Wednesday, September 14, 2011

Ramadhan 5 - Muslimah Berdaya

Ceramah kali ini diisi oleh Mbak Asma Nadia, penulis yang sangat produktif dan inspiratif.

Ceramah diawali dengan perkenalan, termasuk perkenalan suami beliau (fotonya saja, bukan orangnya datang, hehe.. ) yaitu Pak Isa Alamsyah, yang menulis buku “No Excuse”.

Tentang hal ini, jika kita perhatikan, orang Indonesia sangat sering mencari alasan. Ketika datang terlambat, maka dengan mudah menjawab, “Macet”. Dan ini sudah Mbak Asma coba tanyakan ke seluruh Indonesia, jawabannya sama, hehehe.. Ketika tidak berhasil ujian, maka jawabannya, “Pertanyaannya sulit” atau “Belum belajar”, padahal kalau mudah berarti bukan ujian, dan bukankah memang tugas pelajar adalah belajar?

Jika kita mencontoh Rasulullah, maka Rasulullah tidak pernah bilang tidak bisa, kecuali hanya satu kali, yaitu ketika diperintah, “Iqra”, beliau menjawab tidak bisa. Selain itu, diperintah untuk berdakwah terang-terangan, berjihad, beliau selalu bersedia.

Ada kisah seorang pemuda yang sangat miskin, yang tidak punya pilihan makanan lain kecuali ampas gandum, yang membuat wajahnya merah sehingga sering disangka mabuk. Pemuda itu pernah bekerja menjadi penyapu jalan. Dan, ternyata, saat ini dia telah menjadi Presiden Korea Selatan, dialah Lim Yung Bak.

Ada pengusaha perempuan yang memulai usaha dangan modal awal Rp 2500 yang saat itu hanya cukup untuk 1 piring nasi goreng. Saat ini ibu tersebut telah memiliki omset milyaran.

Ada seorang anak divonis lumpuh dan tidak bisa berjalan seumur hidup. Namun anak itu tidak menyerah, dia mencoba berdiri dan bercita-cita menjadi pelari. Berkali-kali mencoba, akhirnya dia bisa berdiri. Setelah itu dia mencoba berjalan. Berkali-kali mencoba, akhirnya dia bisa berjalan. Dan dia pun menjadi pelari perempuan tercepat di dunia, pemegang rekor lari olimpiade selama 8 tahun.

Ada seorang milyarder terkecil berusia 10 thn, yang memulai usaha sejak berusia 8 tahun. Keluarganya secara turun temurun memiliki resep khusus pemelihara rambut, yang selama ini hanya digunakan dalam keluarga. Anak ini mencoba membuat kemasan, dan menjualnya. Ternyata sukses.

Mbak Asma juga membuat Rumah Baca gratis untuk dhuafa, yang saat ini berjumlah 36 buah, yang dicita-citakan agar ada 1000 buah. Bisa dilihat di www.rumahbacaasmanadia.com

Muslimah seringkali setelah menikah, terfokus dengan perjuangan di rumah tangga, sehingga luput mengolah potensi dan meraih sukses. Sukses bukan dalam sisi finansial ataupun materi, yang terpenting adalah pencapaian untuk bermanfaat bagi orang lain.

Bagi muslimah yang belum menikah, maka waktu dan pikiran sering tersita dengan masalah pra-nikah, hubungan dengan lawan jenis. “Galau”, kalau kata anak sekarang. Padahal masa sebelum menikah adalah masa yang sangat potensial untuk berbuat. Waktu belum tersita dengan urusan suami, anak, dan lain-lain.

Kalaupun jomblo, jadilah jomblo beriman, yaitu bersih indah mandiri. Apa pun situasi kita, cari celah untuk berbuat untuk umat. Kalau sebuah hubungan tidak berhasil, yakinlah bahwa “Kamu tidak cukup baik untukku.”

Maka, muslimah harus memulai membenahi diri, agar menjadi berdaya :

Pertama, teropong diri, buat list. Cari potensi positif diri kita, baik potensi fisik, keahlian, kemampuan, hobi, dan segala hal yang menjadi kelebihan kita. Kita seringkali lebih mudah untuk menemukan kekurangan diri, tetapi sulit mencari kelebihan. Dan padahal, kekurangan kita bisa kita jadikan kelebihan kita. Misalnya kita cerewet, maka kita sebenarnya berpotensi untuk menjadi penyiar, moderator, ataupun MC.

Perlu diyakini bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk mewujudkan mimpi. Kita seringkali berhenti berbuat, merasa tidak berdaya, karena kita tidak punya mimpi.

Kedua, asah dan kembangkan. Jika kita sudah menemukan potensi diri kita, tekuni, mulai diasah, dikembangkan. Buat keranjang lain selain pekerjaan saat ini, untuk dikembangkan.

Ketiga, ukur kemampuan. Walaupun harus optimis, kita tetap perlu realistis, memahami seberapa jauhkah kemampuan kita.

Selanjutnya, muda berpenghasilan, mengisi waktu luang untuk kegiatan positif, kenali keluarga, dan perbaiki hubungan dengan Allah.

Sebaiknya kita memiliki kemampuan, yang ketika ummat membutuhkan potensi tersebut, kita bisa mengisinya.

Bagi yang belum menikah, coba ikut kegiatan yang dilakukan oleh Ibu sejak bangun di pagi hari sampai tidur kembali di malam hari. Itulah yang akan nanti dilakukan ketika sudah menikah dan menjadi ibu.

Hidup adalah rangkaian ujian, maka kita diperintahkan untuk bersabar dan menguatkan kesabaran.

Inspirasi bisa diperoleh dari siapa saja.
Oprah Winfrey, yang memiliki prinsip untuk belajar dan mengajarkan, dan terus berbagi.
JK Rowling, penulis novel Harry Potter, dengan kekayaan melebihi Ratu Inggris, hasil dari karya yang dibuat secara serius sampai akhirnya mendunia.
Madam Teresa, yang telah melakukan begitu banyak kebaikan.

Muslimah adalah hamba Allah. Allah lah yang menjadi motivasi bagi kita. Maka seharusnya, tidak ada yang tidak bisa.

Kita harus mencontoh Aisyah. Cerdas, banyak membaca, penghafal banyak hadits. Seorang yang pemberani tetapi juga sederhana, bersih dan cantik baik lahir maupun batin.
Beliau juga suka berbagi. Pernah dikisahkan, ketika beliau memperoleh begitu banyak makanan di siang hari, di waktu buka puasa seluruh makanan itu sudah habis terbagi. Beliau suka berbagi, dan mengetahui siapa yang membutuhkan.
Ketika melihat musibah, apa yang kita lakukan?
Apakah kita cuek?
Berempati tetapi tidak ada action?
Atau berempati lalu ber-action?
Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang terakhir.

Hal-hal yang jangan sampai dilakukan oleh muslimah :

Pertama, asyik dengan diri sendiri, sibuk dengan masalah sendiri, tidak bisa melihat keluar.

Kedua, merasa tidak bisa. Segala sesuatu harus dicoba terlebih dahulu. Setiap undangan kebaikan, baik berupa waktu, tenaga, uang, adalah undangan ke surga. Allah tidak mungkin salah waktu.

Ketiga, investasi waktu untuk hal yang tidak penting, menyiksa diri dan hati. Berpikirlah jernih, karena sebenarnya banyak sekali hal yang bisa dilakukan.

Keempat, berkemampuan pas-pasan. Muslimah harus selalu banyak membaca, suka berolah raga.

Ustadzah Yoyoh Yusroh, sejak sebelum menikah sudah berencana untuk memiliki banyak anak. Maka beliau sejak muda sudah membiasakan untuk hidup sangat sehat. Sejak muda beliau tidak pernah makan bakso, saos, soda. Dan energi tidak dihabiskan dengan sia-sia. Ketika beliau mendengar bahwa ada seorang ibu yang memberikan daging kucing untuk makanan anaknya, beliau sangat trenyuh dan menyarankan bahwa sebenarnya sangat mudah untuk memperoleh makanan, tinggal menanam saja bibit tanaman di tanah walaupun sejengkal.

Kelima, tidak pernah berpikir untuk menjadi kebanggaan umat.

Generasi yang Rasulullah cintai, dan dekat dengan Rasulullah di hari akhir.
Yaitu mereka yang memperjuangkan risalah, mencintai Rasulullah seperti para sahabat mencintai Rasulullah, walaupun belum pernah berjumpa dengan Rasulullah.

Islam harus kembali bercahaya.

Hal-hal yang harus dilakukan muslimah :

Pertama, berikan inspirasi pada satu orang dalam sehari. Yang dibutuhkan hanya sedikit waktu, bahan bisa diambil dari Al Qur’an dan Hadits.

Jangan sebarkan kegalauan. Tolong satu orang dalam sehari.

Ada sebuah kisah di barat, tentang seorang anak kutu buku yang kurang bergaul sedang di depan lemari bukunya, ketika setumpuk bukunya tiba-tiba terjatuh. Seorang yang baik hati membantunya mengumpulkan buku-bukunya tersebut, dan mereka pun bersahabat. Ketika akhirnya anak tersebut lulus sekolah dan menjadi murid terbaik, ia pun bercerita. Bahwa ketika buku-bukunya jatuh itu, sebenarnya ia sudah berniat untuk bunuh diri karena bantuan 1 orang teman yang baik itu, semua berubah menjadi baik.

Banyak sekali hal yang sangat sederhana yang bisa dilakukan, yang hasilnya ternyata sangat dahsyat.

Kedua, milikilah spesialiasi dan tekuni. Lakukan yang terbaik, dan terus berbuat. Berkaryalah, investasikan waktu. Berikan pengorbanan waktu, cari cara mengoptimalkan waktu. Semua orang punya waktu yang sama, 24 jam. Jadikan 24 jam itu bermanfaat. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat.

Ketiga, jadilah cahaya bagi sebanyak-banyak orang. Anak yang yatim di RT kita, ibu yang tidak bisa mengaji. Kita harus peduli. Bukanlah seorang muslim jika tidak memperhatikan muslim yang lain. Berikan hadiah untuk anak-anak kita, juga untuk anak-anak lain di sekitar kita.

Sebagai Ibu tentunya kita mencintai anak kita masing-masing. Yang juga penting adalah membuat anak merasa dicintai. Jangan pernah membandingkan satu anak dengan anak yang lain. Terus perbaiki kualitas diri. Perbanyak rasa sabar. Seringkali kita bisa sangat sabar di kantor, tetapi jadi seperti “kehabisan stok sabar” ketika sampai di rumah. Jangan sampai terjadi demikian. Ibu harus terus mencari ruang untuk berprestasi, dan sedapat mungkin untuk tetap produktif tetapi tidak jauh dari anak-anak (home office).

No comments: