Thursday, July 30, 2015

Kalaupun Harus Marah, Sebaiknya..

Yang paling betul sebenarnya adalah tidak boleh marah. Titik.

La taghdhab wa lakal jannah. Janganlah kamu marah dan bagimu surga.

Dan cara yang cukup efektif adalah sungguh-sungguh meniatkan di pagi hari, bahwa hari itu tidak akan marah. Tenangkan hati, bismillah. Biasanya Alhamdulillah semua “rintangan dan tantangan” dapat dilalui dengan tenang.

Tapi, ada hari-hari yang “meledak-ledak”, sekali lagi yang paling betul adalah tetap tidak marah. Titik.

Tetapi, bila pun akhirnya marah, seharusnya perlu dilakukan analisis ini :

Pertama, apakah kita marah pada sasaran yang tepat? Ada kalanya kita sebetulnya kesal dengan anak yang besar, tapi marah ke anak yang kecil. Atau kita stress dengan waktu yang mepet, tetapi marahnya ke pembantu. Atau kita kesal dengan pembantu, tapi marahnya ke anak.

Jadi sebelum marah, pikirkan dulu, apa yang sebetulnya membuat marah, dan selesaikan dengan penyebabnya itu. Sebaiknya sih tetap dengan tidak marah, tetapi kalau pun marah, at least tepat sasaran. Dan kemungkinan setelah berpikir, marahnya juga menjadi reda.

Kedua, apakah kita marah mengenai hal yang tepat? Ada kalanya kita kesal karena anak makannya lama di pagi hari, tapi akhirnya marah juga ke hal-hal lain. Marah juga ke tasnya yang belum dibereskan, marah juga ke PR-nya 2 hari yang lalu yang lupa dikerjakan, marah juga ke kebiasaannya tidur terlalu malam, dll dsb.
Jadi setelah sasarannya tepat, sebelum marah, pikirkan dulu, hal apa yang sebetulnya membuat marah, dan selesaikan cukup hal itu saja. Sebaiknya sih tetap dengan tidak marah, tetapi kalau pun marah, at least untuk hal yang tepat. Dan kemungkinan setelah berpikir, marahnya juga menjadi reda.

Ketiga, apakah kita marah pada waktu yang tepat? Kalau situasinya sedang terburu-buru, memang kita cenderung untuk marah. Padahal, para bala tentara juga belum tentu menjadi lebih cepat bergerak dengan dimarahi.

Maka pikirkan dulu, apakah dengan marah saat ini, hasilnya akan efektif? Atau sekedar melampiaskan saja kekesalan? Dan mengorbankan surga yang dijanjikan?

Maka pikirkan dulu, ketepatan sasasaran kemarahan, ketepatan hal yang dibahas dalam kemarahan, ketepatan waktu untuk marah. Mudah-mudahan marah mereda.

Pada dasarnya tidak ada hal yang lebih penting daripada surga.

Kalau pun ada orang yang melakukan kesalahan atau ketidaksempurnaan, then again, to err is human, nobody is perfect. Kesalahan itu pada dasarnya kecil saja dibandingkan dengan surga.

Kalaupun ada hal yang salah, akan sangat lebih efektif bila diperbaiki dengan cara yang baik.

Kalaupun ada waktu yang tepat untuk marah, pada dasarnya lebih baik disampaikan tanpa marah.

Maka tetap yang terbaik adalah tidak marah. Titik.


Kalaupun rasanya harus marah, Pikirkan dulu tiga hal tadi. Marahlah dengan tepat, atau tetap yang terbaik adalah tidak marah. Titik. 

No comments: