmat Allah atas hambanya adalah disyariatkannya At-tathowwu’ (ibadah tambahan). Dan dijadikan pada ibadah wajib diiringi dengan adanya at-tathowwu’ dari jenis ibadah yang serupa. Hal itu dikarenakan untuk melengkapi kekurangan yang terdapat pada ibadah wajib.

Dan sesungguhnya at-tathowwu’ di dalam ibadah sholat yang paling utama adalah sunnah rawatib. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengerjakannya dan tidak pernah sekalipun meninggalkannya dalam keadaan mukim (tidak bepergian jauh).

Mengingat pentingnya ibadah ini, serta dikerjakannya secara berulang-ulang sebagaimana sholat fardhu, sehingga saya (penulis) ingin menjelaskan sebagian dari hukum-hukum sholat rawatib secara ringkas:

1. Keutamaan Sholat Rawatib

Ummu Habibah radiyallahu ‘anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentang keutamaan sholat sunnah rawatib, dia berkata: saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang sholat dua belas rakaat pada siang dan malam, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga”. Ummu Habibah berkata: saya tidak pernah meninggalkan sholat sunnah rawatib semenjak mendengar hadits tersebut. ‘Anbasah berkata: Maka saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah. ‘Amru bin Aus berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Ansabah. An-Nu’am bin Salim berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Amru bin Aus. (HR. Muslim no. 728)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentang sholat sunnah rawatib sebelum (qobliyah) shubuh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Dua rakaat sebelum shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya”. Dalam riwayat yang lain, “Dua raka’at sebelum shubuh lebih aku cintai daripada dunia seisinya” (HR. Muslim no. 725)

Adapun sholat sunnah sebelum shubuh ini merupakan yang paling utama di antara sholat sunnah rawatib dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya baik ketika mukim (tidak berpegian) maupun dalam keadaan safar.

Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan tentang keutamaan rawatib dzuhur, dia berkata: saya mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menjaga (sholat) empat rakaat sebelum dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api neraka”. (HR. Ahmad 6/325, Abu Dawud no. 1269, At-Tarmidzi no. 428, An-Nasa’i no. 1814, Ibnu Majah no. 1160)

2. Jumlah Sholat Sunnah Rawatib

Hadits Ummu Habibah di atas menjelaskan bahwa jumlah sholat rawatib ada 12 rakaat dan penjelasan hadits 12 rakaat ini diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan An-Nasa’i, dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah ‘isya, dan dua rakaat sebelum subuh”. (HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794)

3. Surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Qobliyah Subuh

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh membaca surat Al Kaafirun (قل يا أيها الكافرون) dan surat Al Ikhlas (قل هو الله أحد).” (HR. Muslim no. 726)

Dan dari Sa’id bin Yasar, bahwasannya Ibnu Abbas mengkhabarkan kepadanya: “Sesungguhnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh dirakaat pertamanya membaca: (قولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا) (QS. Al-Baqarah: 136), dan dirakaat keduanya membaca: (آمنا بالله واشهد بأنا مسلمون) (QS. Ali Imron: 52). (HR. Muslim no. 727)

4. Surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Ba’diyah Maghrib

Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anha, dia berkata: Saya sering mendengar Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau membaca surat pada sholat sunnah sesudah maghrib:” surat Al Kafirun (قل يا أيها الكافرون) dan surat Al Ikhlas (قل هو الله أحد). (HR. At-Tarmidzi no. 431, berkata Al-Albani: derajat hadits ini hasan shohih, Ibnu Majah no. 1166)

5. Apakah Sholat Rawatib 4 Rakaat Qobiyah Dzuhur Dikerjakan dengan Sekali Salam atau Dua Kali Salam?

As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sunnah Rawatib terdapat di dalamnya salam, seseorang yang sholat rawatib empat rakaat maka dengan dua salam bukan satu salam, karena sesungguhnya nabi bersabda: “Sholat (sunnah) di waktu malam dan siang dikerjakan dua rakaat salam dua rakaat salam”. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin 14/288)

6. Apakah Pada Sholat Ashar Terdapat Rawatib?

As-Syaikh Muammad bin Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidak ada sunnah rawatib sebelum dan sesudah sholat ashar, namun disunnahkan sholat mutlak sebelum sholat ashar”. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin 14/343)

7. Sholat Rawatib Qobliyah Jum’at

As-Syaikh Abdul ‘Azis bin Baz rahimahullah berkata: “Tidak ada sunnah rawatib sebelum sholat jum’at berdasarkan pendapat yang terkuat di antara dua pendapat ulama’. Akan tetapi disyari’atkan bagi kaum muslimin yang masuk masjid agar mengerjakan sholat beberapa rakaat semampunya” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Bin Baz 12/386&387)

8. Sholat Rawatib Ba’diyah Jum’at

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian mengerjakan sholat jum’at, maka sholatlah sesudahnya empat rakaat”. (HR. Muslim no. 881)

As-Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata, “Adapun sesudah sholat jum’at, maka terdapat sunnah rawatib sekurang-kurangnya dua rakaat dan maksimum empat rakaat” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Bin Baz 13/387)

9. Sholat Rawatib Dalam Keadaan Safar

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam didalam safar senantiasa mengerjakan sholat sunnah rawatib sebelum shubuh dan sholat sunnah witir dikarenakan dua sholat sunnah ini merupakan yang paling utama di antara sholat sunnah, dan tidak ada riwayat bahwasannya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sholat sunnah selain keduanya”. (Zaadul Ma’ad 1/315)

As-Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata: “Disyariatkan ketika safar meninggalkan sholat rawatib kecuali sholat witir dan rawatib sebelum subuh”. (Majmu’ fatawa 11/390)

10. Tempat Mengerjakan Sholat Rawatib

Dari Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lakukanlah di rumah-rumah kalian dari sholat-sholat dan jangan jadikan rumah kalian bagai kuburan”. (HR. Bukhori no. 1187, Muslim no. 777)

As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sudah seyogyanya bagi seseorang untuk mengerjakan sholat rawatib di rumahnya…. meskipun di Mekkah dan Madinah sekalipun maka lebih utama dikerjakan dirumah dari pada di masjid Al-Haram maupun masjid An-Nabawi; karena saat nabi shallallahu a’alihi wasallam bersabda sementara beliau berada di Madinah….. Ironisnya manusia sekarang lebih mengutamakan melakukan sholat sunnah rawatib di masjidil haram, dan ini termasuk bagian dari kebodohan”. (Syarh Riyadhus Sholihin 3/295)

11. Waktu Mengerjakan Sholat Rawatib

Ibnu Qudamah berkata: “Setiap sunnah rawatib qobliyah maka waktunya dimulai dari masuknya waktu sholat fardhu hingga sholat fardhu dikerjakan, dan sholat rawatib ba’diyah maka waktunya dimulai dari selesainya sholat fardhu hingga berakhirnya waktu sholat fardhu tersebut “. (Al-Mughni 2/544)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Monday, July 11, 2011

Persiapan Ramadhan

Setiap kali Ramadhan akan tiba, Rasulullah memanggil para Sahabat dan mengingatkan akan datang tamu agung, yaitu bulan Ramadhan. Maka, walaupun mungkin sudah beberapa kali dilakukan, tetap perlu dilakukan penyambutan Ramadhan, atau Tarhib Ramadhan, sebagaimana yang senantiasa Rasulullah lakukan.

Ayat tentang puasa di bulan Ramadhan terdapat pada Al Baqarah 183, yang dikhususkan bagi orang beriman. Maka, mereka yang berpuasa pasti adalah beriman. Yang tidak berpuasa, walaupun tetap saudara kita, adalah orang yang belum beriman. Dalam ayat tersebut, ada makna bahwa Allah ingin agar orang beriman naik kelas. Baik dalam cintanya kepada Allah, juga perbaikan dalam segala urusan.

Persiapan Ramadhan dapat dibagi menjadi 3 hal utama.

Pertama, adalah persiapan ruhiyah, jiwa, hati, untuk menyambut kedatangan tamu luar biasa,
Kondisikan hati agar kita senang menyambut. Jika kita senang, akan dijauhkan dari neraka. Untuk perwujudannya, buat penyambutan di rumah, di lingkungan sekitar, agar semua orang mulai juga bersiap-siap akan kedatangan Ramadhan. Misalnya dibuat spanduk bertuliskan “Ramadhan akan datang. Mari dekatkan diri dengan Al Qur’an”. Kita pun sebaiknya berpikir positif bahwa Ramadhan kali ini akan sukses, serta optimis bisa mencapai target yang kita rencanakan.

Kedua, adalah persiapan harta.
Dengan adanya persiapan harta, kita akan lebih tenang menjalani Ramadhan, termasuk di dalamnya zakat fitrah. Sebaiknya segala urusan telah diselesaikan sebelum Ramadhan, agar di bulan Ramadhan kita dapat berfokus pada ibadah. Baju lebaran, kue lebaran sebaiknya sudah dibereskan, baik untuk anak yatim, tetangga, dan juga keluarga.

Ketiga, persiapan sosial.
Ajak khalayak sebanyak mungkin, sampaikan pengumuman. Ajak teman-teman untuk membuat jadwal persiapan ifthar. Ajak agar teman-teman mengisi waktu Ramadhannya dengan baik, dan tidak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, seperti menonton TV.

Amaliyah Ramadhan, terdiri atas 3 hal utama.

Pertama, adalah puasa.
Bagi muslimah, pastikan haid dan nifas selesai sesuai waktu. Tidak dipercepat ataupun diperlambat. Andaikata kita telah berpuasa seharian, dan 10 menit menjelang maghrib kita mendapat haid, tidak perlu kecewa, janganlah ragu, Allah pasti akan mencatat semua kebaikan yang telah kita lakukan.
Hindarkan diri dari menonton dan mendengar yang dilarang agama, yang dapat mengurangi nilai puasa kita.

Kedua, adalah tarawih.
Terdapat berbagai pendapat tentang jumlah rakaat tarawih, yaitu 11, 23, 33 yang dicontohkan oleh Rasulullah, Umar bin Khattab, dan Umar bin Abdul Aziz. Silakan memilih yang dirasa sesuai.
Ketika menghadapi berbagai kondisi ketika shalat tarawih, hendaknya senantiasa bersyukur.

Ketiga, adalah Al Qur'an.
Untuk tilawah, usahakan agar khatam lebih dari sekali. Jika kita kesulitan untuk bisa mengkhatamkan sendiri, ajak teman-teman.
Dan tetap ingat, agar membatasi penampilan, jangan menggunakan dandanan (tabarruj), haram menggunakan wangi-wangian ke luar rumah.
Usahakan agar tahfizh (hafalan Al Qur’an bertambah), misalnya dengan membuat kelompok hafalan Al Qur’an. Terdapat beberapa hikmah dari menghafal Al Qur’an. Misalnya Rasulullah jika akan mengirim utusan, akan mencari Ahlul Baqarah. Al Waqi’ah, dijauhkan dari kemiskinan.

Beberapa topik kesehatan berkaitan dengan Ramadhan.

Dalam puasa, yang penting adalah kita berpikir sehat. Hal ini disebabkan oleh dua hal.
Yaitu pertama, bahwa sejarah puasa adalah sejarah sehat. Di zaman Rasulullah pernah datang seorang dokter dari Qibti (Mesir) yang menganggur karena Rasulullah dan para sahabat sehat karena sering puasa. Selain itu. Berbagai kemenangan muslimin pada perang, terjadi di bulan Ramadhan. Yang kedua, mereka yang ingin sehat, biasanya disarankan untuk berpuasa.

Dalam ibadah puasa sendiri, ada beberapa aspek kesehatan yang perlu diperhatikan.

Kesehatan gigi dan mulut agar sahur dan buka dapat dilakukan dengan baik. Rasulullah menyikat gigi dengan siwak. Kita dapat juga mengikuti Rasulullah, atau bisa digantikan dengan pasta gigi. Menyikat gigi boleh dilakukan, yang penting rasa segar yang ada di mulut sudah dihilangkan misalnya dengan meludah sekitar 3 kali setelah menyikat gigi. Rasa segar setelahnya adalah hal yang wajar yang tidak membatalkan puasa.

Boleh berobat dengan bekam, hindari obat tetes mata karena ada sebagian yang bisa masuk ke tenggorokan. Infus tidak boleh.

Jika puasa, tampilkan kesehatan, agar image tentang orang puasa adalah baik, bersemangat, tidak lemas dan loyo.

Dalam perjalanan, ada dua pendapat tentang puasa.
Yaitu yang tetap puasa. Jika kondisi ruhiyah baik, sudah biasa bepergian jauh, dan tidak ada perasaan berat.
Ada juga yang mengambil rukhshah (kemudahan), dengan tidak berpuasa. Jika khawatir terganggu ujub (rasa sombong jika berpuasa). Belum pernah mengambil rukhshah. Serta perjalanan yang dilakukan relatif jauh menurut ukuran zaman.

Perhatikan kesehatan keuangan, dengan tidak berlebihan ketika berbuka.
Di bulan Ramadhan, ZIS akan Allah ganti sampai 700 kali, atau bahkan tanpa hisab, maka berikanlah sedekah sebanyak-banyaknya, termasuk untuk untuk ifthar dan juga untuk saudara kita di Palestina.

Hadits Ramadhan

Dari Shal bin Sa’d r.a. dari Nabi s.a.w., beliau bersabda : “Sesungguhnya didalam sorga itu ada sebuah pintu bernama Ar Rayyan dimana pada hari kiyamat orang-orang yang berpuasa akan masuk sorga lewat pintu itu: dimana penjaga pintu itu mengucapkan : “Mana orang-orang yang berpuasa ?”. Kemudian mereka pun berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang boleh masuk lewat pintu itu. Apabila mereka telah masuk sorga semua maka pintu itu ditutup: oleh karenanya tidak ada seorang pun yang masuk lewat pintu tersebut selain mereka itu

(HR. Bukhari dan Muslim)
(Sumber : Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi Bab Ramadhan)


Dari Abu Sa’id Al Khudry r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda : “Siapa pun yang berpuasa satu hari semata – mata karena Allah maka dirinya akan dijauhkan oleh Allah dari api neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun karena puasanya yang sehari itu”.

(HR. Bukhari dan Muslim)
(Sumber : Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi Bab Ramadhan)


Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata : “Rasulullah s.a.w. adalah orang yang paling pemurah terlebih-lebih dalam bulan Ramadhan, bulan dimana beliau selalu ditemui Jibril. Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadhan untuk bertadarus Al Qur’an. Sungguh bila Rasulullah s.a.w. bertemu dengan Jibril beliau lebih pemurah lagi melebihi angin yang kencang”.

(HR. Bukhari dan Muslim)
(Sumber : Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi Bab Ramadhan)

Friday, July 8, 2011

Target Khatam Al Qur’an Setiap 3 Bulan (Paling Lambat)

Dari ceramah Ust. Sukeri Abdillah kemarin, bahwa sebaiknya Al Qur’an dikhatamkan minimal setiap 3 bulan, dan jika lebih dari itu, maka tergolong kaum yang melalaikan Al Qur’an. Duh seram juga ya..

Maka sepertinya kita perlu menata lagi waktu kita, agar bisa mencapai target tersebut. Coba kita hitung-hitung yaaa..

Jumlah halaman dalam Al Qur’an ada 604 halaman.. Anggaplah 600 halaman begitu ya.. 4 halaman terakhir surat-surat pendek, insya Allah bonus :-)

Tiap bulan ada 30 hari, dan untuk muslimah, maka ada hari “istirahat” karena haid, taruhlah sekitar 10 hari. Maka hari efektif ada 20 hari per bulan.

Maka, jika ingin mengkhatamkan Al Qur’an dalam 3 bulan, per hari, target membaca Al Qur’an adalah 600 / (3 x 20) = 10 halaman, atau kurang lebih ½ juz.

Waw, cukup banyak juga yaaa :-)

Kita alokasikan masing-masing 4 halaman di setelah Subuh dan setelah Maghrib/Isya. Maka tersisa 2 halaman.
2 halaman ini, jika kita tidak bekerja, bisa dialokasikan ke waktu2 shalat lainnya, yaitu setelah Dzuhur dan Ashr. Tetapi jika kita bekerja, agak sulit juga mengalokasikan waktu ini.

Lalu di mana lagi ya?
Sepertinya kita harus mulai memanfaatkan semua waktu-waktu tunggu. Waktu menunggu di stasiun, di bank, di dalam kendaraan, di bis, di kereta. Wah, aneh gak nanti kelihatannya?

Hehe, gak apa-apa sekali-sekali aneh. Tapi kabarnya hal ini sudah sangat biasa dilakukan di Mesir. Mungkin sudah saatnya kita masyarakatkan juga di Indonesia. Paling awal-awalnya saja terasa aneh. Kalau sudah biasa, tidak akan aneh lagi.

Dan, target khatam dalam 3 bulan ini sebenarnya sama sekali bukan hal yang mustahil, karena sudah banyak contoh orang-orang yang sibuk, tetapi berhasil rutin mengkhatamkan Al Quran. Kalau tidak salah, Ustadzah Yoyoh Yusroh mengkhatamkan Al Qur’an 3 kali dalam sebulan, dan Ibu Ainun Habibie mengkhatamkan Al Qur’an 2 kali dalam sebulan.

Kalau di hari-hari Senin - Jumat sibuk, bisa digeber di akhir pekan :-)

Ayo, pasti bisa. Cari Al Qur’an yang praktis dan bisa dibawa ke mana-mana, dan jadikan pendampingmu ke manapun pergi, bersama HP dan dompet. Berangkaaaaat :-)

Kapan Toilet Training & Sprei Anti Ompol

Di milis asiforbaby ada pembahasan tentang kapan mulai toilet training dan manfaat sprei anti ompol.

Berikut jawaban saya di diskusi tersebut :-)Sebenarnya saya sudah pernah menulis juga tentang ini, nggak apa-apa ya diulang lagi :-)

Untuk toilet training, ada dua pendapat :

Ada yang men-training sejak baby bisa didudukkan di toilet, jadi sekitar usia 6 bulan.
Jadi caranya adalah secara periodik, misalnya 2 jam sekali, anak didudukkan di toilet lalu ditunggu sampai pipis / pup.
Lama-lama anak akan menemukan pola, duduk di toilet, akan pipis.
Prinsipnya lebih cepat lebih baik. Dan banyak juga yang berhasil dengan cara ini.
Positifnya, anak bisa lebih cepat bebas dari diaper.
Negatifnya, ada yang bilang karena ini sebenarnya terlalu cepat, beberapa anak setelah bebas diaper, kembali mengompol di usia tertentu.

Ada yang men-training sejak usia 2 tahunan.
Latar belakangnya, sudah bisa diajak bicara, sudah bisa menyampaikan kalau akan pipis / pup, dan ada psikolog yang pernah bilang, bahwa memang dari sisi perkembangan psikologis, tahap toilet training memang di usia ini.
Positifnya, sesuai psikolog tadi, sesuai perkembangan psikologis anak. Dan tidak terlalu repot mendudukkan secara periodik, cukup menunggu anak menyampaikan ketika dia memang benar-benar ingin pipis.
Negatifnya, lebih lama tergantung dengan diaper :-)

Saya sendiri pilih opsi kedua :-)

Untuk pelapis sprei anti ompol, buat saya sangat sangat bermanfaat. Sama sekali nggak rugi beli walaupun agak mahal.
Bahannya pun adem, nggak perlu pake perlak2, ketutup semua kasur, jadi kasur nggak basah dan nggak bau pesing.

Mung Mung Episode ke-2

Malam ini, adalah waktunya Mung Mung Episode ke-2. Tadinya saya bingung, mau dibawa ke mana kisahnya. Akhirnya saya buat seperti berikut :-)

Desa Mung Mung masih kebanjiran, hujan masih belum juga berhenti. Warga desa di penampungan mulai kehabisan makanan. Mung Mung pun berenang menyeberangi banjir, pergi mencari pertolongan ke desa sebelah.

Untunglah warga desa sebelah baik hati. Mereka memberikan bantuan makanan berupa beras, tepung, dan indomi.

Ketika bantuan sudah terkumpul, Mung Mung kebingungan, bagaimana cara membawanya menyeberangi banjir. Maka Mung Mung pun dengan cepat membuat kotak anti air untuk membawa makanan itu, dan membawanya ke desanya.

Sampai di penampungan, Mung Mung baru ingat, ternyata di penampungan tidak ada kompor, sehingga beras, tepung, dan indomi yang dibawa tidak bisa dimasak. Kayu bakar pun tidak ada, karena semua kayu basah terkena hujan. Untunglah ternyata di antara bantuan itu ada buah-buahan dan sayur-sayuran, sehingga warga desa tetap bisa makan.

Mereka pun mulai mengumpulkan kayu-kayu basah, dicoba untuk dikeringkan, agar besok hari bisa makan nasi, tepung dan indomi.

Tamat episode kedua :-)

Selama kisah, saya sempat berubah-ubah scenario, karena ada masukan dari anak-anak, atau karena terasa kurang keren. Misalnya waktu akan menyeberang, tadinya Mung Mung akan membuat perahu, tapi kata anak saya terlalu ketebak, jadi diganti.

Lalu, ketika sampai di penampungan, baru terpikir bahwa tidak ada kompor, jadi kirimannya di-update, ada tambahan sayur dan buah. Anak saya ketawa-ketawa, karena dia masih ingat, bahwa sebelumnya tidak ada sayur dan buah, hehehe..

Sempat juga terjadi diskusi soal banjir, yang akhirnya distop si kakak karena dia ingin ceritanya dilanjutkan.

Akhirnya dibuat kesepakatan, bahwa besok-besok skenarionya harus tetap, jangan didiskusikan di tengah cerita, dan jangan di-update-update :-)

Dan ada ide juga untuk dibuat komik, bahkan novel. Kata anak saya, dibuat saja kisah besarnya, misalnya ada musuh tertentu yang ternyata jadi penyebab banjir di desa Mung Mung itu. Hehe, menarik juga jadinya.

Kisah Si Mung Mung

Dua malam yang lalu tiba-tiba anak saya minta didongengi sebelum tidur.

Saya pun mulai mengarang cerita.

Pertama, tentang kisah sebatang rumput yang tumbuh setelah musim dingin :-)Anak saya bilang, gak seruuuu!

Akhirnya saya buat kisah lain, yaitu kisah Si Mung Mung. Ternyata anak saya cukup antusias dengan si Mung Mung, yang namanya cukup aneh ini, yang kami ketawa bareng ketika nama itu disebutkan untuk pertama kalinya.

Si Mung Mung ini adalah seorang anak laki-laki yang tinggal di desa, yang senang bermain di alam. Dia sering berenang di sungai. Suatu hari dia dicapit kepiting, dan ia jadi punya insang sehingga dia kuat untuk menyelam lama di dalam air dan berenang dengan cepat. Sedikit “nyontek” Spiderman, plus ngarang bebas, karena setelah dipikir2, apa kepiting punya insang dan bisa berenang cepat ya? Wkwkwk..

Suatu malam, turun hujan deras, yang berlangsung berhari-hari, sampai akhirnya sungai di desa Mung Mung meluap dan desa Mung Mung terserang banjir, seluruh warga desa kebingungan menyelamatkan diri, keluarga dan harta bendanya.

Mung Mung yang bisa menyelam dan berenang cepat, membantu warga desa menyelamatkan diri ke tempat yang tinggi. Di sana pun Mung Mung dengan cepat membangun rumah penampungan untuk seluruh warga desa.

Tamat episode pertama :-)

Anak-anak mulai berkreasi, tentang bagaimana wajah si Mung Mung yang punya insang. Dan nama yang keren buat si Mung Mung. Akhirnya terpilih Mung Mung si Pendekar Insang. Atau Mung Mung The Gill Warrior wkwkwkwk.. Seru juga jadinya..

Akhlak Rasulullah

Dalam kitab Sahihain, dari Anas yang telah mengatakan :

Aku menjadi pelayan Rasulullah SAW selama sepuluh tahun dan beliau sama sekali belum pernah membentakku dengan kata “Husy!”

Dan belum pernah mengatakan terhadapku tentang sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan, “Mengapa engkau melakukannya?”

Dan tidak pula terhadap sesuatu yang seharusnya aku lakukan, “ Mengapa tidak engkau lakukan?”

Beliau SAW adalah seorang yang paling baik akhlaknya.

Dan aku belum pernah memegang kain sutra, baik yang tebal maupun yang tipis, dan tidak pula sesuatu yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah SAW.

Dan aku belum pernah mencium minyak kesturi dan tidak pula wewangian laiinya yang lebih harum daripada bau keringat Rasulullah SAW.

===

Subhanallah, semoga kita bisa meneladani beliau, sedikit demi sedikit.

Thursday, July 7, 2011

Ibu Lagi : Bekerja atau Di Rumah

Setelah kemarin menulis tentang Ibu bekerja atau di rumah, dll, saya jadi berpikir lagi :-)

Sebenarnya, ketika seorang ibu memutuskan untuk bekerja, maka untuk mengisi kekosongan tersebut, diperlukan “pengganti” yang bisa jadi adalah seorang ibu juga. Akibat ibu kedua ini bekerja, ada kekosongan lagi, yang harus juga dicari “pengganti”-nya.

Apakah itu hal yang baik ya?

Dan berikutnya, ketika seorang ibu memutuskan bekerja, pada dasarnya ia “mengambil” pos pekerja yang “bisa jadi” dapat diisi oleh seorang ayah dari keluarga lainnya.
Walaupun rezeki sebenarnya sudah Allah tetapkan, dan andaikata pun dia tidak bekerja di tempat itu, ia akan memperoleh rezeki tersebut dari tempat lain, apakah mungkin ibu tersebut seolah-olah “mengambil jatah” rezeki orang lain ya?

Sementara masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab :-)

Tokoh Teladan Itu Masih Ada

Pengajian dzuhur kali ini diisi oleh Ust. Sukeri Abdillah, semoga bermanfaat.

Saat ini sering muncul keprihatinan atas kondisi kehidupan sosial masyarakat, tentang sulitnya mencari tokoh teladan. Ada yang bicara baik hari ini, ada yang menyeru pada kebaikan, tetapi mencari teladan dalam kebaikan sangat sulit seperti mencari jarum dalam jerami.

Pernyataan tersebut benar tetapi tidak tepat.

Mencari teladan memang sulit kalau kita mencari dari yang masih hidup. Dan ada kecenderungan, jika belum ada tokoh teladan, maka lebih baik menunggu, dan tidak perlu memulai untuk menciptakan kualitas keteladanan.

Menurut Miqdad Bin Amr, ahli filosofi pertama yang hidup di zaman Rasulullah, jika ingin berteladan, pilihlah yang sudah mati, karena tidak ada yang baru setelah kematian. Jika telah tercatat kebaikan, kemudian mati, catatan telah selesai, dan isinya adalah kebaikan. Tidak akan ada perubahan.

Mereka yang hidup masih ada kemungkinan berubah. Yang tadinya baik bisa jadi berubah jadi buruk.

Miqdad bin Amr pernah pada suatu siang duduk berteduh di bawah pohon kurma. Melintaslah kafilah dari Basrah, mendekati beliau dan menatap tajam, dan berkata “Mulianya mata ini, karena bisa melihat Rasulullah, pastilah pemiliknya akan masuk surga”. Pada saat itu Rasulullah memang sudah wafat. Miqdad bin Amr bereaksi keras, “Wallahi, betapa banyak orang yang ditelungkupkan di jahannam karena keingkaran padahal hidup bersama Rasulullah.”

Sehingga, faktor berikutnya, kalaupun tokoh teladan itu ada, bisa jadi kita tidak siap dengan keberadaannya.

Dalam Al Qur'an, pembahasan tentang tokoh teladan adalah pada QS Ali Imran : 110.
Kuntum khairu ummah.
Kata “kuntum” mengandung makna “kanat”, yang terjadi masa lalu. Jadi maknanya adalah bahwa di masa lalu kalian adalah ummat terbaik. Ketika “kuntum” ditujukan kepada Rasulullah, maka mengandung makna bahwa agama diturunkan kepada orang yang berkualitas. Ketika “kuntum” ditujukan kepada jamak orang beriman, adalah mereka yang memiliki kepribadian teladan.

Rasulullah adalah sosok yang luar biasa. Di usia 18 thn menjadi direktur ekspor impor. Menikahi Khadijah dengan mahar bernilai ratusan juta rupiah jika dikonversikan dengan nilai saat ini. Diutus manjdai nabi dan rasul, memiliki akhlaqul karimah dengan sebutan al amin. pribadi yang sangan berkualitas.

Masyarakat yang pertama masuk Islam adalah juga kalangan terbaik di masa itu.

Wanita pertama adalah Khadijah, keturunan Khuwailid yang bermazhab Ibrahim yang hanif dan tidak mengenal kemusyrikan, seorang konglomerat yang cerdas dan cantik.

Anak laki-laki pertama yang masuk Islam adalah Ali bin Abi Thalib di usia 7thn yang steril dari jahiliyyah karena termasuk dalam keturunan Abu Thalib, dari Bani Hasyim yang hanif.

Berikutnya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, tokoh penyantun, dengan kepribadian yang ramah dan relasi yang sangat luas.

Ada pula Mushab bin Umair, pemuda terpandang di masa itu, yang memiliki akidah yang lurus, berbeda dengan pemuda umumnya di masa jahiliyyah itu.

Merujuk kepada ayat tersebut, maka ciri-ciri sosok teladan ada 3.

Pertama, ukhrijat linnas.
Yaitu lahir di tengah umat manusia, artinya memiliki kepribadian yang inklusif dan tidak eksklusif, dengan pergaulan yang luas, dengan seluruh lapisan masyarakat, termasuk dengan mereka yang ekstrim ideologis berbeda.

Contoh Rasulullah, di masa awal dakwah islam, selama 10 tahun dilindungi oleh seorang kafir, yakni Abu Thalib. Ini bisa terjadi karena Rasulullah mempergauli Abu Thalib dengan baik. Ketika Rasulullah berhijrah, pemandu perjalanan adalah Abdullah yang beragama Nasrani, yang bersedia karena Rasulullah bergaul dengannya dengan baik.

Pernah pula ada kisah seorang da’i di Mesir, yang berteman baik dengan seorang dokter non muslim. Dalam perjalanan dakwahnya, da’i ini ditangkap dan dipenjara selama 25 tahun. Setelah ia bebas, ia terkejut menyaksikan anak-anaknya sukses dan menjadi sarjana. Ketika ditanyakan kepada istrinya, dengan apa menanggung kehidupan keluarga selama ditinggalkan? Ternyata sahabat karibnya itulah yang membantu.

Bagaimana dengan kita, apakah ketika orang lain mendapat nikmat, kita ikut senang, atau semakin stress? Apakah kita masih sering menghitung pendapatan orang lain?

Dan kita pun perlu terus memperbaiki kualitas hubungan dengan berbagai lapisan masyarakat, bertasamuh, yaitu bekerja sama sesuai dengan kesepakatan, bertoleransi dengan perbedaan.

Yang kedua adalah ta'muruna bil ma'ruf.
Hal ini ditandai dengan ringan hati jiwa raga menyambut seruan kebaikan, seringan kapas tertiup angin.

Contoh yang bisa kita cermati adalah pada momentum shalat Jumat. Apakah kita datang 30 menit sebelum khatib naik mimbar? Atau menjelang khutbah kedua?

Ust. Sukeri pernah bertugas sebagai khatib namun terjebak kemacetan sehingga terlambat. Sebagai komitmen, Ust. Sukeri tetap hadir di masjid tersebut, walaupun posisi khatib sudah digantikan. Ketika adzan telah berkumandang, masih terlihat para muslim bertransaksi dengan pedagang dan makan di kantin.

Bagaimana dengan shalat wajib? Apakah kita siap 5 menit sebelumnya? Atau ketika jamaah sudah hampir berakhir? Atau bahkan di akhir waktu?
Bagaimana dengan tilawatil Qur'an? Khatam Al Qur’an paling cepat sebaiknya 3 hari, dan paling lambat 3 bulan. Jika lebih dari 3 bulan, maka kita termasuk mahjurah, yaitu kaum yang meninggalkan Al Qur'anul Karim. Semoga kita tidak termasuk dalam kaum tersebut.

Mulailah kebaikan dari hal-hal yang kecil, yang merupakan internalisasi dalam diri kita sendiri.

Yang ketiga adalah watanhauna anil munkar.
Yang juga konteksnya adalah pada diri sendiri, berupa internalisasi nilai. Yaitu dengan menutup pintu hati dari hembusan sikap negatif walaupun baru terlintas dalam pikiran.

Ketika kita membaca suatu artikel, menanggapi suatu berita, apakah kita berikan komentar positif? Atau negatif? Usahakan agar tidak memberikan komentar negatif, agar tidak menambah keburukan. Paling tidak berikanlah komentar netral.

Keempat adalah, watu'minuna billah.
Yaitu keseluruhannya merupakan upaya keistiqamahan menjalankan iman dan Islam kita.

Jika masyarakat telah berkualitas teladan, maka akan muncul tokoh teladan. Sebaliknya, selama masyarakat masih belum berkualitas teladan, sulit untuk muncul tokoh teladan.

Tokoh teladan sesungguhnya ada. Jika tidak ada dari yang hidup, carilah dari yang telah mati. Ikuti, dan jadikan diri kita semua sebagai trend setter. Ketika kebaikan meluas ke masyarakat, sehingga tercipta masyarakat berkualitas teladan, tokoh teladan akan muncul. Insya Allah.

Wednesday, July 6, 2011

Ibu : Bekerja, Di Rumah, Anak Dirawat BS, atau Dititipkan ke Nenek?

Judul di atas seringkali menjadi dilema bagi seorang ibu.

Sebenarnya mana yang paling baik? Apakah ibu bekerja? Atau di rumah membesarkan anak? Lalu jika ibu bekerja, anak dititipkan ke babysitter atau ke nenek kakeknya?

Sepertinya tidak ada satu jawaban pasti untuk hal ini.

Semua bergantung pada kondisi masing-masing. Artinya semua pilihan bisa saja menjadi pilihan yang terbaik.

Jika ibu di rumah, tidak bisa dipastikan juga anak akan baik. Ada juga anak yang ibunya di rumah, ketika balita perlu terapi wicara. Ketika besar ada yang terjerat narkoba dan pergaulan bebas. Anak ibu bekerja? Sama juga ada yang begitu.

Jika ibu bekerja, anak dititipkan ke nenek, juga tidak menjamin perkembangannya baik. Sama juga kasusnya, ada yang perlu terapi wicara karena nenek kurang telaten untuk mengajak bicara dan bermain. Dibesarkan BS, sama juga, ada yang begitu.

Ibu bekerja, ada juga yang anaknya sukses. Mandiri, dengan prestasi yang baik di sekolah, dan taat beragama. Anak ibu di rumah? Ada juga yang begitu.

Anak dibesarkan babysitter, banyak yang berkembang dengan baik, cerdas, cepat perkembangan motorik dan kognitifnya. Yang dititipkan ke nenek? Sama juga, ada juga yang begitu.

Hehehe, lalu, apa yang membedakan?

Saya sendiri belum bisa memastikan, tetapi mungkin kembali ke niat orang tua masing-masing. Apakah orang tua sudah berniat baik ketika menentukan pilihannya? Apakah orang tua telah “membingkai” pilihan hidupnya dengan niat ibadah kepada Allah SWT? Jika itu sudah dilakukan, apa pun pilihannya, insya Allah hasilnya akan baik.

Mungkin begitu ya?