Friday, November 23, 2012

Pelajaran dari Gaza



Ceramah siang ini disampaikan oleh Ustadz Muhsinin Fauzi, bagian pertama tentang perkembangan di Gaza.

Seminggu sebelum pertempuran bulan November di Gaza, ada rombongan Indonesia yang datang ke Palestina dan memperoleh informasi perkembangan terakhir di Palestina.

Pesan dari masyarakat Palestina, jika ingin membantu, masyarakat Indonesia tidak perlu datang ke Palestina untuk membantu berperang, karena sebagian besar masyarakat Indonesia tidak bisa berbahasa Arab, sehingga menyulitkan dalam berkomunikasi. Selain itu secara fisik, masyarakat Indonesia tidak sekuat masyarakat Palestina yang sudah terlatih bertempur dalam jangka waktu yang lama.

Ada dua cara yang efektif yang dapat membantu Palestina :
Pertama, dukungan moral dengan memaparkan informasi seluas-luasnya tentang dukungan terhadap perjuangan Palestina, baik di media mainstream (media umum seperti koran, televisi) serta media sosial (facebook, twitter, dll). Ada kecenderungan saat ini di masyarakat bahwa informasi yang dipercaya justru yang bersumber dari media sosial, karena media mainstream biasanya sulit untuk bersifat obyektif dan lebih sering “diwarnai” kepentingan. Dukungan di media tersebut akan menjadi tambahan semangat bagi masyarakat Palestina untuk meneruskan perjuangan. Bahwa ada masyarakat Indonesia, negara Islam terbesar, dengan posisi terjauh dari Timur Tengah, yang tidak bisa berbahasa Arab, mendukung perjuangan Palestina.
Kedua, adalah dukungan materil berupa mobilisasi dana, yang dapat dimanfaatkan untuk pertahanan, kesehatan, persenjataan, dan makanan. Sampaikan sebesar-besar dana.
Masalah Palestina, Gaza, adalah masalah agama, bukan sekedar masalah tanah. Masalah agama
Bukan sekedar tanah. Palestina bertahan karena agama, Israel pun menyerang karena agama.
Mungkin ada pertanyaan, mengapa masyarakat tidak pergi saja dari Gaza sehingga tidak perlu bertempur?
Sebenarnya, jika mereka memikirkan diri sendiri, maka pergi meninggalkan Palestina adalah solusi yang sangat aman. Jika masyarakat Palestina pergi, masalah selesai, Israel menguasai tanah Palestina, menang tanpa perang.
Masyarakat Palestina memang sengaja tetap tinggal, mereka berkorban untuk sebuah misi, mempertahankan agama Islam yang disimbolkan dengan Masjidil Aqsha, di Gaza, di Palestina. Sampai kapan pun mereka tidak akan pindah. Dan kita umat Islam yang tidak berada di Palestina harus sangat bersyukur bahwa mereka mau bertahan.
Ada 4 pelajaran yang dapat dipetik dari pertempuran di Palestina bulan November 2012 :
Pertama adalah bahwa mereka senantiasa yakin bahwa mereka sebentar lagi akan shalat di Masjidil Aqsha. Keyakinan kita harus lebih kuat, kita harus lebih yakin. Dan Allah akan membantu.
Bahwa umat Islam sampai saat ini masih belum memenangkan pertempuran, bisa terjadi karena dua sebab. Pertama karena syarat kemenangan belum terpenuhi. Kedua karena Allah menyampaikan hikmah dengan penundaan kemenangan muslim di Palestina.
Perjuangan di Palestina dilakukan dengan peperangan. Perjuangan kita dilakukan dengan menegakkan agama, melawan “mereka” yang berusahan menjatuhkan agama, dan menyebarkan anggapan bahwa Islam adalah buruk. Kita harus tetap yakin, bahwa Islam baik. Dibuat anggapan bahwa mereka yang aktif dalam gerakan Islam adalah masyarakat kelas bawah yang kurang cerdas, padahal justru sebaliknya, karena jika mereka tidak cerdas, mereka tidak akan bisa menangkap dakwah.

Hal kedua yang dapat kita pelajari adalah keberanian luar biasa dari masyarakat Palestina.

Ketiga, pihak Yahudi walaupun memiliki banyak persenjataan, saat ini berada dalam kondisi ketakutan yang terus meningkat. Mereka setiap hari melakukan simulasi bagi seluruh keluarga, bagaimana cara penyelamatan keluarga jika terjadi serangan besar. Mereka telah menyiapkan bunker di bawah setiap rumah, dan di bunker itu telah terdapat persediaan pendukung kehidupan untuk waktu 1 tahun.

Pada dasarnya kaum kafir adalah kaum penakut, karena bagi mereka tidak ada janji hari akhir. Semua yang dilakukan adalah untuk hasil di dunia. Umat Islam, meskipun masih sangat banyak kekurangan, harus meyakini bahwa umat Islam adalah bangsa pemenang.

Keempat, khusus bagi kaum ibu, hendaklah mengikuti jejak para ibu di Palestina. Yaitu ibu yang sanggup mendidik anak menjadi mujahid, menjadi pejuang. Bukan menjadi ibu yang lemah dan cengeng. Jadilah ibu-ibu yang kokoh. Jangan menjadi ibu yang menangis ketika suaminya pergi bertugas, ketika anaknya akan sekolah ke pesantren. Ibu Palestina tersenyum ketika kedua anaknya mati syahid. Karena mereka memiliki cara pandang yang berbeda, mereka wanita yang pemberani. Walaupun dibom, diserang rudal, mereka tidak stress, tetap memiliki anak yang banyak.

Ada sebab utama mengapa semangat bertahan dan berjuang masyarakat Palestina sedemikian kuat : Al Qur’an.

Palestina mencetak ribuan hafizh Al Qur'an setiap tahunnya. Banyak sekali anak kecil yang hafal Al Qur’an. Para pejabat Palestina adalah hafizh Al Qur’an. Al Qur’an menjadi sumber utama kekuatan. Dan selama Al Qur’an masih ada di dalam dada masyarakat Palestina, selama itu pula mereka akan bertahan.
Tugas kita di Indonesia, juga menancapkan Al Qur’an di dada anak-anak kita. Indonesia dengan kondisi yang aman, dengan jumlah penduduk yang jauh lebih besar, seharusnya bisa mencetak lebih banyak hafizh Al Qur'an. Targetkan agar semua anak kita menjadi hafizh Al Qur'an.
Inilah kekuatan utama bangsa Palestina. Bukan pada roket. Kekuatan mereka adalah Al Qur’an.

Masyarakat Indonesia kebanyakan ibunya lemah, anaknya cengeng, ayahnya pun kurang tegas. Tidak tega jika anak diberi beban.
Sistem pendidikan Islam memang sedikit bertentangan dengan sistem pendidikan Barat. Tradisi islam tidak pernah membenturkan kreativitas, analisa, leadership, dengan kemampuan daya ingat. Banyak sekali contoh pemimpin Islam yang memiliki hafalan yang sangat kuat, tetapi juga memiliki daya analisis dan leadership serta kreativitas yang sangat baik. Sistem pendidikan barat “menabukan” hafalan, sehingga yang dipentingkan adalah analisis, dengan test “open book”.

Jika kita menghitung untung rugi dari memiliki anak, maka yang paling menguntungkan adalah jika anak dapat menjadi hafizh Al Qur’an, karena mereka akan dapat membantu kita di akhirat nanti. Anak yang sukses di dunia dengan kekayaan, sebenarnya tidak akan memberikan dampak yang terlalu besar bagi kita.

Palestina juga telah menunjukkan peningkatan yang sangat baik dalam persenjataan. Dan persenjataan ini berasal dari dalam, bukan dari Iran seperti yang dituduhkan oleh Israel. Ini bisa terjadi karena masyarakat Palestina adalah masyarakat yang cerdas. Banyak ulama besar Islam lahir di Palestina, antara lain Imam Syafi’i.

Dengan kebangkitan Islam di Mesir dan Turki, Israel semakin waswas terutama berkaitan dengan pasokan gas. Saat ini mereka bergantung pada pasokan gas dari suatu daerah dekat Turki yang merupakan daerah sengketa dengan Siprus. Sesungguhnya, kondisi Israel tidaklah sehebat yang diberitakan.
Dan jika nanti konflik Siria berakhir dan pemerintahan dikuasai oleh pihak Islam, maka Israel akan terkepung oleh musuh. Kebangkitan Arab masih akan terus berlangsung dan bisa jadi kondisi menjadi total berbalik, dan suara Islam akan dapat mempengaruhi OKI dan mengubah situasi geopolitik.
Gaza adalah daerah yang sangat kecil, lebih kecil dari Depok, dengan 1.7 juta penduduk. Maka setiap bom yang datang pasti akan membawa korban. Mereka tidak akan pindah ke tepi Barat. Padahal di tepi Barat mereka aman, tidak akan mendapat serangan. Tetapi mereka berjuang mempertahankan Gaza. Bangkitkan cinta akan mati syahid, maka akan menjadi kekuatan dalam mengusung agama. Panjatkan doa kita terus menerus untuk saudara kita di Palestina.

No comments: