Thursday, November 10, 2011

77 Cabang Keimanan

Berikut cuplikan pengajian Ust. Muhsinin Fauzi hari ini, tentang 77 Cabang Keimanan.

77 cabang keimanan terdiri atas 77 hal yang dapat kita lakukan sebagai bukti keimanan kita.

77 cabang keimanan ini dapat diandaikan seperti paket soal yang diberikan kepada kita, untuk dikerjakan selama hidup kita, yang dapat diandaikan seperti sebuah ruang ujian, dengan batas waktu sepanjang usia kita, yang dapat diandaikan selama 60 menit.

Ketika seseorang masuk ke ruang ujian, ada yang terpukau dengan makanan yang ada di ruangan tersebut, sehingga sampai menjelang habis waktu ujian, belum satu soal pun dikerjakan. Ini adalah pengandaian orang yang sibuk dengan mencari makan, menikmati makan, wisata kuliner dari hari ke hari dan melupakan ibadah.

Ada yang terpukau dengan kondisi ruangan dengan berbagai asesoris di setiap sudutnya, sehingga sampai menjelang habis waktu ujian, belum satu soal pun dikerjakan. Ini adalah pengandaian orang yang sibuk dengan mengagumi berbagai lokasi di dunia, menikmati pemandangan, wisata ke berbagai lokasi dari hari ke hari dan melupakan ibadah.

Ada yang terpukau dengan teman-teman lawan jenis di ruang ujian, sehingga sampai menjelang habis waktu ujian, belum satu soal pun dikerjakan. Ini adalah pengandaian orang yang sibuk berbagai hubungan dengan lawan jenis, dari hari ke hari dan melupakan ibadah.

Ada yang terpukau dengan berbagai kursi dalam ruang ujian, berpindah dari satu kursi ke kursi lain, sehingga sampai menjelang habis waktu ujian, belum satu soal pun dikerjakan. Ini adalah pengandaian orang yang sibuk mengejar jabatan dan kedudukan, dari hari ke hari dan melupakan ibadah.

Namun, ada yang duduk kursi, mengerjakan soal, ketika lapar makan, kadang-kadang berbincang dengan teman, kemudian kembali mengerjakan soal. Ini adalah pengandaian orang yang berfokus pada ibadah, yang ditugaskan Allah, yang tetap memiliki kesempatan untuk melakukan berbagai aktivitas lain di dunia.

Ada yang selesai mengerjakan seluruh soal dalam 30 menit, 40 menit, yaitu mereka yang sudah menjadi orang yang sangat saleh dan matang dalam beragama di usia 30 atau 40 tahun. Ada juga yang sampai menit ke 50 belum juga selesai. Yaitu mereka yang masih terus berproses sampai usia 50-an.

Mungkin juga kita termasuk orang yang sudah mengerjakan semua tugas. Tetapi bisa jadi tugas tersebut belum sempurna kita kerjakan. Perlu terus kita periksa kembali, perbaiki kembali, dan terus diperbaiki. Sehingga ketika waktu habis, ketika kita dipanggil, soal-soal itu sudah kita kerjakan dengan sempurna.

Misalnya dalam hal mencari harta. Kita memang ditugaskan Allah untuk mencari harta, untuk diberikan kepada yang berhak. Maka yang terpenting bukan hartanya banyak, tetapi zakatnya yang banyak.
Jangan sampai kita sempat untuk mencari harta, namun terus menunda-nunda memberikan zakat, sampai akhirnya belum sempat memberikan zakat ketika akhir hidup kita tiba.

Dan dalam berzakat, yang terpenting adalah juga besarannya. Infaq sebaiknya diberikan dalam jumlah yang sebaik-baiknya. Jika diandaikan, misalnya kita berinfaq 2000 rupiah, padahal untuk perjalanan Jakarta – Depok saja, untuk naik ojek ke stasiun, kita perlu 6000 rupiah. Dengan 2000 rupiah kita akan diturunkan di tengah perjalanan. Bagaimana dengan 2000 rupiah kita ingin mencapai surga-Nya?

Kita sebaiknya terus berdoa agar semakin lama, zakat dan qurban kita semakin bertambah. Allah akan berikan, bisa dalam bentuk tambahan rezeki, sehingga kita semakin lapang untuk menambah zakat dan qurban. Atau juga dengan rezeki yang tetap, kita rela untuk menambah zakat dan qurban, dan mengorbankan kepentingan kita yang lain.

No comments: