Monday, January 28, 2013

Cinta Dunia atau Cinta Allah (Tafsir Al Qiyamah 20-25)



Ceramah kali ini disampaikan oleh Ust. Amir Faisol Fath.

Dari surat Al Qiyamah ayat 20-25, dijelaskan bahwa ahli surga akan melihat Allah, sedangkan penghuni neraka akan terus menerus dalam ketakutan selama-lamanya. Setiap kali mereka selesai diazab, mereka berpikir azab apa lagi yang akan datang. Demikianlah seterusnya.

Dijelaskan bahwa penyebab pokok manusia masuk neraka adalah cinta dunia, yang merupakan sumber segala penyakit, dosa, dan kemaksiatan.

Cinta dalam Bahasa Arab : ahabba yuhibbu

Dengan memahami ciri-ciri cinta, kita dapat mengevaluasi, benarkah kita mencintai Allah dan Rasulullah? Atau kita justru mencintai dunia?

Ciri-ciri cinta :

Pertama, katsrotu dzikri, banyak mengingat/menyebut.
Seharusnya kepada dunia, kita jangan sampai cinta, karena nanti Allah tidak mendapat bagian. Cinta dunia akan menjadi penyebab dosa dan sibuk dengan maksiat.

Kedua, al khouf min dzihabihi au dhoyaihi, takut kehilangan.
Ketika kita takut kehilangan sesuatu, kita akan mencurahkan seluruh perhatian, menjaga dengan segenap kemampuan. Jika kita takut kehilangan Allah, kita akan sungguh-sungguh berbuat yang disukai Allah.

Ketiga, atadhiyah, siap berkorban apa pun.
Kita akan mengorbankan harta apa pun untuk yang dicintai, juga perasaan, capek, lelah. Apakah kita lakukan untuk Allah? Bangunkah kita sebelum subuh? Cinta harus dibuktikan, cinta butuh pengorbanan. Jangan katakan cinta jika tidak mau berkorban.

Anak secara nasab milik suami. Istri rela mengandung, dioperasi berkali-kali. Maka kaum bapak jangan berkata kasar pada istri. Lembutkan hati dan jangan rendahkan istri seolah menjadi tanpa harga diri. Apa pun kelemahan seseorang, pasti ada kelebihannya. Ketika memberi nafkah jangn disebut-sebut. Capek lelah, memang tugas suami. Maka diringankan suami dengan tidak ada haid, nifas, dan hamil. Maka suami dilarang berhias emas sutra, karena suami bukan untuk berhias, tetapi menikmati hiasan, dengan istri yang cantik.

Keempat, aththoah, patuh.
Ketika kita mencintai anak kita, maka seorang ibu rela bersusah payah mencari mainan yang diinginkan anaknya. Seorang suami rela jam 2 pagi mencari gado-gado yang diminta istrinya. Maka kepada Allah, kita akan ikuti yang diperintahkan, dan meninggalkan apa yang dilarang.

Cinta dunia akibatnya akan negatif, sedangkan cinta Allah akibatnya akan positif.

Kelima, at taqorrub, selalu ingin dekat dan bersama. Maka jika kita mencintai Allah, kita akan senang membaca qur'an. Shalat akan kita lakukan dengan tenang, tidak merasa terbeban.

Kepada dunia kita harus mengambil jarak. Karena dunia bersifat jinak-jinak merpati. Kita kejar dia lari, kita jauhi dia akan mengejar. Dunia datang dan pergi, tidak bisa dipertahankan, maka tidak perlu dimasukkan ke dalam hati. Boleh kaya tetapi jangan membuat terlena dan lupa kepada Allah.

Ada seorang pengusaha besar di Jakarta Utara dengan komitmen pada Allah yang sangat baik. Setiap menjelang datang solat, ia akan hentikan semua pekerjaannya, dan shalat dahulu.  Pernah suatu ketika ia sedang dalam proses tender senilai Rp 1 Milyar. Proses berjalan sampai tiba waktu shalat. Pengusaha ini pun meminta izin untuk meninggalkan pertemuan untuk melaksanakan shalat dahulu. Pemberi proyek berkata bahwa jika ia meninggalkan pertemuan, proyek akan diberikan kepada orang lain. Pengusaha ini pun menyampaikan bahwa hal itu tidak mengapa, silakan jika akan diberikan kepada orang lain. Alhamdulillah, tidak pernah sekali pun pengusaha ini mengalami rugi. Juga ketika guru pengajian sudah tiba, maka semua kegiatan kerjanya akan ia hentikan.

Sungguh Allah akan menguji. Ketika kita sudah mulai istiqamah, Allah akan berikan ujian di waktu-waktu shalat tersebut. Tapi Allah berjanji, Allah akan ganti dengan lebih besar.

No comments: