Thursday, March 30, 2017

Inspirasi Al Qur'an dari kisah Nabi Musa dan Fir’aun

Ceramah disampaikan oleh Ustadz Fahmi Salim, Lc di Mushalla Tarbiyah, tanggal 1 Rajab 1438 atau 30 Maret 17.

Ada 10 hikmah yang bisa kita peroleh dari kisah Nabi Musa dan Fir’aun dalam Al Qur’an.

1 Rencana Allah pasti terlaksana

Allah punya cara untuk menyelamatkan risalahnya. Orang kafir ingin memadamkan cahaya Islam, tapi Allah akan menjaga sampai akhir zaman. Ada ataupun tidak ada kita.

Bayi Musa yang tak berdaya, Allah selamatkan dari pembunuhan bayi laki-laki, masuk ke istana dan justru nantinya melawan Fir’aun. Ketika Allah perintahkan untuk mendatangi Fir’aun, Nabi Musa gentar karena yang dihadapi adalah orang tuanya, yang memiliki kekuasaan dan kekuatan yang besar. Tapi Allah mengingatkan beliau bahwa dulu ketika masih bayi dan belum seperti sekarang, Allah selamatkan Nabi Musa. Maka sekarang pergi saja, Allah yang akan menyelesaikan.

2 Hati manusia ada dalam genggaman Allah

Dalam surat Al Qashash, bayi Musa yang masih merah dan baru saja lahir, belum sempat ada keterikatan dengan ibunya, dihanyutkan ke sungai Nil. Allah kemudian melunakkan hati istri Firaun dan mengambil bayi Musa sebagai permata hati kerajaan. Allah berikan kekuatan hati untuk ibu Musa untuk melepaskan bayi Musa, dan memerintahkan kakak perempuan bayi Musa untuk mengikuti.

Hikmah bagi kita, dakwah harus kekuatan hati, karena takdir Allah akan bekerja, kita harus tetap pasrah.

Karena ada keajaiban, bayi Musa tidak mau berhenti menangis walaupun sudah dicoba disusui oleh berbagai ibu susu. Sampai akhirnya kerajaan membuat sayembara, dan saudari bayi Musa ikut serta, lalu menunjukkan kepada mereka wanita yang akan membuat bayi itu tidak menangis lagi. Allah kembalikan Musa pada ibunya, agar ia tenang dan tidak sedih, karena janji Allah pasti benar.

Hidup harus kita arungi dengan yakin, tabah, dan tawakal, dengan kepercayaan bahwa yang terjadi pasti yang terbaik. Dan akan tiba nikmat yang tidak terduga.

3 Kita tidak bisa mengatur iman orang lain

Fir’aun merasa sebagai tuhan, namun istrinya mengakui Allah sebagai tuhannya. Dalam surat At Tahrim, istri Fir’aun disebut dengan “imroah” bukan “zauj” atau “ahli”, atau artinya adalah perempuan Fir’aun, bukan istri atau keluarga.
Karena Fir’aun hanya bisa menguasai fisiknya, tapi bukan hatinya

Istri Fir’aun berdoa, “Bangunkan untukku rumah di surga dan selamatkan aku dari Firaun.”
Sebaliknya dengan Nabi Nuh dan Nabi Luth, orang-orang soleh dengan istri yang melanggar perintah Allah.

4 Rumah bersifat rahasia

Fir’aun dan istrinya adalah suami istri yang hidup dalam satu rumah, tetapi bisa menjadi asing satu sama lain, karena yang bisa menyatukan adalah hati yang tunduk pada Allah.

5 Kekuatan tentara tidak bisa menghalangi seseorang beriman, yang tidak gentar dengan ancaman apa pun

Penyihir di masa Nabi Musa bisa dianalogikan dengan media saat ini, yang memutarbalikkan berita bagi masyarakat.

Para penyihir ketika sadar bahwa kalah menghadapi mukjizat Nabi Musa, lalu diancam oleh Fir’aun ketika akan pindah menjadi beriman, dan Fir’aun berkata bahwa semua yang ada di sana saat itu berada dalam kekuasannya, dan menuduh mereka melakukan makar agar bisa mengeluarkan penduduk dari Mesir. Lalu Fir’aun mengancam akan menghukum cincang potong tangan kaki secara silang.

Sebelumnya ketika akan dilakukan lomba antara Nabi Musa dan Fir’aun, mereka menanyakan apa yang akan mereka dapatkan. Fir’aun menjanjikan kedekatan dengan Fir’aun, nikmat fasilitas. Fir’aun mendapatkan loyalitas atas fasilitas dunia yang semu. 

Ketika para penyihir berbalik menuju Allah. Maka mereka berkata bahwa Fir'aun dendam pada kami karena kami beriman pada Allah. Dan mereka berdoa untuk diberikan kesabaran, dan matikan kami muslim.

Begitulah penguasa yang zalim, ketika dalam kondisi terdesak akan menuduh makar. Dan orang beriman harus sabar karena akan diuji.

6 Pejuang kebenaran menghadapi penguasa zalim

Pejuang kebenaran akan mendapat tuduhan makar, akan dianggap memperjualbelikan agama, akan dianggap merusak.

Pada surat Gafir 26, Fir'aun menuduh bahwa ada pengacau mengancam masa depan Mesir. Dan menyampaikan bahwa ia khawatir dengan rakyatnya, bahwa Musa suka memutarbalikkan fakta, dan melakukan politisasi agama supaya rakyat tidak tunduk pada Fira'un, dan akan mengganti agama orang Mesir. Padahal justru Fir'aun yang akan melakukan hal itu.

7 Hamba sahaya budak yang menciptakan algojo bagi penguasa

Fir'aun pada awal memegang kekuasaan adalah seorang yang baik, sederhana, humble dan memukau.
Kemudian rakyat memuja Fir'aun bahkan sampai mengkultuskan, dan ia pun  menjadi tiran.

Maka rakyat jangan terlalu  mengkultuskan pemimpin dan harus berani menasihati penguasa.

Firaun berkata, "Wahai kaumku, kekuasaan Mesir berada dalam kendaliku. Sungai Nil mengalir di bawah kakiku. Bukankah aku lebih baik dari Musa?”

Rakyat Mesir di masa itu adalah contoh rakyat yang fasik, dan contoh bahwa kesombongan mengakibatkan perpecahan.

8 Bila Allah ingin menolong, Allah akan berikan sarananya yang dapat dalam bentuk yang sederhana

Untuk Nabi Musa saat itu, Allah berikan tongkat, yang ternyata bisa digunakan untuk mengalahkan penyihir dan dipukulkan ke laut Merah.

Jangan meremehkan persenjataan yang terlihat remeh dan sederhana. Doa adalah senjata terkuat orang beriman. Hubungan dengan Allah subhanahu wata’ala.

9 Hukum kausalitas hanya berlaku bagi manusia, tidak berlaku bagi Allah

Air netral, bisa menyelamatkan Nabi Musa, bisa menghancurkan dan menenggelamkan Fir’aun.
Segala isi muka bumi bisa menjadi tentara Allah

10 Penyesalan tidak berguna


Dalam surat Ghafir dijelaskan bahwa para pengikut keburukan ketika masuk ke neraka memprotes, bahwa mereka hanya rakyat kecil, yang hanya mengikuti saja ajakan pemimpin mereka. Dan para pemimpin meminta mereka diam karena sudah sama-sama di neraka. 

Tuesday, March 28, 2017

Ciri Orang Munafik

Dari Kajian Muslimah Mushalla Tarbiyah oleh Ustadzah Erika, hari Jumat, 24 Jumadil Akhir 1438, 23 Maret 2017.

Orang munafik di akhirat nanti akan berada di kerak neraka, lebih buruk daripada orang kafir yang berada di neraka jahannam selama-lamanya.

3 ciri orang munafik adalah :
1 bila berjanji, ia ingkar
2 bila berbicara, ia berbohong
3 bila diberi amanah, ia berkhianat

Salah satu ciri saja ada pada kita, maka kita harus berintrospeksi, kalau-kalau kita termasuk orang munafik.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menghindari berbohong. Dalam suatu riwayat disampaikan bahwa suatu  waktu ada seorang muslim berlari melewati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, yang sedang dikejar oleh orang kafir dan akan dibunuh. Setelah muslim itu berlalu, datanglah orang kafir yang mengejarnya dan bertanya apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melihat orang tadi. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam lalu mundur dua langkah dan menjawab, “Selama saya di sini, saya tidak melihat ada orang yang lewat.”

Beberapa prinsip yang digunakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saat itu adalah, bahwa sesama muslim harus saling melindungi, waspada bila seorang non muslim berbicara karena belum tentu benar, serta tidak boleh berbohong.  

Bahkan bercanda pun tidak diperbolehkan untuk berbohong.

Bila kita berjanji, maka sedapat mungkin harus kita tepati, kecuali ada udzur syar’i yaitu halangan-halangan yang dapat dibenarkan secara syariah, seperti sakit atau jalan sangat macet.

Ketika kita melihat ciri-ciri orang munafik, hal itu tidak dimaksudkan agar kita bisa menunjuk orang lain sebagai orang munafik. Tetapi dengan kriteria-kriteria yang ada, kita bisa lebih hati-hati dengan teman-teman yang memiliki ciri orang munafik, dan bila sangat ekstrim, ada kemungkinan sebaiknya kita tinggalkan.

Selanjutnya ciri-ciri lebih detil tentang orang munafik ada pada Al Qur’an surat An Nisa ayat 138-146.

Pada ayat 138 dinyatakan bahwa “bassyir” yang artinya berikan kabar gembira, dalam hal ini bagi orang munafik, bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. Hal ini dapat dimaknai bahwa pada dasarnya tidak ada berita gembira bagi orang munafik.

Pada ayat 139 dijelaskan ciri pertama orang munafik, yaitu orang yang mengambil orang kafir sebagai “auliya” dan meninggalkan orang mukmin. Pembahasan makna auliya antara pemimpin, sahabat, dan teman setia adalah makna yang seluruhnya benar.

Hal ini mirip dengan perdebatan antara shalat subuh dengan doa qunut atau tanpa doa qunut, sampai menimbulkan permusuhan antara dua pihak yang berbeda itu, dan justru malah berteman dengan muslim yang tidak shalat subuh, misalnya.

Makna auliya pada dasarnya sama dengan yang selama ini digunakan dalam Bahasa Indonesia, yaitu wali, misalnya wali murid, yaitu orang yang bertanggung jawab, berkuasa, memimpin.

Pada ayat 140, dijelaskan bahwa bila kita mendengar ayat Allah diperolok-olok, maka sebaiknya kita tidak duduk bersama dengan kelompok orang tersebut. Karena kita akan sama dengan orang-orang tersebut, dan walaupun kita tidak ikut menyetujui, bila kita diam, maka kita dianggap setuju. Dan bahwa orang munafik dan orang kafir akan bersama-sama di neraka jahannam bersama syaitan dan iblis.

Ciri selanjutnya pada ayat 141, yaitu bahwa orang munafik akan menunggu peristiwa yang akan terjadi pada orang mukmin. Bila mukmin menang, mereka mengaku bersama orang mukmin, dan bila orang kafir yang menang, mereka mangaku bersama orang kafir. Allah berjanji bahwa Allah tidak akan memenangkan orang kafir di akhirat.

Ciri berikutnya pada ayat 142, yaitu bahwa orang munafik itu menipu Allah, shalat dengan malas, shalat ketika dilihat orang karena riya, dan sangat sedikit mengingat Allah.

Di ayat 143, orang munafik dalam keadaan ragu ikut golongan yang mana. Mereka tidak ke kanan, tidak juga ke kiri. Sementara Islam harus berpihak kepada yang haq. Mereka selalu dalam keadaan bingung memilih mana yang benar, walaupun tanda-tandanya sudah sangat jelas.

Isi ayat 138 diulang kembali pada ayat 144, bahwa orang munafik memilih orang kafir sebagai wali dan meninggalkan orang mukmin. Di ayat ini Allah menyatakan apakah mereka menginginkan untuk diazab Allah saat ini juga?

Di ayat 145 dijelaskan bahwa orang munafik ditempatkan pada tingkatan paling bawah dari neraka. Dan tidak ada penolong.

Di ayat 146, Allah memberikan peluang bagi orang munafik untuk bertaubat, namun dengan persyaratan yang cukup sulit, yaitu bertaubat dan mengadakan perbaikan dan istiqamah dan ikhlas.  Pada persyaratan ini digunakan kata “dan” yang menunjukkan bahwa semua syarat itu harus dipenuhi, barulah taubat seorang munafik bisa diterima.

Tidak cukup dengan hanya bertaubat atas dosa yang dilakukan, orang munafik harus melakukan perbaikan yaitu memperbaiki orang-orang yang pernah diajak melakukan hal-hal yang salah tadi. Selanjutnya, harus menjalankannya dengan istiqamah dan juga ikhlas, yang bagi mukmin pun merupakan hal yang tidak mudah.

Contoh penggunaan lain kata “dan” sebagai persyaratan adalah pada surat Al Ashr, yang menyatakan bahwa semua orang dalam keadaan merugi kecuali mereka yang beriman dan beramal soleh dan mengajak kepada kebenaran dan mengajak dengan kesabaran.

Muslim harus bersama, karena setan bersama dengan orang yang sendirian. Ciri-ciri mukmin adalah orang yang melakukan perbaikan (ishlah), dan istiqamah serta ikhlas.

Harus diyakini bahwa satu kebaikan, sedekah misalnya, akan diberikan balasan 10 kali lipat dari nilai nominal walaupun tidak sama persis (dalam bentuk uang tunai sebagaimana yang kita berikan), tapi bisa berupa dihindarkan dari musibah.

Ada seorang ulama yang berinfaq 100 dinar dan sangat yakin bahwa akan mendapatkan balasan sebesar 1000 dinar. Dan tepat saat itu utusan raja membagikan uang dari raja dalam kantung-kantung yang masing-masing berisi 100 dinar. Ulama ini sedang tidak ada di rumahnya ketika kantung untuknya disampaikan. Ketika ia tiba, dia melihat bahwa hanya ada 9 kantung untuknya, yaitu 900 dinar. Ulama ini lalu bertanya kepada sang utusan bahwa seharusnya ia mendapatkan 10 kantung, dan ketika diperiksa kembali memang ada 1 kantung yang terjatuh.


Tanya Jawab : 

Bila ada orang tua dengan pemahaman berbeda, apa yang harus dilakukan?

Kepada orang tua, bila ada perbedaan pemahaman, kita harus tetap menyampaikan kebenaran dengan kesabaran dan dengan cara yang baik.

Bagaimana dengan pendapat bahwa sistem demokrasi adalah bukan sistem Islam dan seharusnya ditinggalkan saja?

 Indonesia adalah negeri sekuler. Dan di dunia belum ada negara yang menjalankan hukum Islam 100%. Yang tertinggi saat ini adalah Sudan, sekitar 90%. Saudi sekitar 50%. Apa yang tidak bisa dibetulkan semua jangan ditinggalkan semua.

Keterlibatan Islam dalam politik sudah ada sejak masa Rasulullah shalallahu ‘alalihi wasallam yang ketika tiba di Madinah selain membangun masjin, beliau membuat Piagam Madinah yaitu perjanjian dengan kaum Yahudi, antara lain menentukan batas-batas wilayah tempat tinggal kaum Yahudi dan kaum muslimin.

Dalam perang Khandak atau perang Al Ahzab, yang artinya sekutu, dalam hal ini sekutu antara muslim dan Yahudi. Pada perang tersebut atas saran Salman Al Farisi, dibuat parit yang memblokade. Ketika muslim tidak menyerah walaupun persediaan makanan makin menipis, Allah turunkan angina puting beliung dan perang pun berakhir.

Dari contoh tersebut sangat jelas bahwa Allah melihat usaha kita, bukan hasil. Allah yang akan memainkan selanjutnya, semua terjadi atas izin Allah.

Bagaimana bila ada teman yang sudah mencoba untuk memperbaiki diri, tetapi masih kurang konsisten?

Sebaiknya tetap kita hargai. Mereka yang menggunakan hijab tapi masih “buka tutup”, sebetulnya jauh lebih baik daripada “buka terus”. Karena hidayah itu berproses.


Tapi penting untuk juga memastikan bahwa kita melakukan sesuatu bukan hanya karena ikut-ikutan. 

Rukun Iman – Iman pada Hari Kiamat

Ceramah dzuhur dari Ustadz Hilman Rosyad di Masjid Tarbiyah, bulan Jumadil Awal dan Jumadil Akhir 1438, pekan terakhir. 

Prinsip iman pada hari kiamat ada 3 hal yaitu :

1 Bahwa kiamat pasti terjadi, maka kita tidak boleh meragukannya.
2 Bahwa kiamat adalah saat pertanggungjawaban atas apa yang kita perbuat di dunia
3 Bahwa hasil dari pertanggungjawaban tersebut adalah balasan surga atau neraka

Ada dua jenis kiamat yaitu kiamat sughra (kecil) dan kiamat kubra (besar). Yang sering dijelaskan dalam Al Qur’an adalah kiamat kubra, yaitu ketika berakhirnya dunia.

Kiamat terdiri atas 4 tahap yaitu :

1 Yaumul qiyamah atau yaumul ba’ats (hari kebangkitan)
2 Yaumul mahsyar, yaitu ketika seluruh manusia dikumpulkan di padang mahsyar
3 Yaumul hisab, yaitu hari perhitungan
4 Yaumul jaza’, yaitu hari pembalasan


1 Yaumul Qiyamah

Pada yaumul qiyamah atau yaumul ba’ats terjadi hari kiamat dengan berbagai ciri pada Al Qur’an dan seluruh manusia akan dibangkitkan dari kematian.


2 Yaumul Mahsyar

Pada yaumul mahsyar, dalam hadits disebutkan bahwa manusia akan menjadi seperti biji yang disemai di padang mahsyar, lalu tumbuh seperti kecambah sampai menjadi seperti bentuk akhirnya. Kemudian Allah dekatkan matahari sampai berjarak 1 jengkal dari bumi.

Semua orang akan berkeringat dengan berbagai ketinggian sesuai dosanya selama hidup.
Ada yang sampai mata kaki, ada yang sampai leher, tapi tidak ada yang tenggelam.


Ada 7 kelompok orang yang akan mendapatkan perlindungan Allah di padang Mahsyar :

Pertama, imam yang adil
Baik pemimpin negara, komunitas, keluarga, dan juga pemimpin bagi diri sendiri.

Kedua, remaja yang bertumbuh dalam suasana beribadah kepada Allah.
Maka kewajiban orang tua membesarkan anak sejak dini dengan Islam.

Ketiga, seseorang yang hatinya terkait dengan masjid.
Hal ini pun harus sejak kecil terbina. Dalam hadits disebutkan bahwa sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar. Namun seringkali kita lebih merasa nyaman berada di mall, dan perlu kita pertanyakan kepada diri kita sendiri, apakah kita merasa nyaman berada di masjid?

Ustadz saat ini sedang menggalakkan kampanye masjid ramah anak. Situasi perkotaan saat ini menyebabkan orang tinggal di rumah yang sempit dan sifat konsumtif menyebabkan terlalu banyak barang sehingga rumah menjadi makin sempit. Ruang gerak anak menjadi terbatas.

Sehingga ketika mereka ke masjid yang luas, mereka akan gembira berlari kian kemari, apa lagi bila bertemu dengan teman. Itu adalah hal yang wajar terjadi sebagai anak-anak.

Bila kita membawa anak ke masjid dan ia duduk tenang mendengarkan ceramah selama dua jam, barangkali justru kita perlu segera ke dokter karena anak kita bisa jadi sedang sakit.

Sebaiknya disiapkan ruang khusus untuk anak-anak, ada ruang bermain, ada pemimbing, sehingga anak-anak senang pergi ke masjid. Juga ketika remaja, masjid seharusnya menjadi tempat membina remaja. Dan ketika dewasa, hatinya akan tertambat ke masjid. Dan kemudian tumbuh rasa cinta kepada sesama jamaah masjid, kepada sesama muslim. Yang akan berlanjut pada kriteria selajutnya.

Yaitu keempat, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yang bertemu dan berpisah karena Allah.

Pada orang yang senantiasa berada dalam lingkungan yang baik, akan tumbuh Imunitas pada dosa dan maksiat, yang menjadi kriteria kelompok berikutnya.

Yaitu kelima, orang yang ketika diajak bermaksiat dengan kondisi tidak mungkin diketahui siapa pun, ia menolak karena takut pada Allah.

Baik dalam bentuk zina, peluang korupsi, ataupun berkhianat pada kontrak kerja bagi karyawan.

Keenam, adalah orang yang rajin bersedekah.
Yang karena sudah terbiasa maka tidak ingin dilihat orang lain, sehingga bahkan dapat dikatakan bahwa tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.

Hal ini juga masih berkait dengan situasi sebelumnya yaitu ketika seseorang tumbuh dalam kebiasaan ibadah kepada Allah, akan rajin ke masjid, saling mencintai dengan sesama muslim, akan dengan sendirinya bersedekah kepada orang yang membutuhkan.

Ketujuh, adalah orang yang berdzikir sendirian dengan berurai air mata.
Karena ia yakin akan adanya Allah, ia akan sungguh-sungguh berdzikir, memohon ampun dan beristighar akan dosa-dosanya.


3 Yaumul Hisab

Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Insyiqaq.

Yaitu orang-orang mendapatkan catatan amal dari sebelah kanan, akan kembali kepada keluarganya yang sama-sama beriman dan bergembira.

Sedangkan orang-orang dengan catatan amal yang buruk mereka menghindari hisab, tapi tetap dipanggil dan akhirnya masuk ke neraka sa’ir.

Dijelaskan juga tentang adanya mizan, yaitu timbangan kebaikan dan keburukan. Kemudian shirath yaitu jalan kecil ketika keselamatan bergantung pada poin kebaikan yang kita miliki, dan bahwa segala yang kita perbuat akan dipertanggungjawabkan.

Di Yaumul Hisab ini ada syafaat yang diberikan kepada umat nabi Muhammad.Yaitu mereka yang beriman kepada Allah, beriman dari hati yang paling dalam, tentang kebenaran kerasulan Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, dan bersungguh-sungguh mencari peluang dan kunci syafaat. Mereka bisa jadi banyak dosa dan akan masuk neraka, tetapi Allah selamatkan.


Kunci syafaat ada 3 yaitu :

Pertama, memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Terdapat 5 kemungkinan untuk membaca shalawat :

A Pada saat shalat, karena shalawat merupakan rukun shalat.
B Pada doa setelah adzan. Oleh karenanya bila ada adzan, dengarkan dan jawab satu per satu, setelah selesai bacakan doa.
C Ketika mendengar, membaca, dan menulis nama Rasulullah dan turunannya. Untuk memperbanyak, kita lakukan dengan membaca kitab hadits, membaca sirah nabawiyah. Bila sudah selesai, ulangi baca kembali.
D Ketika membuka dan menutup majelis, untuk itu perbanyaklah menghadiri majelis yang ada shalawat di dalamnya.
E Ketika membuka dan menutup doa

Kedua, membaca Al Qur'anul karim. Al Qur'an akan memberikan syafaat, Al Qur'an akan mendatangkan syafaat Rasulullah.

Bila memungkinkan hafalkan seluruhnya 30 juz.

Sebagai prioritas adalah 2 surat yaitu Al Baqarah dan Ali Imran. Kedua surat tersebut dijamin akan menjadi syafiani, yaitu dua surat pensyafaat. Dihafal, difahami maknanya, dan diamalkan isinya. Dalam kedua surat tersebut terdapat banyak perintah dan larangan.

Menghafal Al Baqarah dan Al Imran sebaiknya mulai digalakkan, sedangkan hafalan juz 29 dan 30 dapat dikatakan “terlalu mainstream”.

Bila belum bisa menghafal, paling tidak sebulan sekali kedua surat tersebut dibaca, tentunya beserta surat lainnya, yang artinya minimal kita membaca 1 Day 1 Juz.

Ketiga, mengurus anak yatim. Yang merupakan perkara yang rumit dalam prakteknya.


4 Yaumul Jaza

Adalah hari pembalasan, berupa surga dengan segala kenikmatannya yang digambarkan di Al Qur’an.

Dalam surat Ali Imran 134 digambarkan bahwa surga seluas bumi dan langit.

Ada anjuran yang mengatakan bila kita membaca 100 kali laa ilaha ilallah, akan diberikan pohon rindang yang bila rindangnya dikelilingi maka kita memerlukan waktu 24 jam.

Kenikmatan surga digambarkan dalam Al Qur’an dengan sederhana, yaitu “apa yang kauinginkan”.
Berbagai buah-buahan, 70 bidadari, minuman susu, madu, khamr dari anggur, beras, dan gandum terbaik yang tidak membuat mabuk, dan para pelayan. Puncak kenikmatan di surga belum pernah terdengar dan terlihat.

Sebaliknya, neraka adalah puncak nestapa. Karena penghuninya akan dibakar, dengan api yang panasnya 70 kali panas api di bumi. Disetrika dari kiri dan kanan. Minuman yang makin diminum makin membuat haus, dan makanan yang berduri. Digambarkan bahwa neraka untuk Abu Thalib, ketika kakinya dibakar, maka bergolak sampai ke otaknya. Dan itu terjadi abadi.


Sedapat mungkin kita gambarkan surga dan neraka itu di depan mata. Dan selanjutnya miliki keinginan untuk ke surga dan ketakutan ke neraka.